Di jantung kota Sisilia yang kelam, Kaivan Vittorio, sang "Re Re Nero" (Raja Hitam) yang memimpin sindikat mafia paling ditakuti di Italia, hidup dalam bayang-bayang dendam masa lalu. Ia dingin, kejam, dan tidak percaya pada hal tak kasat mata. Namun, wibawanya runtuh seketika saat ia bertemu Gendis, gadis asal Indonesia yang sedang bepergian ala backpacker ke Italia.
Gendis bukan gadis biasa; dia adalah indigo "semprul" yang hobi memarahi hantu penunggu kastil Kaivan karena berisik saat ia sedang makan mi instan. Pertemuan mereka dimulai dari salah paham maut: Gendis mengira Kaivan adalah cosplayer "om-om galak" dan menawari jasa pembersihan aura karena melihat ribuan arwah korban Kaivan sedang mengantre minta maaf. Di balik komedi situasi yang absurd, ada benang merah dendam yang ternyata menyatukan masa lalu keluarga mereka. Kaivan yang terbiasa memegang senjata, kini harus belajar memegang kemenyan dan sabar menghadapi tingkah ajaib Gendis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Arwah Nenek Moyang yang Cerewet
Pagi itu, langit Sisilia berwarna biru safir, namun atmosfer di dalam kediaman Vittorio jauh lebih mendung. Kaivan berdiri di depan cermin besar di kamarnya, mencoba mengancingkan manset kemejanya. Biasanya, tugas ini adalah hal yang mudah, sebuah ritual pagi yang menenangkan sebelum ia turun ke medan perang bisnis. Namun hari ini, jemarinya terasa kaku.
"Aduh, Kak Kaivan! Itu masangnya jangan ditekan gitu, nanti kristalnya pecah. Pelan-pelan dong, pakai perasaan, kayak lagi belai kucing!"
Suara cempreng itu berasal dari ambang pintu. Gendis berdiri di sana, menyenderkan tubuhnya dengan santai sambil mengunyah keripik kentang. Ia sudah mengenakan gaun sutra berwarna zamrud yang diberikan Kaivan, tapi ia mengombinasikannya dengan sepatu kets putih yang sudah agak buluk.
"Gendis, sudah berapa kali kukatakan, ketuk pintu sebelum masuk," geram Kaivan tanpa menoleh.
"Sudah ketuk kok, Kak. Tapi yang jawab bukan Kakak, malah suara kakek-kakek dari dalam yang bilang 'Masuk aja, cucuku lagi galau'. Ya sudah saya masuk," jawab Gendis enteng sambil melangkah mendekat.
Kaivan menghela napas panjang, menatap pantulan Gendis di cermin. "Kakek itu lagi?"
"Iya, siapa lagi? Namanya Don Alessandro, katanya. Dia kakek buyut Kakak yang ke-berapa gitu. Dia cerewet banget, Kak! Dari tadi dia protes soal cara Kakak pakai minyak rambut. Katanya, 'Cucuku ini ganteng, tapi dandanannya kaku kayak manekin toko bangunan'. Dia mau Kakak sedikit lebih santai."
Kaivan tertegun. Don Alessandro. Itu adalah nama kakek buyutnya yang mendirikan fondasi klan Vittorio, pria yang dikenal kejam namun sangat mencintai keluarganya. Tidak ada yang tahu nama itu selain anggota inti keluarga, karena catatan sejarah klan sering dikaburkan demi keamanan.
"Dia... dia benar-benar ada di sini?" tanya Kaivan, suaranya sedikit merendah.
Gendis memutar bola matanya. "Ya ada lah! Tuh, dia lagi duduk di atas lemari jati Kakak, kakinya goyang-goyang. Dia pakai baju zirah lengkap, padahal ini abad ke-21. Dia bilang dia nggak mau ganti baju sebelum Kakak berhasil nemuin jam saku emasnya yang hilang."
Kaivan mendadak berbalik, menatap lemari jati tua yang sudah ada di kamar itu sejak ia kecil. "Jam saku emas? Jam itu hilang saat kakek buyutku meninggal dalam sebuah penyergapan delapan puluh tahun yang lalu. Kami mengira itu dicuri oleh musuh."
Gendis mendengarkan sesuatu di udara kosong, lalu manggut-manggut. "Kata Don Alessandro, nggak dicuri. Dia nyembunyiin itu di dalam dinding di belakang lukisan wanita pegang payung di perpustakaan. Katanya, itu buat mahar kalau cucunya dapet jodoh yang 'waras'. Tapi dia bilang kayaknya harapan itu pupus karena Kakak lebih milih jadi batu daripada cari pacar."
Wajah Kaivan memerah. Antara rasa haru karena informasi soal warisan keluarga dan rasa malu karena dikritik oleh arwah nenek moyangnya sendiri melalui perantara gadis semprul.
