NovelToon NovelToon
The Art Of Ruin - Rahim Yang Dirampas

The Art Of Ruin - Rahim Yang Dirampas

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Perjodohan
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: 羽菜

Mikayla tidak hanya dikhianati.

Ia dihancurkan.

Dipaksa menikah menggantikan kakaknya, lalu dikhianati oleh suaminya sendiri bersama wanita yang seharusnya ia lindungi. Lebih kejam lagi, keluarganya sendiri merampas masa depannya membuatnya kehilangan satu hal yang paling berharga bagi seorang wanita.

Setiap hari diberi obat agar tidak bisa mengandung, Rahimnya dibuat tidak berfungsi, Namun mereka lupa satu hal, wanita yang mereka hancurkan tidak benar-benar mati.

Dua tahun kemudian, ia kembali dengan identitas baru sebagai Michelle Ad Lynne lebih cerdas, lebih dingin, dan jauh lebih berbahaya. Dengan kekuatan finansial triliunan dan kecerdasan yang terasah, ia tidak datang untuk meminta keadilan.

Ia datang untuk menghancurkan.

Sedikit demi sedikit, segala yang dia bangun mulai runtuh tanpa peringatan. Tanpa ampun, kenyataan itu menghantamnya keras seperti pisau yang terus-menerus menebas luka lama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 羽菜, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26

Mikayla menutup koper peraknya dengan bunyi klik yang final. Di dalam kamar yang selama lima tahun ini menjadi penjara berlapis emas baginya, ia menatap sekeliling dengan tatapan kosong. Kebenaran yang baru saja ia temukan dari dokumen rahasia Gerald terasa lebih pahit dari racun yang selama ini ia telan: Keluarga Abimanyu tidak pernah benar-benar membelanya.

Uang 2,7 triliun yang kini ada di rekeningnya bukanlah bentuk kasih sayang Rajendra atau penebusan dosa Gerald. Itu adalah uang tutup mulut. Keluarga itu hanya ingin menjaga nama baik mereka agar skandal perselingkuhan dan sabotase medis tidak meledak ke publik.

"Tidak bisa... aku sudah tidak memiliki siapapun," gumam Mikayla perih. "Ayah, Ibu, bahkan kakek dan nenek... mereka semua memihak Naura. Anak yang cemerlang, si calon ibu dari pewaris Elang. Aku hanya bidak yang bisa dibeli dengan angka.”

Mikayla menyapu pandangannya ke arah deretan tas mewah di lemari kaca. Dengan senyum getir, ia meninggalkannya begitu saja. Ia tahu, hampir semua barang bermerek yang diberikan Elang selama ini adalah barang KW super sebuah penghinaan halus yang baru ia sadari setelah ia menjadi nasabah Solitaire dan memahami nilai barang asli.

"Bawa saja semua kepalsuan ini, Mas. Seperti cintamu yang juga palsu," bisiknya. Ia hanya membawa pakaian yang ia beli dengan gajinya sendiri sebagai manajer bank.

Untuk pertama kalinya dalam 10 tahun masa baktinya di bank swasta, di mana ia hanya mengambil libur jika tubuhnya benar-benar tumbang, Mikayla mengajukan cuti panjang tanpa tanggungan. Ia memiliki cukup kekayaan untuk tidak bekerja selama tujuh turunan, namun ia melakukan ini untuk memutuskan rantai dengan dunia lamanya.

"Aku butuh waktu untuk melihat dunia tanpa bayang-bayang Abimanyu," tulisnya dalam surel singkat kepada direksi bank

Mikayla melangkah keluar dari pintu utama rumah mewah itu tanpa menoleh ke belakang. Ia masuk ke dalam mobil jemputan yang sudah disiapkan oleh jaringan Ethan Aviel Leon.

Di dalam mobil, Ethan sudah menunggu, menyesap wine merahnya dengan tenang. "Kamu sudah siap?"

"Sangat siap," jawab Mikayla datar. "Biarkan mereka mencari darahku untuk menyelamatkan wanita itu. Biarkan mereka menangisi Elang yang hancur di jalan raya, sekarang, aku ingin mereka merasakan bagaimana rasanya ditinggalkan oleh orang yang selalu mereka injak.”

