“Benciku adalah candu, dan obsesinya adalah penjara paling mematikan.”
Ceisya, seorang santriwati tengil sekaligus hacker cerdas, tiba-tiba terbangun dalam tubuh Ceisyra Valenor—tokoh antagonis yang seharusnya mati tragis.
Namun takdir berubah…
Kaelthas Virelion, penguasa dunia bawah yang dingin dan kejam, justru terobsesi padanya—bahkan menikahinya secara rahasia.
Di tengah fitnah licik sang adik, Clarisse, serta ancaman Axton—rival berbahaya yang mulai kehilangan kendali karena dirinya—Ceisya terjebak dalam permainan yang mematikan.
Haruskah ia melarikan diri dari sangkar emas itu…
atau bertahan dalam perlindungan berbahaya dari pria posesif yang siap menghancurkan dunia demi dirinya?
“Kamu adalah napasku, Ceisyra. Dan aku tidak akan membiarkan siapa pun merebutmu dariku.”
Takdir, obsesi, dan kekuasaan bertabrakan.
Mampukah Ceisya mengendalikan nasibnya sendiri… atau justru tenggelam dalam obsesi yang semakin dalam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon namice, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cambuk di Balik Marmer Velenor
Pukul 08:00 pagi.
Mansion keluarga Valenor adalah definisi dari kemewahan yang dingin. Cahaya matahari pagi yang cerah menyusup masuk melalui jendela-jendela setinggi langit-langit, memantul di atas lantai marmer yang mengilap sempurna. Namun, cahaya itu seolah membeku sebelum sempat menyentuh siapa pun di dalam aula utama. Suasana di sana begitu menekan, seperti udara yang tersedot habis oleh kebencian yang menggantung di langit-langit.
Di tengah aula yang luas itu, seorang gadis berdiri dengan kedua tangan terikat di belakang tubuhnya. Rambut hitamnya yang panjang tergerai sedikit berantakan, menutupi bahunya yang ringkih. Wajahnya pucat pasi, matanya dihiasi lingkaran hitam karena semalaman ia tidak diberikan kesempatan untuk memejamkan mata di dalam sel bawah tanah yang lembap.
Namun, berbeda dengan penampilannya yang mengenaskan, sorot mata gadis itu tetap tajam. Ceisya—jiwa santriwati yang kini terperangkap dalam raga Ceisyra Valenor—menatap lurus ke depan tanpa berkedip. Ia memperhatikan dua sosok yang duduk di kursi kebesaran mereka: Bastian Valenor dan Clara, kedua orang tua Ceisyara. Di samping mereka, duduk seorang gadis dengan gaun sutra berwarna peach yang terlihat begitu rapuh, seolah embusan angin sedikit saja bisa menghancurkannya.
“Ka… Kakak, kenapa Kakak tega melakukan itu padaku?” suara Clarisse Aveline memecah keheningan. Lirih, bergetar, dan penuh dengan nada penyesalan yang dibuat-buat. Matanya berkaca-kaca, menciptakan bayangan sempurna seorang korban yang teraniaya.
Ceisya yang asli mungkin akan menangis atau bersujud memohon ampun. Tapi Ceisya yang ini? Ia justru mengangkat satu alisnya dengan ekspresi yang sulit diartikan.
“Aku melakukan apa?” tanyanya santai. Suaranya serak, tapi ada nada meremehkan yang sangat jelas di sana.
“Ceisyra!” bentak ayahnya, Bastian. Suara baritonnya menggema, memantul di dinding aula yang kaku. “Berhenti bersikap tidak tahu diri! Kamu sudah hampir membunuh adikmu sendiri!”
Ceisya memiringkan kepalanya sedikit, sebuah senyum tipis—hampir menyerupai seringai—muncul di bibirnya yang pucat. “Tidak tahu diri? Menarik. Aku bahkan belum tahu kesalahan apa yang benar-benar kulakukan sehingga harus diikat seperti binatang kurban di pagi yang cerah ini.”
