Cinta sejati itu mengikhlaskan, merelakan dan melepaskan. Membiarkan bahagia orang yang kita cintai. Meskipun bahagianya dengan orang lain dan bukan bersama kita. Manusia hanya bisa berencana tapi tetap Allah yang menentukan bagaimana ke depannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shofiyah 19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
5 bulan kemudian
Asya tersenyum melihat hasil 5 benda pipih di tangannya. Setelah beberapa bulan menikah, akhirnya Allah telah memberikan keluarga kecilnya amanah.
Hari sudah sore, sebentar lagi Alif akan pulang kerja. Asya menjadi tidak sabaran ingin memberitahukan kepada suaminya.
Tak lama kemudian, terdengar suara deru mobil di garasi. Menandakan Alif sudah pulang kerja sekitar pukul 17.00 wib. Asya menyambut kedatangan suaminya itu.
Asya mencium punggung tangan Alif lalu dibalas dengan kecupan singkat di dahinya. Asya membantu membawakan tas dan jas suaminya.
"Gimana harinya sayang?," tanya Alif
"Selalu baik dong pastinya," jawab Asya
"Kamu kelihatan ceria sekali," ucap Alif heran
"Ada yang ingin aku tunjukkan sama kamu," ucap Asya sambil tersenyum
"Apa?," tanya Alif penasaran
"Nanti aja setelah sholat maghrib. Sekarang kamu bersih-bersih dulu. Air hangatnya sudah aku siapkan," ucap Asya
"Oke ibu negara," ucap Alif terkekeh
Setelah sholat maghrib, Alif menagih janji Asya yang mengatakan ingin menunjukkan sesuatu. Asya berjalan ke arah meja rias mengambil sebuah kotak. Ia tersenyum lalu menyerahkan kepada Alif.
Alif menerimanya dengan senang hati. Asya duduk di samping suaminya itu. Alif membuka isi kotak itu.
Hai ayah!!
Aku tidak sabar ingin berjumpa
Tunggu 9 bulan lagi ya
Selain surat juga terdapat 5 jenis testpack dengan hasil yang sama yaitu garis 2. Alif terlihat berkaca-kaca.
"Sayang," ucap Alif dengan mata yang mulai berembun
Asya hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Ia mengambil tangan suaminya dan membawanya menyentuh perut yang masih rata itu.
"Dia sudah hadir di sini," ucap Asya
Alif memeluk Asya dan menghujaninya dengan ciuman. Ia merasa terharu dengan kabar baik ini. Asya tersenyum dalam dekapan suaminya.
"Alhamdulillah akhirnya Allah memberikan amanah ini," ucap Alif bergetar
Asya mengusap punggung suaminya. Alif terlihat begitu bahagia dengan kabar kehamilan Asya.
"Besok kita cek ya," ucap Alif sambil mengelus kepala Asya
"Iya Mas," ucap Asya sambil tersenyum
Keesokan harinya, Alif mengajak Asya untuk ke rumah sakit. Ia tak sabar untuk melihat hasil pemeriksaan dokter.
Sesampainya di rumah sakit, Alif mendaftarkan nama Asya. Lalu mereka menunggu antrian untuk masuk ke ruangan. Setelah menunggu sekitar 3 antrian, akhirnya mereka dipersilakan masuk.
"Selamat pagi, Pak, Bu," sapa dokter perempuan
"Pagi," jawab Asya
"Langsung aja berbaring dulu, Bu," ajak dokter
Dokter mengoleskan gel lalu menggerakkan alat transducer ke perut Asya. Alif berdiri tepat di samping ranjang sambil melihat layar monitor.
"Itu ada titiknya ya. Berarti memang si kecil sudah hadir," jelas dokter
"Alhamdulillah," ucap Alif dan Asya bersamaan
"Ini sepertinya usianya sekitar 3 minggu," jelas dokter lagi
Setelah selesai, dokter memberikan vitamin kepada Asya. Ia juga memberikan apa yang harus dilakukan dan tidak dilakukan selama masa kehamilan. Apalagi ini adalah kehamilan pertama.
Selesai dari rumah sakit, Asya mengajak Alif untuk ke rumah kediaman alfarabi. Ia harus memberitahukan kabar bahagia ini.
Mobil terparkir sempurna. Alif keluar mobil lalu membukakan pintu untuk Asya. Terlihat papa dan mama yang sedang duduk santai di teras rumah.
Mama langsung tersenyum bahagia melihat putra dan menantunya. Mereka mengajak keduanya masuk. Asya duduk di samping mama dan Alif di samping papa.
