NovelToon NovelToon
Dalang Di Balik Pembunuhan

Dalang Di Balik Pembunuhan

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Balas Dendam / Action
Popularitas:126
Nilai: 5
Nama Author: Dian umar

Kayla, Alfian, Joy, dan Jenny berusaha memecahkan dalang di balik penculikan dan pembunuhan. Puzzle demi puzzle mereka susun, hingga membentuk sebuah petunjuk, bahwa Seseorang yang sangat dekat dengan mereka adalah pelakunya. Lalu tindakan apa yang akan mereka ambil? Dan apa motifnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dian umar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27

"Persiapkan diri kalian! Besok kalian akan melewati beberapa ujian." Ucap Naya.

Besok mereka akan melewati beberapa ujian, yaitu uji ketahanan fisik+ penggunaan senjata tajam, dan uji kemampuan memasak.

Setelah selesai mengelilingi ruangan pelatihan ini, mereka diarahkan menuju asrama/ tempat tinggal anak-anak.

Asrama anak-anak dibagi menjadi beberapa ruangan. Setiap ruangan sangat luas dan berisikan 7 tempat tidur. Artinya, setiap satu ruangan diperuntukan untuk satu kelompok.

Ruangan anak asuh mereka ada di ujung koridor, sehingga mereka melewati banyak ruangan untuk sampai di tempat itu.

Sepanjang jalan mereka mendengar suara teriakan dan kegaduhan dari pengasuh dan anak asuhnya. Dari percakapannya bisa disimpulkan banyak anak-anak yang susah di atur. Walaupun tempat ini terkenal sangat disiplin, masih banyak anak-anak yang bandel dan susah diatur.

"Kak! Kamu yakin?" Bisik Jenny kepada Kayla dengan nada yang terdengar ragu.

"Kita harus bertahan. Untuk masuk saja sudah lumayan susah, jadi kita harus tetap bertahan." Ucap Kayla tegas berusaha menguatkan dirinya dan Jenny.

"Kalian di kasih kebebasan mendidik anak-anak yang dibawah asuhan kalian. Mendidik dengan kekerasan ataupun dengan kelembutan, semuanya terserah dan bergantung pada cara kalian masing-masing. Yang harus kalian ingat! Kalau mereka bandel dan tak mau mengikuti aturan, kalian yang akan kena hukuman." Jelas Naya untuk kesekian kali.

Walaupun tidak terlalu membantu, setidaknya penjelasannya sedikit meringankan beban yang ada dipikiran mereka. Dengan kebebasan mendidik menjadikan mereka bisa mengarahkan anak-anak itu dengan baik.

Setelah berjalan cukup jauh, akhirnya mereka sampai di ujung koridor. Di ujung koridor ini ada 4 ruangan dan satu pintu yang terlihat sedikit aneh dan menyeramkan.

"Ini pintu apa?" Tanya Jenny penasaran.

"Itu tempat untuk anak-anak yang sangat bandel dan susah diatur. Di ruangan itu aku sendiri yang jadi penanggung jawabnya." Ucap Naya.

Alfian melirik pintu itu dalam-dalam... Matanya seolah mengisyaratkan bahwa ia seperti mengenal tempat itu. Matanya menatap tajam, rahangnya mengeras dengan sempurna. Namun sesaat kemudian ia mulai mengontrol dirinya dan memalingkan pandangan ke arah lain, berusaha tidak perduli.

"Kuharap kalian mengerti dengan penjelasan ku yang sangat panjang ini. Aku tak mau mendengar pertanyaan-pertanyaan lagi, semuanya sudah aku jelaskan." Ucap Naya lalu pergi.

Sebelum pergi Naya sudah memberikan mereka masing-masing satu kertas. Didalam kertas itu sudah tertera kelompok yang akan mereka asuh.

Kayla mendapatkan kelompok 50, Jenny mendapatkan kelompok 49, Amber mendapatkan kelompok 48, dan Vanya mendapatkan kelompok 47.

Setelah membuka kertas itu, mereka berempat memandangi pintu yang sesuai dengan apa yang tertulis di kertas. Ada sedikit keraguan, namun setelahnya mereka melangkah perlahan ke arah ruangan itu.

Sementara itu, Alfian dan Raga segera bergegas meninggalkan tempat itu. Mereka berjalan mengikuti langkah Naya yang sudah berjalan cukup jauh di depan.

Memang, Naya tidak memberikan perincian atau perintah khusus apa pun mengenai pekerjaan yang akan mereka jalani itu. Namun, mereka berdua sadar betul bahwa hal itu belum selesai. Mereka tetap memilih untuk mengikuti wanita itu dari belakang, berniat menanyakan penjelasan lebih lanjut, serta ingin mengetahui secara pasti apa saja tugas dan aturan yang berlaku di tempat kerjaan mereka nanti.

