NovelToon NovelToon
Petualangan Bintang ( Han Le)

Petualangan Bintang ( Han Le)

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Budidaya dan Peningkatan / Ilmu Kanuragan
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: bang deni

karena Ayahnya tewas di tangan Arya saat melakukan Pemberontakan Nirmala pergi ke negeri Bharat, guna belajar ilmu kanuragan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bang deni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

tugas Pertama

Suasana di dalam ruang pengobatan kini berbalik. Jika sebelumnya Lim Hao yang duduk di samping ranjang dengan wajah cemas, kini Han Le-lah yang setia menunggunya. Ruangan itu dipenuhi aroma tajam dari ramuan obat herbal, kayu cendana, dan sisa-sisa hawa panas dari pengobatan energi yang diberikan oleh Tetua Kong Pang. Lim Hao terbaring dengan kaki kanan yang dibalut kain sutra putih, diperkuat dengan bilah bambu agar tulangnya yang baru saja disambung tetap pada posisinya.

"Twako, minumlah ramuan ini," ucap Han Le sambil menyodorkan mangkuk berisi cairan hitam pekat yang aromanya sangat pahit.

" Agh"

Lim Hao meringis, bukan karena luka di kakinya, melainkan karena bau obat tersebut. "Han Te, rasanya aku lebih baik dipukul satu kali lagi daripada harus meminum cairan kental ini. Apakah kau mencoba meracuniku?"

Han Le tertawa kecil, sebuah tawa yang jarang terdengar sejak ia memasuki Ruang Penebusan. "Ini adalah ramuan Lù Jiǎo Jiāo (Sari Tanduk Rusa) yang dicampur dengan bunga salju dari puncak Tianshan. Jika kau tidak meminumnya, tulangmu akan tetap rapuh seperti kayu lapuk. Apa kau mau pincang seumur hidup dan tidak bisa mengejar gadis-gadis di pasar bawah bukit?" goda Han le

Mendengar kata "gadis", Lim Hao langsung menyambar mangkuk itu dan menegaknya habis dalam satu tarikan napas. Wajahnya berubah menjadi hijau menahan rasa pahit yang luar biasa, namun ia segera merasa hangat menjalar dari perut hingga ke ujung kakinya.

" Ha ha ha ha" Han Le tertawa berhasil mengelabui Lim Hao, Lim Hao sudah jadi biksu mana bisa mengejar gadis lagi

" Mengapa kau tertawa?" tanya Lim Hao heran

" memangnya twako lupa kepala sudah di gunduli, he he he" Han le berkata sambil terkekeh berlari keluar kamar

" Han Teeee, kau mengerjaiku"

" Aduuuh" Lim Hao kesal dan ingin mengejar tetapi langsung mengaduh sakit di kakinya terasa berdenyut saat ia menggerakannya

" Tiduran saja Twako, aku akan membuat bakmi" sahut Han Le yang berlari menuju dapur Kuil.

Tujuh hari berlalu. Berkat ketekunan Han Le dalam menyalurkan tenaga dalam secara rutin ke kaki Lim Hao, pemulihan yang seharusnya memakan waktu berbulan-bulan berhasil diselesaikan dalam hitungan hari. Lim Hao kini sudah bisa berdiri tegak, bahkan mencoba melompat-lompat kecil.

"Kakiku terasa lebih kuat dari sebelumnya!" seru Lim Hao girang di halaman belakang kuil yang sepi.

Han Le tersenyum, namun raut wajahnya kemudian berubah serius. "Twako, kejadian di hutan bambu kemarin memberiku pelajaran besar. Aku tidak bisa selalu ada di sampingmu. Kau butuh sesuatu untuk menyelamatkan dirimu jika keadaan menjadi genting."

Lim Hao menghentikan lompatannya. "Maksudmu, kau akan mengajariku jurus hebat?"

"Bukan jurus untuk memukul, tapi jurus untuk tidak terpukul," sahut Han Le. "Aku akan mengajarkanmu teknik Líng Bō Wēi Bù (Langkah Ringan di Atas Gelombang), atau yang sering disebut orang di negeriku sebagai Langkah Seribu."

Han Le kemudian mulai memeragakan gerakan kaki yang sangat aneh. Ia melangkah mengikuti pola Bagua (Delapan Penjuru), namun setiap langkahnya seolah-olah tidak menapak bumi. Tubuhnya bergeser seperti bayangan yang tertiup angin. Kadang ia terlihat di kiri, namun dalam sekejap ia sudah berada lima langkah di sebelah kanan tanpa ada suara gesekan kaki sedikitpun.

"Perhatikan, Twako. Inti dari langkah ini bukan pada kecepatan lari, melainkan pada Bù Fǎ (Teknik Langkah) dan koordinasi pernapasan. Kau harus membayangkan tubuhmu seringan kapas yang terbawa arus air."

Lim Hao mencoba meniru. Pada jam-jam pertama, ia terus-menerus terjatuh karena kakinya terserimpung sendiri. Ia menggerutu, berkeringat, dan mengutuk pola langkah yang membingungkan itu. Namun Han Le tetap sabar. Ia menggunakan ranting bambu untuk menandai posisi kaki Lim Hao di tanah.

"Jangan gunakan kekuatan ototmu, Twako! Gunakan Yì (Niat). Biarkan tenaga dalammu mengalir ke titik Yongquan di telapak kaki," instruksi Han Le tegas.

