Sudah 5 tahun sejak pernikahanku dengan Raymond. Di depan keluarga dan teman, kami adalah pasangan yang harmonis. Tapi ketika di dalam rumah kecilku, aku merasa hampa. Ini terasa seperti aku bermain sandiwara selama 5 tahun lebih. Aku pun tidak tahu apa yang salah dengan diriku sendiri kenapa aku masih memaksa diriku untuk bersamanya. Tapi satu hal yang pasti, suamiku mencintai statusnya sebagai suami bukan mencintaiku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 19
Di tengah gelapnya malam, mereka semua berada dalam satu bangunan untuk merayakan keberhasilan dalam pekerjaan. Lampu yang dipasang hanya mampu memancarkan cahaya remang yang justru membuat suasana semakin hangat.
Di antara riuhnya gelak tawa yang mengudara, Llyn terdiam sibuk memperhatikan sekelilingnya. Di antara kerumunan orang itu, ada rekan kerja yang sudah dikenalnya dan ada juga rekan kerja yang ia sendiri tidak kenal sama sekali. Lalu di pusat lingkaran itu ada Ray, mantan suaminya tercinta.
Memaksakan keberadaan seseorang agar tetap berada di sisinya adalah sebuah keegoisan yang menyakiti orang tersebut. Karena itu, Llyn memilih mundur dan pergi saat ia tau kalau dirinya bukanlah sosok yang diinginkan oleh pria itu. Ia melepaskan sepenuhnya pria yang sampai saat ini masih menempati hatinya itu.
Tapi meskipun begitu, ia tidak begitu murah hati membiarkannya lepas begitu saja setelah mempermainkan perasaannya selama lima tahun ini.
Setelah beberapa kali bersulang, Llyn berdiri dari duduknya lalu menarik nafas cukup dalam. "Semuanya!" ucapnya cukup lantang membuat suara riuh di dalam ruangan itu menjadi hening.
"Saya secara pribadi ingin berterimakasih kepada kalian semua, berkat usaha dan kerja keras kalian kini kita bisa sampai di titik ini," ucapnya lalu bersulang lagi.
Ray tidak pernah melepaskan pandangannya dari Llyn. Pria itu meskipun duduk saja tapi matanya seperti menempel di tubuh istrinya itu. Sampai ketika ia selesai berbicara lalu mengambil tas dan keluar tanpa sepatah katapun.
Ray langsung berdiri dan mengejar sang istri. "LLYN!" panggilnya, membuat si pemilik nama langsung menoleh.
"Ray?"
"mau pulang sekarang? ayo aku antar."
"kenapa? kenapa baru sekarang kamu begini?" racaunya. Sepertinya alkohol yang ia tenggak mulai mengambil alih sebagian fungsi tubuhnya.
"Ray!" Ray melihat Llyn yang terlihat mabuk itu dan tetap mendengarkannya.
"kalau saja kamu sebaik ini satu minggu lalu, aku mungkin masih bisa memaafkanmu. Tapi, kenapa saat aku pergi kamu baru mengejarku? bukankah itu sudah terlambat?"
"Llyn, kamu mabuk. Ayo pulang."
"pulang kemana? rumah kita sudah hancur."
"ayo kita pulang dulu yaa."
"Tidak! jauh jauh, aku mau pergi!"
Llyn mendorong Ray lalu berjalan sempoyongan keluar dari restoran. Di luar ternyata sudah ada Kalea yang menunggu. Ray terkejut melihat kehadiran wanita itu karena ia tau kalau hubungan keduanya sudah berakhir sejak ia menikahi Llyn.
"kenapa terkejut melihatku?"
"bukannya kalian.. "
"kita apa? kita bersahabat sudah sangat lama, seharusnya kamu tau itu kan. Aku bawa Llyn dulu, kamu pulanglah."
"tidak, Llyn istriku. Aku yang akan membawanya pulang."
"tidak perlu, dia tidak akan sudi pergi bersamamu. Biar aku yang mengurusnya."
"Tidak... " belum sempat ia berbicara, Llyn sudah membentangkan tangannya di depan Kalea seolah menghalanginya untuk maju mendekat.
Lalu ia berbalik dan memeluk lengan wanita itu dan melangkah pergi. Ray hanya bisa diam melihat istrinya lebih memilih sahabatnya daripada suaminya.
Setelah memastikan dua wanita itu naik mobil dan pergi dengan aman, barulah ia berjalan menuju tempat parkir. Tapi tepat saat ia akan melangkah, sebuah notifikasi muncul di ponselnya.
'pulang dan ambil dokumen yang dikirimkan oleh Llyn, seharusnya hari ini dokumen itu sampai.' – pesan dari Kalea.
Kalea merasa ini bantuan terbesar yang bisa ia lakukan untuk Ray. Meskipun kenyataannya pria itu begitu licik mempermainkan sahabatnya. Setidaknya ia berbaik hati agar Ray tidak akan terlalu terkejut saat menghadapi esok hari.
Ray bergegas pulang setelah membaca pesan itu. Ia penasaran sekaligus bahagia saat tau Llyn ternyata sudah menyiapkan sebuah kado untuknya. Dengan senyum yang tanpa sadar merekah, Ray memacu mobilnya menuju rumahnya.