NovelToon NovelToon
SENTUHAN SANG MAFIA

SENTUHAN SANG MAFIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Mafia
Popularitas:12.5k
Nilai: 5
Nama Author: MissSHalalalal

"Jika besok pria tua itu datang lagi untuk menagih jawabanmu, katakan padanya kau lebih memilih membusuk di sel ini," suaranya rendah, nyaris seperti desisan yang berbahaya.

Aku tersentak, mencoba mencerna kalimatnya. "Apa? Kau... kau menyuruhku tetap di penjara ini?"

"Ya," sahutnya pendek. "Aku tidak ingin menikah. Terlebih lagi, aku tidak ingin menikah denganmu. Kau tidak tahu apa yang akan kau hadapi jika melangkah masuk ke mansion utama sebagai istri seorang Grisham. Di sana, kau tidak akan hanya melihat darah, tapi kau akan mandi di dalamnya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

34

Aku menyentuh permukaan kaca foto itu, jemariku bergetar hebat. Pria di foto itu tersenyum tipis—senyuman yang dulu selalu menyambutku setiap pagi di depan toko bunga. Damian. Bagaimana mungkin pria yang menghilang setahun lalu tanpa jejak, pria yang kupikir hanyalah warga sipil biasa, kini berdiri dengan angkuh di samping Erlan Grisham dalam sebuah foto keluarga resmi?

"Kenapa dia ada di sini? Bagaimana bisa Damian ada di tengah keluarga Grisham?" bisikku ngeri.

Otakku berputar liar. Jika Damian adalah bagian dari keluarga Grisham, lalu siapa Dante? Erlan bilang Evelyn membunuh Dante. Namun di foto keluarga ini, hanya ada dua anak laki-laki: Darrel dan Damian. Kecurigaan yang menyakitkan mulai merayap di benakku. Apakah Damian dan Dante adalah orang yang sama?

"Damian adalah Dante?" suaraku nyaris tak terdengar, tenggelam oleh deru napas yang memburu.

Tiba-tiba, suara derap langkah kaki dari arah koridor menyentak kesadaranku. Suara sepatu pantofel yang berat. Itu Darrel. Ia sedang berbicara dengan Dokter Giovani, dan suara mereka semakin mendekat ke arah kamar ini.

"Fasilitas di lantai tiga sudah siap. Tapi dia terus mengalami penolakan terhadap obat baru itu, Giovani," suara Darrel terdengar sangat rendah dan sarat akan kecemasan.

"Kita harus memindahkannya ke ruang isolasi sekarang, Darrel. Jika tidak, organ-organnya akan gagal," balas Dokter Giovani dengan nada profesional yang dingin.

Panik menyergapku. Jika Darrel menemukanku di sini, semua kepura-puraanku akan berakhir. Aku melihat ke sekeliling dengan kalut, mencari tempat bersembunyi. Mataku menangkap sebuah laci meja kerja yang sedikit terbuka, memperlihatkan sebuah map medis berwarna cokelat dengan stempel merah bertuliskan CONFIDENTIAL.

Dengan gerakan nekat, aku menyambar map itu dan segera menyelipkan tubuhku ke balik tirai balkon yang tebal, tepat sesaat sebelum pintu kamar terbuka dengan debuman keras.

"Tunggu di sini. Aku harus mengambil catatan medis aslinya di laci bawah," perintah Darrel.

Aku merapatkan punggung ke dinding kaca balkon, menahan napas sekuat tenaga. Dari celah tirai, aku melihat Darrel berjalan menuju meja kerjanya. Wajahnya tampak sangat kuyu, seolah seluruh beban dunia sedang menimpanya. Ia membuka laci—laci yang baru saja aku curi isinya.

Jantungku berhenti berdetak saat Darrel terdiam sejenak, menatap laci yang kini kosong itu.

"Ada apa, Darrel?" tanya Dokter Giovani dari dekat pintu.

Darrel tidak menjawab. Ia menutup laci itu perlahan, namun aku bisa melihat rahangnya mengeras. Ia tidak mencari map itu lagi. Ia justru menoleh ke arah balkon—ke arah tempatku bersembunyi.

"Leo!" teriak Darrel tiba-tiba.