"Diamlah, Gendis. Kita punya urusan lebih penting. Pertemuan dengan klan Lucchese dimulai satu jam lagi," ucap Kaivan sambil meraih jasnya.
Pertemuan itu berlangsung di sebuah vila tua di pinggiran Palermo. Suasananya sangat formal. Di tengah ruangan, sebuah meja panjang dari kayu ek menjadi saksi bisu ketegangan antara dua klan terbesar di Italia. Don Lucchese, seorang pria tua dengan tatapan licik, duduk di ujung meja dikelilingi oleh algojo-algojonya yang tampak seperti robot pembunuh.
Kaivan duduk di seberangnya dengan wibawa yang tak tergoyahkan. Di sampingnya, Gendis duduk dengan gelisah. Ia merasa tidak nyaman bukan karena senjata-senjata yang disembunyikan di bawah meja, tapi karena ruangan itu penuh dengan arwah-arwah yang sedang "rapat" juga di atas kepala para mafia.
"Jadi, Vittorio," Don Lucchese memulai pembicaraan dengan suara parau. "Kau ingin kami menyerahkan jalur distribusi di pelabuhan utara? Itu permintaan yang sangat mahal."
Kaivan menyesap espressonya tenang. "Bukan mahal, Don Lucchese. Itu adil. Mengingat kalian sudah mencuri tiga kiriman kami bulan lalu melalui perantara pihak ketiga. Aku punya bukti."
Don Lucchese tertawa palsu. "Bukti? Hanya tuduhan tanpa dasar."
Tiba-tiba, Gendis menyenggol lengan Kaivan. Ia berbisik, tapi suaranya cukup terdengar di ruangan yang sunyi itu. "Kak, jangan percaya. Itu bapak-bapak tua yang mukanya kayak kerupuk kulit lagi bohong. Di belakang dia ada arwah ajudannya yang dulu dia bunuh sendiri. Si arwah itu lagi nunjuk-nunjuk laci rahasia di bawah kursi Don Lucchese. Katanya ada dokumen kontrak asli di sana."
Seluruh ruangan mendadak membeku. Don Lucchese menyipitkan mata, menatap Gendis dengan tajam. "Siapa gadis kecil ini, Vittorio? Beraninya dia bicara di meja ini?"
Kaivan menatap Gendis, lalu menatap Don Lucchese. Ia memutuskan untuk bertaruh pada kegilaan Gendis. "Dia adalah penasihat spiritualku. Dan jika dia bilang kau menyembunyikan sesuatu di bawah kursimu, maka aku cenderung mempercayainya."
"Omong kosong!" bentak Don Lucchese sambil menggebrak meja.
"Eh, Mas Tua! Jangan galak-galak napa!" Gendis berdiri dari kursinya, membuat para penjaga langsung memegang gagang senjata mereka. Gendis tidak peduli. Ia menunjuk ke arah bahu Don Lucchese. "Itu... hantu ajudan Om yang namanya... siapa ya... Antonio? Iya, Antonio. Dia bilang, Om ngebunuh dia karena dia tahu Om kerja sama sama polisi, kan? Tuh, Antonio lagi narik-narik kerah baju Om sekarang. Pantesan Om sesek napas, kan?"
Don Lucchese mendadak pucat. Ia memang sering merasa sesak napas akhir-akhir ini, dan Antonio adalah rahasia tergelapnya. "Kau... kau penyihir!"
"Penyihir, penyihir... Saya ini orang jujur!" Gendis berkacak pinggang. "Kak Kaivan, suruh anak buah Kakak cek kursi itu. Don Alessandro—kakek buyut Kakak—juga lagi di sini sekarang. Dia lagi berdiri di belakang Don Lucchese sambil siap-siap mau ngepret kepalanya pakai sarung tangan besi kalau dia nggak ngaku."
Kaivan memberi isyarat pada Marco. Dengan cepat, Marco mendekati kursi Don Lucchese. Meskipun diprotes keras, Marco berhasil menemukan mekanisme rahasia di bawah kursi itu. Sebuah kompartemen kecil terbuka, berisi map hitam dengan stempel resmi kepolisian Italia.
"Penghianatan," gumam Kaivan sambil membaca dokumen itu. Matanya berkilat penuh amarah. "Kau bekerja sama dengan pihak berwenang untuk menjatuhkan kami semua, Lucchese?"
Suasana berubah menjadi chaos. Don Lucchese mencoba menarik pistolnya, namun dalam sekejap, Kaivan sudah lebih cepat. Moncong pistol peraknya menempel di dagu sang Don.
"Gendis, keluar," perintah Kaivan tanpa mengalihkan pandangan.
"Tapi Kak—"
"KELUAR SEKARANG!"
Gendis tersentak. Ia melihat kegelapan yang nyata di mata Kaivan—bukan sekadar aura, tapi sebuah niat membunuh yang sangat dingin. Ia segera berlari keluar ruangan, diikuti oleh Marco yang bertugas melindunginya.