"Tumben banget pagi ke sini. Kamu nggak kerja, Kak?," tanya papa kepada Alif
"Hari ini aku libur karena mengantar ibu negara ke rumah sakit," jawab Alif
"Loh kamu sakit apa, Nak?," tanya mama cemas
"Kalo Alif bikin kamu sakit, bilang sama papa, Sya," ucap papa
"Asya sehat kok, Pa, Ma," jawab Asya sambil tersenyum
Asya mengeluarkan amplop dari tasnya. Ia memberikan amplop itu kepada mama.
"Ini apa, Nak?," tanya mama
"Mama buka aja," ucap Alif
Mama membuka amplop itu lalu menutup mulutnya tak percaya. Ia menatap Asya dan Alif bergantian. Alif tersenyum dan mengangguk saat ditatap oleh mama.
"Ini beneran?," tanya mama
"Iya, Ma," jawab Asya
Mama tersenyum haru lalu memeluk Asya. Ini adalah hal yang paling ditunggu dari dulu tapi saat itu Alif telah salah memilih pasangan.
Papa yang merasa penasaran merebut amplop itu dari tangan mama. Ia membulatkan matanya saat tau isi dari amplop itu.
Papa tersenyum lalu menepuk bahu Alif pelan. Sebentar lagi anak sulungnya itu akan menjadi seorang ayah.
"Alhamdulillah, akhirnya Allah memberikan amanah kepada kalian," ucap papa tulus
"Hadiah ini sangat indah, Pa," ucap Alif
"Kamu harus jaga menantu dan calon cucuku baik-baik, Kak," ucap papa tegas
"Pastinya dong,"! ucap Alif sambil tersenyum
Setelah beberapa jam di rumah mama dan papa, Alif dan Asya memutuskan untuk pulang ke rumah. Asya tak sabar ingin pulang ke pesantren untuk memberikan kabar bahagia ini.
"Besok kita ke Bandung ya," ajak Alif
"Kamu nggak kerja?," tanya Asya
"Aku masih bisa handle semuanya walaupun tidak terjun langsung ke kantor," jawab Alif terkekeh
"Gak boleh sombong gitu ya, Bapak Ceo," ucap Asya
"Astaghfirullah iya. Gak boleh sombong gitu. Semua hanya titipan Allah," ucap Alif
Asya tersenyum menatap suaminya. Ia merasa bersyukur Allah telah menggantikan rasa sakitnya dengan kebahagiaan yang tiada tara.
"Terima kasih ya, sayang," ucap Alif sambil memegang tangan Asya
"Untuk apa?," tanya Asya
"Semuanya. Kamu telah menerimaku menjadi sebagian dari hidupmu. Bahkan saat ini akan hadir malaikat kecil amanah Allah," ucap Alif sambil mengelus perut Asya yang masih rata
"Kita itu diciptakan untuk saling melengkapi satu sama lain. Terus didik aku ya, bimbing aku menjadi istri yang solehah. Aku ingin hanya kamu yang menjadi suamiku selamanya dunia dan akhirat. Semoga memang kita berjodoh dunia dan akhirat," ucap Asya tulus
"Aamiin. Terima kasih sudah memilihku," ucap Alif
"Ada yang ingin aku ceritakan," ucap Asya
"Ceritakan saja," timpal Alif
"Setelah patah hati waktu itu aku sempat berdoa sama Allah. Isi dalam doaku seperti ini 'Ya Allah kalo aku memang tidak ditakdirkan menikah di dunia ini aku pasrah karena aku tau itu adalah ketetapan-Mu," ucap Asya terkekeh
"Ternyata disaat kamu pasrah, Allah telah memberikan jawaban doamu sayang," ucap Alif sambil mengelus kepala Asya
"Iya apalagi saat kamu mengungkapkan perasaan itu di Kairo. Setelah itu aku selalu sholat istikharah. Aku meminta petunjuk karena aku takut diuji lagi tentang cinta," ucap Asya
"Lalu apa jawabannya?," tanya Alif
"Jawabannya kamu. Semakin lama kita mengenal semakin tumbuh perasaan itu dalam diriku," ucap Asya sambil tersenyum
Alif tersenyum lalu memeluk istrinya itu. Asya tersenyum dalam dekapan suaminya. Seorang laki-laki yang tulus menyayanginya. Laki-laki yang sudah berjanji di hadapan Allah dan keluarga besar untuk selalu memberikan kebahagiaan untuk Asya.