Clara langsung berdiri dari kursinya. Wajahnya merah padam karena amarah. “Kamu mendorong Clarisse dari tangga! Jika saja dia tidak sempat memegang pagar pembatas, mungkin sekarang dia sudah patah tulang atau lebih buruk lagi! Dan kamu masih berani bertanya apa kesalahanmu?!”
Ceisya mengangguk-angguk pelan, seolah sedang mendengarkan penjelasan ustadzah di pesantren tentang hukum mencuri sandal. Ia kemudian mengalihkan pandangannya pada Clarisse. Tatapannya semakin tajam, seolah sedang membedah setiap inci kebohongan di wajah gadis itu.
“Aku mendorongmu? Di bagian mana?” tanyanya ringan.
Clarisse menunduk, air matanya jatuh satu per satu dengan waktu yang sangat tepat. “Aku… aku tidak ingin menyalahkan Kakak… sungguh,” ucapnya pelan. “Tapi… saat itu hanya ada kita berdua di tangga atas. Tidak ada orang lain, Kak.”
“Jawaban yang rapi,” gumam Ceisya dengan tawa kecil yang rendah. “Sangat diplomatis. Tidak menyalahkan secara langsung, tapi tetap memastikan semua telunjuk mengarah padaku. Kamu belajar di mana? Aktingmu benar-benar kelas atas.”
“KAMU MASIH BISA TERTAWA?!” pekik Clara.
“Sepertinya hukuman-hukuman yang kamu terima selama belasan tahun ini belum cukup untuk membuat otakmu sadar!”
Ceisya hanya mengangkat bahu, mengabaikan rasa perih di pergelangan tangannya yang terikat kuat.
“Mungkin. Siapa tahu?”
Bastian berdiri perlahan. Aura dingin yang ia pancarkan jauh lebih menakutkan daripada istrinya. Ia adalah pria yang tidak banyak bicara, tapi setiap katanya adalah titah yang tidak bisa dibantah.
“Hari ini kamu akan menerima hukuman yang pantas untuk seorang pengecut yang mencelakai darah dagingnya sendiri,” ucapnya tegas. “Dua puluh cambukan di halaman belakang. Sekarang.”
Suasana seketika membeku. Beberapa pelayan yang berdiri di sudut ruangan menahan napas. Cambukan di keluarga Valenor bukanlah cambukan biasa—itu adalah cambuk kulit yang ujungnya dilapisi logam kecil, biasa digunakan untuk menghukum pengkhianat.
Clarisse melangkah maju dengan ekspresi khawatir yang berlebihan. “Ayah… tidak perlu sejauh itu… Kakak mungkin hanya sedang khilaf…” ucapnya, namun tatapan matanya yang sekilas beradu dengan Ceisya menunjukkan kilatan kemenangan.
Ceisya menangkap kilatan itu. Ia justru tersenyum lebih lebar. “Cambukan? Wah… klasik sekali. Aku kira akan ada yang lebih kreatif, seperti dilempar ke kandang singa atau semacamnya.”
“Bawa dia!” perintah Bastian tanpa ampun.
Dua pengawal bertubuh besar segera menyeret Ceisya keluar. Namun, yang membuat para pengawal dan pelayan heran, Ceisya tidak meronta. Ia berjalan dengan punggung tegak, langkahnya mantap, seolah ia bukan sedang menuju tempat penyiksaan, melainkan sedang menuju panggung kehormatan.
Di halaman belakang, angin pagi berembus membawa hawa dingin. Sebuah tiang kayu hitam berdiri kokoh di tengah area terbuka. Tanpa banyak bicara, para pengawal mengikat tangan Ceisya ke atas tiang, membuat tubuhnya terangkat sedikit sehingga ujung kakinya hanya menyentuh tanah tipis-tipis.
Seorang pengawal berdiri di belakangnya, memegang cambuk panjang yang terlihat sangat berat.
“Ada kata terakhir?” tanya Bastian yang berdiri di balkon atas bersama Clara dan Clarisse.
Ceisya terdiam sejenak, ia mengatur napasnya. Sebagai seorang pesilat, ia tahu cara mengatur sirkulasi darah dan titik fokus untuk meminimalisir rasa sakit. Ia memejamkan mata, memanggil kembali ingatan tentang latihan fisik berat di bawah terik matahari pesantren.
