NovelToon NovelToon
Dari Perjodohan Yang Salah, Lahir Cinta Yang Benar

Dari Perjodohan Yang Salah, Lahir Cinta Yang Benar

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Perjodohan
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Uzumaki Amako

Sejak ibu kandungku meninggal, aku hidup sebagai orang asing di rumahku sendiri. Saat perjodohan datang, harapanku hancur ketika kakak tiriku merebut segalanya dan aku dipaksa menikah dengan pria lumpuh yang tak kukenal. Namun, dari perjodohan yang tidak adil itu, aku justru menemukan ketulusan dan cinta yang selama ini tak pernah kudapatkan. Ketika kebenaran terungkap dan masa laluku ingin mengklaimku kembali, aku harus memilih—kembali pada yang seharusnya, atau bertahan pada cinta yang telah menjadi rumahku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uzumaki Amako, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 21

Lorong menuju ruang makan terasa lebih panjang dari biasanya.

Langkahku pelan.

Teratur.

Tapi pikiranku… tidak seteratur itu.

Setiap beberapa langkah, bayangan tadi kembali muncul tanpa izin—tangan Adrian, tatapannya, dan cara dia menarikku begitu saja tanpa memberi waktu untuk bereaksi.

Aku menggenggam ujung bajuku pelan.

“Biasa saja…” bisikku lagi, mencoba menenangkan diri.

Akhirnya, aku sampai di ruang makan.

Lampu gantung besar sudah menyala, menerangi meja panjang yang tersusun rapi. Makanan sudah dihidangkan—hangat, wangi, dan terlihat sempurna seperti biasanya.

Dan dia…

Sudah duduk di sana.

Adrian.

Ia berada di ujung meja, dengan posisi tegap seperti biasa. Kursi rodanya sedikit dimiringkan agar sejajar dengan meja, tangannya berada di atas sandaran, dan wajahnya—

Datar.

Seolah tidak terjadi apa-apa.

Aku berhenti beberapa detik di ambang pintu.

Mengamatinya.

Mencoba membaca sesuatu.

Namun seperti biasa… sulit.

Sangat sulit.

Aku menarik napas pelan, lalu melangkah masuk.

“Selamat malam,” kataku pelan.

Adrian mengangkat pandangannya.

Menatapku sebentar.

“Duduk.”

Hanya satu kata.

Seperti biasa.

Aku mengangguk kecil, lalu duduk di kursi di sebelahnya—tidak terlalu dekat, tapi juga tidak terlalu jauh.

Pelayan langsung bergerak menyajikan makanan.

Sunyi.

Hanya suara sendok dan piring.

Aku mencoba fokus pada makanan di depanku, tapi rasanya sulit. Kesadaran bahwa dia ada di sampingku… membuat semuanya terasa berbeda.

Beberapa menit berlalu.

Tidak ada percakapan.

Sampai akhirnya—

“Kamu lama.”

Aku sedikit tersentak.

Menoleh ke arahnya.

“…Maaf?”

“Kamu lama turun,” ulangnya.

Oh.

Aku menunduk sedikit. “Tadi… di kamar.”

Jawaban yang sangat singkat.

Tapi aku tidak tahu harus menjelaskan apa lagi.

Ia tidak langsung menanggapi.

Namun beberapa detik kemudian—

“Kamu menghindar?”

Aku langsung menoleh cepat.

“Apa?”

Tatapannya tertuju padaku.

Tenang.

Tapi tajam.

“Aku tanya,” katanya pelan, “kamu menghindar?”

Jantungku berdetak lebih cepat.

Aku membuka mulut, tapi tidak langsung menjawab.

Karena…

Apa aku menghindar?

Aku menunduk, menatap piringku.

“…Tidak,” jawabku akhirnya.

Ia tidak langsung percaya.

Terlihat dari caranya menatapku.

“Tidak?” ulangnya.

Aku mengangguk kecil.

“Aku hanya… butuh waktu sebentar.”

Sunyi.

Ia tidak berbicara.

Aku juga tidak berani menatapnya.

Beberapa detik yang terasa lama.

Lalu—

“Kenapa?”

Pertanyaan itu membuatku terdiam lagi.

Kenapa?

Apa aku harus jujur?

Aku menggenggam sendokku pelan.

“…Aku kaget,” jawabku akhirnya.

Jujur.

Sederhana.

Dan itu cukup.

Adrian tidak langsung merespon.

