NovelToon NovelToon
Berhenti Mengejar Tuan Dingin

Berhenti Mengejar Tuan Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / CEO / Dunia Masa Depan
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: GABRIELA POSENTIA NAHAK

Selama tiga tahun, Kinara mengabdikan seluruh hidupnya hanya untuk mengejar cinta Arlan—seorang CEO dingin yang tak pernah menganggapnya ada. Bagi Arlan, Kinara hanyalah gangguan yang tidak berarti dan bayangan yang membosankan.
​Hingga suatu hari, sebuah rahasia menyakitkan membuat Kinara sadar bahwa cintanya telah mati. 'Cukup, Arlan. Mulai hari ini, aku berhenti mengejarmu. Anggap saja kita tidak pernah saling mengenal.'
​Kinara pergi, menghilang tanpa jejak. Namun, saat Kinara muncul kembali sebagai wanita sukses yang mandiri dan tak lagi meliriknya, Arlan justru mulai kehilangan akal. Arlan yang dulu dingin, kini justru berlutut memohon maaf di bawah hujan.
​'Kenapa kau tidak menatapku lagi, Kinara? Aku mohon... kembali mengejarku.'
​Sayangnya, bagi Kinara, pintu itu sudah tertutup rapat. Penyesalan Arlan hanyalah angin lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon GABRIELA POSENTIA NAHAK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1 : Batas Kesabaran

​Hujan deras mengguyur kota dengan sangat ganas, seolah langit sedang ikut mengamuk.

Namun, Kinara tetap berdiri mematung di lobi gedung perkantoran mewah yang dinding-dinding kacanya memantulkan kemegahan dunia yang tak pernah bisa ia gapai.

Di tangannya, sebuah kotak bekal yang masih terasa hangat ia dekap erat-erat di depan dada.

Kotak itu bukan sekadar wadah makanan; di dalamnya ada harapan yang telah Kinara bangun selama lima jam di dapur.

Ia mengabaikan luka iris di jarinya demi menyiapkan menu kesukaan suaminya.

Hari ini adalah ulang tahun pernikahan mereka yang ketiga, sebuah tonggak sejarah yang Kinara rawat dengan penuh doa, meski ia melakukannya sendirian.

​Ting!

​Suara lift yang berdenting memecah kesunyian lobi yang mulai sepi. Sosok pria tinggi dengan setelan jas abu-abu gelap melangkah keluar.

Langkah kakinya yang mengenakan sepatu kulit mahal beradu dengan lantai marmer, menciptakan irama yang angkuh.

Itulah Arlan.

Pria yang selama tiga tahun ini menjadi pusat kehidupan bagi hidup Kinara.

Wajahnya setajam pahatan es, tampan dengan garis rahang yang keras, namun tatapannya sangat mematikan bagi siapa pun yang mencoba mendekat.

​"Arlan!"

panggil Kinara.

Suaranya sedikit bergetar, bersaing dengan deru hujan di luar. Bibirnya yang pucat karena kedinginan mencoba mengukir senyum paling manis yang ia punya.

​Langkah Arlan terhenti seketika. Ia tidak mendekat, hanya melirik jam tangan Rolex-nya dengan tatapan tidak sabar yang sangat kentara. Ia lalu menatap Kinara dari ujung kepala hingga ujung kaki, seolah wanita di depannya hanyalah noda yang mengganggu keindahan lobinya.

"Kenapa kamu di sini?"

​"Aku membawakan makan malam kesukaanmu, Arlan. Aku tahu kamu sibuk, tapi hari ini kan ulang tahun pernikahan ki—"

​"Buang saja," potong Arlan tajam, bahkan sebelum Kinara menyelesaikan kalimatnya.

Suaranya datar, dingin, dan benar-benar hampa dari setitik pun rasa bersalah.

"Aku ada janji makan malam dengan klien penting. Jangan menjadi pengganggu, Kinara. Pulanglah sekarang juga. Kamu memalukan berdiri di sini dengan baju basah kuyup seperti itu. Apa kata orang-orang kantorku jika melihatmu?"

​Kinara tertegun, dadanya terasa sesak seperti dihantam beban ribuan ton.

"Tapi aku sudah menyiapkannya sejak sore, Arlan. Tanganku bahkan teriris saat memotong bahan-bahannya. Sedikit saja... aku hanya ingin kita makan bersama satu kali ini."

​Arlan menghela napas panjang, rahangnya mengeras karena rasa muak yang sudah di puncak. Tanpa peringatan dan tanpa belas kasihan sedikit pun, ia merenggut kotak bekal itu dari pelukan Kinara.

​PRANG!

​Tanpa ragu, Arlan menjatuhkannya begitu saja ke dalam tempat sampah besar di samping lobi.

Kotak itu pecah berkeping-keping, isinya yang ia masak dengan penuh cinta kini berhamburan, bercampur dengan sampah kertas dan kotoran lainnya.

​Hati Kinara serasa ikut hancur berantakan bersama bunyi dentuman itu. Harapannya, cintanya, dan harga dirinya yang selama ini ia pertahankan mati-matian, semuanya baru saja dibuang ke tempat sampah di depan matanya sendiri.

​Arlan melangkah maju, memperpendek jarak. Ia membisikkan kata-kata yang jauh lebih dingin dari air hujan tepat di telinga Kinara.

"Berhenti bersikap menyedihkan, Kinara. Mengejarku selama tiga tahun tidak akan pernah membuatku mencintaimu. Berhentilah bermimpi, karena bagiku, kamu tetaplah kesalahan yang terpaksa aku nikahi. Mengerti?"

​Arlan berlalu tanpa menoleh lagi. Ia masuk ke dalam mobil mewah yang sudah menunggu di depan pintu, meninggalkan Kinara dalam kehampaan yang luar biasa luas.

​Kinara tidak menangis.

Tidak ada setetes air mata pun yang jatuh.

Matanya justru terlihat kosong dan kelam.

Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, rasa sesak yang biasanya membakar dadanya kini menghilang, digantikan oleh rasa dingin yang luar biasa yang membekukan seluruh perasaannya.

​Ia menunduk, menatap cincin perak tipis di jari manisnya.

Cincin yang selama ini ia jaga lebih dari nyawanya sendiri, simbol dari sebuah janji yang hanya ia tepati sendirian. Pelan, dengan tangan yang stabil tanpa gemetar, Kinara melepas cincin itu. Ia meletakkannya di atas tutup tempat sampah—tepat di atas bangkai makanan yang dibuang Arlan.

​"Kamu benar, Arlan," bisiknya lirih pada angin malam yang menusuk tulang.

"Mengejarmu memang sangat menyedihkan. Dan aku... tidak ingin menjadi orang menyedihkan lagi."

​Kinara berbalik arah, berjalan menembus hujan tanpa payung, membiarkan tubuhnya basah seiring dengan hilangnya sisa-sisa kehangatan cintanya. Mulai detik ini, Arlan bukan lagi dunianya. Arlan hanyalah orang asing yang pernah ia kenal dengan rasa sakit yang luar biasa.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!