NovelToon NovelToon
Oops! Teman Kontrakanku Dosen Paling Hot Di Kampus

Oops! Teman Kontrakanku Dosen Paling Hot Di Kampus

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Beda Usia / Cinta Seiring Waktu / Kehidupan di Sekolah/Kampus
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Aliska Rosemary

Paris seharusnya menjadi mimpi indah bagi Kiandra Zanitha. Namun, karena kecerobohan agen properti dan aturan Clause de Solidarité yang menjerat, mimpi itu berubah menjadi jerat yang menyesakkan. Kiandra terpaksa berbagi apartemen sempit di Rue de Rivoli dengan seorang pria asing yang langsung mengacaukan kewarasannya sejak hari pertama.


Pertemuan pertama mereka adalah bencana yang memalukan: sebuah handuk yang melorot, tubuh atletis yang basah, dan tatapan hazel yang seolah mampu menelanjangi rahasia terdalam Kiandra. Namun, kejutan sebenarnya baru dimulai saat fajar tiba. Pria provokatif yang melihatnya tersipu malu di dapur itu ternyata adalah Enzo Romano—dosen senior di Le Cordon Bleu sekaligus pakar kuliner yang memegang kendali atas masa depan studinya.


Di kampus, Enzo adalah otoritas yang dingin dan disiplin. Di apartemen, dia adalah pria yang gemar menguji batas kesabaran—dan iman—Kiandra. Di antara uap mentega di dapur dan denting gelas wine, garis antara dosen dan teman s

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aliska Rosemary, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21: Perjamuan di Atas Pualam

Deru mesin Audi hitam milik Blake Harrington meredup, lalu mati sepenuhnya dengan kehalusan yang hanya bisa dibeli oleh uang dalam jumlah sangat besar.

Di luar jendela mobil, Place des Vosges tampak seperti lukisan cat minyak yang membeku di bawah langit malam Paris. Kesunyian di sini terasa mahal, seolah-olah kebisingan kota dilarang masuk ke dalam distrik bersejarah ini.

Blake keluar dari mobil dengan gerakan tegap yang sangat terukur. Ia memutari kap depan, langkahnya mantap di atas jalanan berbatu, lalu membukakan pintu untuk Kiandra. Gerakannya begitu formal, begitu sempurna, hingga Kiandra merasa seolah-olah ia sedang berada di tengah syuting film drama sejarah Inggris.

Kiandra turun dari mobil, jemarinya refleks merapatkan gaun satin merah pemberian Enzo yang kini membungkus tubuhnya. Angin malam Paris yang tajam segera menyergap bahunya yang terbuka, mengirimkan sensasi dingin yang menusuk hingga ke tulang.

Namun, rasa dingin itu tidak sebanding dengan debaran aneh di dadanya saat ia menatap fasad L'Ambroisie yang megah di depannya.

Gedung itu berdiri dengan wibawa yang menghimpit. Kiandra merasa seperti kurcaci yang sedang melangkah masuk ke dalam istana raksasa. Ia melirik gaun merahnya sekali lagi. Satinnya berkilau mewah di bawah lampu jalanan, seolah memberikan keberanian tambahan yang ia butuhkan.

"Kamu terlihat luar biasa, Kiandra. Merah benar-benar warna keberuntunganmu malam ini," ucap Blake, suaranya jernih dengan aksen British yang kental.

Blake meletakkan telapak tangannya di punggung bawah Kiandra. Sentuhannya terasa hangat, namun ada otoritas yang tersirat di sana saat ia membimbing Kiandra masuk melewati pintu kayu besar yang berat. Begitu pintu terbuka, dunia di luar seolah lenyap.

Atmosfer L'Ambroisie adalah tentang keheningan yang megah. Tidak ada musik latar yang bising. Hanya ada denting perak halus yang beradu dengan porselen mahal, dan bisikan-bisikan rendah dari meja-meja yang berjarak jauh.

Aroma mentega berkualitas tinggi, truffle yang pekat, dan wangi bunga lili segar menyerbu indra penciuman Kiandra, menciptakan sensasi kemewahan yang nyaris menyesakkan.

"Bonsoir, Monsieur Harrington. Selamat datang kembali," sapa seorang pelayan pria dengan setelan jas sempurna, membungkuk sangat dalam. Nama keluarga Harrington seolah menjadi kunci ajaib yang membuka akses ke kasta tertinggi di tempat ini.

"Meja sudut seperti biasa, Jean," jawab Blake tanpa sedikit pun menoleh ke arah pelayan itu. Nada suaranya datar, penuh otoritas dari seseorang yang sudah sangat terbiasa dilayani sejak lahir.

