NovelToon NovelToon
Penawar Luka Aira

Penawar Luka Aira

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:7k
Nilai: 5
Nama Author: Fega Meilyana

"Menikahlah dengan saya, Aira."
"A-apa?!"
***
"Saya bukan perempuan solehah."
"Saya pun. Kita akan belajar bersama."
"Saya tidak sempurna."
"Kesempurnaan hanya milik Allah."
"Saya tidak cantik."
"Bagi saya cantik."
"Saya tidak yakin bisa jadi istri yang baik."
"Saya akan bimbing kamu."
"Saya ingin childfree."
"Tidak masalah."
"Saya anak haram."
"Lalu kenapa? Status “anak haram” itu bukanlah identitasmu di hadapan Allah. Itu hanya label dari manusia. Kamu bukan kesalahan. Kamu bukan aib. Kamu adalah manusia yang Allah ciptakan dengan tujuan. Allah tidak pernah salah menciptakanmu.
Aira mendongak, menatap Azzam. "Kata-kata itu..."

***

Aira yang hidupnya penuh dengan kehilangan, dianggap anak haram hingga ia memutuskan untuk tidak menikah. Namun Azzam datang menjadi penawar luka untuk Aira.
Apakah Aira bisa jatuh cinta dengan Azzam?
Tanpa mereka sadari bahwa cinta pertama mereka adalah orang yang sama.
Cerita ini spin off dari Cinta Masa Kecil Ustadz Athar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fega Meilyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bertemu untuk ke empat kalinya

“Gadis itu…” batinnya.

Mereka saling menatap dalam diam, masing-masing tenggelam dalam pikirannya sendiri. Hingga akhirnya Aira yang lebih dulu memalingkan wajah. Jantungnya berdegup tak karuan.

“Ma-makasih ya… kamu udah nolongin saya.” ucapnya pelan.

Namun laki-laki itu masih menatapnya, seolah memastikan bahwa gadis di depannya benar-benar nyata.

Aira mengerutkan kening. Ia melambaikan tangan di depan wajah pria itu. “Halooo…”

Laki-laki itu tersentak. “Astaghfirullah…” lirihnya. “Hm… iya, maaf. Kamu bilang apa tadi?”

Aira menahan senyum tipis. “Saya ngucapin terima kasih karena kamu udah nolongin saya.”

Tanpa menjawab, laki-laki itu justru membuka hoodie yang ia kenakan, lalu menyodorkannya kepada Aira. “Pakai ini.”

Aira menatap bingung.

“Jilbab kamu robek.”

Refleks Aira menyentuh kerudungnya yang sobek di bagian samping akibat ditarik kasar Dewa tadi. Wajahnya memerah menahan malu.

“Tapi saya—”

“Gapapa.” potong pria itu lembut. “Saya gak masalah kok. Ambil aja.”

Aira ragu sejenak, lalu menerima hoodie itu dengan kedua tangan. “Makasih… nanti akan saya balikin.”

“Tidak perlu dipikirkan. Yang penting kamu dulu.”

Aira menunduk pelan. “Hmm… iya.”

Sementara itu, pria tersebut menatap wajah Aira diam-diam.

"Kita bertemu untuk keempat kalinya… dan kali ini aku nggak akan biarin kamu pergi lagi."

Ya.

Laki-laki itu adalah Azzam.

Dan gadis yang berdiri di hadapannya sekarang… adalah sosok yang selama lima tahun terakhir diam-diam tinggal di sudut hatinya.

Ia menarik napas pelan. “Nama kamu siapa?” tanyanya akhirnya.

Aira sedikit gugup. “S-saya Aira.”

“Aira?” ulang Azzam pelan, seolah menikmati nama itu.

Lalu matanya sedikit melebar. “Apa kamu… yang beberapa waktu lalu jadi kurir makanan itu?”

Aira menatapnya kaget. “Iya… itu saya.”

Dadanya makin tak karuan.

"Kenapa jantung aku berdegup kencang begini? Kenapa aku harus dipertemukan lagi dengan laki-laki ini…?" batin Aira panik sendiri.

Azzam tersenyum tipis. “Oh iya… saya Azzam.”

Padahal Aira tidak menanyakan namanya tapi Azzam malah memberi tau namanya.

Mereka sama-sama menangkupkan kedua tangan di dada sebagai salam hormat.

Azzam kembali bertanya, kali ini suaranya lebih serius. “Kenapa kamu bisa dihadang mereka? Sepertinya kamu kenal pria tadi.”

Aira menghela napas. “Iya… kenal. Dia om-nya teman saya.”

Azzam mengepalkan rahang. Ia menahan emosi saat teringat perlakuan Dewa tadi.

“Rumah kamu di mana? Biar saya antar.”