Ia hanya menatapku beberapa detik.

Lebih lama dari biasanya.

“…Karena aku?” tanyanya.

Aku mengangguk pelan.

“Iya.”

Tidak ada gunanya berbohong.

Sunyi kembali turun.

Namun kali ini… berbeda.

Lebih berat.

Lebih dalam.

Aku menarik napas pelan, lalu memberanikan diri menatapnya.

“Kenapa… tadi?” tanyaku pelan.

Akhirnya.

Aku menanyakan itu.

Pertanyaan yang sejak tadi berputar di kepalaku.

Adrian tidak langsung menjawab.

Ia menyandarkan tubuhnya sedikit ke belakang, matanya berpindah ke meja, lalu kembali ke arahku.

Seolah sedang memilih kata.

“Dia mengganggu,” katanya singkat.

Aku mengerutkan kening sedikit.

“Vanessa?”

“Iya.”

Jawabannya tegas.

Aku menunggu.

Merasa itu belum selesai.

Dan benar saja—

“Aku tidak suka,” lanjutnya, “dia bertindak seolah masih punya hak.”

Aku terdiam.

Kalimat itu… terdengar lebih dari sekadar kesal.

Lebih dalam.

Lebih personal.

Aku menunduk sedikit.

“…Dia pernah penting,” kataku pelan.

Bukan bertanya.

Lebih seperti… menyimpulkan.

Adrian tidak membantah.

Namun juga tidak mengiyakan secara langsung.

Sunyi lagi.

Lalu ia berkata—

“Itu masa lalu.”

Nada suaranya dingin.

Tegas.

Seolah menutup topik itu.

Aku mengangguk kecil.

Mengerti.

Aku tidak bertanya lagi.

Namun sebelum aku kembali fokus ke makananku, ia berkata—

“Dan sekarang…”

Aku berhenti.

Menoleh ke arahnya.

Tatapannya langsung bertemu denganku.

“Dia tidak punya hak apa pun.”

Jantungku berdetak sedikit lebih cepat.

Aku tidak tahu kenapa.

Kalimat itu… terasa seperti garis batas.

Jelas.

Tidak bisa dilanggar.

Aku menelan pelan.

“Lalu… aku?” tanyaku tanpa sadar.

Begitu kata itu keluar, aku langsung menyesal.

Kenapa aku tanya itu?

Namun Adrian tidak terlihat terganggu.

Ia justru menatapku lebih dalam.

“…Kamu berbeda.”

Jawaban itu membuatku diam.

Berbeda?

Dalam hal apa?

Aku tidak berani bertanya.

Tapi dia melanjutkan—

“Kamu istriku.”

Kalimat itu sederhana.

Tapi cara dia mengatakannya—

Berat.

Nyata.

Aku menggenggam tanganku di bawah meja.

“…Tapi ini hanya pernikahan…” kataku pelan.

Seperti mengingatkan.

Dia.

Atau mungkin diriku sendiri.

Adrian tidak langsung menjawab.

Beberapa detik ia hanya menatapku.

Lalu berkata—

“Aku tahu.”

Sunyi.

“Dan aku tidak mengubah kesepakatan itu,” lanjutnya.

Aku mengangguk kecil.

“Iya.”

Namun—

“Aku juga tidak akan membiarkan orang lain merendahkan kamu.”

Kalimat itu jatuh pelan.

Tapi tepat.

Aku membeku sedikit.

Tidak menyangka.

Aku menatapnya.

Benar-benar menatap.

Dan untuk pertama kalinya—

Aku tidak hanya melihat dingin.

Aku melihat sesuatu yang lain.

Sesuatu yang… sulit dijelaskan.

Aku menunduk perlahan.

“Terima kasih…” bisikku.

Kali ini lebih tulus dari sebelumnya.

Makan malam kembali berjalan dalam diam.

Namun diam yang berbeda.

Tidak lagi canggung.

Tidak lagi asing.

Ada sesuatu yang berubah.

Kecil.

Tapi terasa.

Setelah beberapa menit, Adrian selesai lebih dulu.

Ia mendorong sedikit kursi rodanya menjauh dari meja.

“Kamu lanjutkan,” katanya.

Aku mengangguk.

Namun sebelum ia benar-benar pergi—

“Alina.”

Aku langsung menoleh.

“Iya?”

Ia berhenti.

Tidak menatapku.

Tapi berkata pelan—

“Kalau aku melakukan sesuatu yang membuatmu tidak nyaman…”

Aku menahan napas.

