NovelToon NovelToon
Trigger Between Us

Trigger Between Us

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Luo Aige

Soren Ravensdale-seorang assassin yang tak pernah gagal menjalankan misinya kini harus menerima kenyataan pahit ketika sahabat yang ia percaya-Vera, justru mengkhianatinya. Bukan hanya itu, Vera juga terlibat dalam pembunuhan adik angkatnya, Ellian Sorrel dan ternyata semua telah direncanakan atas perintah langsung dari ketua mereka sendiri.

Janji bahwa keluarga para anggota akan aman ... ternyata hanyalah kebohongan.

Dengan luka tembak di perutnya, Soren memilih mengakhiri hidupnya dengan kepercayaannya yang hancur dan terjun ke dasar jurang. Namun bukannya mati, ia justru terbangun di tubuh seorang gadis rapuh dengan wajah yang sangat mirip dengannya.

Yang kini statusnya adalah menjadi istri seorang Letnan Kolonel yang dingin dan penuh rahasia.

Dari seorang assassin menjadi seorang istri, apakah Soren benar-benar bisa berhenti dari dunia yang sudah menelan hidupnya atau justru kehidupan barunya hanya akan menyeretnya kembali ke lingkaran kejahatan yang lebih gelap?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luo Aige, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Duke Silvercrest

Elowen tampak gelagapan mendengar jawaban Aveline. Bibir wanita bangsawan itu sempat terbuka beberapa kali, tetapi tidak ada kalimat yang langsung keluar. Ia jelas tidak menyangka ancamannya justru dibalas dengan sikap setenang itu.

“Apa kau sudah kehilangan akal sehatmu?” Akhirnya Elowen berkata dengan suara menegang. “Kau pikir aku tidak berani melakukannya?”

Edmund yang sejak tadi diam, kemudian ikut membuka suara. Tatapan Marquis itu lurus tertuju pada Aveline dengan wajah dingin.

“Cukup,” ucapnya dengan nada suara rendah penuh tekanan. “Jangan membuat keributan lebih besar di rumah ini.”

Namun Aveline tampak sama sekali tidak tertarik memperpanjang perdebatan. Wanita muda itu hanya memutar pelan cangkir teh di tangannya sebelum kembali menatap mereka.

“Kalau begitu jangan membuang-buang waktuku.” Tatapannya kini berpindah pada Elowen.

“Bawa dia ke hadapanku.” Beberapa detik, ruangan terasa sunyi dan menegangkan.

“Atau perlu aku mengajarimu cara membunuhnya?”

Mata Elowen langsung membelalak. “Wanita gila!” teriaknya tanpa bisa menahan diri. “Dasar gila!”

Akan tetapi, Aveline tidak menggubris teriakan itu sedikit pun. Ia justru mengangkat cangkir tehnya, menyesap perlahan teh yang tadi ia tuang sendiri seolah percakapan barusan bukan sesuatu yang penting.

Selanjutnya gaun putih panjang miliknya jatuh rapi mengikuti gerak tubuhnya saat ia mulai melangkah keluar dari ruang tengah begitu saja.

“Aveline!” Lilian langsung berseru tidak terima. “Kau mau ke mana?!”

Namun Aveline terus berjalan tanpa menoleh sedikit pun. Liora yang menyadarinya dengan cepat dan terburu-buru mengikuti langkah majikannya dari belakang, meski wajah gadis itu masih terlihat tegang sejak tadi.

Langkah sepatu heels Aveline bergema pelan melewati lorong bagian dalam mansion keluarga Grimwald. Semakin jauh ia masuk, suasana rumah besar itu terasa semakin sunyi. Tidak ada pelayan yang berani menghentikannya. Bahkan beberapa orang yang berpapasan justru langsung menyingkir dengan wajah pucat.

Aveline terus berjalan sambil mengamati bagian dalam mansion.

Tatapannya bergerak perlahan ke area tengah rumah yang terbuka luas. Sebuah kolam panjang membentang di bawah jembatan batu kecil yang menghubungkan dua sisi bangunan utama. Cahaya matahari siang jatuh mengenai permukaan air yang tenang, membuat halaman dalam mansion itu terlihat indah dan mewah.

Tetapi perhatian Aveline tidak berhenti di sana. Matanya perlahan tertuju pada sebuah bangunan kecil di bagian paling belakang halaman. Bangunan itu terlihat jauh berbeda dibanding bagian rumah lainnya.

