Empat tahun menjalani pernikahan tanpa cinta, Hana hanya menuai luka. Dicap mandul oleh keluarga suaminya, dihina tanpa henti, hingga akhirnya diusir dan diceraikan oleh Farhan—pria yang seharusnya melindunginya.
Dalam keterpurukan, sebuah kesalahan membawa Hana pada malam tak terduga bersama Arsaka, pria asing yang ternyata mengubah takdir hidupnya. Dari malam itu, lahirlah harapan baru—seorang anak yang menjadi alasan Hana bangkit dan memulai hidup dari nol.
Saat kebenaran terungkap bahwa Hana sebenarnya tidak mandul, justru Farhan yang bermasalah, segalanya sudah terlambat. Farhan telah memilih jalan lain dan harus membayar mahal atas keputusannya.
Ketika masa lalu datang mengetuk kembali, mampukah Hana mempertahankan kebahagiaan yang akhirnya ia genggam? Dan apakah penyesalan Farhan masih memiliki arti?
Sebuah kisah tentang pengkhianatan, penebusan, dan cinta yang datang di waktu yang tak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Dua Puluh Lima
Pagi datang dengan suasana yang berbeda di rumah besar milik Arsaka.
Biasanya, rumah itu terasa dingin, tenang, dan berjalan sesuai ritme yang sudah teratur. Tapi pagi ini, ada sesuatu yang berubah. Sesuatu yang bahkan membuat para penghuni rumah ikut merasakannya, meski tak tahu pasti, ada apa.
Di kamar utama, Arsaka baru saja membuka mata. Ia mengernyit pelan.
Tubuhnya terasa aneh. Bukan sakit yang jelas, tapi lebih seperti lemas yang merayap pelan. Kepalanya sedikit berat, perutnya terasa tidak nyaman, dan ada sensasi mual yang membuatnya enggan bergerak terlalu cepat.
Arsaka duduk perlahan di tepi ranjang. Tangannya mengusap wajah kasar. “Aneh …,” gumamnya pelan.
Ia mencoba berdiri. Namun langkah pertamanya terasa tidak sekuat biasanya. Ia menahan diri sejenak, lalu menarik napas dalam.
Jarang sekali ia merasa seperti ini. Bahkan hampir tidak pernah.
Biasanya, ia selalu bangun dengan kondisi siap tempur, rapi, tegas, dan penuh kendali. Tapi pagi ini … Ia sendiri merasa berbeda.
Perutnya kembali terasa tidak enak. Mual kembali menyerang. "Aku ini kenapa?" tanyag
Arsaka menghela napas panjang, lalu berjalan keluar kamar menuju ruang makan. Seorang pembantu yang biasa dipanggil Bibi langsung menghampiri saat melihatnya.
“Selamat pagi, Pak,” sapa Bibi sopan. Arsaka hanya mengangguk singkat.
“Mau sarapan seperti biasa, Pak?” tanya Bibi.
Arsaka diam sebentar. Ia mencoba membayangkan menu sarapan biasanya—roti, telur, kopi hitam. Tapi entah kenapa, membayangkannya saja sudah membuat perutnya semakin tidak nyaman.
Ia menggeleng pelan. “Bubur ayam,” ucapnya singkat.
Bibi langsung terdiam. “Maaf, Pak … bubur ayam?” ulangnya, memastikan ia tidak salah dengar.
Arsaka menatapnya datar. “Kenapa? Susah?”
“Ti-tidak, Pak. Hanya saja .…” Bibi ragu-ragu. “Biasanya Bapak tidak suka bubur ayam.”
Arsaka tidak menjawab. Ia hanya menarik kursi dan duduk.
“Sekarang saya mau,” ucapnya singkat, nadanya tidak memberi ruang untuk pertanyaan.
Bibi langsung mengangguk cepat. “Baik, Pak. Saya buatkan sekarang.”
Ia segera pergi ke dapur, masih dengan wajah yang menyimpan tanda tanya besar.
Di meja makan, Arsaka duduk diam. Tangannya bertumpu di meja, matanya menatap kosong ke depan. Sesekali ia mengusap tengkuknya.
Mual itu masih ada. Terasa aneh. Seperti wanita hamil saja.
Beberapa menit kemudian, semangkuk bubur ayam hangat tersaji di depannya. Aromanya lembut, menenangkan. Entah kenapa, justru itu yang membuat perutnya sedikit lebih bersahabat.
Arsaka mengambil sendok. Ia mengaduk pelan, lalu mulai makan.
Suapan pertama. Ia berhenti sebentar. Tidak buruk. Bahkan … cukup enak.
Bibi yang berdiri tak jauh dari sana diam-diam memperhatikan. Wajahnya jelas menunjukkan kebingungan. Selama bertahun-tahun bekerja di rumah itu, baru kali ini ia melihat Arsaka makan bubur ayam.
