Mita tidak pernah menyangka, satu ajakan sederhana dari suaminya akan mengubah segalanya.
Reuni sekolah yang seharusnya menjadi malam biasa justru membuka luka yang tak pernah ia sadari sebelumnya. Di tengah keramaian, Mita berdiri di samping Rio--namun terasa seperti tidak pernah ada. Terlebih saat Rio kembali bertemu dengan cinta pertamanya... dan memilih tenggelam dalam masa lalu.
Ditinggalkan tanpa penjelasan, Mita justru dipertemukan dengan Adrian-teman lama sekaligus rekan kerja Rio. Sosok yang dulu hanya sekadar kenangan, kini hadir sebagai satu-satunya orang yang benar-benar melihatnya.
Dan Reuni itu mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rachmaraaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Rio pulang saat hari sudah masuk tengah malam. Tanpa rasa cemas dan bersalah, merasa semua aman. Ia memasukkan motornya ke dalam garasi dan meletakkan helm. Ia juga sempat mengunci ganda pintu gerbangnya, sebelum ia akhirnya membuka jaket dan masuk ke dalam rumah.
Rio dari mana? Hanya dirinya dan Tuhan yang tahu.
Keadaan rumah sudah gelap. Lampu ruang tengah sudah dimatikan. Rio benar-benar merasa dirinya aman karena istrinya sudah pasti sedang tidur sekarang.
Ia bersiul dan mengambil handuk ingin mandi dulu sebelum benar-benar tidur. Karena tubuhnya merasa lelah banget. Dan rencananya ingin bangun lebih siang di keesokan hari.
Namun, rencana tinggal rencana. Saat selesai mandi, ia masuk kamar. Ternyata lampu meja tidur masih menyala. Yang artinya, istrinya belum tidur.
Dan memang benar. Livy sedang duduk bersandar pada dipan kasur dan menatap Rio tajam, tangan terlipat di dada.
"Belum tidur, Mi?" Sejujurnya, Rio agak sedikit terkejut.
"Gimana hari ini? Sukses, ngajakin mantan istri kamu untuk rujuk? Enak ya, pergi pagi pulang tengah malam, dihubungin nggak dijawab, dichat nggak dibalas. Ternyata kamu nemuin mantan istri kamu yang paling terbaik itu, iya?"
Rio mencoba mencerna dulu, dari mana istrinya tahu tentang ini semua. Tungkainya pelan-pelan mengarah ke atas kasur.
"Nggak usah tidur di sini." Livy melempar bantal ke arah Rio. "Bukannya kamu bilang mau ceraikan aku?"
Tidak tahan, Rio mendekati Livy dan mencoba meraih tangannya. "Mi, kamu salah paham. Aku nggak pernah bilang begitu. Itu siapa sih yang ngomong?"
Livy tidak mau dipegang-pegang suaminya.
"Adrian tadi kesini. Dia udah cerita semuanya."
"Terus kamu percaya dia dari pada aku? Iya?" Rio mencoba berkilah sebisa mungkin.
"Kamu juga jujur aja kenapa sih! Aku sebenarnya pengin percaya sama kamu. Tapi, aku tau Adrian nggak akan ngelakuin hal bodoh kayak gitu, cuma untuk jelasin semuanya. Dia datang kesini juga pasti semua karena kamu," jelas Livy dadanya naik turun. Sebisa mungkin ia menahan diri untuk tidak menangis.
Rio meremas rambutnya frustasi. Mengusap wajahnya kasar dan otaknya berpikir cepat untuk mencari berbagai alasan.
"Aku memang menemui Mita. Tapi, aku nggak pernah bilang gitu. Nggak pernah bilang mau ceraikan kamu dan seperti yang kamu bilang barusan itu. Nggak, Mi. Aku datang nemuin Mita, karena aku tau, Mita itu sengaja deketin Adrian karena dia belum rela pisah dariku. Itu mah karangan mereka aja. Sumpah, demi Tuhan, Mi. Kamu percaya kan sama aku? Hm?" Rio berharap Livy percaya padanya kali ini.
Sejujurnya Rio tidak pernah menyangka kalau Adrian berani datang ke rumahnya. Dan lebih tidak menyangka lagi, Mita sebodoh itu. Kenapa harus laporan pada Adrian? Hal itu seharusnya nggak perlu. Rio merasa dikhianati.
Livy tidak mengatakan semuanya, apa yang dikatakan Adrian padanya. Hanya beberapa poin saja. Tapi, ia heran, kenapa suaminya sampai rela menemui mantan istrinya, kalau justru mantan istrinya yang belum rela?
"Terus seharian kamu kemana?" Livy penasaran.
"Ehm... Cuma keliling aja. Pagi tadi ke rumah ibu, terus ketemu Mita sebentar karena dia ngajak ketemu. Terus—"
"Yang ngajak ketemu dia atau kamu duluan?" Kening Livy mengerut.
