Apa yang paling menyakitkan dari pengkhianatan?
Bukan saat musuh menusukmu dari belakang, tapi saat orang yang kau anggap saudara justru merebut duniamu.
Kinanti harus menelan kenyataan pahit bahwa suaminya, Arkan, telah menikahi sahabatnya sendiri yang bernama Alana, di belakang punggungnya. Kini, dengan kehadiran anak di rahim Alana, Kinanti dipaksa untuk berbagi segalanya.
Tapi, Kinanti bukan wanita yang akan diam saja. Jika mereka ingin berbagi, Kinanti akan memastikan mereka menyesali keputusan itu.
Kita simak kisah selanjutnya di Cerita Novel => Duri Dalam Pernikahan.
By - Miss Ra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 20
Udara di ruang kerja Kinanti pagi itu terasa tipis, seolah oksigen sengaja disedot keluar untuk digantikan dengan ketegangan yang pekat.
Kinanti duduk di balik meja mahoninya yang luas, wajahnya setenang permukaan danau di musim dingin, sementara di depannya, Arkan berdiri dengan buku-buku jari yang memutih karena meremas pinggiran meja.
Di atas meja itu tergeletak sebuah map merah darah. Di dalamnya bukan proyek pembangunan gedung pencakar langit atau akuisisi lahan baru. Itu adalah daftar eliminasi, surat pemecatan massal untuk hampir lima puluh karyawan di unit distribusi tekstil di sebuah kota kecil di Jawa Tengah.
"Tanda tangani ini, Arkan," ucap Kinanti datar. Suaranya tidak lebih keras dari bisikan, namun bagi Arkan, itu terdengar seperti vonis mati.
Arkan melirik lokasi anak perusahaan tersebut. Kota yang sama yang sempat disebut Bi Ijah dalam ketakutannya tempo hari. Jantung Arkan berdegup kencang, menghantam dinding dadanya dengan ritme yang menyakitkan.
"Kenapa harus sekarang? Dan kenapa harus aku yang turun langsung ke sana?" tanya Arkan, suaranya parau. "Unit itu sedang stabil, Kin. Pemecatan massal di daerah sekecil itu akan menghancurkan ekonomi warga lokal. Kita bisa melakukan restrukturisasi perlahan, tidak perlu sekejam ini."
Kinanti menyesap teh chamomile-nya, matanya menatap Arkan melalui uap tipis yang mengepul dari cangkir porselennya.
"Dunia bisnis tidak mengenal kata 'perlahan', Sayang. Kita butuh efisiensi untuk menutupi kerugian di sektor properti bulan lalu. Dan aku ingin kamu yang ke sana karena aku ingin melihat... apakah kamu masih memiliki ketegasan sebagai pemimpin?"
Arkan membeku. Kinanti tidak menyebut nama Alana, namun nama itu seolah tertulis dengan tinta tak kasat mata di setiap baris surat pemecatan tersebut.
"Ini bukan soal efisiensi, kan?" desis Arkan. "Ini hukuman. Kamu ingin aku pergi ke kota itu, berdiri di sana, dan secara simbolis menghancurkan orang-orang yang mungkin saja adalah tetangga atau teman wanita itu. Kamu ingin aku menunjukkan padamu bahwa aku bisa menjadi orang yang kejam sepertimu."
Kinanti meletakkan cangkirnya dengan denting halus yang mematikan. Ia berdiri, melangkah perlahan mengitari meja hingga ia berada tepat di hadapan Arkan. Ia merapikan dasi Arkan, jari-jarinya yang dingin menyentuh leher pria itu, membuatnya bergidik.
"Panggil itu apa pun yang kamu mau," bisik Kinanti. "Tapi ingat satu hal, posisi Direktur Utama itu bukan hak lahirmu. Itu adalah pinjaman dariku."
Kinanti menarik tangannya, matanya kini mendingin. "Jika kamu menolak pergi ke Tegal hari ini, besok pagi kamu tidak perlu datang ke kantor. Aku akan mengosongkan ruanganmu, memblokir semua fasilitasmu, dan Arjuna... dia tidak akan pernah tahu bahwa ayahnya adalah seorang pecundang yang memilih menjadi pahlawan bagi rakyat jelata daripada menjadi raja bagi putranya sendiri."
Arkan kembali ke kamarnya dengan langkah terseret. Di sana, ia melihat Arjuna sedang digendong oleh pengasuhnya melewati koridor. Bayi itu tampak sangat tampan dalam balutan baju bermerek, kulitnya bersih, baunya harum mahal.
Arkan masuk ke ruang ganti, menatap deretan jam tangan mewahnya yang masing-masing seharga satu rumah di pinggiran kota. Ia menatap cermin, melihat pria dengan setelan jas jutaan rupiah yang tampak gagah, namun di dalamnya ia merasa seperti bangkai yang berjalan.
"Jika aku pergi, aku mungkin akan menemukannya," bisik nurani Arkan. "Aku bisa mencarinya, aku bisa memberikan sisa hidupku untuk menebus dosa padanya."
Namun, saat ia menatap kunci mobil sport-nya di atas meja rias, sebuah ketakutan yang lebih besar mencengkeramnya.
Ketakutan akan kemiskinan. Ketakutan akan kehilangan pengakuan dunia. Ketakutan akan menjadi orang biasa yang harus mengantre untuk sesuap nasi, seperti yang dialami Alana sekarang.
