Demi uang sepuluh milyar, Sean Yuritama rela bekerja sama dengan Christaly Jane untuk menemukan anak dari seorang miliarder yang telah lama menghilang. Jika bukan demi melunasi hutang-hutangnya, detektif swasta berparas tampan itu tidak akan sudi bekerja sama dengan gadis cerewet dengan segudang masalah. Sehingga mereka terlibat perdebatan hampir setiap waktu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azura Cimory, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Fakta Sebenarnya
Kamar tidur itu berukuran kurang lebih tiga kali tiga meter persegi. Ada satu buah tempat tidur berukuran tidak terlalu besar yang diletakan di sudut sebelah kanan ruangan, lalu di bagian kiri yang lurus dengan pintu, ada sebuah lemari kayu yang catnya sudah tampak mengelupas di beberapa sisi. Di samping lemari ada sebuah meja kecil dengan vas bunga yang kosong.
“Hem, vas ini bagus juga kalau aku isi bunga mawar. Biar nanti kalau aku bercinta dengan Sean suasananya makin romantis,” gumam Christaly sambil dia mengangkat vas bunga dari kaca dan mengamatinya dengan cermat.
“Apanya yang makin romantis?” Sean yang tiba-tiba masuk ke kamar Christaly langsung menyahut.
Sontak, mendengar suara Sean, Christaly pun menoleh sambil memutar badan. “Kamu ini bisa nggak sih ketuk pintu dulu sebelum masuk ke kamar orang lain?”
“Apa perlunya aku mengetuk pintu di rumahku sendiri? Lagipula aku sudah melihat setiap jengkal dari tubuhmu. Bahkan aku tahu rasanya bagaimana,” kata Sean sambil dengan seenak hati dia merebahkan dirinya di atas tempat tidur Christaly. “Tadi kamu bilang kamu mengantuk. Kenapa kamu nggak tidur malah merapikan pakaian?”
“Huh! Sebenarnya tadi itu ....”
Christaly belum selesai menjelaskan saat tiba-tiba ponsel genggam Sean berdering nyaring.
“Vera menelepon,” kata Sean memberitahu Christaly. “Aku menyuruhnya menyelidiki sesuatu kemarin sebelum kita berangkat. Pasti dia sudah mendapatkan informasi penting.”
“Nanti saja penjelasannya. Cepat, angkat telepon dulu sebelum putus,” sembur Christaly kesal.
“Iya, iya. Cerewet, ah.” Sean menekan tombol untuk menjawab panggilan. “Halo, Sayang.”
“Halo, Sean. Kamu lagi di mana sekarang?” sahut Vera tanpa basa basi dari ujung sambungan.
“Aku sudah di rumah. Kenapa? Apa ada yang nggak beres, Vera?” jawab Sean yang seketika berubah menjadi serius.
“Ya. Ini gawat sekali, Sean. Kita sudah kena tipu.”
“Kena tipu bagaimana? Demi Tuhan, bicara yang jelas, Vera. Pelan-pelan.”
“Alexander Stefan itu pembohong keparat! Anak itu rupanya diam-diam pergi ke Malang untuk melakukan pendakian di gunung Bromo bersama teman-temannya yang lain. Entah bagaimana caranya dia bisa mengelabui petugas di tempat les, lalu pergi ke Malang. Semuanya sudah dia rencakan, Sean. Kita semua sudah ditipu keparat itu mentah-mentah,” ujar Vera menjelaskan dengan penuh emosi.
“Tu-tunggu dulu. Jadi, sebenarnya Alex itu tidak menghilang? Melainkan sengaja kabur untuk mendaki?” sahut Sean yang sekarang menjadi kebingungan sendiri.
“Ya, begitulah. Brandalan cilik itu pergi ke Malang bersama lima orang temannya untuk mendaki gunung tanpa sepengetahuan ayahnya dan tanpa sepengetahuan orang lain juga.” Vera menjelaskan lebih lanjut.
“Gerombolan anak-anak brengsek itu pergi menggunakan kereta api. Lalu melanjutkan perjalanan dengan bus sampai ke tempat tujuan.”
“Tapi, Vera. Kalau memang Alex nggak hilang diculik melainkan pergi mendaki, seharusnya dia sudah pulang, bukan? Maksudku, kejadiannya sudah tiga bulan yang lalu. Mustahil ada orang mendaki gunung selama berbulan-bulan lamanya,” potong Sean.
“Itu dia masalah utamanya. Alex hilang dalam pendakian bersama keempat temannya yang lain. Hanya ada satu anak yang selamat, dia bernama Roni. Tapi, karena cedera kepala yang cukup parah, anak itu mengalami amnesia. Jadi, sekalipun kamu bisa bertemu dengannya, kamu nggak akan dapat informasi apa-apa,” ujar Vera.