Kiandra duduk di atas kursi beludru yang sangat empuk, merasa tubuhnya tenggelam dalam kenyamanan yang asing. Di atas meja, lilin-lilin kecil menari, cahayanya memantul di atas peralatan makan perak yang berkilau tajam.

"Gila, tempat ini mewah banget. Pantas saja Mei dan Diya ngotot aku harus pergi," batin Kiandra. Ia terpana menatap detail langit-langit ruangan yang dihiasi lukisan klasik. "Kalau aku menjatuhkan garpu di sini, apa suaranya bakal terdengar sampai ke Menara Eiffel?"

Blake membuka menu kulit yang berat tanpa bertanya sedikit pun pada Kiandra. Ia membalik halamannya dengan gerakan elegan, seolah seleranya adalah hukum mutlak yang tidak perlu didiskusikan.

"Kita akan mulai dengan Escaloppe de bar à l'émincé de truffe noire," ucap Blake pada Jean dalam bahasa Prancis yang sangat sempurna, tanpa cela.

 

Kiandra melirik menu di depannya. Matanya membelalak saat menyadari tidak ada angka harga di sana. Hanya ada deretan nama hidangan dalam bahasa Prancis yang puitis. Perutnya mendadak terasa mulas, bukan karena lapar, tapi karena tekanan atmosfer yang terlalu kaku dan formal.

Blake menutup menu, lalu menatap Kiandra dengan mata biru esnya yang tajam. Cahaya lilin membuat iris matanya tampak semakin dingin.

"L'Ambroisie adalah tentang tradisi, Kiandra. Sesuatu yang sangat berharga di Eropa, namun aku rasa... jarang ditemukan di tempat asalmu, bukan?" tanya Blake, senyumnya tipis dan terukur.

Kiandra tertegun sejenak, merasakan ada nada meremehkan yang disalut dengan kesopanan. "Di Jakarta kami punya tradisi makan keluarga yang sangat kuat, Blake. Hanya saja... suasananya jauh lebih berisik dan hangat daripada di sini."

Blake tersenyum miring, sebuah senyum yang tidak pernah sampai ke matanya. "Berisik. Ya, aku bisa membayangkannya. Tipikal restoran kelas menengah yang mengejar kuantitas daripada kualitas. Di sini, kita menghargai esensi, bukan kebisingan."

Kiandra merasakan denyut kekesalan mulai berdenyut di pelipisnya. Kata-kata Blake terdengar manis, namun rasanya seperti duri yang disalut gula. Ia merasa identitasnya sedang dipreteli secara halus di atas meja pualam ini.

"Aku dengar ibumu punya rumah makan tradisional?" Blake melanjutkan, menyesap wine-nya dengan gaya yang sangat tenang.

"Mungkin suatu saat aku bisa mengirimkan konsultan dari London untuk membenahi sistemnya agar lebih... presentable di mata internasional."

"Rumah Makan Lestari sudah sangat presentable bagi pelanggan setia kami, Blake," balas Kiandra, suaranya tetap tenang meski hatinya mendidih. "Mereka datang untuk rasa yang autentik, untuk resep turun-temurun yang punya jiwa, bukan untuk kemewahan ala bangsawan yang kaku."

Blake menatap Kiandra selama tiga detik penuh ketegangan emosional. Ia tidak membantah, hanya menatap Kiandra seolah sedang mengamati sebuah artefak unik yang baru saja membantah pemiliknya. Ia kembali menyesap wine-nya tanpa terganggu sedikit pun.

Tak lama kemudian, pelayan menyajikan Symphonie de fruits de mer. Gerakan mereka begitu sinkron, seolah-olah sedang melakukan koreografi balet di atas meja. Kiandra mencicipi makanan yang harganya pasti selangit itu. Teksturnya sempurna, tekniknya luar biasa, namun di lidahnya rasanya hambar.

 

Pikirannya mendadak melompat ke dapur apartemen Rue de Rivoli. Ia teringat Cacio e Pepe buatan Enzo yang dimasak hanya dengan kaos oblong dan rambut berantakan. Rasanya jauh lebih jujur, jauh lebih hangat, dan punya 'jiwa' yang tidak ia temukan di piring porselen ini.

"Kenapa makanan ini rasanya kayak transaksi bisnis?" keluh batin Kiandra. "Nggak ada nyawanya sama sekali. Masih enakan nasi goreng upetiku yang dimakan sambil diomeli Enzo."