“Ada,” jawab Ceisya santai sambil membuka matanya yang berkilat menantang. “Jangan nyesel.”
PLAK!
Cambukan pertama mendarat telak di punggungnya. Suara ledakannya memecah keheningan pagi, diikuti oleh robekan kain gaun tipis yang ia kenakan. Beberapa pelayan memalingkan wajah, tidak tega melihat pemandangan itu.
Ceisya memejamkan mata sesaat. Rasa panas menjalar di punggungnya seperti disiram air raksa mendidih. Namun, tidak ada jeritan. Hanya napasnya yang sedikit memburu.
“Lumayan,” gumamnya pelan, hampir tidak terdengar. "Cuma segini? Masih lebih sakit kena rotan Abah Kyai kalau aku bolos pengajian," batinnya tengil.
PLAK!
Cambukan kedua menyusul, lebih keras dan lebih dalam. Darah mulai merembes, membasahi kain putih gaunnya hingga berubah menjadi merah pekat. Ceisya menggigit bibir bawahnya kuat-kuat hingga berdarah, menolak untuk memberikan kepuasan berupa rintihan kepada penonton di balkon.
Clarisse yang melihat itu dari atas mulai merasa gelisah. Ini bukan reaksi yang ia harapkan. Seharusnya Ceisya meratap, memohon ampun, dan bersujud di kakinya. Tapi gadis di bawah sana justru terlihat seperti seorang pendekar yang sedang bermeditasi.
“Kakak… hentikan ini… mohonlah ampun pada Ayah!” teriak Clarisse dengan suara gemetar yang palsu.
Ceisya menoleh sedikit, rambutnya yang basah oleh keringat menempel di wajahnya yang pucat. Matanya menyipit tajam ke arah Clarisse. “Kenapa? Bukannya ini yang kamu mau, Malaikat Kecil?”
“Aku tidak—”
“Sudah,” potong Ceisya dingin. “Kalau mau berakting, jangan setengah-setengah. Itu menjijikkan.”
Bastian yang merasa otoritasnya ditantang langsung naik pitam. “TAMBAHKAN HUKUMANNYA! SAMPAI DIA TIDAK BISA LAGI MENGANGKAT KEPALANYA!”
Cambukan demi cambukan kembali menghujam. Sepuluh, lima belas, delapan belas. Punggung Ceisya kini sudah hancur, dagingnya robek di beberapa tempat. Namun, mental santriwati itu tidak goyah.
Setiap kali cambuk mendarat, ia justru membayangkan sedang menangkis serangan lawan dalam tanding silat. Ia mengunci rasa sakit itu di satu titik dan tidak membiarkannya menguasai pikirannya.
Setelah cambukan kedua puluh, pengawal tubuh kekar itu berhenti dengan napas tersengal. Semua orang terdiam, terpaku melihat tubuh Ceisya yang masih tergantung di tiang. Duke menatapnya dengan tatapan merendahkan. “Lihat dirimu sekarang. Masih berani melawan?”
Ceisya perlahan mengangkat wajahnya. Darah menetes dari bibirnya yang ia gigit tadi. Namun, senyum miring itu masih di sana. Tetap hidup. Tetap menantang.
“Baru segini?” bisiknya pelan, suaranya parau namun penuh kekuatan. “Aku kira keluarga Valenor lebih… kreatif dalam menyiksa orang. Ternyata cuma segini level kalian?”
Bastian menatap putri sulungnya itu dengan ekspresi tidak percaya. Seolah-olah gadis di depannya ini bukanlah anaknya yang selama ini selalu gemetar ketakutan. “Apa yang sebenarnya terjadi padamu, Ceisyra…?”
Ceisya tertawa kecil, suara tawa yang terdengar rendah dan mengerikan di tengah kesunyian halaman belakang. “Tidak ada. Aku hanya… bosan jadi orang bodoh yang kalian injak-injak.”
Suasana mendadak menjadi sangat tegang. Clarisse untuk pertama kalinya merasakan bulu kuduknya berdiri. Ada sesuatu yang sangat berbeda dari "kakaknya" ini. Ada sebuah kekuatan yang tidak bisa ia pahami.