Setelah tiga hari latihan tanpa henti, sebuah keajaiban terjadi. Saat Han Le mencoba menyerang Lim Hao dengan dahan bambu secara perlahan, tubuh Lim Hao secara instingtif bergeser. Langkahnya meliuk menyerupai ular yang menghindari patukan, dan ia berhasil menghindar tanpa mengeluarkan banyak tenaga.

"Aku berhasil! Han Te, lihat! Aku tidak bisa disentuh!" Lim Hao berteriak kegirangan sambil terus menari di antara pepohonan bambu.

Han Le mengangguk puas. Meski Lim Hao belum menguasai teknik ini secara sempurna untuk bertarung, setidaknya untuk melarikan diri dari musuh kelas menengah, teknik ini sudah lebih dari cukup.

Sore itu, saat matahari mulai tenggelam di balik Gunung Song, seorang biksu kecil datang memanggil Han Le. Guru Kong Hui menunggunya di Aula Utama.

Han Le memasuki aula yang megah namun tenang itu. Guru Kong Hui duduk bersila di depan patung Buddha emas besar. Di sampingnya terdapat sebuah kotak kayu cendana yang terukir indah.

"Wu Kong, kemarilah," panggil Guru Kong Hui dengan suara rendah namun berwibawa.

Han Le menjura dengan hormat. "Suhu memanggil saya?"

"Tugasmu di Shaolin untuk sementara telah selesai. Kau telah melewati ujian berat dan mendapatkan pencerahan yang jarang dimiliki murid seusiamu. Namun, naga tidak selamanya bisa tinggal di dalam kolam yang tenang. Ia harus terbang melintasi awan," ucap Guru Kong Hui.

Ia kemudian menyerahkan kotak cendana itu kepada Han Le. "Ini adalah kitab kuno milik Ketua Perguruan Wudang, pendeta Zhang. Bertahun-tahun yang lalu, ia meminjamkannya kepada Shaolin untuk diterjemahkan bagian rahasianya. Tugasmu adalah membawa kitab ini kembali ke Gunung Wudang dan menyerahkannya langsung kepada beliau."

Han Le menerima kotak itu dengan kedua tangan. Ia tahu ini adalah tugas penting sekaligus alasan baginya untuk mulai keluar melihat dunia.

"Namun, Wu Kong, perjalanannya tidak akan mudah," lanjut Guru Kong Hui. "Para Biksu Dalai Lama itu masih mengintaimu. Jika kau keluar dengan identitasmu yang sekarang, mereka akan menyergapmu sebelum kau sampai ke perbatasan provinsi."

Guru Kong Hui memberikan isyarat, dan seorang pelayan membawa nampan berisi pakaian yang sangat berbeda. Bukan jubah biksu abu-abu Shaolin, melainkan jubah panjang berwarna biru tua khas pelajar terpelajar atau pengembara sastrawan. Ada juga sebuah topi lebar dan sebilah pedang yang terlihat kuno namun bersahaja.

"Mulai saat ini, kau bukan lagi Wu Kong sang biksu Shaolin. Namamu adalah Liang He, seorang pengembara dari Selatan yang sedang melakukan perjalanan untuk mencari inspirasi puisi," ucap Guru Kong Hui sambil tersenyum tipis. " gunakan ilmu samaranmu untuk merubah sesaat dan juga, gunakan kumis palsu ini, satu yang perlu kau ingat, jaga nama besar Kuil Sholin, ini plakatmu" Biksu Kong Hui memberikan satu plakat kayu dengan tanda tiga bintang , yang menandakan Han Le angkatan ke tiga.

Han Le melihat pantulan dirinya di cermin tembaga. Dengan pakaian baru itu, wajahnya yang tegas kini terlihat lebih lembut, seperti seorang pemuda ningrat yang sedang berkelana. Aura kependekarannya tersembunyi dengan rapi di balik jubah longgar tersebut.

"Gunakan pedang ini," Guru Kong Hui menyerahkan pedang bersarung kulit hiu. "Ini disebut Qīng Fēng Jiàn (Pedang Angin Sejuk). Ia tidak terlihat tajam, tapi mampu membelah sehelai rambut yang jatuh. Biarkan orang mengira kau adalah ahli pedang, bukan ahli tenaga dalam."

Keesokan paginya, di gerbang belakang Shaolin yang diselimuti kabut tebal, Han Le berdiri siap untuk berangkat. Tas punggungnya berisi perbekalan dan kotak kitab yang disembunyikan di bagian paling bawah.

Lim Hao berdiri di sana dengan mata yang sedikit sembab. "Kau benar-benar pergi, Han Te?"

Han Le menepuk bahu sahabatnya itu. "Hanya sementara, Twako. Ingat pesan-pesanku. Teruslah berlatih Langkah Seribu itu. Jika kita bertemu lagi, aku ingin melihatmu sudah bisa berjalan di atas air."

Lim Hao mengendus, mencoba menahan tangis. "Tentu saja! Dan saat kau kembali, kau harus menceritakan padaku bagaimana rasanya menjadi pendekar besar di luar sana. Jangan lupa bawa oleh-oleh dari Wudang!"

Han Le tersenyum, lalu berbalik menghadap Guru Kong Hui yang berdiri di kejauhan. Ia menjura dalam-dalam untuk terakhir kalinya.

"Pergilah, Liang He. Biarkan angin membawamu ke tempat di mana takdir menunggumu," ucap Guru Kong Hui pelan.

Han Le berangkat pagi itu juga namun sebelum ia pergi ia merubah penampilannya dengan ilmu samaran dari Kakek Han

1
Dania
semangat tor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!