"Kenapa kalian mengikuti aku?" Tanya Naya tanpa menoleh, dan tetap berjalan dengan langkah yang pelan.

Raga dan Alfian berjalan mendahului Naya. Setelah berhasil mencegah langkah dari gadis itu, mereka pun saling memberikan kode.

"Kau belum menjelaskan pekerjaan kami!" Teriak mereka secara bersamaan.

Padahal mereka sudah lelah mengikuti Naya tadi, tapi mengenai pekerjaannya sama sekali tidak dibahas. Mereka hanya mendengarkan penjelasan pekerjaannya mereka si pengasuh, dan pekerjaan mereka sama sekali tidak dibahas.

"Menjelaskan itu bukan bagianku!" Ucapnya dingin lalu melanjutkan langkah.

"Terus kami akan bertanya pada siapa?" Tanya Alfian, suaranya keras dan menggelegar memenuhi ruangan.

"Tanyakan padanya!" Ucap Naya sembari menunjuk orang yang terlihat sedang berjalan ke arah mereka.

"Nay!" Seru orang tersebut, saat mengetahui seseorang yang berjalan didepannya itu adalah Naya.

Dia adalah seorang laki-laki yang bertubuh sangat tinggi dan tubuh yang kekar. Langkahnya sangat cepat dan panjang, sehingga untuk sampai di depan mereka dia tidak butuh waktu lama.

Pria itu kini berdiri di depan Naya, dia melirik ke belakang sekilas lalu menatap Naya dengan tatapan tanya.

"Aku mencari mereka sejak tadi. Ternyata mereka sedang bersamamu. Kau tidak memberitahukan kepada mereka bahwa aku yang akan membimbing dan menjadi penanggung jawab mereka mulai hari ini?" Tanya pria itu -Emilio- dengan suara yang berat dan dalam.

"Nggak sempat, mereka juga tidak bertanya dan langsung mengikuti aku tanpa bertanya." Jawab Naya dengan nada santai, namun terdengar sangat menyebalkan di telinga Raga.

Cup!

Kakinya menjinjit, berusaha agar bisa setara dengan dagu milik Emilio yang menjulang tinggi. Lalu mendaratkan ciuman sekilas pada dagunya.

"Aku serahkan mereka, kau harus membimbing mereka dengan baik." Ucapnya dengan lembut disertai senyuman yang jarang nampak.

Setelahnya Naya menyingkir sedikit ke samping lalu melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti, ia meninggalkan mereka bertiga.

"Tenyata dia juga bisa lembut ya? benar-benar pemandangan yang langka! Apalagi dengan wajah yang secantik itu, membuatnya tidak begitu cocok bersikap kaku." Ucap Raga yang terpaku dengan perubahan sekilas dari Naya.

Sedangkan Emilio yang mendapatkan perlakuan khusus itu hanya tersenyum tipis. Namun setelahnya dia memandangi mereka dengan serius.

"Apakah kalian akan terus bengong di tempat ini terus?" Tanya Emilio kepada mereka.

Kini Emilio menatap Alfian sangat lama. Alfian juga membalas tatapan itu. Mereka seolah sedang berkomunikasi melalui tatapan mata.

Setelahnya Emilio membalikkan badan, lalu berjalan pelan ke arah depan.

"Tunggu!"

Begitu suara berat dan familiar itu masih ke gendang telinga, tubuh mereka langsung diam mematung di tempat. Seolah suara itu ada mempunyai kekuatan yang bisa mengendalikan tubuh mereka.

Seketika ruangan yang sunyi itu terasa sangat dingin. Belum juga mengetahui pemilik suara itu, tubuh mereka seakan merinding dan takut.

"Aku ada urusan dengan kalian!" Ucapnya Dingin dan tegas.

Mereka bertiga yang ingin mengetahui sumber suara yang bisa menunduk, kepala mereka seakan berat untuk diangkat.

Tubuh Alfian seakan menegang setelah tahu pemilik suara dingin tadi. Pantas saja dia merasa sangat familiar.

Gavin berdiri di depan mereka dengan wajah yang dingin dan tatapan mata yang tajam. Ia menatap Alfian dan raga dengan sangat tajam.

"Bimbinglah mereka dengan baik! Bereskan mereka apabila bersikap aneh dan mencurigakan!" Perintah Gavin kepada Emilio.

Mendengar perkataan yang sedikit kejam itu mereka berusaha untuk tenang. Mereka bukan orang bodoh! Yang kalau di gertak langsung terlihat panik. Karena semakin kalian terlihat panik, maka kalian akan terlihat semakin bersalah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!