Aira cepat menggeleng. “Terima kasih tawarannya, tapi maaf… saya bawa motor.” katanya sambil menunjuk motor bututnya yang terparkir tak jauh dari sana.

Azzam menoleh ke arah motor itu, lalu kembali menatap Aira. “Baik. Tapi jangan salah paham.” katanya tenang. “Saya ikut kamu dari belakang aja. Saya cuma takut mereka ganggu lagi. Ini sudah malam.”

Aira terdiam sejenak.

Ada rasa hangat yang aneh menjalari dadanya.

“Baiklah…” ucapnya pelan. “Terima kasih sekali lagi ya.”

Akhirnya mereka pun sama-sama menaiki motor masing-masing.

Aira di depan.

Azzam mengikuti dari belakang, menjaga jarak.

Sepanjang perjalanan, Aira terus menyangkal gejolak di hatinya sendiri. Ia bingung kenapa pertemuan dengan pria itu membuat dadanya sesak sekaligus tenang.

Namun sedalam apa pun ia menolak—ada seulas bahagia yang diam-diam tumbuh di sana.

Sementara di balik helmnya, Azzam tersenyum kecil. “Kamu memang takdir aku, Aira…” gumamnya dalam hati.

Membutuhkan waktu sekitar lima belas menit hingga mereka akhirnya sampai di rumah Aira. Rumah sederhana itu berdiri di gang kecil, jauh berbeda dari rumah megah milik Azzam. Namun entah kenapa, Azzam justru menatapnya lama. Ada rasa hangat yang tak bisa dijelaskan saat melihat tempat tinggal gadis itu.

Aira lebih dulu turun dari motornya, lalu mendorong kendaraan tuanya masuk ke halaman kecil. Setelah itu ia bergegas menghampiri Azzam yang masih duduk di atas motor.

“Makasih sekali lagi udah nolongin saya.” ucapnya tulus. “Saya gak tau apa jadinya kalau kamu gak datang.”

Azzam menatapnya tenang. “Tentu… saya akan merasa bersalah kalau saya gak nolongin kamu.” gumamnya pelan.

Aira mengernyit. “Hah? Kamu ngomong apa tadi?”

Azzam tersadar lalu menggeleng santai. “Hm… gak ada. Saya cuma bilang, sama-sama.”

“Oh… oke.”

Aira lalu memegang hoodie yang kini masih ia kenakan. “Hoodie kamu gimana?”

“Buat kamu aja.”

Aira langsung menggeleng cepat. “Saya gak bisa nerima. Pasti ini mahal.”

Azzam tersenyum tipis, lalu berkata pelan namun jelas. “Tidak. Yang mahal itu aurat kamu.”

Aira terdiam.

“Cukup aurat kamu dilihat oleh mahram kamu saja.”

Deg!

Jantung Aira berdebar hebat. Entah kenapa kalimat sederhana itu terasa sangat dalam.

Ia berusaha menutupi gugupnya.

“Maaf… saya gak bisa minta kamu mampir…”

“Saya mengerti, Aira.” jawab Azzam cepat. “Kamu tenang aja.”

Ia menatap rumah itu sebentar lalu kembali ke wajah Aira.

“Saya juga gak mau.”

Aira salah paham dan menunduk malu. “Iya… karena rumah saya kayak gubuk. Jauh dengan rumah kamu yang megah."

Azzam spontan menggeleng. “Bukan itu maksud saya.”

Lalu ia berkata tenang, membuat Aira menatap lagi.

“Saya gak mau berduaan dengan yang bukan mahram saya. Rumah kamu terlihat sepi."

Aira terpaku.

Azzam menambahkan dengan nada datar namun sengaja, “Kecuali… kamu mau jadi mahram saya.”

Wajah Aira langsung memanas.

“Maaf… saya pikir—eh?” Ia gugup sendiri. “Tadi kamu bilang apa?”

Azzam pura-pura polos. “Semua rumah itu sama.”

Aira menggaruk tengkuk, bingung apakah ia salah dengar atau pria itu memang sengaja menggodanya.

“Oh… iya.”

Ia menunduk sebentar lalu berkata lagi, “Sekali lagi… terima kasih.”

Azzam menghela napas pendek sambil tersenyum tipis. “Kamu mau ngomong terima kasih berapa kali?”

Aira manyun sedikit. “Iya… maaf.”

Azzam terkekeh kecil. “Kalau gak terima kasih, ya maaf.”

Aira mulai kesal. “Ya terus saya harus bilang apa?”

Azzam menatap lurus ke matanya. “Cukup bilang… iya, saya mau menikah dengan kamu.”

“Hah?!” mata Aira membulat. “Apa sih maksudnya?”

Namun Azzam sudah menyalakan motor. “Saya pulang dulu. Saya akan kembali dengan membawa kedua orangtua saya."