“…bilang.”

Aku terdiam.

Tidak menyangka ia akan mengatakan itu.

“Aku tidak selalu sadar,” lanjutnya.

Aku menatapnya beberapa detik.

Lalu mengangguk pelan.

“Iya.”

Ia tidak menambahkan apa-apa lagi.

Langsung pergi.

Meninggalkanku di ruang makan.

Aku duduk di sana beberapa saat.

Menatap piringku.

Tapi pikiranku… jauh dari situ.

Perlahan, aku menyentuh dadaku.

Detak jantungku… tidak seperti biasanya.

Lebih tenang.

Tapi juga… lebih hidup.

Aku tersenyum kecil.

Sangat kecil.

“Mungkin…” bisikku pelan,

“hidup ini tidak seburuk yang aku kira.”

Dan untuk pertama kalinya—

Aku mulai merasa…

Aku tidak hanya bertahan.

Aku mulai… hidup.

Malam itu tidak langsung berakhir setelah makan.

Aku masih duduk beberapa saat di ruang makan, membiarkan pikiranku perlahan kembali tenang. Kata-kata Adrian tadi terus terngiang—bukan karena banyak, tapi karena… berbeda.

Tidak ada janji.

Tidak ada kehangatan berlebihan.

Tapi ada sesuatu yang jelas—

Aku tidak sendirian sepenuhnya.

Aku akhirnya berdiri, merapikan sedikit posisi kursi, lalu berjalan keluar dari ruang makan. Langkahku pelan, tanpa arah pasti.

Entah kenapa, aku tidak ingin langsung kembali ke kamar.

Rumah ini terlalu sunyi untuk hanya diam di satu tempat.

Aku berjalan menyusuri lorong, melewati jendela-jendela besar yang memperlihatkan taman yang diterangi lampu malam. Angin tipis membuat dedaunan bergerak pelan, menciptakan bayangan yang berayun di lantai marmer.

Aku berhenti di depan salah satu jendela.

Menatap keluar.

“Tenang sekali…” bisikku.

Tidak seperti rumah lamaku yang penuh suara—meski menyakitkan—tempat ini justru sunyi dengan cara yang berbeda.

Sunyi… tapi tidak menekan.

Beberapa detik aku hanya berdiri di sana.

Sampai akhirnya aku memutuskan untuk berjalan ke arah taman.

Pintu kaca geser kubuka perlahan.

Udara malam langsung menyambutku.

Dingin.

Segar.

Aku melangkah keluar tanpa alas kaki, merasakan rumput lembut di bawah kakiku. Lampu taman yang redup membuat suasana terasa lebih damai.

Aku berjalan tanpa tujuan, hanya mengikuti langkahku sendiri.

Sampai akhirnya aku menemukan sebuah bangku kecil di bawah pohon.

Aku duduk di sana.

Menarik napas panjang.

Untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai—

Aku benar-benar berhenti berpikir.

Tidak tentang masa lalu.

Tidak tentang keluarga lamaku.

Tidak tentang Vanessa.

Tidak juga tentang… pernikahan ini.

Hanya diam.

Menikmati malam.

Namun ketenangan itu tidak bertahan lama.

Karena tanpa sadar—

Pikiranku kembali ke satu orang.

Adrian.

Aku menunduk, menatap tanganku sendiri.

“Dia aneh…” gumamku pelan.

Sangat aneh.

Kadang dingin seperti tidak peduli.

Kadang… melakukan hal yang tidak terduga.

Aku menghela napas kecil.

“Aku juga aneh sih…” lanjutku.

Karena aku tidak menjauh.

Tidak marah.

Tidak juga membenci.

Padahal… seharusnya aku menjaga jarak.

Seperti kesepakatan awal.

Aku menyandarkan punggungku ke bangku.

Menatap langit malam.

Bintang tidak terlalu terlihat, tapi langit tetap luas dan tenang.

“Kalau terus begini…” bisikku pelan,

“…aku bisa salah paham.”

Kalimat itu keluar tanpa sadar.

Dan begitu aku menyadarinya—

Aku langsung duduk tegak.

“Tidak,” kataku pelan tapi tegas.

Aku menggeleng.

Tidak boleh.

Aku tidak boleh mengulang kesalahan yang sama.

Aku tidak boleh berharap pada sesuatu yang dari awal sudah jelas tidak ada.

Aku menutup mata sebentar.