Pintu terbuka lagi, dan Leo masuk dengan cepat. "Ya, Tuan Muda?"

"Periksa semua sudut rumah ini. Cari Lily. Sekarang!" suara Darrel terdengar seperti guntur yang mengancam.

Aku memejamkan mata, memeluk map medis itu erat ke dadaku. Di dalam map itu, di antara lembaran kertas yang kusambar acak, aku melihat sebuah nama yang tertulis di bagian atas formulir pasien: DANTE M.N. GRISHAM.

Dan di bawahnya, terdapat catatan klinis yang membuat air mataku jatuh tanpa suara: Status: Komatosa berkepanjangan akibat luka tembak di dada kiri.

"Dante masih hidup..." bisikku dalam hati dengan tubuh yang lemas. "Damian... pria yang kucintai... dia masih hidup di lantai tiga."

*

Ketegangan di kamar itu terasa hampir meledak. Aku bisa merasakan aura kemarahan Darrel yang meluap, memenuhi setiap sudut ruangan saat ia berdiri hanya beberapa meter dari tempat persembunyianku.

​"Cari dia sampai ketemu! Pastikan tidak ada satu pun pintu keluar yang tidak dijaga!" bentak Darrel lagi pada Leo.

​Langkah kaki Leo menjauh dengan terburu-buru. Aku meringkuk di balik tirai, mencoba mengatur napas agar tidak menimbulkan suara sekecil apa pun. Pikiranku berkecamuk hebat. Nama di map itu—Dante MN. Grisham—dan foto di dinding tadi telah menyatukan kepingan teka-teki yang mengerikan.

​Damian adalah Dante. Dan yang paling gila dari semua ini adalah: Darrel tidak tahu.

​Darrel tidak tahu bahwa wanita yang kini ia kurung sebagai istrinya adalah mantan kekasih dari kakak yang sangat ia lindungi. Dia tidak tahu bahwa cintaku dulu adalah untuk pria yang kini terbaring koma di lantai tiga rumahnya sendiri.

​"Giovani, bawa peralatanmu ke atas. Aku akan menyusul setelah aku menemukan Lily," ucap Darrel dengan suara yang mendadak mendingin.

​"Jangan terlalu keras padanya, Darrel. Dia mungkin hanya penasaran," Dokter Giovani mencoba menenangkan.

​"Dia bukan sekadar penasaran jika dia berani masuk ke kamarku, Giovani. Dia sedang mencari sesuatu."

​Suara langkah kaki Dokter Giovani menjauh, disusul keheningan yang mencekam. Namun, Darrel tidak beranjak. Aku bisa mendengar deru napasnya yang berat. Tiba-tiba, tangan Darrel menyibak tirai balkon dengan sentakan kasar.

​Sret!

​Cahaya lampu kamar menyambar wajahku yang pucat. Aku terduduk lemas di lantai balkon dengan map cokelat masih terdekap di dadaku. Darrel menjulang di depanku, bayangannya menelan seluruh tubuhku. Matanya yang gelap menatapku dengan kebencian dan kepedihan yang bercampur menjadi satu.

​"Apa yang kau lakukan di sini, Lily?" tanyanya, suaranya rendah dan bergetar karena emosi.

​Aku tidak bisa menjawab. Lidahku kelu. Mataku melirik ke arah foto keluarga di dinding, lalu kembali ke wajah Darrel.

​Darrel mengikuti arah pandanganku. Ia melihatku menatap foto Damian—kakaknya. Detik itu juga, ia menyambar map yang ada di dekapanku dan melihat isinya. Rahangnya mengeras hingga urat-urat di lehernya menonjol.

​"Kau melihatnya, bukan?" Darrel mencengkeram bahuku, memaksaku berdiri. "Kau ingin tahu ada apa di lantai tiga bukan!"

​"Darrel... kenapa kau menyembunyikannya?" isakku. "Kenapa semua orang bilang dia sudah mati?"

​"Karena dunia harus menganggapnya mati agar dia aman dari musuh-musuh Grisham! Agar dia aman dari pengkhianatan kakakmu, Evelyn!" teriak Darrel tepat di depan wajahku.

