Amira 3 Tahun Jadi TKI, melunasi hutang keluarga suami
meninggalkan dua anaknya yang masih kecil
saat pulang di mendapatkan
arjuna anak sulungnya usia 7 tahun sedang di pukul oleh seorang wanita
wanita itu adalah istri muda suaminya
anak keduanya saat itu usia 1 tahun tidak ada di rumah
Hati Amira hancur namun dia harus tetap hidup
sebuah kisah kebangkitan wanita
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MENCARI DEWI
Amira merasa menjadi manusia paling bodoh karena pernah berumah tangga dengan Rudi. Rudi dan keluarganya benar-benar memanfaatkannya.
Anaknya, Arjuna, dianggap anak dan cucu manakala berguna, sedangkan jika tidak berguna dianggap sampah dan beban.
Amira menghela napas, menatap langit cerah yang terasa panas, kemudian membalikkan badan.
“Amira, ayo kita ke klinik,” ajak Yuni sambil memegang pundak Amira.
Mereka berdua melangkah menuju klinik. Selanjutnya, Amira pergi ke ruang administrasi, sedangkan Yuni pergi ke ruang perawatan Arjuna.
Amira menyerahkan uang enam juta rupiah. Dia takut Rudi akan mengambil uangnya, dan hal pertama yang harus dia amankan adalah biaya perawatan Arjuna.
Setelah menyelesaikan urusan administrasi, Amira pergi ke ruang perawatan Arjuna.
Arjuna tampak sedang disuapi oleh Yuni.
“Mamah,” sapa Arjuna.
Amira menghampiri Arjuna. Kondisinya sudah jauh lebih baik.
“Tadi perawat datang. Katanya Arjuna sudah bisa pulang besok, untuk dilakukan pemeriksaan terakhir oleh dokter,” Yuni menatap Amira. Tadi, saat Amira di ruang administrasi, perawat datang dan menyampaikan hal tersebut.
Amira menghela napas lega. “Alhamdulillah.”
“Itu karena Arjuna banyak makan dan mau minum obat, makanya Arjuna cepat sembuh.”
“Iya, aku harus cepat sembuh. Aku harus mencari Dewi,” ujar Arjuna dengan penuh semangat, membuat Amira terharu.
“Terima kasih, Sayang. Arjuna sangat pengertian,” Amira membelai kepala Arjuna.
Arjuna tersenyum. “Juna sayang Mamah. Juna tidak mau merepotkan Mamah.”
“Amira, selanjutnya apa rencana kamu?” tanya Yuni.
“Aku akan mencari Dewi ke rumah ibuku di Cikampek.”
“Oh, begitu. Maaf ya, aku tidak bisa banyak bantu. Kalau kamu pergi ke Cikampek, kita bakal jarang ketemu.”
“Nanti kalau aku sudah ketemu Dewi, aku pasti bertemu kamu.”
“Maaf ya, Amira.”
“Tidak usah minta maaf terus. Kalau tidak ada kamu, aku tidak bisa berbuat apa-apa.”
“Kita ini tetangga, harus saling membantu.”
Mereka pun mengobrol dengan hangat, ngalor-ngidul hingga siang menjelang. Akhirnya Yuni pulang.
Amira berdiri di samping ranjang, memandangi wajah Arjuna yang terlelap. Napas anak itu sudah lebih teratur, dadanya naik turun pelan. Lampu ruangan yang temaram memantulkan bayangan lelah di wajah Amira. Jemarinya menggenggam ujung selimut, seolah sedang menahan sesuatu yang berdesakan di dalam dada.
Pikirannya berputar. Cepat. Bertumpuk. Tidak ada satu pun yang sederhana. Uang. Masa depan Arjuna. Dan satu nama yang terus muncul seperti luka yang belum kering. Dewi.
Di tempat lain, pintu rumah dibuka agak keras.
Rudi masuk lebih dulu, langkahnya berat, diikuti Ambar yang wajahnya masam. Suasana rumah terasa pengap, seperti ikut menampung emosi yang belum selesai.
