Di sebuah wilayah terpencil di kaki Bukit Wengker, hidup seorang anak bernama Gandraka—anak dari Ki Bagaskara, penjaga ilmu lama yang nyaris dilupakan. Sejak kecil, Gandraka menunjukkan tanda-tanda yang tak biasa: ia memahami lambang-lambang kuno, mampu meredam sesuatu yang bersemayam di dasar sumur tua, dan menjalankan ritual yang bahkan orang dewasa tak berani sentuh.
Namun Wengker bukan tanah biasa.
Di balik perbukitan dan sunyinya desa, tersegel kekuatan gelap yang perlahan mulai bangkit. Sesuatu yang tak hanya membawa kegelapan… tetapi juga kehampaan yang menelan segala.
Saat segel mulai melemah, Gandraka dihadapkan pada takdir yang tak bisa ia hindari—menjadi penjaga… atau berubah menjadi algojo bagi dunia yang tak pernah benar-benar memahami dirinya.
Di tanah Majapahit yang tampak damai, bara itu diam-diam menyala.
Dan ketika waktunya tiba… tidak semua yang hidup akan tetap menjadi manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Sejenak mereka terdiam. Terutama Ki Bagaskara, yang tampak menahan sesuatu di balik ketenangannya. Pandangannya jatuh pada cangkir kopi yang mulai dingin, lalu pada rokok kawung di jemarinya yang tinggal seujung bara.
Pak Lurah akhirnya membuka suara.
“Ki Bagaskara… aku paham, mungkin kau terkejut dengan apa yang terjadi pada anakmu. Namun seharusnya kau bersyukur,” ucapnya pelan. “Tidak semua orang diberi anugerah seperti itu. Anggap saja itu titipan dari Yang Maha Kuasa. Itu saja yang ingin kami sampaikan. Jagalah baik-baik anakmu, Ki. Kami lanjut ronda.”
“Baiklah, Ki Lurah. Terima kasih atas kunjungannya,” jawab Ki Bagaskara singkat.
Salah satu warga menimpali sambil tersenyum, “Berbahagialah, Ki Bagaskara. Siapa tahu… kelak anakmu justru melancarkan rezekimu.”
Ki Bagaskara hanya mengangguk, membalas dengan senyum tipis yang sulit ditebak artinya.
Kentongan kembali berbunyi pelan. Langkah kaki mereka menjauh, menyusuri jalan setapak yang gelap.
Namun mereka tidak tahu—
di balik lebatnya hutan yang mengelilingi desa, ada sesuatu yang sedang mengawasi. Diam. Sabar. Menunggu.
Dan hal itu… telah disadari oleh Ki Bagaskara.
Sorot matanya berubah.
Tanpa banyak kata, ia berdiri lalu bergegas masuk ke dalam rumah. Langkahnya cepat, pasti. Ia mengganti pakaiannya dengan balutan yang lebih ringkas, siap untuk bergerak.
Di sudut ruangan, sebuah peti kayu tua terbuka.
Di dalamnya tersimpan sebuah golok besar. Bilahnya tebal, memantulkan cahaya redup, dengan ukiran huruf Jawa kuno yang samar berpendar—seolah menyimpan kekuatan yang tak sepenuhnya terlihat.
Ki Bagaskara menggenggamnya.
Dingin.
Namun terasa hidup.
Ia menyelipkan golok itu di pinggangnya, lalu mengambil sehelai kain hitam dan menutup sebagian wajahnya.
Kini, bukan lagi seorang petani sederhana yang berdiri di sana.
Melainkan seseorang… yang telah lama siap menghadapi apa pun yang datang dari kegelapan.
Tanpa suara, ia melangkah keluar rumah. Malam menyambutnya dalam diam. Dan dari arah hutan sesuatu mulai bergerak.
“Aku ikut.”
Suara itu tiba-tiba muncul dari belakang. Ki Bagaskara menoleh. Nyai Lodra telah berdiri di ambang pintu, tatapannya tenang namun penuh kesiagaan.
Tanpa menunggu jawaban, ia masuk kembali ke dalam. Tak lama kemudian, ia keluar dengan pakaian serba hitam yang membalut tubuhnya dengan rapat—ringan, senyap, dan memudahkan setiap gerakan. Pakaian itu menyerupai busana ninja, namun dengan sentuhan khas—kainnya lebih panjang di bagian pinggang, seperti perpaduan antara bayangan dan tradisi.
Di punggungnya, tersampir sebilah pedang panjang menyerupai samurai, dengan sarung gelap yang berkilau redup. Gagangnya dibalut kain hitam, namun ukiran halus di pangkalnya menunjukkan bahwa itu bukan senjata biasa.
Rambutnya yang semula terurai kini telah terikat rapi.
Sosoknya berubah.
Bukan lagi sekadar seorang ibu—
melainkan petarung yang telah lama tersembunyi.
Ia melangkah mendekat, berdiri di samping Ki Bagaskara.