Menarik napas dalam.

Lalu—

Suara halus terdengar dari belakang.

“Kamu di sini.”

Aku langsung menoleh.

Adrian.

Ia berada beberapa meter dariku, kursi rodanya berhenti di jalur batu taman. Lampu taman menerangi sebagian wajahnya, menciptakan bayangan yang membuat ekspresinya sulit dibaca.

Aku sedikit terkejut.

“Iya… cuma mau cari udara,” jawabku.

Ia tidak langsung mendekat.

Hanya diam.

Menatapku.

“Aku pikir kamu sudah tidur,” lanjutnya.

Aku menggeleng pelan. “Belum.”

Sunyi beberapa detik.

Lalu aku berdiri perlahan.

“Apa ada yang perlu dibicarakan?” tanyaku hati-hati.

Ia menggerakkan kursi rodanya mendekat sedikit.

Tidak terlalu dekat.

Tapi cukup untuk membuat jarak di antara kami terasa… lebih kecil.

“Besok,” katanya, “jadwal dokter dipindah ke pagi.”

Aku mengangguk. “Baik.”

“Jam tujuh kita berangkat.”

“Iya.”

Aku memperhatikan wajahnya.

Masih sama.

Tenang.

Tapi ada sesuatu yang berbeda.

Seperti… ia tidak hanya datang untuk menyampaikan itu.

Dan benar saja—

Ia tidak langsung pergi.

“Alina.”

Aku menatapnya.

“Iya?”

Ia terdiam beberapa detik.

Seolah sedang mempertimbangkan sesuatu.

“Apa kamu takut?”

Pertanyaan itu datang tiba-tiba.

Aku sedikit terkejut.

“Takut…?”

“Dengan semua ini.”

Nada suaranya tidak berubah.

Tapi pertanyaannya—

Berat.

Aku tidak langsung menjawab.

Aku menunduk sedikit.

Mencari kata yang tepat.

“…Awalnya iya,” kataku pelan.

Ia tidak memotong.

Aku melanjutkan,

“Tapi sekarang… tidak terlalu.”

Ia memperhatikanku.

“Kenapa?”

Aku tersenyum kecil.

Sangat tipis.

“Karena… tidak seburuk yang aku bayangkan.”

Jujur.

Sangat jujur.

Sunyi.

Angin malam berhembus pelan di antara kami.

Beberapa detik berlalu sebelum ia berkata lagi—

“Itu cukup.”

Aku sedikit bingung. “Cukup?”

Ia mengangguk kecil.

Seolah jawaban itu sudah cukup baginya.

Lalu—

“Aku tidak akan membuatnya lebih buruk.”

Kalimat itu sederhana.

Tapi entah kenapa…

Berat.

Seperti janji.

Aku menatapnya beberapa detik.

Lalu mengangguk pelan.

“Iya.”

Kami kembali diam.

Namun kali ini, tidak ada rasa canggung.

Hanya… tenang.

Aneh.

Sangat aneh.

Aku dan dia—

Dua orang yang seharusnya asing—

Bisa berdiri di satu tempat seperti ini tanpa merasa perlu banyak bicara.

Beberapa saat kemudian, Adrian memutar kursi rodanya sedikit.

“Ayo masuk.”

Aku mengangguk.

Kami berjalan kembali ke dalam—aku di sampingnya, menyesuaikan langkah dengan kecepatan kursinya.

Tanpa sadar… jarak di antara kami tidak lagi terasa sejauh sebelumnya.

Sampai di dalam, aku berhenti di depan tangga.

Ia berhenti juga.

“Kamu duluan,” katanya.

Aku menggeleng kecil. “Tidak apa-apa.”

Ia menatapku sebentar.

Lalu—

Untuk pertama kalinya malam itu—

Ada sedikit perubahan di ekspresinya.

Sangat tipis.

Hampir tidak terlihat.

Tapi cukup untuk membuatku sadar—

Ia… tidak sepenuhnya dingin.

Aku berbalik dan mulai menaiki tangga.

Langkahku ringan.

Berbeda dari sebelumnya.

Dan tanpa kusadari—

Malam itu meninggalkan sesuatu di dalam hatiku.

Bukan luka.

Bukan beban.

Tapi sesuatu yang kecil…

Yang perlahan tumbuh.

Dan mungkin—

Itu yang paling berbahaya.

1
Siti Jubaedah
trima kasih karyanya semoga lebih semangat membacanya...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!