Blake mulai bercerita tentang koleksi kuda pacunya di Inggris, tentang betapa ia membenci orang-orang yang tidak mengerti tata krama meja makan, dan tentang bagaimana dunia seharusnya diatur oleh orang-orang yang memiliki 'kelas'.

Kiandra hanya mengangguk-angguk formal, merasa Blake sedang melakukan monolog panjang tentang betapa hebatnya hidupnya sendiri.

"Selera itu bisa dibentuk, Kiandra. Tapi kelas... itu bawaan lahir," ucap Blake sambil memotong dagingnya dengan presisi.

"Kamu punya potensi besar. Hanya butuh sedikit polesan di sana-sini agar kamu bisa bersinar di lingkaran yang tepat."

"Terima kasih, tapi aku lebih suka polesan pisau dapur daripada polesan etiket yang menyesakkan seperti ini, Monsieur Harrington," jawab Kiandra tajam.

Tarte fine au chocolat disajikan sebagai penutup, namun Kiandra sudah kehilangan selera makan sepenuhnya. Ia merasa lelah secara mental. Blake membayar tagihan dengan kartu hitam tanpa melihat jumlahnya sedikit pun—sebuah pameran kekayaan yang terasa hambar dan kosong bagi Kiandra.

 

***

Suasana di dalam Audi hitam dalam perjalanan pulang terasa sangat sunyi. Hanya ada suara mesin yang halus dan aroma parfum Blake yang kini terasa memuakkan bagi Kiandra. Ia menyandarkan kepalanya di jendela mobil, menatap lampu-lampu Paris yang berlarian di luar.

Blake mengemudikan mobil dengan satu tangan, sementara tangan lainnya mencoba meraih jemari Kiandra di atas pangkuannya. Kiandra secara halus menarik tangannya untuk merapikan rambut, menghindari kontak fisik yang mulai terasa sangat tidak nyaman.

Mobil berhenti tepat di depan gedung Haussmann yang megah di Rue de Rivoli. Blake mematikan mesin, membuat suasana di dalam mobil mendadak menjadi sangat intim dan sempit. Oksigen seolah-olah menghilang dari kabin mobil.

Blake mencondongkan tubuhnya ke arah Kiandra. Mata biru esnya menatap bibir merah Kiandra dengan tatapan lapar yang selama ini tersembunyi di balik topeng pangerannya.

"Malam ini sangat indah, Kiandra. Aku ingin menutupnya dengan sesuatu yang lebih indah," bisik Blake, suaranya merendah penuh godaan.

Jantung Kiandra berdegup kencang, tapi bukan karena cinta. Alarm bahaya di kepalanya berteriak nyaring. Ia bisa merasakan kehadiran Blake yang mengintimidasi ruang pribadinya.

Blake bergerak maju, wajahnya mendekat, mengincar bibir Kiandra dengan gerakan yang sangat percaya diri—seolah-olah penolakan adalah hal yang mustahil baginya.

Dengan refleks yang cepat, Kiandra memutar kepalanya sedikit ke samping. Bibir Blake mendarat di pipinya yang dingin, meleset dari sasaran utamanya.

Kiandra segera memasang senyum canggung yang sangat kaku, tangannya sudah memegang gagang pintu mobil dengan erat.

"Terima kasih untuk makan malamnya, Blake. Aku... aku benar-benar lelah. Besok ada kelas pagi yang sangat berat," ucap Kiandra cepat, suaranya sedikit bergetar.

Blake tertegun sebentar. Matanya menampakkan kilatan kekecewaan yang tajam dan sedikit amarah yang tertahan di balik rahangnya yang mengeras. Namun, sebagai seorang Harrington, ia segera memasang kembali wajah sopannya yang palsu.

"Tentu. Istirahatlah," jawab Blake pendek.

Kiandra membuka pintu mobil dengan terburu-buru sebelum Blake sempat bicara lagi. "Selamat malam, Blake!"

Kiandra keluar dari mobil, melangkah cepat menuju pintu gedung apartemen tanpa menoleh ke belakang sedikit pun. Ia bisa merasakan tatapan Blake menusuk punggungnya hingga ia menghilang di balik pintu lobi.

Di dalam lift, Kiandra menyandarkan punggungnya ke dinding besi yang dingin. Ia mengembuskan napas panjang, mencoba membuang sisa-sisa ketegangan dari L'Ambroisie. Di dalam kepalanya, hanya ada satu keinginan: segera sampai di atas dan bertemu dengan 'monster' Italia yang jauh lebih jujur, meski menyebalkan, daripada pangeran Inggris yang baru saja ia tinggalkan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!