“Tunggu dulu. Kalau benar Alex hilang saat mendaki gunung, bukan di tempat les, lalu kenapa Tuan Wiyoko mesti berbohong? Kenapa dia nggak langsung saja menceritakan kebenaran yang ada?” sergah Christaly yang ikut mendengarkan percakapan telepon antara Vera dan Sean.
“Itu karena sampai sekarang pun Tuan Wiyoko masih belum tahu kebenarannya. Dia masih belum tahu kalau sebenarnya Alex hilang saat mendak gunung, dia hilang di Malang bukan di Jakarta seperti yang selama ini dia yakini.”
Sean dan Christaly seketika saling bertatapan, mereka berdua sama-sama kebingungan. “Apa kamu bilang tadi, Vera? Tuan Wiyoko nggak tahu kalau sebenarnya Alex hilang di Malang?” ulang Sean untuk memastikan.
“Ya. Itu karena baik dari keluarga Roni maupun keluarga keempat temannya yang lainnya nggak ada yang berani buka mulut setelah tahu kebenaran yang ada, mereka nggak mau cari masalah dengan Tuan Wiyoko,” sahut Vera dengan penuh keyakinan.
Dia juga menekankan ke Sean dan Christaly untuk menutup mulut rapat-rapat. Agar informasi ini jangan sampai bocor keluar apalagi sampai diketahui Tuan Wiyoko. Sebab akibatnya pasti akan sangat buruk untuk keluarga kelima teman Alex. Tuan Wiyoko tidak akan pernah memberi ampun pada mereka.
“Aku mendapat informasi penting ini dari Tante Yesi, ibunya Roni. Dia tanteku. Jadi, awas saja kalau kamu sampai buka mulut. Aku nggak akan pernah maafin kamu, Sean.”
Sean menelan ludah. “Aku mengerti,” jawabnya. “Aku janji aku nggak akan kasih tahu informasi ini ke siapa pun.”
“Bagus. Kalau begitu aku tutup dulu teleponnya. Nanti aku kabari lagi kalau aku sudah dapat informasi yang kamu inginkan. Jangan lupa, kamu harus pulang dalam keadaan hidup.”
“Kamu nggak usah –” Sean belum sempat menyelesaikan kata-katanya saat panggilan telepon sudah ditutup. “Astaga ... kebiasaan.”
Di dunia ini tidak ada yang lebih kejam dan lebih sadis daripada nasib buruk. Saat seseorang mendapatkan nasib buruk, maka, sebelum dia benar-benar jatuh sampai terdesak, dia tidak akan dilepaskan.
Nasib buruk itu akan datang secara bergatian dalam satu waktu yang sama dan mendesaknya hingga membuat sesak napas.
Itu juga yang sedang dialami oleh Sean dan juga Christaly. Ketika mereka berpikir jika didesak untuk melunasi hutang oleh Pak Haris adalah nasib yang paling buruk, maka, sekarang keduanya tahu jika itu tidak lebih buruk dari mereka menyetujui kerja sama dengan Tuan Wiyoko.
Keputusan yang benar-benar disesali oleh keduanya. Di mana hal itu sudah sangat terlambat. Selain terus maju ke depan, mereka tidak punya pilihan lain. Kecuali mati, tentu saja.
“Sekarang kita harus bagaimana, Sean? Aku ... uh, aku jadi takut,” keluh Christaly.
Sean mengertakkan gigi. “Aku juga masih belum tahu harus mulai dari mana,” sahutnya jujur. “Yang jelas, kita harus hati-hati dengan Pak Agus. Dengar, Christaly. Mulai sekarang, kamu harus menganggap kalau kamu nggak pernah dengar apa pun terkait Alex dan di mana sebenarnya dia hilang. Kamu juga nggak boleh membicarakan ini dengan siapa pun. Mengerti?”
Christaly menganggukkan kepala. Wajahnya tampak pucat karena takut. “Aku benar-benar nggak menduga kalau kasusnya bakalan menjadi serumit ini. Maksudku, jadi tambah rumit begini.”
Sean menggeram. “Seharusnya dengan informasi yang baru kita dapat kita bisa selangkah lebih maju. Tapi, ini kita justru selangkah harus mundur ke belakang karena kita nggak boleh mengambil risiko ketahuan. Huh! Benar-benar sial kita ini.”
“Hem, omong-omong, Sean. Menurutmu kita bisa nggak balik ke Jakarta dengan selamat?”
“Ngomong apa sih kamu, Christaly?! Tentu saja kita akan balik ke Jakarta dalam keadaan selamat.”
“Tapi, firasatku nggak enak. Aku merasa kalau sepertinya kita nggak akan pernah bisa balik lagi ke Jakarta dalam keadaan hidup ....”