“Aku yakin Amira masih memegang uang, makanya dia masih bisa merawat Arjuna.”
“Iya, Bu, aku juga yakin itu, Bu. Sekarang kita kehilangan pemasukan dari Amira, Bu. Jadi pusing aku, Bu.”
“Kamu kan sudah kerja. Gaji kamu besar. Kenapa kamu harus takut?”
“Bukan takut, hanya sayang saja, Bu. Yang namanya jadi pekerja itu posisinya tidak aman. Aku itu harus nabung uang yang banyak, biar nanti di masa tua aku bisa hidup enak. Aku lagi ada bisnis investasi, kurang seratus juta, eh Amira malah berhenti kerja.”
Rudi menjatuhkan tubuhnya ke kursi, telapak tangannya menekan kening. Napasnya berat, matanya menyipit seperti sedang menghitung sesuatu yang tidak kunjung cukup.
“Sudahlah, mending uangnya kamu berikan ke Ibu. Ibu simpan. Dan ingat ya, walau Amira sudah tidak ngasih uang sama kamu, kamu masih harus ngasih uang ke Ibu.”
Jari Rudi menggaruk kepala, ragu, tapi juga enggan.
“Kenapa? Aku ini ibumu. Jangan pelit, ya, kamu,” ucap Ambar yang tahu watak anaknya itu.
“Iya, nanti aku kasih Ibu uang empat ratus ribu.”
“Enggak bisa!” bentak Ambar. “Setiap bulan kamu ngasih Ibu uang dua juta, kok jadi empat ratus ribu?”
“Iya, uangku habis dong kalau aku ngasih Ibu dua juta.”
“Rud, kok Arum enggak pernah ngasih uang sih ke Ibu?” tanya Arum.
Rudi menghela napas panjang, bahunya turun. “Arum adalah pilihan Ibu. Ibu saja yang minta. Rudi malu, Bu, apalagi kalau sudah kumpul sama keluarga besarnya.”
Ambar terdiam sesaat. Bibirnya mengatup, namun matanya masih menyimpan ketidakpuasan.
“Dia itu istri kamu. Seharusnya kamu harus membujuk dia memberikan gajinya pada kamu.”
“Ibu saja yang ngomong. Aku malas, Bu.”
“Ya nanti Ibu yang ngomong,” ucap Ambar.
Di balik pintu kamar yang tertutup, Arum duduk diam. Punggungnya bersandar ke dinding, kedua tangan terlipat di dada. Setiap kata yang terdengar dari luar seperti memukul kesadarannya.
“Kalian mau memanfaatkan aku?” gumam Arum. “Jangan mimpi.”
Ia memejamkan mata, menarik napas panjang, lalu membiarkannya keluar perlahan.
Pintu kamar tiba-tiba terbuka.
Rudi berdiri di ambang pintu, langkahnya terhenti. Tatapannya langsung menangkap sosok Arum di dalam.
“Apa dia dengar semua pembicaraan tadi, ya?” pikir Rudi dalam hati.
Ia berpura-pura santai, tapi rahangnya mengeras.
“Aku ini tampan dan pintar. Kalau Arum tidak bisa memberikan uang, aku akan cari wanita yang bisa ngasih uang padaku,” ucap Rudi dalam hati.
Tak lama, ia berbalik, melangkah keluar menuju halaman belakang. Matanya mulai menyapu sekitar, seperti sedang mencari peluang baru.
Waktu berjalan pelan, tapi pasti.
Dua hari berlalu.
Di ruang perawatan, Arjuna duduk di tepi ranjang. Perawat tersenyum, tangannya cekatan melepas selang infus dari punggung tangan kecil itu.
Amira berdiri di dekatnya, memegang baju baru yang baru saja ia beli.
Ia membantu Arjuna mengenakannya.
Baju itu sedikit kebesaran, tapi wajah Arjuna tampak lebih hidup. Ada warna di pipinya, walau tubuhnya masih kurus.
