Prabu, seorang pria yang dulunya penuh ambisi, kini tenggelam dalam depresi berat yang merenggut gairah hidupnya. Melihat kondisi sang putra yang kian memprihatinkan, ayahnya yang merupakan seorang pilot senior, merasa hanya ada satu orang yang mampu menarik Prabu keluar dari kegelapan: Xena.
Xena bukan sekadar wanita dari masa lalu yang pernah mengejar-ngejar Prabu saat SMA, ia kini adalah seorang dokter spesialis jiwa yang handal. Sang ayah yakin bahwa kombinasi antara keahlian medis dan ketulusan hati Xena adalah kunci kesembuhan Prabu.
Meski dipenuhi penolakan dan sikap dingin yang membeku, Prabu akhirnya menyerah pada desakan orang tuanya. Ia menyetujui pernikahan tersebut dengan satu syarat mutlak di kepalanya: pernikahan ini tak lebih dari sekadar sesi pengobatan.
Xena pun melangkah masuk ke dalam hidup Prabu, bukan lagi sebagai gadis remaja yang naif, melainkan sebagai penyembuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Melihat wajah Prabu yang tampak begitu menderita saat mengunyah dada ayam yang hambar, pertahanan Xena akhirnya runtuh.
Ia menghela napas panjang, lalu mengambil sendok bersih dan mengambil satu suap penuh daging sapi beserta kuah kuningnya yang kental.
"Sini," ucap Xena pendek.
Prabu mendongak, matanya langsung berbinar melihat sendok yang dijulurkan Xena ke arahnya.
Tanpa menunggu perintah kedua, ia segera menyambut suapan itu dengan penuh semangat.
Rasa gurih, pedas, dan hangatnya rempah tongseng itu meledak di lidahnya.
Prabu memejamkan mata, seolah sedang menikmati makanan paling mewah di dunia.
"Hanya satu sendok ya, Pra. Ini untuk penambah semangat saja supaya kamu tidak loyo saat latihan nanti," tegas Xena sambil menarik kembali sendoknya.
Prabu menelan suapan itu dengan penuh khidmat, lalu menatap Xena dengan senyum lebar yang sangat tulus.
Perasaan senang karena mendapatkan satu suap tongseng itu ternyata jauh lebih besar daripada sekadar rasa makanannya; itu adalah rasa diberikan kesempatan kembali oleh Xena.
"Terima kasih, Xen. Rasanya, luar biasa enak," ucap Prabu dengan suara yang jauh lebih bertenaga.
"Dikasih kuahnya sedikit saja semangatku langsung naik seribu persen."
Xena hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah suaminya yang kembali ceria hanya karena satu suap makanan.
"Lebay. Sudah, habiskan dada ayammu. Setelah ini kita mulai sesi evaluasi pertama."
Prabu mengangguk patuh. Ia makan dengan jauh lebih lahap sekarang.
Di tengah suasana vila yang tenang itu, satu suap tongseng dari tangan Xena menjadi tanda kecil bahwa meski luka masih ada, tembok besar yang memisahkan mereka selama ini mulai perlahan-lahan terkikis oleh perhatian-perhatian sederhana yang tulus.
Selesai makan, suasana di vila pantai itu berubah menjadi jauh lebih serius.
Xena menuntun Prabu menuju ruang keluarga yang luas.
Tanpa banyak bicara, Xena berjalan menuju sakelar dan mematikan lampu utama, menyisakan ruangan dalam kegelapan yang hanya diterangi cahaya rembulan dari balik jendela kaca.
Xena mengeluarkan ponselnya dan menghubungkannya ke pengeras suara.
Detik berikutnya, ruangan itu dipenuhi oleh rekaman suara atmosfer kokpit—suara statis radio, bunyi instrumen pesawat, dan deru mesin jet yang konstan.
Suara yang dulu selalu memicu serangan panik luar biasa bagi Prabu.
"Kalau kamu tidak kuat, bilang stop," ucap Xena dengan nada profesional, namun ada getaran kekhawatiran yang ia sembunyikan.
Prabu menganggukkan kepalanya dengan mantap.
Ia memejamkan mata, membiarkan kebisingan itu mengepung indranya.
Ia mulai mengatur napasnya dengan teknik yang pernah diajarkan Xena; tarik napas dalam, tahan, lalu embuskan perlahan.