Dinding kusam dengan pintu tua, bahkan dari luar saja tempat itu terlihat tidak layak dijadikan tempat tinggal manusia.

Langkah Aveline kemudiaberhenti. Tatapan hitamnya menyipit tipis beberapa detik sebelum akhirnya ia berjalan lurus menuju bangunan tersebut.

“Elowen ....” Edmund tampak langsung menyadari sesuatu.

Wajah Marchioness itu berubah pucat. “Tunggu!” serunya cepat.

Tetapi terlambat.

Aveline menendang pitu itu hingga terhantam cukup keras. Beda tersebut sepenuhnya terlepas dari engselnya.

Para pelayan yang melihat, secara refleks langsung menutup mulut mereka. Bahkan Edmund terlihat membeku sepersekian detik begitu isi ruangan itu terlihat jelas.

Di dalam ruangan sempit dan gelap itu, seorang wanita setengah baya duduk bersandar di lantai dengan kedua tangan terikat. Pakaiannya begitu lusuh disertai dengan rambut berantakan, wajahnya tampak jauh lebih kurus dan pucat dibanding seharusnya. Kepalanya perlahan mendongak saat cahaya dari luar masuk menerangi ruangan. Bibirnya bergetar kecil. Matanya langsung dipenuhi air mata begitu melihat sosok yang berdiri di depan pintu.

“Aveline ...,” ujarnya lirih dengan suara yang nyaris pecah.

Aveline tidak langsung menjawab. Wanita muda itu justru melangkah masuk perlahan, lalu berlutut tepat di depan ibunya. Satu jari telunjuknya terangkat mengangkat dagu wanita tersebut dengan pelan agar wajah mereka sejajar.

“Ibu ...,” panggilnya dengan suara tenang.

Tatapan hitamnya menelusuri wajah lusuh di depannya tanpa perubahan emosi sedikit pun.

“Kau terlihat seperti tidak memiliki gairah hidup.”

“Mereka bilang akan membunuhmu,” lanjut Aveline santai. “Menurutmu ... apakah kau harus mati sekarang?” Kalimat kejam itu keluar begitu saja dari bibir mungilnya. Liora sampai menganga tidak percaya.

Sementara wanita setengah baya di hadapannya justru tersenyum pelan. Tidak ada ketakutan di wajahnya. Tatapannya tetap lembut penuh kasih saat memandang putrinya.

“Tentu saja ....” Suaranya terdengar lemah. “Apa pun akan kulakukan hanya untukmu, Aveline.”

Tangannya yang terikat bergerak kecil.

“Anak ibu ....”

Aveline membalas senyum itu dengan dingin.

“Bagus.” Kemudian ia mendekatkan bibirnya ke telinga sang ibu.

“Gigit lidahmu,” bisiknya pelan. “Sampai berdarah.”

Tubuh Marielle Voss sedikit bergetar. Seolah terhipnotis dengan ucapan putrinya wanita itu benar-benar menggigit lidahnya sendiri kuat-kuat hingga darah  perlahan mulai terlihat di sela-sela sudut bibirnya.

Sebelum siapa pun sempat bergerak, Aveline tiba-tiba memukul bagian punggung ibunya cukup keras hingga tubuh wanita itu langsung terhuyung ke depan disertai semburan darah dari mulutnya sebelum akhirnya jatuh tak sadarkan diri.

Menyaksikan hal itu, Elowen refleks mundur satu langkah dengan tangan bergetar. Lilian yang melihatnya bahkan sampai kehilangan suara.

Sedangkan Edmund menatap tubuh selirnya di lantai dengan rahang mengeras. Aveline perlahan mulai berdiri dan merapikan gaunnya sebelum pada akhirnya ia menatap semua orang dengan tatapan tenang.

“Marchioness,” ucapnya santai sambil membersihkan jemarinya yang terkena darah menggunakan sapu tangan. “Sepertinya kau tidak perlu mengotori tanganmu.” Sudut bibirnya terangkat tipis.

“Karena aku sudah melakukannya sendiri.”

Lilian langsung menunjuk ke arah Aveline dengan tangan gemetar. “Pe–pembunuh ... pembunuh!”

