NovelToon NovelToon
Pernikahan Rahasia Di Balik Seragam

Pernikahan Rahasia Di Balik Seragam

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Dunia Masa Depan / Idola sekolah
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Selenium Alchemy

Masa remaja Andini, seorang gadis SMA yang ceria, seharusnya dihabiskan dengan mengerjakan PR, tertawa bersama teman-teman, dan menikmati masa muda yang bebas. Namun, takdir berkata lain. Sebuah perjodohan mendadak menyeretnya ke dalam ikatan pernikahan yang tidak pernah ia bayangkan, dengan pria yang berada di dunia yang sangat jauh berbeda dari dunianya.

​Charles, seorang CEO muda yang dikenal dengan reputasi "es berjalan". Baginya, hidup adalah tentang keuntungan, strategi, dan kesempurnaan. Ia tidak pernah menginginkan pernikahan ini baginya, Andini hanyalah tanggung jawab yang harus ia jaga demi memenuhi wasiat sang kakek.

​Di sekolah, Andini adalah siswi biasa yang berusaha menjalani hari dengan tenang. Namun di balik pintu apartemen mewah, ia adalah istri dari pria yang paling disegani sekaligus ditakuti di dunia bisnis. Pernikahan ini harus dirahasiakan rapat-rapat; satu kesalahan kecil bisa menghancurkan reputasi Charles dan masa depan sekolah Andini...?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Selenium Alchemy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 19

Aku menggenggam kemudi mobil dengan cengkeraman yang begitu kuat hingga buku-buku jariku memutih. Di sampingku, Andini duduk terdiam, menatap kosong ke arah rintik hujan yang mulai membasahi kaca depan. Aku bisa merasakan kecemasan yang memancar dari tubuh kecilnya, sebuah getaran halus yang membuat hatiku terasa seperti diremas. Sepuluh tahun aku membangun reputasi sebagai pria tanpa emosi, sebuah mesin bisnis yang hanya mengenal angka dan logika. Namun malam ini, pertahananku runtuh hanya karena melihat ketakutan di mata seorang gadis remaja yang seharusnya masih sibuk memikirkan tugas sekolah.

Vivian telah melampaui batas. Melaporkanku atas tuduhan manipulasi dan pemaksaan terhadap anak di bawah umur bukan sekadar serangan bisnis; itu adalah upaya pembunuhan karakter yang paling rendah. Dia tahu persis bahwa integritas adalah segalanya bagiku, dan dia mencoba mengoyaknya dengan menggunakan Andini sebagai senjatanya.

"Charles," suara Andini memecah keheningan, nyaris seperti bisikan yang tertelan deru mesin. "Apakah mereka benar-benar bisa memisahkan kita?"

Aku menepikan mobil di bahu jalan yang sepi, mematikan mesin, dan berbalik menghadapnya. Lampu jalanan yang temaram memantul di matanya yang berkaca-kaca. "Tidak akan ada yang bisa memisahkan kita, Andini. Tidak Vivian, tidak polisi, bahkan hukum sekalipun jika hukum itu mencoba menutup mata terhadap kebenaran."

Aku meraih tangannya, merasakan dingin yang menjalar di jemarinya. "Dengarkan aku. Pernikahan kita memiliki landasan hukum yang kuat melalui dispensasi dan wasiat yang sah secara notarial. Namun, Vivian ingin menyerang sisi moral. Dia ingin membangun narasi bahwa kau hanyalah korban yang tidak berdaya. Dia meremehkanmu, Andini. Dia tidak tahu betapa kuatnya putri Bapak Sudarman ini."

Aku menyandarkan punggungku, menatap kegelapan di luar. Pikiranku melayang pada pertemuan dengan tim hukumku beberapa saat yang lalu melalui panggilan singkat. Mereka sudah bersiaga. Namun, kunci dari semua ini bukanlah pengacara berbayar mahal, melainkan kesaksian Andini. Dunia harus melihat bahwa dia bukan korban, melainkan seorang wanita muda yang memiliki kedaulatan atas perasaannya sendiri.

"Besok akan menjadi hari yang sangat panjang," lanjutku, suaraku berat oleh beban tanggung jawab. "Kau akan ditanya oleh penyidik, mungkin juga oleh psikolog anak. Mereka akan mencoba mencari celah, mencoba memancingmu agar terlihat seperti seseorang yang tertekan. Kau tidak perlu berbohong, cukup ceritakan bagaimana kita melewati malam-malam di apartemen itu. Ceritakan tentang cokelat panas, tentang dukungan belajar, dan tentang bagaimana kita saling menghargai ruang masing-masing."

Aku melihatnya mengangguk pelan, sebuah gerakan kecil yang memberiku kekuatan luar biasa.

Dulu, aku menikahi Andini karena kewajiban. Aku menganggapnya sebagai beban tambahan dalam hidupku yang sudah rumit. Namun, seiring berjalannya waktu, sosok yang kuanggap beban itu justru menjadi satu-satunya tempat di mana aku bisa menanggalkan jubah "Charles Utama Sang Gunung Es". Di hadapannya, aku tidak perlu menjadi CEO yang sempurna. Aku bisa menjadi pria yang belajar tentang empati melalui cerita-cerita sederhananya tentang orang tuanya.