​Ia mendorongku ke dinding balkon, kedua tangannya mengunci pergerakanku. "Sekarang kau sudah tahu rahasia terbesar rumah ini. Kau sudah tahu bahwa kakakku masih bernapas di atas sana karena usahaku menjaganya tetap hidup selama setahun ini!"

​Aku menatap mata Darrel yang memerah. Dia sangat mencintai kakaknya. Dia mengorbankan kariernya sebagai dokter hanya untuk merawat Dante secara rahasia. Namun, ironi ini terlalu menyakitkan. Darrel mencintaiku, tapi dia menjaga pria yang lebih dulu memiliki hatiku.

​"Apa kau begitu membencinya, Lily? Apa kau begitu ingin melihatnya mati sehingga kau harus mencari tahu status medisnya?" tanya Darrel dengan nada menuduh.

​Aku menggeleng kuat, air mata mengalir deras. "Tidak, Darrel... bukan itu..."

​Aku ingin berteriak bahwa pria yang ada di lantai atas itu adalah Damian-ku. Aku ingin bilang bahwa aku merindukannya lebih dari apa pun. Tapi aku sadar, jika aku mengatakannya sekarang, Darrel—sang mafia yang posesif dan pencemburu—mungkin benar-benar akan membunuh Dante atau menghancurkanku.

​Darrel menarik napas panjang, mencoba menguasai dirinya. Ia mengusap air mataku dengan ibu jarinya, tapi gerakannya terasa kasar.

​"Dengar, Nyonya Grisham. Karena kau sudah tahu, maka kau tidak punya pilihan selain ikut menjaganya. Kau akan ikut denganku ke lantai tiga. Kau harus melihat apa yang dilakukan kakakmu pada pria paling berharga dalam hidupku."

​Darrel menarik tanganku dengan kasar, menyeretku keluar dari kamar menuju lift lantai tiga. Aku pasrah, kakiku melangkah dengan gemetar. Di dalam hati, aku menjerit ketakutan sekaligus rindu. Aku akan bertemu lagi dengan Damian, namun dalam keadaan yang paling tragis yang bisa kubayangkan. Dan aku harus berpura-pura tidak mengenalnya di depan pria yang kini memiliki status sebagai suamiku.

***

Bersambung...

1
Vanni Sr
huufttt smg lily g bodoh yaaa smg bisa seimbangi dn gada drama k toilet sndrian
Mita Paramita
semangat lily🔥💪
Indri
Menarik banget thor novel nya 😍
Mita Paramita
lanjut Thor 💪💪💪 double up
Vanni Sr
hruanya lily tuh patuh ajaa sihh setiap laki² pny carany sndri , dn yg paling penting hrus bisa seimbangi darell saat d luar biar g lemah dn gk terlihat bodoh.
Nda
di tunggu double up nya thor
Mita Paramita
debut pertama Lily di pesta mafia🤨 semoga disana Ketemu Evelyn
Nanik Arifin
sebenarnya Darrel itu lembut. apalagi untuk ukuran ketua Klan. Lily aj yg suka memancing amarah & rasa cemburu
Mita Paramita
Darrel berubah jadi suami siaga
Mia Camelia
tambah dong 1 chapteer lgi ?😂😂😂teka teki lily banyak sekali thor🤣🤣🤣
Mita Paramita
lanjut Thor double up 🔥🔥🔥
Vanni Sr
gimnaaa reaksi erlaaan , gmna danteee
Mia Camelia
darrel kok jadi kasar bgini yah ??? cinta gak sih🤣🤣🤣
MissSHalalalal: terbakar api cemburu kak🤭
total 1 replies
Mia Camelia
darrel posesif banget🤣, abis lily nya juga sih nyebut2 mulu damian, kan jadi cemburu tuh👍
Mita Paramita
kasian Lily 😭😭😭
Mia Camelia
darrel horror banget klo lagi cemburu😂😂😂
Vanni Sr
ko seolah olah darel blm prnh berhubungan sm lily sihh ,terus itu ko bilg ny clon istri
Mita Paramita
lanjut Thor double up 💪💪💪
Mia Camelia
alex jahat gak 🤣🤣🤣
Mita Paramita
keajaiban datang akhirnya Dante bangun juga🤨🤨🤨 lanjut Thor double up 🔥🔥🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!