Ia mulai berteriak histeris, tetapi Edmund tiba-tiba menarik tubuh putrinya cukup kasar lalu membekap mulutnya dengan tangan. Lilian membelalak tidak percaya. Kedua matanya langsung mendelik tajam ke arah ayahnya sendiri.

Di sisi lain, Elowen masih menatap tubuh Marielle tanpa berkedip. Wanita itu benar-benar tidak bergerak.

Apakah dia benar-benar sudah mati? Pikiran itu membuat jantung Elowen mulai berdetak semakin cepat.

“Marquis Edmund ....” ujar Aveline. “Jika kau membiarkan putrimu terus berbicara seperti itu, cepat atau lambat tim penyelidik akan datang ke rumah ini.” Tatapan tajamnya menghunus lurus ke arah Marquis Grimwald.

“Menurutmu ... siapa yang harus dibungkam?”

“Ayah—”

“Diam!” bentak Edmund keras sampai Lilian langsung tersentak.

Kedua mata wanita muda itu mulai berkaca-kaca karena shock. Elowen akhirnya kehilangan kesabaran.

“Aveline, apa kau pikir kami tidak bisa melakukan apa pun setelah semua yang kau lakukan di sini?!” bentaknya marah. “Kau jelas-jelas yang—”

“Marchioness.” Aveline memotong ucapannya begitu saja. Kemudian ia menoleh santai ke arah tubuh ibunya yang tidak sadarkan diri di lantai.

“Kalau melihat kondisi ibuku sekarang ...,” ucapnya pelan. “Apa kau yakin mereka akan menangkapku?” tanyanya, tidak berapa lama Aveline justru tertawa kecil.

“Nanti mereka justru akan berpikir bahwa selir Marquis Grimwald menerima penderitaan selama bertahun-tahun di rumah ini lalu berakhir mengenaskan.”

Wajah Edmund langsung menegang. Pria itu menarik napas panjang lalu menghembuskannya kasar sambil memejamkan mata beberapa detik. Ketika matanya terbuka kembali, tatapannya sudah berubah jauh lebih dingin.

“Bawa dia keluar dari rumahku,” ucapnya tegas. Lilian dan Elowen langsung menoleh bersamaan.

“Beserta pelayan yang kau inginkan.”

“Apa?” Elowen tersentak. “Tidak! Aku tidak mengizinkannya membawa wanita Ines dan wanita itu pergi!”

“ELOWEN!” Bentakan Edmund menggema keras di seluruh halaman sampai beberapa pelayan refleks menundukkan kepala lebih dalam.

Tubuh Elowen langsung terdiam seribu bahasa. Matanya perlahan mulai berkaca-kaca saat menatap suaminya tidak percaya.

Sayangnya Edmund seperti tidak memperdulikannya sama sekali. Tatapan pria itu tetap lurus tertuju pada Aveline seolah akhirnya menyadari bahwa jika situasi ini terus berlanjut, rumah keluarga Grimwald benar-benar bisa hancur hanya dalam semalam.

~oo0oo~

Mobil hitam milik William bergerak perlahan memasuki kawasan elite Silvercrest sebelum akhirnya berhenti tepat di depan mansion keluarga Duke Alaric von Greifenwald. Cahaya sore jatuh samar di bangunan besar bergaya klasik Eropa itu. Pilar-pilar tinggi menopang bagian depan mansion, sementara gerbang besi hitam dengan lambang keluarga Greifenwald berdiri megah di halaman utama.

Keluarga Greifenwald bukan sekadar bangsawan biasa di Silvercrest. Nama mereka sudah lama menjadi salah satu keluarga paling berpengaruh di wilayah pusat kaum aristokrat Königswald. Bahkan banyak bangsawan lain lebih memilih menjaga hubungan baik dengan keluarga Duke tersebut daripada mencari masalah dengan mereka.

Namun berbeda dengan mansion keluarga bangsawan lain yang dipenuhi pesta dan keramaian, kediaman Greifenwald justru terasa jauh lebih tenang. Tampak teratur dan disiplin.

Bahkan para pelayan dan penjaga di halaman depan bergerak cepat tanpa suara berlebihan begitu mobil William berhenti.

Pintu kendaraan terbuka, William turun lebih dulu dengan mantel hitam militernya yang masih rapi setelah seharian berada di barak. Sorot matanya tetap dingin seperti biasa saat langkahnya berhenti tepat di depan tangga utama mansion.