Kini, aku menyadari bahwa aku tidak sedang melindunginya hanya karena sebuah janji pada mendiang kakeknya. Aku melindunginya karena dia adalah bagian dari jiwaku yang selama ini hilang. Dia adalah warna yang menembus kegelapan masa laluku.

"Vivian mengira dia bisa melumpuhkanku dengan menyerangmu," ucapku dengan nada dingin yang hanya kutujukan pada musuh-musuhku. "Tapi dia lupa bahwa singa akan menjadi paling berbahaya saat sarangnya diganggu. Aku akan menggunakan seluruh sumber daya yang kumiliki untuk memastikan dia membayar setiap tetes air mata yang kau jatuhkan hari ini."

Aku menghidupkan kembali mesin mobil. Kami sampai di apartemen, dan seperti yang sudah diprediksi, beberapa petugas berseragam rapi sudah menunggu di lobi pribadi. Tidak ada keributan, hanya ketegangan profesional. Pak Gunawan berdiri di sana, menghalangi beberapa fotografer nakal yang mencoba menyusup.

Aku melangkah keluar lebih dulu, lalu membukakan pintu untuk Andini. Aku menyampirkan jas hitamku ke bahunya—sebuah gestur perlindungan yang kini menjadi bahasa tanpa kata di antara kami.

"Selamat malam, Pak Charles," salah satu petugas melangkah maju dengan sopan. "Kami memiliki surat perintah untuk meminta keterangan awal terkait laporan yang masuk. Kami harap Anda dan Ibu Andini bisa bekerja sama."

"Saya tahu prosedur ini," jawabku datar, mataku menatap tajam ke arah mereka. "Istri saya akan memberikan keterangan, namun hanya dengan didampingi oleh tim hukum saya dan dalam suasana yang kondusif. Dia adalah seorang siswi yang baru saja mengalami tekanan mental karena perundungan media. Saya harap Anda menghormati hak-haknya."

Para petugas itu mengangguk. Kami naik ke unit apartemen kami, diikuti oleh dua penyidik senior. Di dalam ruang tamu yang luas itu, suasana terasa seperti ruang sidang. Andini duduk di sofa besar, tampak sangat kecil namun luar biasa tenang. Aku duduk di sampingnya, membiarkan tanganku tetap berada di jangkauan tangannya jika dia membutuhkannya.

Pemeriksaan dimulai. Pertanyaan demi pertanyaan mengalir, beberapa di antaranya sangat provokatif, mencoba menggali apakah ada unsur paksaan dalam hubungan kami. Aku memperhatikan setiap reaksi Andini.

"Apakah Pak Charles pernah mengancam Anda jika Anda tidak menuruti keinginannya?" tanya salah satu penyidik wanita dengan nada persuasif.

Andini menatap penyidik itu dengan tenang. "Pak Charles tidak pernah mengancam saya. Sebaliknya, dia adalah orang pertama yang menawarkan perlindungan saat dunia luar mencoba menghancurkan masa depan saya. Dia tidak pernah memaksa saya menjadi siapa pun selain diri saya sendiri. Jika ada yang memaksa dalam cerita ini, itu adalah keadaan, bukan pria di samping saya ini."

Mendengar jawabannya, aku merasa sebuah beban berat terangkat dari pundakku. Dia tidak gentar. Dia tidak ragu.

Pemeriksaan berlangsung hingga larut malam. Setelah para petugas pergi, apartemen kembali sunyi. Aku menatap Andini yang kini tampak sangat lelah.

"Kau luar biasa malam ini," ucapku tulus.

"Aku hanya mengatakan yang sebenarnya, Charles," jawabnya sambil tersenyum tipis. "Seperti yang selalu Bapak katakan, kebenaran adalah pelindung terbaik."

Aku membantunya berdiri dan menuntunnya ke kamar. Sebelum dia menutup pintu, aku menahan tangannya sejenak. "Andini, terima kasih. Terima kasih telah memilih untuk percaya padaku."

"Kita satu tim, kan?" dia mengulang kalimat yang sering kuucapkan padanya.

Malam itu, saat aku kembali ke ruang kerjaku untuk menyusun strategi balasan terhadap Vivian, aku merasa sangat yakin. Vivian mungkin punya kelicikan, tapi aku punya sesuatu yang jauh lebih kuat: sebuah kebenaran yang dijaga oleh keberanian seorang gadis yang kucintai. Aku akan memastikan besok menjadi akhir dari permainan Vivian, dan awal dari kedamaian yang sesungguhnya bagi Andini. Karena sebagai perisainya, aku tidak akan membiarkan satu peluru pun menembus kedamaiannya lagi.

1
Eni Wati
sll menunggu
R.A Naimah
nggak faham alur ya selalu berputar
Eni Wati
Lanjut
Eni Wati
sll menuggu
Eni Wati
Lanjut
Wawan
Semangat... ✍️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!