NovelToon NovelToon
Dicari! Staf Admin Untuk Raja Iblis

Dicari! Staf Admin Untuk Raja Iblis

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Fantasi
Popularitas:287
Nilai: 5
Nama Author: Ichigatsu

Avara hanya staf administrasi biasa di perusahaan finance yang terbiasa bekerja lembur.
Pada satu hari seperti biasa dia lembur seorang diri, lelah dan mengantuk. Saat terbangun, bukannya berada di kantor, dia justru bertransmigrasi ke dunia iblis. Menjadi satu-satunya sosok manusia di sana, Avara harus dicurigai dan hampir mendapat hukuman mati. Namun berkat kemampuannya mengolah data, dia berhasil selamat!
Kini hari-harinya disibukkan oleh pekerjaan administrasi di istana iblis, dan semata-mata bekerja untuk Raja Iblis Fulqentius yang terkenal keji, dingin, dan misterius.
Bisakah Avara bertahan hidup di dunia yang sama sekali asing baginya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichigatsu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

19 - Hari yang Sepi

Pada akhirnya, Fulqentius memberikan cuti sehari bagi Avara untuk beristirahat. Dia tidak membangunkan gadis itu, dan membiarkannya tidur hingga siang. Segala pekerjaannya ditunda, dan yang bisa dialihkan maka dialihkan pada timnya di ruangan arsip. Tidak ada yang menganggunya, tak peduli jika banyak hal bergantung padanya. Sebab begitulah titah sang raja iblis hari itu.

Avara baru bangun menjelang sore dan pikiran pertama yang tiba di benaknya adalah tentang pekerjaannya yang dia campakkan tanpa sengaja. Gadis itu bergegas bangkit hanya untuk melihat mejanya telah kosong dari berkas-berkas yang semalam suntuk dia kerjakan. Butuh beberapa waktu baginya untuk mencari mereka di seluruh penjuru kamar hingga membuatnya sadar untuk berderap ke ruang kerjanya, hanya dengan asumsi bahwa bisa jadi rekan-rekannya sudah lebih dulu mengambil data dan berkasnya.

Dia disambut oleh Gaiyus yang akan masuk ke ruangan yang sama.

"Avara," sapanya.

Mendengar itu, semua orang dalam ruangan berhamburan keluar.

"Kau libur hari ini, jadi tidak perlu pikirkan pekerjaan. Istirahat saja," ujar Oxron.

"Kembalilah ke kamarmu," tambah Fulton.

Avara mengerjap. Dia tidak pernah ingat pernah mengambil cuti libur.

"Tidak, tidak. Masih banyak yang harus kukerjakan," tukas Avara keras kepala. Mati-matian dia melangkah di antara tubuh-tubuh para iblis itu hanya untuk bisa masuk ke ruangannya. Namun Gaiyus menghalangi.

Dia bilang, "Kau lelah dan butuh istirahat, kembalilah besok. Kami bisa mengerjakannya."

Avara terpana, tapi itu tidak membiarkannya goyah. Gadis itu baru berhenti saat Oxron memberitahunya bahwa Fulqentius sendiri sudah memberinya ijin untuk cuti.

"Raja iblis? Memberiku cuti?"

Semua orang di sana mengangguk.

Maka berderaplah Avara ke ruang kerja Fulqentius, dalam perasaan segan dan takut kalau-kalau sudah melakukan kesalahan fatal atau menunjukkan sisi memalukan. Sebagaimana yang sering terjadi, dia berpapasan dengan Oriole yang baru keluar dari ruangan itu, dengan tangan memeluk dokumen-dokumen dan wajah mengernyit seperti biasa.

"Ada urusan apa?"

"Aku harus bertemu raja iblis."

"Beliau sibuk."

"Aku tahu," tukas Avara terburu-buru. "Karena itu aku hanya ingin mengganggunya sebentar."

Oriole mendesah. "Kau harusnya tahu kalau itu artinya beliau tak bisa diganggu."

Sebelum mereka terlibat cekcok panjang, terbit sebuah suara dari dalam ruangan. "Avara?"

Segera, Avara menyahut dan bergegas masuk setelah dipersilakan. Dia menahan diri agar tidak menjulurkan lidah untuk mengejek Oriole yang kesal dan tertinggal di luar.

"Your Majesty," sapa Avara. "Mohon maaf karena hari ini saya sangat terlambat berangkat kerja. Saya akan segera menyelesaikan pekerjaan saya dan berusaha untuk tidak mengulanginya di kemudian hari."

Fulqentius menatapnya heran. "Bukankah aku sudah memberimu cuti?"

"Semua orang sudah memberitahu saya begitu, tapi.."

"Kau pantas mendapatkannya. Beristirahatlah hari ini," putus Fulqentius, jelas tak ingin dibantah.

Avara bergeming ragu.

"Apa kau sebegitunya ingin bekerja?"

Avara menggeleng, mencicit, "Bukan begitu, Your Majesty."

Fulqentius memandang gadis itu sekali lagi.