Mobil itu meluncur pergi, meninggalkan rumah megah yang kini hanya berisi kepalsuan dan tangisan keluarga Abimanyu yang mulai runtuh dari dalam. Mikayla tidak lagi menjadi korban, ia telah menjadi hantu yang paling menakutkan bagi mereka semua.

___

Di jalan raya menuju Bogor, lalu lintas sore itu berjalan seperti biasa padat, namun masih terkendali. Hingga dalam satu momen yang nyaris tak bisa diprediksi, sebuah truk besar di jalur berlawanan tiba-tiba oleng, kehilangan kendali, lalu menghantam mobil Elang dengan keras.

Benturan itu brutal, logam beradu, kaca pecah, suara rem dan teriakan bercampur dalam satu detik yang terasa terlalu cepat sekaligus terlalu lambat.

Sekilas, semuanya tampak seperti kecelakaan biasa.

Namun di balik kejadian itu, ada sesuatu yang jauh lebih gelap yang tidak terlihat oleh siapa pun di jalanan.

Ini bukan sekedar insiden, itu adalah sebuah skenario pengalihan yang sengaja Rajendra lakukan, demi nama baik keluarga yang ia jaga dengan sepenuh hati dan keyakinannya.

Di tempat lain, Rajendra Abimanyu berdiri diam di ruang kerjanya, menatap layar laporan dengan wajah tanpa ekspresi. Keputusan itu sudah diambil tanpa keraguan, sebuah langkah dingin yang hanya bisa dilakukan oleh seseorang yang menempatkan nama keluarga di atas segalanya.

Baginya, skandal yang sedang mengintai jauh lebih berbahaya daripada kehilangan satu orang, lebih baik tragedi yang bisa dikendalikan, daripada kebenaran yang menghancurkan segalanya. Jika Elang harus menjadi korban untuk menjaga nama besar Abimanyu tetap bersih, maka itu adalah harga yang, menurutnya, layak dibayar.

Dan di saat dunia luar hanya melihat sebuah kecelakaan tragis, tidak ada yang menyadari bahwa itu hanyalah bagian dari skenario yang telah disusun dengan rapi.

Kabar kecelakaan itu menyebar begitu cepat, menyeret nama besar Abimanyu ke pusat perhatian. Dalam hitungan jam, media ramai memberitakan mobil Elang yang ringsek di jalan menuju Bogor setelah dihantam truk besar. Namun yang membuat semua orang terpaku bukanlah kecelakaannya, melainkan satu hal Elang masih hidup, meski dalam kondisi kritis.

Di ruang ICU, tubuhnya terbaring tak bergerak, dikelilingi alat medis yang bekerja tanpa henti menjaga detak yang melemah. Wajahnya pucat, nyaris kehilangan jejak pria penuh kendali yang selama ini dikenal. Tidak ada respons, tidak ada kesadaran, hanya napas yang dipertahankan oleh mesin.

Di luar ruangan, Lisa berdiri dengan tubuh gemetar, matanya tak lepas dari sosok putranya di balik kaca. Tangisnya pecah tanpa bisa ditahan, suaranya bergetar saat memanggil nama yang tak mendapat jawaban.

“Elang… bangun, Nak…” Tangannya menempel di kaca, seolah itu cukup untuk menjangkaunya. Selama ini, Elang adalah kebanggaan yang selalu ia lindungi, anak yang ia bela tanpa ragu, bahkan saat kebenaran mulai kabur.

Namun melihatnya sekarang, tak berdaya dan nyaris hilang, semua yang selama ini ia pertahankan runtuh begitu saja, Ia tidak lagi peduli pada siapa yang melihatnya menangis.

Tidak lagi peduli pada harga diri yang biasa ia jaga.

Karena untuk pertama kalinya, yang ia hadapi bukan urusan kekuasaan atau nama besar, melainkan kemungkinan kehilangan yang tak bisa ia kendalikan.

Di dalam ruangan, para dokter bergerak cepat menjaga kondisi Elang yang masih belum stabil. Tidak ada yang berani memberi kepastian, hanya waktu yang akan menentukan apakah ia akan kembali membuka mata atau tenggelam lebih jauh dalam kegelapan.

Dan di tengah kepanikan yang mulai menyebar ke seluruh keluarga, tidak ada yang benar-benar menyadari bahwa semua ini bukan sekadar kecelakaan. Melainkan bagian dari sesuatu yang jauh lebih besar dan belum selesai.