Beberapa pengawal keluarga Duke langsung menundukkan kepala dengan hormat.

“Selamat datang, Tuan Kolonel,” ucap salah satu penjaga yang melangkah maju sebelum kembali membuka suara dengan nada sangat sopan.

“Tuan Duke sudah menunggu Anda di ruang pribadi.”

William mengangguk pendek sebagai jawaban, sementara di belakangnya, Bram dan Kellan ikut berjalan mengikuti langkah William menuju bagian dalam mansion.

Begitu memasuki area utama rumah keluarga Greifenwald, suasana tenang khas keluarga Duke itu semakin terasa jelas. Langit-langit tinggi dengan lampu kristal besar menggantung di tengah aula, sementara dinding marmer dihiasi lukisan keluarga bangsawan serta beberapa pajangan pistol dan senapan terlihat terawat dengan sangat baik.

Tidak ada suara gaduh ataupun pelayan yang berbicara sembarangan. Semua orang bergerak cepat dan rapi seolah sudah terbiasa hidup di bawah aturan ketat keluarga Greifenwald.

Langkah William terus bergerak melewati lorong utama mansion sampai akhirnya salah satu pelayan membuka pintu menuju koridor bagian dalam.

“Tuan Duke menunggu di dalam, Tuan.”

William berhenti sesaat sebelum menoleh sedikit ke belakang. “Kalian tunggu di luar.”

Bram dan Kellan langsung menghentikan langkah mereka bersamaan.

“Baik, Tuan.”

William kembali berjalan seorang diri menuju ruangan di ujung koridor. Tangannya terangkat membuka pintu kayu besar tersebut tanpa ragu, hingga menimbulkan suara ‘klik’.

Pintu akhirnya tertutup pelan di belakang tubuhnya. Sedangkan ruangan di hadapannya jauh lebih sunyi dibanding bagian lain mansion. Cahaya matahari sore masuk dari jendela tinggi di sisi ruangan, menerangi meja kerja besar serta rak-rak penuh dokumen dan buku tua.

Di dekat meja kerja, Duke Alaric berdiri sambil memegang gelas minuman di tangannya. Pria itu perlahan menoleh begitu melihat William masuk.

Sudut bibirnya langsung terangkat tipis. “Jarang sekali seorang Kolonel membuatku menunggu selama ini.” Nada bicaranya terdengar santai. Tetapi lebih terdengar mirip sindiran bercanda dibanding teguran sungguhan.

William berjalan beberapa langkah mendekat sebelum akhirnya berhenti tidak jauh dari pria tersebut. Tubuhnya tetap tegak sempurna.

“Saya memberi salam hormat untuk Duke Silvercrest.”

Mendengar jawaban formal itu, Alaric justru tertawa pelan. Pria tua itu mulai menghampiri William sambil menggeleng kecil.

“Tidak, tidak ...,” ujarnya santai. “Saya tidak cukup berani menerima salam seperti itu dari Anda, Yang Mulia Pangeran.” Ruangan itu langsung kembali hening beberapa detik, namun ekspresi William tidak berubah sedikit pun.

Sedangkan Alaric tampak masih bersikap santai. Duke itu berjalan melewati William sebelum meletakkan gelas minumannya di atas meja kecil dekat sofa.

“Duduklah,” ucapnya pelan.

William menurutu, ia kemdian bergerak mendekat lalu duduk di kursi seberang meja kerja besar tersebut. Tatapan Alaric perlahan berubah sedikit lebih serius dibanding sebelumnya.

Pria itu ikut duduk sambil menyandarkan tubuhnya pelan di kursi. “Saya mendengar, barak militer Anda akhir-akhir ini mulai terlalu sibuk,” ucap sang Duke diberangi dengan tatapan lurus yang tertuju pada William.

“Kasus apa sebenarnya yang sedang Anda tangani sampai-sampai wilayah Verlmire juga terlibat?”

William diam beberapa saat setelah pertanyaan itu keluar. Tatapan matanya tetap tenang mengarah pada Duke Alaric, sementara jemarinya bergerak pelan menyentuh sandaran kursi. Ruangan itu kembali hening beberapa detik sebelum akhirnya pria muda tersebut membuka suara.

“Perdagangan manusia,” jawabnya tenang. “Aku merasa Velmire sepertinya ikut terlibat.”

