"Mantan kabur, adiknya malah melamar? Dunia ini sudah gila!"
Bagi Cantik (26 tahun), hidupnya berakhir tragis saat rencana pernikahannya hancur karena Satria, sang calon suami, ketahuan selingkuh tepat sebulan sebelum hari H. Di tengah rasa sakit hati dan niatnya untuk menutup diri dari laki-laki, sebuah kekacauan muncul di depan pagarnya.
Bukan Satria yang datang meminta maaf, melainkan Juna (18 tahun), adik kandung Satria yang baru saja pamer foto ijazah SMA. Tidak tanggung-tanggung, bocah ugal-ugalan itu datang membawa rombongan motor sport, spanduk lamaran, hingga surat izin menikah dari ibunya sendiri!
Bagi Cantik, Juna hanyalah "bocil" bau matahari yang tidak tahu diri. Namun bagi Juna, Cantik adalah bidadari yang sudah ia incar sejak ia masih memakai seragam putih-abu.
"Lu itu berlian, Kak! Nggak pantes nangisin kerikil kayak Bang Satria. Daripada jadi mantan kakak, mending jadi istri adek. Gaskeun?!"
Sanggupkah Cantik mempertahankan tembok gengsinya mengahadapi pesona Juna?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15. Sidang Di Meja Makan
Suasana di rumah besar "Bani Sudirjo" malam itu terasa sebeku es di kutub utara. Meja makan jati yang panjang itu menjadi saksi bisu berkumpulnya seluruh anggota keluarga inti.
Di kursi utama, Papa duduk dengan wajah yang sangat tegang, guratan kelelahan dan kekecewaan tercetak jelas di sana.
Di sisi kiri, Satria dan Sintia duduk berdampingan, memasang wajah "korban" yang tersakiti.
Sementara di hadapan mereka, Juna berdiri tegak—masih dengan sisa-sisa oli di lengannya yang belum bersih sempurna—menggenggam tangan Cantik yang tampak ragu namun berusaha tegar.
"Duduk, Juna. Cantik," suara Papa rendah, penuh wibawa yang mengintimidasi.
Begitu mereka duduk, Papa langsung mengarahkan telunjuknya pada Juna.
"Papa tidak habis pikir dengan jalan pikiranmu, Juna. Foto itu? Proklamasi di grup keluarga? Apa kamu tidak sadar berapa banyak martabat keluarga yang kamu pertaruhkan?"
"Pa, Juna cuma jujur—"
"Diam!" potong Papa tajam. Pandangannya beralih ke Cantik, dan seketika melembut.
"Cantik, Papa minta maaf atas kelakuan anak-anak Papa. Papa sangat menyayangimu. Sejak dulu, Papa selalu berharap kamu benar-benar jadi menantu di rumah ini. Tapi..." Papa kembali menatap Juna dengan penuh keraguan.
"Tapi Juna? Dia masih belia, Cantik. Dia masih ugal-ugalan. Papa tidak yakin dia bisa menjagamu."
Papa menghela napas berat, matanya berkaca-kaca.
"Papa hanya tidak mau Juna melakukan kesalahan yang sama seperti Satria. Papa tidak mau Juna ikut menyakitimu karena sifatnya yang belum matang. Kamu terlalu berharga untuk dijadikan bahan percobaan kedewasaan seorang bocah."
Mama, yang sedari tadi terdiam sambil memegang tangan Cantik, akhirnya angkat bicara.
"Tapi Pa, Mama justru setuju. Mama dukung Juna seribu persen! Bagaimanapun caranya, Cantik harus jadi menantu Mama. Kita sudah klop, sudah satu frekuensi. Kalau bukan sama Juna, memangnya Papa mau Cantik hilang dari keluarga kita?"
"Ini bukan soal klop atau tidak, Ma! Ini soal masa depan!" seru Papa.
Sintia menyeringai sinis, ia mencondongkan tubuhnya ke arah meja.
"Duh, Ma, Pa... harusnya kita realistis. Kasihan Mbak Cantik kalau harus 'turun kasta' dari manajer tunangan Mas Satria jadi pacar montir bengkel. Apa kata kolega Mas Satria nanti?"
Satria ikut tertawa, tawa yang terdengar sangat meremehkan dan penuh kebencian.
"Bener kata Sintia. Juna, lu sadar diri nggak sih? Lu bilang mau serius? Mau nikahin Cantik? Pake apa? Lu mau nyuruh Cantik tinggal di bengkel kumuh lu itu? Tidur di atas tumpukan ban bekas sambil nyium bau bensin tiap hari? Hahaha! Jangan konyol, Jun. Lu itu masih bau kencur!"
Juna yang sedari tadi diam, perlahan mengangkat kepalanya. Ia tidak membalas dengan teriakan. Ia justru tersenyum—sebuah senyum meremehkan yang sangat tenang, yang membuat tawa Satria mendadak terhenti.
"Udah ketawanya, Bang?" tanya Juna datar.
Juna berdiri, merangkul bahu Cantik dengan sangat protektif di depan semua orang.
"Pa, Juna tahu Papa ragu karena Juna masih muda. Tapi dewasa itu soal sikap, bukan angka di KTP. Juna mungkin belum punya jas perlente atau posisi manajer hasil koneksi Papa kayak Bang Satria."
Juna melirik Satria dengan tatapan menghina.
"Lu boleh hina bengkel gue sekarang, Bang. Lu boleh sebut tempat itu kumuh. Tapi lu perlu tahu satu hal: bengkel itu berdiri dari keringat gue sendiri. Gue nggak pernah minta sepeser pun modal dari Papa atau Mama buat bangun bisnis itu. Gue berdiri di atas kaki gue sendiri, Bang. Nggak kayak lu... yang apa-apanya masih ngandelin fasilitas bokap, bahkan mobil yang lu pake selingkuh aja cicilannya masih Papa yang bayar, kan?"
Wajah Satria mendadak pucat pasi.
Ruang makan itu menjadi sunyi senyap. Papa dan Mama terdiam mendengar pengakuan berani Juna.
"Lu bakal liat nanti, Bang. Bengkel yang lu hina itu bakal jadi raja modifikasi di kota ini tanpa sokongan orang tua. Dan soal Cantik? Gue nggak akan bawa dia ke bengkel buat hidup susah. Gue bakal bawa dia ke rumah yang gue beli dari hasil kerja keras gue sendiri, bukan dari hasil 'menjual' nama besar Papa."
Juna menoleh ke arah Papa. "Pa, kasih Juna waktu. Jangan hukum Juna atas kesalahan Bang Satria. Juna bukan dia. Juna nggak akan pernah nyakitin Cantik, karena Cantik adalah alasan Juna buat jadi pria yang lebih hebat tiap harinya."
Cantik menatap Juna dengan binar mata yang penuh kekaguman. Tembok keraguannya benar-benar runtuh melihat Juna yang begitu berani pasang badan di depan seluruh otoritas keluarganya.
"Ayo, Kak. Udah cukup 'sidang' malam ini. Gue nggak mau lu makin pusing denger celotehan limbah pabrik," ajak Juna sambil menarik tangan Cantik lembut.
Mereka berdua berjalan keluar dari ruang makan, meninggalkan Satria yang membeku menahan malu dan Papa yang mulai melihat sorot mata yang berbeda dari anak bungsunya—sorot mata seorang pria sejati.