Ia memakai helmnya sambil tetap menatap Aira yang masih kebingungan.

“Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumussalam…” jawab Aira refleks.

Motor Azzam melaju perlahan meninggalkan gang itu.

Aira masih berdiri di depan rumahnya, mematung dengan hoodie pria itu masih melekat di tubuhnya.

Beberapa detik kemudian ia mengerutkan kening dan mengomel sendiri. “Apa sih maksudnya… aneh banget.”

Namun tanpa sadar, sudut bibirnya justru terangkat sedikit.

Di tempat lain.

Suasana sebuah basecamp kecil tampak berantakan. Kursi terbalik, botol-botol berserakan, meja kayu bergeser dari tempatnya.

Dewa berdiri di tengah ruangan dengan napas memburu. Wajahnya merah padam menahan amarah.

Brak!

Ia menendang kotak kardus di depannya hingga terpental ke sudut ruangan. “Aarrghhh!”

Rencananya gagal total. Padahal malam ini, menurutnya, keadaan sudah sangat sempurna untuk mendapatkan Aira. Jalanan sepi, tak ada orang, dan Aira sendirian.

Namun semuanya hancur gara-gara satu laki-laki tak dikenal yang datang tiba-tiba.

Rahang Dewa mengeras. Tangannya mengepal kuat. “Siapa sih laki-laki itu…” desisnya penuh benci.

Tak lama, pintu basecamp terbuka. Seorang pria bertubuh kurus tinggi masuk sambil bersiul santai.

Namun langkahnya langsung terhenti saat melihat ruangan yang kacau. “Wih… kenapa nih, bro?” tanyanya sambil mengangkat alis.

Pria itu adalah Willy, sahabat Dewa yang sama-sama punya tabiat buruk.

Dewa menoleh tajam. “Aarrgh! Rencana gue gagal, Wil!”

Willy tertawa kecil lalu duduk di sofa yang masih utuh. “Oh… lo masih ngejar gadis itu?”

Dewa mendelik. “Jelas lah! Bukannya lo juga masih ngincer sepupunya cewe incaran gue?"

Willy malah tertawa keras. “Hahaha! Jelas masih.”

Ia menyandarkan tubuh santai. “Dia mantan gue yang belum gue sentuh. Semua itu gara-gara pria kurang ajar yang ikut campur urusan gue.”

Dewa mendengus kasar. “Gue harus cari cara lain buat dapetin Aira.”

Willy menatap sahabatnya lama, lalu menyeringai miring.n“Lo beneran cinta?”

Dewa terdiam sesaat.

Pertanyaan itu seperti menampar egonya.

Cinta?

Ia bahkan tak tau arti kata itu.

“Gak tau,” jawabnya akhirnya. “Tapi gue pengen dia jadi milik gue.” Matanya menyala penuh ambisi gelap. “Gak boleh ada yang rebut dia dari gue.”

Willy berdecak sambil menggeleng.n“Itu bukan cinta, Bro.” Ia menatap Dewa lurus-lurus. “Itu obsesi.”

Dewa menyeringai dingin.n“Gue gak peduli.”

Ia meraih botol di meja lalu melemparkannya ke dinding hingga pecah. “Pokoknya gue harus dapetin Aira.”

Willy tertawa pelan, menikmati kegilaan sahabatnya. “Kalau gitu…” katanya sambil menyandarkan siku ke lutut. “Kita bikin rencana yang lebih rapi.”

Dewa menoleh perlahan.

Sorot matanya penuh dendam.

Sementara di luar sana… ia belum tau bahwa laki-laki yang menolong Aira malam ini bukan pria sembarangan.

Dan jika ia terus bermain kotor—Maka yang hancur nanti bukan hanya rencananya. Tapi dirinya sendiri.

***

Bi Lastri tak bisa meninggalkan suaminya begitu saja. Mang Arif sangat membutuhkan dirinya. Namun di sisi lain, ia juga merasa tak enak hati jika harus terus-menerus izin tidak masuk kerja. Apalagi hari ini, ia berharap bisa meminta gajinya dibayar lebih awal karena keadaan yang mendesak. Ia sudah mengajukan permohonan kepada bagian keuangan, tetapi staf di sana mengatakan harus meminta persetujuan bos terlebih dahulu.

Bosnya memang orang yang sangat baik. Justru karena itulah Bi Lastri semakin merasa sungkan. Beliau selalu memanusiakan para pekerjanya, sehingga Bi Lastri merasa tak tau diri jika terlalu sering absen. Belum lagi rasa tak enak kepada teman-teman kerjanya yang harus menanggung pekerjaan tambahan.

Aira yang baru saja selesai sarapan memperhatikan wajah ibu asuhnya yang tampak murung. Ia pun mendekat dengan heran.