Dan yang lebih aneh, ia terlihat menikmatinya. Belum sempat rasa heran itu hilang, suara langkah kaki terdengar dari arah depan.
“Permisi .…” Suara seorang pria terdengar.
Bibi menoleh. “Oh, Mas Han. Silakan masuk.”
Han mengangguk sopan. “Pak Arsaka ada, Bi?”
“Ada. Lagi sarapan di dapur,” jawab Bibi sambil menunjuk ke arah dalam.
Han sedikit mengernyit. Di dapur?
Jarang sekali Arsaka sarapan di sana. Biasanya selalu di ruang makan utama.
Namun ia tidak banyak bertanya. “Terima kasih, Bi.”
Han langsung melangkah masuk. Begitu sampai di dapur, langkahnya otomatis melambat.
Pemandangan di depannya membuatnya berhenti sejenak. Arsaka duduk santai dengan semangkuk bubur ayam.
Han berdiri diam. Tampak bengong. Beberapa detik berlalu tanpa suara.
Arsaka yang menyadari keberadaan Han akhirnya menoleh. Ia melihat bawahannya itu berdiri seperti patung, menatapnya tanpa berkedip.
Alisnya langsung berkerut. “Ada perlu apa kau datang?” ucap Arsaka tajam. Han masih diam.
Arsaka meletakkan sendoknya dengan sedikit keras. “Kalau hanya untuk bengong lihat saya sarapan, kau bisa pergi sekarang juga!" Nada suaranya naik.
Han langsung tersadar. Ia berkedip cepat, lalu menunduk sedikit. “Maaf, Pak.” Ia menarik napas, mencoba kembali fokus.
“Saya datang karena … saya sudah menemukan keberadaan Hana.”
Sendok di tangan Arsaka langsung berhenti di udara. Dalam satu detik, suasana berubah.
Arsaka menegakkan tubuhnya. Matanya yang tadi terlihat lesu kini tajam kembali.
“Hana?” ulangnya pelan, tapi penuh tekanan.
Han mengangguk. “Iya, Pak.”
“Di mana?” tanya Arsaka cepat.
“Di sebuah desa terpencil, Pak. Informasinya baru saya dapatkan semalam. Saya belum pastikan seratus persen, tapi ciri-cirinya sangat mengarah ke orang yang kita cari.”
Arsaka terdiam beberapa detik. Rahangnya mengeras. “Selidiki,” ucapnya tegas. “Pastikan itu dia.”
Han langsung mengangguk. “Baik, Pak.”
“Kalau benar itu Hana .…” Arsaka melanjutkan, suaranya lebih dalam, “Saya akan datang sendiri ke sana.”
Han menatapnya sekilas. Ia tahu betul apa arti kalimat itu. Ini bukan sekadar pencarian biasa.
“Siap, Pak.”
Ia ragu sebelum bertanya, “Kapan saya harus berangkat ke desa itu, Pak?”
Arsaka menatapnya datar. Suasana mendadak menjadi hening. Satu detik. Dua detik.
“Tahun depan!" jawab Arsaka.
Han langsung membeku. “Maaf … Pak?” tanyanya, tidak yakin dengan apa yang ia dengar.
“Tahun depan,” ulang Arsaka dengan wajah serius.
Han mengernyit. “Tahun depan? Apa … tidak terlalu lama, Pak?”
BRAK! Tangan Arsaka menggebrak meja. Mangkuk bubur sedikit bergetar.
“Sekarang!” bentaknya tajam. “Sejak kapan kamu jadi oon begini?”
Han langsung tersentak. “Maaf, Pak!” jawabnya cepat. “Saya segera berangkat sekarang juga.”
Arsaka menatapnya dingin beberapa detik, lalu kembali mengambil sendoknya.
Han menunduk. “Saya permisi.”
Tanpa menunggu jawaban, ia langsung berbalik dan pergi dengan langkah cepat. Suasana dapur kembali hening.
Bibi yang sejak tadi diam di sudut ruangan hanya bisa menahan napas, pura-pura sibuk dengan pekerjaannya.
Sementara itu, Arsaka kembali menatap bubur di depannya. Namun kali ini, pikirannya sudah jauh ke tempat lain.
Perlahan, sudut bibirnya terangkat. Senyum tipis. Senyum yang jarang terlihat.
“Hana …,” gumamnya pelan dalam hati.
Ia menyandarkan tubuhnya sedikit ke kursi. “Tunggu aku.”
Matanya menatap kosong ke depan, tapi penuh dengan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan—campuran antara rindu, penasaran, dan tekad yang kuat.
“Kalau itu benar kamu …,” lanjutnya dalam hati, “Aku akan datang sendiri.”
Ia kembali mengambil satu suapan bubur. Tapi kali ini, rasanya sudah tidak lagi penting. Pikirannya sudah melangkah lebih jauh. Menuju sebuah desa terpencil. Menuju seseorang yang selama ini ia cari.
dan dia yg bkln meratukan kan membhgiakan kmu Hana....