Beberapa jam kemudian, setelah luka-lukanya dibasuh secara kasar oleh pelayan yang tidak peduli, tubuh Ceisya dilempar begitu saja ke dalam kamarnya yang mewah. Pintu tertutup dan terkunci keras dari luar.
Ia terjatuh di atas lantai marmer, napasnya berat dan tersengat rasa perih yang luar biasa setiap kali kulit punggungnya bergesekan dengan kain. Namun, dengan sisa-sisa tenaga, ia memaksakan diri untuk duduk dan bersandar pada kaki ranjang.
“Sakit juga, ya… gila,” gumamnya sambil meringis. Ia mencoba mengatur napasnya dengan teknik pernapasan perut agar rasa nyeri itu sedikit teralihkan.
Perlahan, Ceisya bangkit dan berjalan goyah menuju cermin besar di sudut ruangan. Ia menatap refleksinya. Wajah cantik Ceisyra Valenor kini terlihat lebih liar. Matanya yang tajam memberikan aura yang berbeda dari wajah cantik yang biasanya terlihat lesu.
Ia menatap dirinya lama, memperhatikan setiap detail fitur wajahnya.
“Ini…”
Alisnya berkerut. Jantungnya berdetak lebih cepat.
“Kenapa mirip banget sama aku di dunia nyata?”
Tangannya yang gemetar menyentuh pipinya perlahan. Ini bukan sekadar mirip. Ini seperti melihat dirinya sendiri versi lebih cantik Hanya saja, Ceisyra ini jauh lebih pucat. Tapi garis wajah, bentuk mata, bahkan tahi lalat kecil di dekat telinganya… semuanya sama.
Tok… tok…
Suara ketukan pintu yang terburu-buru memecah lamunannya. Ceisya segera mengambil jubah sutra dan menyampirkannya di bahu untuk menutupi punggungnya yang hancur. “Masuk.”
Seorang pelayan masuk dengan kepala tertunduk, ia tampak ketakutan bahkan untuk sekadar menatap lantai. “Nona… ada perintah dari Tuan dan Nyonya…”
Ceisya menyipitkan matanya. “Perintah apa lagi? Mau cambuk lagi? Bilang pada mereka, stok punggungku masih banyak.”
Pelayan itu bergidik. “Bukan, Nona. Besok… Nona harus segera bersiap. Nona akan dipertemukan dengan tunangan Nona.”
Ceisya terdiam. Tunangan. Kaelthas Virelion.
Dalam novel, Kaelthas digambarkan sebagai sosok yang sangat dingin dan tidak punya perasaan. Dia adalah penguasa absolut dunia ekonomi dan logistik. Jalur perdagangan di benua ini berada di bawah kendalinya. Dia bisa menghancurkan sebuah kekuasaan hanya dengan memutus suplai logistik mereka dalam satu malam. Dan yang terburuk, dia adalah orang yang sangat membenci Ceisyra.
Senyum tipis perlahan terangkat di bibir Ceisya. “Menarik… Si pengusaha logistik yang sombong itu, ya?”
Namun pelayan itu belum selesai bicara. “Tuan muda Virelion… beliau sudah dalam perjalanan ke sini, Nona. Kabarnya, beliau ingin membicarakan pembatalan pertunangan setelah mendengar kejadian di tangga kemarin.”
Langkah Ceisya terhenti. Matanya menyipit perlahan, memancarkan aura predator yang siap menerkam.
“Sudah datang?” gumamnya.
Udara di ruangan mendadak terasa lebih berat. Ceisya berjalan menuju jendela, menatap ke arah gerbang mansion yang jauh di depan sana. Ia tahu, sebuah badai besar bernama Kaelthas Virelion sedang menuju ke arahnya.
Tapi Ceisya tidak takut. Sebaliknya, ia merasa tertantang.
“Ayo kita lihat, sekuat apa logistik dan ekonomi mu melawan jurus silat santriwati, Tuan Pengusaha,” bisiknya pelan.
kok kejam amat
menarik banget alurnya 😃
seperti biasa kutunggu cerita tamat dulu baru ku baca