“Bibi kenapa?” tanyanya sambil menyentuh lengan Bi Lastri.

Bi Lastri sedikit tersentak. “Ah… kenapa, Nak?”

“Bibi kenapa? Makanannya juga gak dihabisin.”

“Ah… iya.”

Aira menatap lekat wajah wanita itu. “Ada sesuatu yang ngeganjel di pikiran Bibi?”

Bi Lastri terdiam.

“Jujur aja, Bi. Aira ini anak Bibi, kan?”

“Aira…”

Tanpa menunggu jawaban, Aira langsung memeluk wanita itu erat. “Cerita ya, Bi…” bisiknya lembut.

Bi Lastri tak mampu lagi menahan beban di dadanya. “Bibi gak bisa ninggalin Mang Arif. Tapi Bibi juga gak bisa terus-terusan izin kerja. Rasanya gak sopan kalau Bibi sering gak masuk tapi tetap digaji. Bibi gak mau makan gaji buta…” ucapnya lirih.

Tentu saja Bi Lastri tidak menceritakan semuanya. Tentang permintaan gaji di muka, tentang uang yang sedang sangat dibutuhkan—ia tak ingin Aira ikut memikirkan beban itu.

Aira melepaskan pelukan, lalu menatapnya dengan mantap. “Yaudah gini aja… Aira yang gantikan Bibi kerja.”

Bi Lastri langsung menggeleng cepat. “Aira, jangan…”

“Gapapa kok, Bi. Aira bisa.”

“Tapi gak seharusnya kamu ngelakuin semua pekerjaan itu.”

Aira tersenyum kecil. “Bi… anggap aja ini bentuk terima kasih Aira sama Bibi.”

Seketika air mata Bi Lastri jatuh. Ia kembali memeluk gadis itu sambil terisak. “Ya Allah, Aira… harusnya kamu itu tinggal di rumah mewah… hidup enak… nggak perlu susah-susah begini…”

Aira tersenyum pahit. “Buat apa rumah mewah, Bi… kalau keberadaan aku gak pernah dianggap?”

“Tapi bagaimanapun… kamu tetap anaknya Tuan Alfand, Aira.”

“Kalau aku benar-benar anaknya…” suara Aira bergetar,. “aku gak mungkin diusir… dan dianggap gak ada.”

Bi Lastri menatapnya dengan mata basah. “Tapi, Aira…”

“Udah ya, Bi.” Aira menyeka air mata wanita itu dengan lembut. “Cukup. Jangan nangis lagi.”

Ia berdiri, mengambil tasnya, lalu tersenyum seolah tak terjadi apa-apa. “Aira siap-siap dulu. Hari ini Aira kerja gantiin Bibi.”

Bi Lastri memandang punggung gadis itu dengan dada sesak. Di balik senyumnya yang tegar, Aira terlalu sering memikul luka sendirian.

1
syora
apa kalau nggak slh sahabat umma arsyila waktu skolah si desi desi itu kah
ya allah/Sob//Sob//Sob//Sob//Sob//Sob/
Fegajon: iya betul babget😭
total 1 replies
Anak manis
seru, bagus, lucu
anakkeren
inget thor
Nifatul Masruro Hikari Masaru
semoga cepat terungkap kebenaran nya gak ada drama tes dna ditukar kayak di dracin
Syti Sarah
ayo zam,semangat untuk membuktikan smua nya
Shabrina Darsih
bagus Azam bujtiin air anak nya alfrand sebel bangt kihta yesi sm jesika
Shabrina Darsih
wkwkwkwkwk malu dah jesica bukan fia yg d lamar
Syti Sarah
aduh,ksian bnget ya yg udh trllu tinggi brmimpi 🤭🤭
Ayu Oktaviana
kasihan kamu jes.. sudah dandan cantik cetar membahana mlh yang dilamar aira ank kandung pak alfand😂😂
anakkeren
lope buat authornya 😘
anakkeren
sukurin lu jes😡
Nifatul Masruro Hikari Masaru
kasihan deh kamu jes. kamu kan bukan anaknya pak alfand
just a grandma
ceritanya Azzam lebih berat ya daripada adiknya tapi tetep suka 😍
cutegirl
dr cerita cila, trus azzua dan sekarng Azzam aku suka. semangat tes Thor🥰🥰
Syti Sarah
ayo dong Aira,lihat prjuangan Azzam untuk kamu
Syti Sarah
lnjut lgi thor.ayo dong Thor cpetan buat Aira bisa nrima Azzam spnuh nya 😊
anakkeren
baper😭
just a grandma
lnjut Thor. bikin tiga bab dong😡
cutegirl
bneran suka sma karakter Azzam 😭
Nifatul Masruro Hikari Masaru
tes DNA zam
Fegajon: iya nanti kak di bab bab berikutnya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!