Anehnya, kali ini ia tidak melihat bayangan api atau tangisan Tryas di dalam kegelapan itu.
Bayangan kecelakaan yang menghantuinya selama bertahun-tahun seolah memudar. Sebagai gantinya, yang muncul di benaknya adalah bayangan Xena.
Ia mengingat suara Xena di rumah sakit, kalimat yang terus terngiang seperti alarm di kepalanya:
"Setelah ini, kita urus perceraian kita."
Ketakutan akan kehilangan Xena ternyata jauh lebih besar daripada ketakutannya akan kecelakaan pesawat.
Prabu mengepalkan tangannya, bertekad bahwa ia harus sembuh agar memiliki kesempatan untuk mencegah perceraian itu terjadi.
Hampir setengah jam berlalu dalam kegelapan yang bising itu.
Xena akhirnya berjalan mendekat dan menghidupkan lampu kembali. Cahaya terang seketika memenuhi ruangan.
"Bagaimana?" tanya Prabu sambil menatap wajah istrinya. Tidak ada keringat dingin, tidak ada gemetar hebat.
Xena tersenyum tipis dan mengacungkan jempolnya.
"Kemajuan yang luar biasa, Pra. Apa yang kamu lihat tadi? Apakah bayangan kecelakaan itu muncul lagi?"
Prabu menggelengkan kepalanya perlahan. Ia menatap Xena dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Tidak ada api, Xen. Tidak ada Tryas. Pikiranku, hanya penuh dengan kamu."
Xena tertegun sejenak mendengar kejujuran Prabu, namun ia segera mengalihkan pembicaraan untuk menjaga profesionalitasnya.
"Bagus. Berarti fokusmu sudah beralih," ucap Xena sambil merapikan peralatannya.
"Besok pagi kamu lari pagi untuk melatih fisik. Setelah itu, siang hari kita akan melakukan tes kesehatan menyeluruh. Kalau semua hasilnya bagus, aku akan memberikan rekomendasi medis agar kamu bisa segera kembali terbang."
Prabu menganggukkan kepalanya dengan patuh. "Aku akan lakukan apa pun yang kamu minta, Xen. Apa pun."
Xena hanya mengangguk kecil lalu berjalan menuju kamarnya, meninggalkan Prabu yang masih duduk di ruang tengah, menyadari bahwa besok adalah langkah awal baginya untuk kembali ke langit—dan langkah awal untuk membuktikan bahwa ia layak tetap berada di bumi bersama Xena.
Malam semakin larut di vila pantai itu. Setelah sesi terapi yang cukup menguras emosi, Xena meminta Prabu untuk segera beristirahat agar kondisi fisiknya prima untuk tes kesehatan esok hari.
"Masuklah ke kamar, Pra. Tidur lebih awal supaya tensimu stabil besok," ucap Xena sebelum ia sendiri melangkah masuk ke kamarnya dan menutup pintu.
Namun, di dalam kamar, kantuk tak kunjung datang. Detik demi detik berganti, suara detak jam di dinding seolah beradu dengan suara deburan ombak di luar.
Xena terus membalikkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan, namun bayangan perceraian dan masa depan yang tidak pasti terus mengusik pikirannya.
Merasa tenggorokannya kering, Xena akhirnya memutuskan keluar untuk mengambil air minum.
Ruang tengah sudah gelap, hanya ada sedikit cahaya dari lampu dapur yang sengaja dibiarkan redup.
"Belum tidur?"
Suara berat itu memecah keheningan, berasal dari arah sofa ruang keluarga.
"Astaghfirullah, Pra! Kamu bikin kaget aku saja!" seru Xena sambil mengelus dadanya yang berdegup kencang.
Ia melihat siluet Prabu yang duduk bersandar di kegelapan.
"Aku tidak bisa tidur," jawab Xena jujur sambil meneguk air putih dari gelasnya.
"Sama, Xen," jawab Prabu singkat. Suaranya terdengar tenang namun sarat akan pikiran yang membebani.
Xena terdiam sejenak, lalu alih-alih kembali ke kamar, ia melangkah perlahan dan duduk di ruang keluarga, menjaga jarak aman namun cukup dekat untuk memulai percakapan.
Ia merasa, mungkin sedikit bernostalgia bisa mengendurkan saraf mereka yang tegang.