“Kita akan cari Dewi, kan, Mah?” tanya Arjuna.
“Iya, sayang. Kita cari Dewi ke rumah nenek di Cikampek.”
“Baik, Mah. Kalau ketemu, aku janji akan menjaga dia dengan baik.”
Amira tersenyum tipis. Tangannya mengelus kepala Arjuna, lembut. “Kamu anak yang baik.”
Tak lama kemudian, mereka keluar dari klinik.
Udara sore menyentuh wajah. Angin berembus pelan, membawa suara kendaraan yang lalu-lalang.
Amira dan Arjuna naik angkot yang hampir penuh. Tubuh mereka bergoyang mengikuti jalan yang tidak rata.
Arjuna menempelkan wajah ke jendela, matanya berbinar.
“Mah, aku baru pertama kali naik angkot, loh, Mah.”
“Loh, bukannya kamu sering disuruh ke pasar, kok jarang naik angkot?”
“Yah, mana rela Bapak ngasih aku uang untuk naik angkot. Bapak itu pelit.”
Jari Amira mengepal di pangkuannya. Rahangnya mengeras, tapi ia tidak berkata apa-apa.
“Apa kamu jarang naik motor?”
“Mana ada, Mah… Bapak itu marah kalau motornya aku pegang.”
Amira menarik napas dalam.
“Mamah nanti kalau banyak uang jangan pelit ya, Mah,” ucap Arjuna mengagetkan Amira.
Amira menoleh, menatap anaknya lama.
“Tenang saja, uang Mamah semuanya untuk Juna dan Dewi. Kalau Mamah punya uang, Mamah akan ajak Juna keliling dunia.”
Perlahan, mata Arjuna mulai terpejam. Tubuhnya condong, lalu bersandar di dada Amira.
Amira memeluknya.
Pandangan Amira kosong sesaat, lalu berkaca-kaca.
“Dewi, di mana kamu, Nak,” gumam Amira.
Perjalanan panjang akhirnya membawa mereka ke Cikampek.
Gang sempit menyambut mereka dengan bau tanah dan suara orang-orang yang bercampur.
Amira mengetuk pintu rumah yang ia kenal dulu.
Pintu terbuka.
Seorang wanita paruh baya muncul, wajah asing.
“Cari siapa, ya?”
“Saya cari Ibu Nanda.”
“Oh, Ibu Nanda sudah jual rumahnya ke saya dua tahun yang lalu. Ini siapa, ya?”
“Saya anaknya. Ibu tahu di mana keberadaan Ibu saya?”
“Wah, saya enggak tahu.”
Pintu kembali tertutup pelan.
Amira berdiri beberapa detik, lalu berbalik. Langkahnya cepat, napasnya memburu.
Namun belum jauh, sebuah suara memanggil.
“Amira!”
Ia menoleh.
Seorang wanita berdiri di ujung gang. Wajah yang tidak asing.
“Amira, kamu cari ibu kamu, ya?”
Amira mengangguk.
“Ibu kamu parah banget, Mira. Dia terlilit utang banyak dan jual rumah itu.”
Tatapan Amira berubah. Rahangnya mengeras.
“Apakah dia bersama anak kecil?”
“Anak umur dua tahun, perempuan?”
Amira kembali mengangguk.
“Kamu harus segera menemukan ibu kamu. Aku takut ibu kamu malah menjual anak itu.”
Jari-jari Amira mengepal kuat. Kukunya menekan telapak tangan sendiri.
“Apakah Ibu tahu keberadaan Ibu saya?” tanya Amira.
MAAF BARU UPDATE SAUDARA SAYA ADA YANG MENINGAL
ayo semangat demi masa depan yg cerah..secerah duit merah merah di dompet dan bawah kasur🤣🤣🤣🤣
ambil j nek buat alas tidur🤣🤣
huuuuh...akhirnya
mudah mudahan mereka lekas bangkit..menyusun masa depan dg kuat dan tegar
yg ada di tindas terus
semangat thor banyak banyak up tiap hari
💪💪💪💪