Lamaran Raditya di tolak oleh yuni calon ibu mertua nya karena tidak menyanggupi hantaran yang di minta. Yuni bahkan menghina Raditya dan mempengaruhi anak nya agar mencari laki laki yang kaya, karena anak nya Melinda adalah seorang sekretaris di perusahaan ibu nya. terpengaruh oleh ibu nya, Melinda sebagai kekasih Raditya akhir nya ikut merendah kan
karena emosional tiba tiba Raditya melamar seorang gadis yang bernama Dahlia, pembantu di rumah Melinda dengan cincin Berlian.
Namun siapa sangka, Raditya yang di kenal sebagai pegawai admistrasi di tempat Melinda bekerja, sebenar nya adalah anak sulung pewaris perusahaan itu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon My finger, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 8
"Hahaha, gak mungkin! kamu itu kebanyakan nonton drama korea! Mama mu ini bisa mencium mana aroma orang kaya dan mana orang miskin" ucap Yuni sambil mata nya tetap pada layar tv
Perlahan Melinda mengusap air mata nya, ia Mulai sadar. Seperti nya apa yang di katakan ibu nya itu benar, gak mungkin cincin yang di pakai Dahlia itu asli dan mobil yang dipakai Radit juga pasti mobil sewaan, Dia ingat motor jadul yang di pakai kedua orang tua nya Radit. Melinda tiba tiba tercenung seperti berfikir
"Tapi kok ada yang aneh ya ma?" tanya Melinda menggumam
"Emm," tanggap Yuni cuek
"Yang tadi itu benaran orang tua mas Radit bukan ya? Soal nya kayak jauh banget perbedaan mereka"
"Orang tua dan anak itu gak mesti harus mirip, Mel! Bukti nya mama sama kamu, mama yang lebih tua jauh lebih cantik dari kamu dan otak nya lebih encer. Hampir aja Kam kamu ketipu sama cowok kere." ucap Yuni sambil menggetok kepala anak nya pelan menggunakan remote TV
"Tapi bapak nya mas Radit tadi handphone nya keren banget. itu harga nya puluhan juta ma. Mama sih gak tau dunia gadget, jadi gak bisa komentar"
"Kamu cek dulu ginjal nya, siapa tahu udah di jual. Bisa aja casing nya buah apel, di dalam nya buah mengkudu. udah ah kamu jangan bawel mama mau nonton.!"
"Tapi Ma,,"
"Jangan banyak tapi, beresin tuh cangkir cangkir. sekarang udah gak ada Dahlia di dapur, jadu kamu yang harus belajar jadi perempuan pada umum nya. Anak gadis kok kayak nenek nenek, gak bisa apa apa, cuma bisa nya melototin HP,!" omel Yuni seperti kereta api.
Melinda menyentak, ia sangat tidak suka dengan pekerjaan rumah tangga.
"Aku gak mau,! Pembantu itu harus kembali kesini, bagaimana pun cara nya, pokok nya dia harus kembali kerja di sini!"
"Hei, dia itu kan sudah kita pecat, malu maluin aja, nanti mama cari pembantu yang baru" kata Yuni
Melinda tak memperdulikan ucapan ibu nya, ia mencoba menekan tombol angka Namun tak ada respon
"Apa dia gak bawa hp jadul nya itu ya?"
"Eehh,, kamu lagi telpon siapa" Yuni mengangkat alis nya kaget
"Gadis kampung itu harus kembali lagi kerja di sini. enak aja dia dekat dekat sama Radit, walaupun dia gak selevel sama aku, tapi bukan berarti dia selevel dengan cowok yang jadi mantan ku, itu sama saja menginjak harga diri ku"
Yuni menatap anak gadis nya itu dengan ekpresi marah
"Mama jangan larang aku, dia harus sadar posisi nya di mana. Aku harus kerumah nya dan meminta nya kembali merapikan cangkir ini"
Tak menunggu respon dari yuni, Melinda meraih kunci mobil nya. Yuni gelagapan melihat tingkah anak kesayangan nya itu. Meski sembari mencucu karena menahan rasa kesal, Yuni bergegas mengikuti Melinda yang sedang menghidup kan mesin mobil.
Baru melewati seratus meter lebih, Melinda dan ibu nya harus berjalan kaki untuk melewati gang Kecil yang sempit dan becek karena mereka tidak melewati jalan utama yang lebih jauh lagi
"Mending langsung jalan kaki aja tadi Mel!" omel Yuni kesal
"Nama nya juga lagi emosi ma, jadi gak bisa mikir aku!" ucap Melinda
"Memang otak mu itu gak seencer mama"
Melinda semakin manyun karena ibu nya itu selalu memojok kan nya.
"Maaf nyonya, Dahlia belum pulang, bukan nya dia kerja di rumah nyonya?" ucap Marni, ibu nya Dahlia, wajah nya terlihat cemas
"Anak mu itu sudah kami pecat! Dia berani Ninggalin kerjaan nya hanya kerena seseorang cowok merayu nya, dan cowok itu adalah pacar ku!" pekik Melinda
"Mantan" kata Yuni, seolah mengoreksi ucapan Melinda
Melinda mencebik, gadis itu melotot sambil melipat tangan nya di dada
"Tapi karena kami kasihan sama kamu dan anak mu yang cacat itu. jadi suruh dia kerja kembali dan bilang jangan kegatelan! Kesempatan hanya sekali, awas aja kalau dia tak kembali bekerja, akan aku sebar luas kan berita kalau anak gadis mu itu perempuan kegatelan!" Yuni mencoba menekan ibu Dahlia
Wanita yang sedang menggendong bayi itu hanya mengangguk sambil menahan tangis nya. Seolah mulut nya terkunci bahkan bertanya kronologis nya pun ia tidak berani. Hati nya mengatakan kalau anak gadis nya tak mungkin melakukan hal yang melanggar norma. Tapi melihat amarah kedua majikan Dahlia di depan nya membuat nya menjadi sanksi
"Ba,, baik nyaaa,"
"Ayo mel, kita pulang! pegang perut mu, jangan sampai saat kamu hamil, anak mu cacat kayak gitu!" Yuni menoleh kecut pada bayi perempuan yang sedang berada di gendongan Marni.
Nampak bayi itu memiliki ukuran kepala yang sangat besar di banding kan ukuran kepala bayi normal pada umum nya. Bayi yang bernama Nadia itu adalah sepupu Dahlia, anak dari adik ibu nya yang sudah meninggal. Marni sebagai bude nya tak tega membiarkan bayi malang itu di urus ayah nya yang suka main perempuan.
"Dahlia, apa yang sudah kamu lakukan nak?" lirih Marni sambil mengusap ujung kelopak mata nya sambil melihat kedua wanita beda usia yang sedang melangkah menjauh
******
"Assalamualaikum " salam Dahlia sambil melepas sandal nya
Tanpa menjawab salam, Marni keluar menyambut anak nya. mulut nya sudah siap membuka dan akan mencecar anak nya, namun seketika langsung tertutup ketika ia melihat sebuah mobil mewah dan gagah masih terparkir lalu perlahan bergerak menjauh. Marni segera berbalik masuk, meletak kan bayi di gendongan nya ke lantai yang beralas kan kasur bayi