Mendengar jawaban tersebut, Alaric justru menghela napas panjang sebelum mengangguk kecil seolah tidak terlalu terkejut dengan arah pembicaraan itu.

“Tempat itu memang sudah lama terlihat mencurigakan,” ujarnya santai sambil menyandarkan tubuh lebih nyaman di kursi. “Setiap kali nama Velmire muncul, biasanya selalu diikuti urusan yang membuat orang normal berpura-pura tidak tahu.”

Sudut bibir sang Duke terangkat tipis.

“Namun berhentilah sampai di sana, Yang Mulia,” lanjutnya dengan nada bercanda malas. “Saya sudah terlalu tua untuk ikut memikirkan perdagangan manusia, kriminal, mayat di pelabuhan, atau hal-hal merepotkan lainnya.”

William terkekeh pelan mendengar ucapan tersebut. Tawanya rendah dan singkat, tetapi cukup membuat suasana ruangan terasa sedikit lebih ringan dibanding sebelumnya.

“Baiklah,” ujarnya sambil kembali menatap Alaric. “Kalau begitu, ada apa Tuan Duke memanggilku kemari?”

Mendengar pertanyaan itu, Alaric tidak langsung menjawab. Tatapannya justru berhenti beberapa detik pada wajah William seolah sedang mempertimbangkan sesuatu. Kemudian, pria itu menghela napas pelan.

“Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di antara kalian keluarga kerajaan,” ucapnya tenang. “Dan sejujurnya, aku juga tidak terlalu ingin ikut campur.”

“Namun Yang Mulia Raja memintaku menyampaikan sesuatu padamu.” William terdiam tanpa menjawab apapun.

“Katanya sudah saatnya kau kembali ke istana.” Ekspresi William akhirnya berubah samar. Tidak terlalu jelas, tetapi cukup untuk menunjukkan bahwa kalimat itu bukan sesuatu yang ingin dia dengar sekarang.

Pria itu tampak hendak membuka suara. Namun sebelum William sempat mengatakan apa pun, Alaric langsung mengangkat satu tangan untuk menghentikannya.

“Jangan katakan apa pun padaku, Yang Mulia,” potong Duke itu cepat sambil menggeleng kecil. “Tugasku hanya menyampaikan pesan.”

William akhirnya menutup kembali mulutnya. Sementara Alaric tetap bertahan pada sikap santainya. Duke itu mengambil kembali gelas minumannya sebelum meneguk sedikit isi di dalamnya.

“Lagipula,” lanjutnya santai. “Semakin sedikit saya tahu tentang urusan keluarga kerajaan, semakin panjang umur saya.”

William lagi-lagi terkekeh kecil, diikuti oleh Alaric yang mulai tertawa.

“Percayalah, mengurus keluarga Greifenwald saja sudah cukup membuat kepalaku lelah,” ujar pria tua itu santai sambil mengangkat gelas minumannya sedikit ke arah William. “Jadi jangan seret aku untuk ikut memikirkan urusan keluarga kerajaan juga.”

.

.

.

Bersambung

1
Dede Dedeh
lanjutttt....... thor
Norris Yuniarty
seru2 thor😍😍😍
Norris Yuniarty
seru thor semangat💪💪💪
Dede Dedeh
lanjuttttttt
Norris Yuniarty
seru2 thor semangat episode selanjut y💪💪💪
Eka Putri Handayani
sedikit bingung tapi jika dibaca secara lebih cermat lagi aku udah mulai paham😄
Saelyn: Aku mikirnya pun kadang bingung nulisnya🤣
total 1 replies
Norris Yuniarty
seru sekali😍😍😍
Norris Yuniarty
mulai cemburu nich🤭🤭🤭
Norris Yuniarty
seru thor😍😍😍
Norris Yuniarty
semangat thor💪💪💪
Norris Yuniarty
seru thor😍😍😍
Norris Yuniarty
seru sekali thor😍😍😍
Norris Yuniarty
semangat thor💪💪💪
Norris Yuniarty
seru thor!!! 😍😍😍
Norris Yuniarty
seru2 let's go💪💪💪
Norris Yuniarty
seru2 cerita y😍😍😍
Norris Yuniarty
seru cerita y😍😍😍
Saelyn: Mksh😺
total 1 replies
Dede Dedeh
lanjut.......
Dede Dedeh
aku suka karakter cewek yg kuat....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!