"Masih ingat Pak Joni, guru Matematika kita dulu?" tanya Xena, mencoba memancing memori masa SMA mereka yang jauh sebelum tragedi ini terjadi.
Prabu menganggukkan kepalanya, sebuah senyum tipis tersungging di bibirnya dalam kegelapan.
"Tentu saja ingat. Guru paling killer seantero sekolah."
"Aku dulu kena lemparan kapur karena berisik di kelas," ucap Prabu sambil terkekeh pelan.
"Gara-gara aku menertawakan Yanuar yang ketiduran, malah aku yang jadi sasaran Pak Joni. Kapurnya pas sekali kena dahi."
Xena tertawa kecil, suara tawa yang terdengar tulus tanpa beban untuk pertama kalinya sejak mereka tiba di pantai.
"Iya, aku ingat itu. Kamu langsung diam dan pura-pura mencatat rumus yang bahkan kamu sendiri tidak mengerti."
Mereka terus mengobrol, mengalir dari satu cerita ke cerita lain—tentang kantin sekolah, tentang masa-masa ujian, hingga tentang hal-hal konyol yang pernah mereka lalui sepuluh tahun lalu.
Suasana tegang yang menyelimuti mereka selama beberapa hari terakhir perlahan menguap, digantikan oleh kehangatan kenangan masa muda.
Suara deburan ombak yang konstan dan suasana malam yang tenang perlahan-lahan membuat pertahanan diri Xena runtuh karena kelelahan.
Kepalanya mulai terasa berat, dan tanpa ia sadari, ia mulai terantuk-antuk.
Secara alami, tubuhnya mencari sandaran. Dan malam itu, untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, Xena tertidur pulas dengan kepala yang bersandar nyaman di pundak Prabu.
Prabu menahan napas sejenak, tidak berani bergerak sedikit pun karena takut membangunkan istrinya.
Ia menatap wajah Xena yang tenang dalam tidur—wajah yang masih memiliki sisa luka, namun terlihat begitu damai.
Prabu menyandarkan kepalanya di atas kepala Xena, menghirup aroma rambut suci istrinya, dan berharap waktu bisa berhenti sejenak di detik ini.
Prabu merasakan napas Xena yang mulai teratur dan dalam di pundaknya.
Kehangatan tubuh istrinya yang selama ini terasa begitu jauh, kini begitu nyata.
Dengan gerakan yang sangat lambat agar tidak mengusik mimpi Xena, Prabu meraih selimut tebal yang tergeletak di ujung sofa.
Ia membentangkan kain hangat itu, menutupi tubuh Xena hingga ke bahu dengan penuh kelembutan.
Prabu menatap wajah Xena dalam remang cahaya ruang tengah.
Luka memar itu masih ada, sebuah pengingat bisu akan kekhilafannya, namun ekspresi lelah Xena kini telah digantikan oleh kedamaian tidur yang lelap.
Tak ingin membuat Xena terbangun karena posisi yang tidak nyaman, Prabu perlahan menggeser tubuhnya.
Ia membantu merebahkan kepala Xena di atas bantal sofa dengan sangat hati-hati.
Setelah memastikan istrinya terlelap dengan nyaman, Prabu tidak kembali ke kamarnya.
Ia memilih untuk tetap berada di sana, menjaga Xena.
Ia merebahkan tubuhnya di sofa lainnya yang terletak berseberangan.
"Selamat istirahat, Xen," bisik Prabu hampir tak terdengar.
Sebelum benar-benar beranjak ke sofanya sendiri, Prabu mendekat.
Ia membungkuk sedikit, lalu mendaratkan sebuah kecupan singkat dan penuh takzim di kening Xena.
Sebuah kecupan yang tidak mengandung nafsu, melainkan janji untuk melindungi dan sebuah permohonan maaf yang tak terucapkan.
Prabu kemudian berbaring di sofa seberang, menarik napas panjang, dan memejamkan matanya.
Malam itu, di bawah atap vila yang tenang dan irama ombak yang konstan, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Prabu bisa tidur dengan hati yang sedikit lebih ringan karena mengetahui bahwa Xena berada dalam jangkauan pandangannya.
wwkwkwkwk
gemes bgt sama nie orang dech
hahahahaha
ketawa jahat ini🤭
nanti kalau bucin Kutendang dari pesawat🤣