Tiga puluh menit kemudian, Kaivan keluar dari vila itu. Jasnya masih rapi, namun ada noda darah kecil di manset kemeja putihnya. Ia menemukan Gendis sedang duduk di kap mobil, menatap kebun zaitun dengan pandangan kosong.
Kaivan mendekat, ia merasa bersalah karena telah membentaknya tadi. "Gendis."
Gendis tidak menoleh. "Kakak ngebunuh dia?"
Kaivan terdiam sejenak. "Dunia ini tidak seperti duniamu, Gendis. Di sini, pengkhianatan dibayar dengan nyawa. Itu hukumnya."
Gendis menghela napas panjang, lalu menatap Kaivan. "Tadi Don Alessandro sedih, Kak. Dia bilang, dia nggak mau Kakak jadi monster seutuhnya. Dia mau Kakak tetap punya sedikit rasa kemanusiaan."
Kaivan bersandar di samping Gendis. "Kemanusiaan adalah kemewahan yang tidak bisa kumiliki sekarang, Gendis. Musuhku terlalu banyak."
"Ya tapi nggak usah galak-galak sama saya juga kali!" Gendis cemberut, lalu memukul lengan Kaivan pelan. "Tahu nggak, gara-gara Kakak teriak tadi, hantu-hantu di sana pada lari semua. Mereka takut sama Kakak! Bahkan hantu aja takut sama Mafia, gimana saya yang masih napas?!"
Kaivan akhirnya tersenyum. Sebuah senyum lelah namun tulus. Ia meraih tangan Gendis yang masih gemetar karena syok. "Maafkan aku. Aku hanya ingin kau aman."
"Aman dari mana... Kakak sendiri lebih serem dari hantu muka rata!" Gendis mendengus, namun ia tidak menarik tangannya dari genggaman Kaivan.
Tiba-tiba, Gendis tertawa kecil.
"Kenapa?" tanya Kaivan heran.
"Itu... Don Alessandro lagi berdiri di belakang Kakak. Dia lagi ngasih jempol sambil bisik-bisik, 'Gitu dong, pegang tangannya, jangan pegang pistol mulu. Cucuku akhirnya belajar cara jadi cowok beneran'."
Kaivan memejamkan matanya, merasa pasrah dengan kehadiran kakek buyutnya yang ternyata sangat ikut campur dalam urusan asmaranya. "Katakan pada Don Alessandro, jika dia tidak berhenti berkomentar, aku akan menyumbangkan seluruh lukisan di perpustakaan ke museum agar dia tidak punya tempat untuk nongkrong."
Gendis terkekeh. "Dia bilang, 'Coba aja kalau berani, nanti malam kakek sembunyiin kunci mobilmu!'"
Kaivan menggelengkan kepala. Hidupnya benar-benar sudah berubah menjadi komedi supranatural. Seorang Mafia Italia yang ditakuti, kini harus bernegosiasi dengan arwah nenek moyang melalui seorang gadis indigo asal Indonesia yang hobi makan keripik kentang di situasi hidup dan mati.
"Ayo pulang," ajak Kaivan. "Aku harus mencari jam saku itu. Dan kau... kau berhak mendapatkan seblakmu."
"Beneran? Asyik! Kak Kaivan emang paling ganteng kalau lagi nggak jadi monster!" Gendis melompat turun dari mobil dengan semangat.
Saat mereka melaju meninggalkan vila itu, Kaivan menatap keluar jendela. Ia merasa bahwa dendam yang selama ini menguasai hatinya mulai mendapatkan lawan yang sepadan. Bukan dengan kekerasan, tapi dengan keriuhan seorang gadis dan cerewetnya arwah nenek moyang yang seolah-olah tidak ingin ia berjalan sendirian di jalan yang gelap.
Dan di kursi belakang mobil, Don Alessandro duduk dengan tenang, mengelus zirah dadanya sambil tersenyum puas. Tugasnya menjaga sang pewaris ternyata jauh lebih menyenangkan sejak kehadiran si gadis "semprul" itu.
"Kak, hantunya ikut masuk ke mobil nggak?" tanya Gendis tiba-tiba.
"Jangan tanya aku, Gendis. Kau yang punya matanya," jawab Kaivan pendek.
"Oh iya ya. Waduh, dia duduk di sebelah Kakak tuh! Dia bilang... 'Kaivan, bau parfummu masih terlalu kuat, kakek pusing!'"
Kaivan hanya bisa menghela napas panjang, sementara suara tawa Gendis memenuhi kabin mobil, meredam sisa-sisa ketegangan berdarah dari pertemuan tadi. Di Sisilia, cinta dan dendam memang selalu berjalan beriringan, namun kali ini, mereka harus berbagi tempat dengan kemenyan dan mi instan.
aku like banget
seribu jempol
aku like...