"Dia lah! Mana ada aku. Dia bilang ada yang mau diomongin, penting. Ya, aku pikir soal apa. Ternyata soal nggak penting itu," jelas Rio dengan wajah tanpa dosa.
"Dia hubungin kamu? Telepon atau chat?"
"Chat sih."
"Mana, aku mau lihat," pinta Livy.
"Ehm... Udah aku hapus." Rio terkekeh sambil menggaruk tengkuknya. Ia benar-benar tidak tahan, diberondong pertanyaan seperti ini. "Udahlah, Sayang. Nggak usah kamu pikirin itu omongan Adrian. Mungkin dia iri lihat kebahagiaan kita. Mendingan sekarang kita bobok aja yuk?" Rio berharap Livy bisa luluh.
"Aku nggak mau kamu tidur di kamar! Karena aku merasa kamu masih bohong sama aku. Terserah kamu mau tidur dimana! Oya, pesan Adrian, kalau kamu mau bicara, katanya bicara sama dia, jangan sama mantan istri kamu!" Livy menendang Rio supaya pergi dari hadapannya.
"Ini kamu tega sama aku? Lebih percaya Adrian dari aku? Astaga ... Capek-capek aku pulang, pengin tenang, pengin istirahat, eh malah kayak gini! Nyesel aku pulang. Tau gitu tadi aku sewa l*nte aja sekalian. Biar hancur aja sekalian ni rumah tangga! Ngeselin banget, anj*Ng!" Rio ngedumel sambil keluar kamar.
Baru kali ini Livy mendengar suaminya bertingkah seperti itu, sampai mengucapkan kata-kata tidak pantas. Ia memang kadang marah, tapi marahnya tidak sampai mengucapkan kata kotor. Dan... Sewa perempuan bayaran?
Livy kecewa dan sakit hati. Kalau saja ia tidak lelah, sudah pasti ia akan berteriak marah pada suaminya, Rio! Kali ini ia hanya bisa menangis saja.
。◕‿◕。
Rio merebahkan dirinya di atas sofa ruang tamu. Matanya menatap langit-langit ruang tamu yang gelap. Ia benar-benar tidak menyangka kalau Mita akan cerita pada Adrian. Tapi, sebenarnya wajar juga, kalau pun cerita. Karena saat ini mereka kan pasangan yang akan menikah.
Tapi, sampai sedetail itu?
Dan diperparah oleh Adrian yang ujug-ujug datang ke rumahnya menemui Livy. Mungkin ingin bertemu dengannya juga, tapi untungnya ia belum pulang.
Rio belum bisa membayangkan, kalau tadi ia harus bertemu Adrian. Karena memang ia tidak menyangka semua ini akan terjadi. Adrian dikenal sebagai pria yang tidak banyak bicara. Dia berwibawa dan memiliki kharisma. Semua teman dan sejawatnya di kampus serta di kantor, tahu itu. Adrian juga pria yang memiliki prinsip kuat. Kalau a ya harus a, tidak akan berubah jadi b kalau memang masih ada jalan keluar lainnya.
Orang-orang juga akan lebih percaya pada Adrian daripada dengan dirinya. Apalagi, ia pernah memiliki masa lalu yang memang buruk. Menjandakan istri demi janda lain.
"Aahh... Sialan! Brengsek!" Rio gelisah. Membayangkan hari Senin pagi ia akan bertemu dengan Adrian di kantornya. "Dia bakalan lebih percaya sama Mita dari pada gue. Brengsek! Tau gitu mendingan tadi gue nggak usah pulang. Mendingan tadi gue nginep aja di apart tuh cewek. Lumayan gue bisa diservis sampai pagi. Daripada gue pulang, ujungnya gue tidur di sofa begini."
Ya... Rio hari ini pergi ke salah satu apartemen dikawasan gunung Sahari. Ia berkenalan dengan perempuan di salah satu aplikasi, untuk memuaskan napsu bejatnya. Setelah tahu Mita pulang dijemput Adrian. Ia memutuskan untuk langsung pergi ke apartemen itu. Dengan mengeluarkan uang kurang lebih 450ribu rupiah, ia sudah diservis dengan puas selama kurang lebih dua jam.
Hal ini bukan yang pertama kali Rio lakukan. Tapi beberapa kali, karena ia merasa hidup dengan Livy, memang lebih banyak tekanannya, daripada saat bersama Mita dulu.
[]
*hai... Terima kasih atas dukungannya kalian 🙏 sekali-kali aku pengen tau juga dong, pendapat kalian tentang cerita ini 😊
Btw, insyaallah aku akan update sehari satu bab. Klo aku update malam, tandanya aku sibuk. 🤗