"Aku tidak bisa kembali ke sana," gumam Arkan pada pantulannya sendiri. "Aku tidak bisa hidup menjadi gelandangan."
Ia membenci dirinya sendiri saat menyadari bahwa egonya jauh lebih besar daripada rasa cintanya pada wanita yang telah memberinya anak. Ia membenci kenyataan bahwa ia lebih takut kehilangan saldo di rekeningnya daripada kehilangan jejak wanita yang pernah ia janjikan surga.
Dengan tangan gemetar, Arkan meraih pulpen emasnya. Ia kembali ke ruang kerja Kinanti tanpa suara. Kinanti masih di sana, menunggu dengan kesabaran seorang predator.
Sret.. Sret..
Arkan membubuhkan tanda tangannya di setiap lembar surat pemecatan itu. Setiap goresan tinta terasa seperti ia sedang menggorok lehernya sendiri. Ia menyerahkan map itu kembali pada Kinanti.
"Aku akan berangkat ke Tegal satu jam lagi. Aku akan menyelesaikan pemecatan itu," ucap Arkan dengan nada monoton, seolah rohnya sudah keluar dari tubuhnya.
Kinanti menerima map itu dengan senyum tipis yang memuakkan. "Pilihan yang bijak, Suamiku. Kamu baru saja membuktikan bahwa kamu memang milikku sepenuhnya. Jangan lupa bawakan aku oleh-oleh khas sana."
Perjalanan menuju Tegal terasa seperti perjalanan menuju neraka. Di dalam mobil mewah yang kedap suara, Arkan duduk di kursi belakang, menatap pemandangan jalan tol yang melesat.
Di pangkuannya, sebuah tablet menampilkan data karyawan yang akan ia pecat, orang-orang kecil yang hidupnya akan hancur hanya karena satu tanda tangannya.
Ia mulai melakukan monolog internal yang menyakitkan.
"Kau adalah pengecut paling hina di dunia, Arkan," batinnya. "Kau tahu dia ada di sana. Kau tahu dia menderita. Tapi kau justru datang untuk membawa kehancuran lebih lanjut hanya agar kau bisa tetap memakai sepatu kulit buatan Italia ini."
Kini, Arkan menyadari bahwa kebahagiaan Alana adalah harga yang ia bayar untuk tahtanya. Ia berfikir, dulu Kinanti adalah wanita yang sangat lembut dan berhati malaikat, tapi entah kenapa sekarang, semua sikapnya berubah sejak saat Kinanti mengetahui dirinya telah menikahi sahabatnya sendiri.
Setiap kali mobilnya berguncang melewati lubang jalan, Arkan merasa mual. Ia bukan lagi pria yang jatuh cinta. Ia adalah budak korporat yang telah menjual nuraninya pada iblis demi kenyamanan duniawi.
Ia mulai tidak menyukai Kinanti, tapi ia jauh lebih membenci dirinya sendiri karena ternyata, ia adalah pria yang begitu dangkal.
Saat mobil memasuki perbatasan kota, Arkan memejamkan mata rapat-rapat. Ia tidak berani melihat keluar jendela. Ia takut melihat bayangan Alana di setiap sudut jalan.
Ia takut bahwa jika ia melihat wanita itu, ia tidak akan bisa menahan diri untuk tidak bersujud di kakinya, tapi ia juga tahu, ia tidak akan pernah punya keberanian untuk meninggalkan kemewahannya.
"Tuan, kita sudah sampai di kantor cabang," lapor supirnya.
Arkan membuka mata. Ia merapikan jasnya, memasang wajah dingin yang dibilang Kinanti, dan melangkah keluar. Ia siap menjadi algojo bagi orang-orang yang tidak berdosa, hanya demi memastikan hidupnya tetap berkilau emas, meski di dalamnya telah busuk dan mati.
...----------------...
To Be Continue ....
jng sampai pezina Dan pelakor menang. mereka hrs ttp di injak kinanti.
berarti yudha mendukung per selingkuh an dong, wah semoga ikut dpt karma km yudha.
nnti kl Arjuna sdh besar Dan tau semua bilang saja ibu kandung mu Alana wanita murahan, ngangkang ma laki orang jd pelakor yakin lah Arjuna akn malu krn anak hasil zina 🤣 alias anak haram 🤣
jelas kinanti dadi moster Wong koe selingkuh kr konco ne. Wong ra sadar diri.
mkne kondosikan burung mu itu arkan jng masuk Goa pelakor.
pingin Kaya Raya Dua istri.
Wes selingkuh tp gk ngroso Salah.
Arkan itu ingine hidup mewah dng Istri sah Dan pelakor e iuhhh mnjijikkan.
Dan Satu lagi pelakor Alana juga gk tobat mlh ingin balas dendam. aneh pelakor kalah kok sakit hati.
Arkan Dan Alana itu ciri ciri manusia gk punya hati, dah selengki tp merasa korban waktu di balas kinanti. tp pas bhgia gk ingat nyakiti hati kinanti.
mnding hancurkan arkan Dan Alana sekarang drpd nnti membalas.
mnding hancurkan arkan Dan Alana sekarang drpd nnti membalas.
apalagi Arkan gk bisa move on Dr Alana.