Diperhatikannya wajahnya yang kuyu dengan lingkar hitam di bawah mata dan rambutnya yang belum sepenuhnya disisir rapi, menerbitkan satu perasaan aneh yang kelak baru dia sadari adalah sebuah empati. Perasaan belum bernama itu kini mendorongnya untuk menyuruh pelayan menyajikan teh sore baginya dan Avara. Lagi-lagi dianggapnya sebagai bagian dari prosedur, bukan sebentuk perhatian.

Maka di satu set meja dan kursi di hadapan meja kerja Fulqentius sekarang mereka duduk bersama. Uap hangat teh membumbung dari cangkir-cangkir di antara mereka, seolah membentuk tembok pemisah bagi dua orang yang sebetulnya sama-sama lelah.

"Minumlah," kata Fulqentius, tidak bermaksud memerintah atau memaksa.

Avara meraih cangkirnya, segera diserang uap hangat yang membawa nostalgia. "Teh melati?" Lalu menyeruputnya. "Rasanya sudah lama tidak minum teh ini."

"Di sini memang lebih biasa disajikan earl grey. Kau akrab dengan teh ini?"

Mengangguk, Avara melempar pandangan ke kejauhan, ke tempat dan waktu yang tidak bisa Fulqentius raih meski mungkin dengan sihir. "Ya, My Lord. Teh jenis ini sangat biasa dihidangkan di tempat saya. Kalau dipikir-pikir mungkin jadi minuman yang hampir mengalahkan air mineral, karena di mana-mana lebih biasa disajikan entah hangat atau dingin."

"Dingin?"

"Ya, diberi es batu. Jadi namanya es teh. Apakah di sini ada kebiasaan seperti itu juga?"

Fulqentius tampak sedikit kecewa saat menjawab, "Tidak. Aku baru mendengarnya."

"Jika cuaca sedang panas, akan saya buatkan."

Sedikit terpana, Fulqentius mengangguk pelan. "Kutunggu," ujarnya.

Sore itu bergerak pelan selama mereka menghirup teh, menggelar kesunyian tapi tidak membuat keduanya kesepian atas keberadaan satu sama lain. Selama beberapa saat mereka menikmati waktu saat tidak ada suara ribut para staf lain yang sibuk bekerja dan bunyi-bunyi masalah yang sering berkeretak menggugah kedamaian.

Fulqentius menaruh kembali cangkirnya. "Ceritakan tentang duniamu," ucapnya tiba-tiba.

Maka dengan sedikit keraguan dan lebih banyak nostalgia, Avara berkisah...

...****************...

Di dunia asalnya, tidak ada sihir. Semuanya berjalan berkat teknologi yang berkembang setiap hari, menjadikan segalanya makin mudah tapi juga rumit. Seseorang mungkin tidak bisa berteleportasi jika ingin lekas sampai ke satu tempat, tapi dia punya banyak pilihan untuk menuju ke sana. Seperti yang pernah disampaikan Avara, hampir tidak ada kereta kuda seperti milik para bangsawan, tapi sebagai gantinya ada kendaraan bernama mobil, kereta, dan pesawat.

"Manusia bisa terbang?"

Avara mengangguk. "Kami bisa terbang, menyelam, berlayar.. dengan bantuan alat transportasi. Seperti halnya Anda diantar oleh kereta kuda."

Manusia bahkan memiliki benda elektronik yang memungkinkan mereka untuk bisa menghubungi orang lain di tempat yang sangat jauh sekalipun. Mereka bisa bertukar pesan, suara, hingga rekaman video, dan menjelajahi dunia lewat benda itu. Meski harganya mahal, karena kegunaannya yang segudang, sebagian besar manusia yang mampu membeli pasti memilikinya. Nama benda itu ponsel.

Sedikit sama dengan ponsel, ada benda bernama komputer yang bisa menginput data untuk kemudian diolah dan disimpan dalam database. Untuk urusan kantor, biasanya tidak dapat dipisahkan dengan printer maupun scanner yang sangat berguna untuk mengurus dokumen-dokumen dengan mencetak dan memindainya.

"Kristal sihir yang sekarang saya maksudkan untuk bisa menyamai fungsi komputer meski hanya sedikit," jelas Avara.

Fulqentius mendengarkan tanpa interupsi.

Avara lanjut menjelaskan soal banyak hal lain yang hanya ada di dunianya tapi tidak tersedia di sini, melompat-lompat secara random dari satu topik ke topik lain, mengeja kenangan yang terasa jauh dalam benaknya.

"Duniamu sepertinya damai sekali," tukas Fulqentius. "Aku belum mendengarmu berbicara tentang iblis di sana."

Cukup lama hening bergulung di antara mereka, hingga Avara bersuara, "Tidak ada iblis di dunia asal saya."

Kembali hening sampai Fulqentius berujar, "Berarti hanya ada kedamaian di duniamu, ya."

Avara menenggak tehnya, menggeleng. "Kami berperang dengan sesama manusia."

Fulqentius ikut menenggak tehnya, termangu. "Itu terdengar.. lebih buruk."

Hari yang sepi itu terus berlanjut dengan Avara yang lebih banyak bercerita dan Fulqentius yang mendengar, hingga sang raja iblis berujar, "Kita bisa lebih sering minum teh seperti ini."

"Jika Anda tidak sibuk, Your Majesty," tukas Avara.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!