“Bersiaplah,” ucap Ki Bagaskara pelan. “Jumlah mereka… banyak.”
Nyai Lodra menyipitkan mata. “Makhluk-makhluk itu?”
Ki Bagaskara menggeleng.
“Bukan.”
Hening sesaat.
“Mereka… mengincar anak kita.”
Nyai Lodra terdiam, lalu menatap ke arah hutan.
“Bagaimana mungkin…?”
“Gandraka,” jawab Ki Bagaskara pelan, “secara tak sengaja… telah memanggil mereka.”
Sementara itu, Ki Lurah bersama dua warga desa yang sedang meronda perlahan menyusuri tepi hutan yang masih masuk wilayah pedesaan. Obor di tangan mereka menyala redup, menari-nari tertiup angin malam dan menyingkap gelap yang menggantung di antara pepohonan.
“Benarkah bukit ini dihuni banyak makhluk halus, Ki?” tanya salah satu warga dengan suara pelan, seolah takut ucapannya sendiri didengar sesuatu dari balik semak. Pertanyaan itu langsung membuat Ki Lurah menoleh tajam, rautnya berubah tegas.
“Kau ini bagaimana. Sudah tahu suasana begini, masih saja menyinggung soal begituan. Jangan bertanya hal yang sebenarnya sudah jelas, nanti kalau benar muncul, kau yang pertama lari terbirit-birit,” balas Ki Lurah dengan nada kesal.
Rono yang berjalan di sampingnya hanya nyengir kecil, lalu menimpali sambil menggaruk kepala. “Maaf, Ki. Aku tadi cuma mau cari bahan obrolan saja, biar tidak terlalu kaku suasananya.”
“Rono ini memang ndableg, Ki Lurah. Sudah sering ronda, tapi kelakuannya tetap saja seperti orang baru,” celetuk warga yang lain sambil menggeleng pelan.
Ki Lurah menghela napas singkat, lalu melangkah lagi. “Sudah, sudah. Lebih baik kita lanjutkan perjalanan. Aku tidak ingin terlalu lama berada di dekat hutan ini,” ucapnya singkat, suaranya kali ini terdengar lebih waspada.
Namun baru beberapa langkah mereka maju, semak-semak di depan tiba-tiba berguncang keras. Suara ranting patah dan dedaunan tersibak terdengar bertubi-tubi, seperti ada sesuatu yang bergerak cepat dari dalam kegelapan. Belum sempat mereka bersiaga penuh, puluhan sosok berwajah sangar muncul serempak dan langsung menghadang jalan mereka.
Ki Lurah dan dua warga jelas terkejut dengan kemunculan mereka. Dua warga yang berada di belakang langsung gemetar, bahkan langkah kaki mereka seperti kehilangan tenaga.
“Siapa kalian?” tanya Ki Lurah, suaranya tetap dijaga agar tidak bergetar meski situasi mulai menegang.
Salah satu dari kelompok itu, seorang pria bertubuh kekar dan menjulang tinggi, melangkah maju. Wajahnya dipenuhi bekas luka panjang, dengan janggut lebat yang membuat rautnya tampak semakin garang.
“Kau tidak pantas bertanya tentang kami. Justru kami yang bertanya—siapa kau?” balasnya dengan suara berat dan dingin.
“Aku lurah desa ini.”
Pria itu menyeringai tipis. “Bagus. Jadi kami tidak perlu lagi mencari orang terpenting di desa ini. Katakan, di mana rumah anak yang bisa memusnahkan hama wereng hanya dengan siulannya?”
Ki Lurah menatap mereka satu per satu dengan curiga. Intuisinya mengatakan, kedatangan mereka bukan sekadar mencari orang, melainkan membawa niat yang jauh lebih gelap.
“Aku tidak akan menjawab apa pun sebelum kalian menyebutkan siapa kalian sebenarnya. Dan apa tujuan kalian mencegat kami,” ucap Ki Lurah tegas, tanpa sedikit pun mundur.
“Jangan bodoh, Ki Lurah. Walau kau seorang pemimpin di sini, kami tidak akan segan menghabisimu. Cepat katakan di mana rumahnya!” bentak pria itu, nada suaranya mulai meninggi.
Namun Ki Lurah tetap teguh, matanya tidak goyah sedikit pun. “Aku tidak akan mengatakan apa pun.”
Suasana mendadak berubah mencekam. Angin yang semula berembus pelan seperti berhenti, seakan ikut menahan napas.
Tiba-tiba, salah satu anggota kelompok itu melesat cepat ke arah warga yang berdiri paling dekat dengan Ki Lurah.
Syutt… srakkk!
“Hegghh—!”
Rono terbelalak. Matanya membesar, tubuhnya kaku seketika. Garis tipis merah tampak di lehernya, lalu dalam hitungan detik melebar dengan cepat. Sebelum ada yang sempat bereaksi, tubuh Rono ambruk, dan kepalanya terpisah, jatuh menghantam tanah dengan suara berat yang memecah malam.