Di RSUD Bogor, suasana berubah mencekam.

Lorong rumah sakit dipenuhi langkah tergesa, suara perawat yang saling memanggil, dan nafas cemas keluarga yang menunggu tanpa kepastian. Naura baru saja dilarikan ke ruang operasi setelah terjatuh dari tangga dalam kondisi yang mengkhawatirkan.

Pintu ruang operasi terbuka mendadak, seorang dokter keluar dengan wajah tegang, napasnya sedikit terengah. “Pasien kehilangan terlalu banyak darah! Stok golongan darahnya sangat terbatas dan saat ini habis. Siapa keluarga yang memiliki golongan darah yang sama?” suaranya tegas, hampir seperti perintah.

Semua saling berpandangan.

Namun hanya satu nama yang terlintas di benak mereka. Mikayla.

Ponsel Naura, ponsel Sinta, bahkan pihak rumah sakit mencoba menghubungi nomor itu berulang kali, panggilan masuk silih berganti, pesan terkirim tanpa balasan, namun tidak ada jawaban nomor itu tidak aktif.

Di dalam ruang operasi, waktu berjalan semakin sempit. Para dokter berusaha semaksimal mungkin, sementara di luar, kecemasan berubah menjadi ketakutan yang nyata, tak lama, dokter kembali keluar dan kali ini, wajahnya lebih berat. “Kami sudah berusaha menghentikan pendarahan,” ucapnya pelan, namun jelas. “Namun akibat benturan yang cukup keras… terjadi kerusakan serius pada rahim pasien. Kami terpaksa melakukan tindakan untuk menyelamatkan nyawanya.”

Sinta yang berdiri di depan langsung kehilangan pijakan.

“Rahim pasien tidak dapat diselamatkan,” lanjut dokter itu, “tapi… nyawanya masih bisa kami pertahankan.”

Kalimat itu jatuh seperti palu.

Tubuh Sinta melemah, ia terjatuh terduduk di lantai, tangannya gemetar hebat. Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan, napasnya tersengal, seolah sesuatu dalam dirinya ikut runtuh, dulu ia memilih mengorbankan Mikayla.

Bekerja sama dengan besannya, merancang sesuatu yang perlahan menghancurkan masa depan anaknya sendiri demi mempertahankan yang lain, membuat mikayla tidak bisa hamil.

Demi Naura.

Namun kini…

putri yang ia lindungi mati-matian justru kehilangan hal yang paling berharga dalam hidupnya, tangis Sinta pecah bukan lagi karena panik, melainkan karena penyesalan yang datang terlambat. Dan di tengah kekacauan itu tidak ada satu pun yang tahu di mana Mikayla berada. Seolah ia benar-benar telah menghilang, tepat saat semua orang akhirnya membutuhkan dirinya.

Keheningan yang ditinggalkan Mikayla terasa lebih menyiksa daripada teriakan histeris Sinta di koridor rumah sakit. Pintu ruang operasi tertutup kembali, meninggalkan aroma antiseptik dan penyesalan yang pekat.

Sinta meraung, tangannya memukul-mukul lantai marmer yang dingin. Ia teringat bagaimana lima tahun lalu ia menerima amplop cokelat dari Lisa Abimanyu kesepakatan rahasia untuk menyingkirkan potensi ahli waris dari rahim Mikayla agar posisi Naura sebagai "selingkuhan emas" tetap aman. Ia telah menjual kesuburan putri bungsunya demi kemewahan putri sulungnya

1
Nurhartiningsih
makin seru ih
Nurhartiningsih
wah jodoh yg sesungguhnya Dateng tuh mika
Nurhartiningsih
cerita yg sangat bagus..sayang terlalu bertele tele
Nurhartiningsih
lanjut...mkin bikin penasaran
Nurhartiningsih
lanjut..makin seru aja
Nurhartiningsih
mkin ngga sabar lihat kehancuran elang
Nurhartiningsih
lanjutkan
Nurhartiningsih
lanjut.. update nya jangan lama2
Nurhartiningsih
lanjut
Nurhartiningsih
lanjut yuk...semngt mik buat balas dendamnya
Nurhartiningsih
lanjuut
羽菜 Hana
siap kak, biasanya aku baca-baca di malam hari. 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!