Empat tahun menjalani pernikahan tanpa cinta, Hana hanya menuai luka. Dicap mandul oleh keluarga suaminya, dihina tanpa henti, hingga akhirnya diusir dan diceraikan oleh Farhan—pria yang seharusnya melindunginya.
Dalam keterpurukan, sebuah kesalahan membawa Hana pada malam tak terduga bersama Arsaka, pria asing yang ternyata mengubah takdir hidupnya. Dari malam itu, lahirlah harapan baru—seorang anak yang menjadi alasan Hana bangkit dan memulai hidup dari nol.
Saat kebenaran terungkap bahwa Hana sebenarnya tidak mandul, justru Farhan yang bermasalah, segalanya sudah terlambat. Farhan telah memilih jalan lain dan harus membayar mahal atas keputusannya.
Ketika masa lalu datang mengetuk kembali, mampukah Hana mempertahankan kebahagiaan yang akhirnya ia genggam? Dan apakah penyesalan Farhan masih memiliki arti?
Sebuah kisah tentang pengkhianatan, penebusan, dan cinta yang datang di waktu yang tak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Tiga Puluh Satu
Tak terasa pagi telah datang menjelang. Sinar matahari menembus tirai tipis kamar, jatuh lembut di wajah Hana. Ia mengerjap pelan, lalu membuka mata. Beberapa detik ia hanya diam, menatap langit-langit kamar yang asing. Butuh waktu sejenak sampai kesadarannya benar-benar kembali.
Ia tidak lagi berada di rumah kecilnya di desa. Sekarang ia ada di sini.
Hana menarik napas panjang, lalu perlahan duduk. Masih ada rasa cemas di sana, tapi entah kenapa, pagi ini terasa sedikit lebih ringan. Jam di samping tempat tidur menunjukkan pukul enam pagi.
Hana bangkit. Ia tidak terbiasa bermalas-malasan. Setelah merapikan tempat tidur, ia langsung menuju kamar mandi. Air hangat menyentuh kulitnya, membuat tubuhnya sedikit rileks. Pikirannya masih penuh, tapi setidaknya tidak sekacau kemarin.
Selesai mandi, Hana mengenakan pakaian yang rapi—sederhana, tapi bersih dan nyaman. Ia mengikat rambutnya seadanya, lalu keluar dari kamar.
Lorong rumah itu masih sepi. Beberapa pelayan terlihat mulai beraktivitas, tapi suasananya tetap tenang dan teratur.
Hana berjalan pelan, mencoba mengingat arah. Kemarin ia sempat melihat dapur berada di sisi belakang rumah. Tanpa ragu, ia melangkah ke sana.
Begitu sampai, ia melihat seorang wanita paruh baya sedang menyiapkan sesuatu di meja dapur.
“Pagi, Bi,” sapa Hana pelan.
Wanita itu langsung menoleh, sedikit terkejut. “Eh, Bu Hana … pagi,” jawabnya sopan.
Hana tersenyum tipis. “Boleh saya bantu?”
Wanita itu langsung menggeleng cepat. “Waduh, jangan, Bu. Nanti Bapak marah.”
Hana mengernyit. “Marah? Kenapa?”
“Iya, biasanya Bapak nggak suka kalau tamu … eh .…” Wanita itu terlihat ragu memilih kata, “Kalau orang yang tinggal di sini ikut kerja dapur.”
Hana menghela napas pelan. “Saya bukan tamu, Bi,” ucapnya lembut tapi tegas. “Dan saya cuma mau bantu. Nggak apa-apa.”
Wanita itu masih terlihat tidak yakin. “Tapi—”
“Kalau nanti Bapak marah,” potong Hana pelan, “Bilang saja saya yang mau. Bukan salah Bibi.”
Perdebatan kecil itu membuat suasana jadi sedikit canggung. Wanita itu tampak semakin gelisah.
“Bu, saya takut …,” ucapnya jujur.
Hana tersenyum kecil. “Nggak akan apa-apa, Bi.”
“Memangnya apa yang tidak akan apa-apa?”
Suara itu tiba-tiba muncul dari arah pintu. Keduanya langsung menoleh bersamaan. Arsaka berdiri di sana. Seperti biasa—rapi, tenang, dan tatapannya sulit ditebak.
Wanita itu langsung panik. “Maaf, Pak! Saya sudah melarang Bu Hana, tapi—”
“Saya yang mau,” potong Hana cepat.
Ia menatap Arsaka, sedikit gugup tapi berusaha tetap tenang. “Aku mau buatkan sarapan untuk Bapak … boleh?”
Hening beberapa detik. Arsaka menatap Hana tanpa ekspresi. Lalu berucap singkat, “Boleh.”
Jawabannya singkat. Wanita itu langsung terdiam, jelas kaget.
Arsaka melanjutkan, “Tapi bantu dia.”
“Baik, Pak!” jawab Bibi dengan cepat, hampir seperti refleks. Hana sedikit menghela napas lega.
Ia langsung bergerak, melihat bahan-bahan yang tersedia. “Kalau gitu … saya buat mie goreng seafood saja ya, Bi?”
“Baik, Bu. Terserah Ibu saja,” jawab wanita itu, kini lebih santai meski masih sedikit tegang.
Hana mulai bekerja. Tangannya bergerak lincah, mulai memotong bahan, menyiapkan bumbu, menumis dengan cekatan. Aroma bawang putih dan seafood mulai memenuhi dapur.
Wanita itu sesekali membantu, tapi lebih banyak memperhatikan. Terlihat jelas kalau Hana memang terbiasa melakukan ini.
Tidak butuh waktu lama, mie goreng seafood itu siap. Aromanya menggoda. Hana menata hidangan dengan rapi, lalu membawanya ke meja makan.
Arsaka sudah duduk di sana. Han juga berdiri tidak jauh, seperti biasa.
Hana meletakkan piring di depan Arsaka. “Silakan, Pak. Semoga cocok dengan selera Bapak,” ucapnya pelan.
Arsaka tidak banyak bicara. Ia langsung mengambil sendok dan mencicipi. Beberapa detik berlalu. Hana tanpa sadar menahan napas.
Lalu Arsaka mengunyah perlahan. Tidak ada ekspresi berlebihan, tapi ia mengambil suapan kedua. Hana sedikit mengedip.
Itu … pertanda bagus, kan? Han yang melihat dari samping tampak penasaran.
“Enak,” ucap Arsaka akhirnya, singkat. Hana sedikit tersenyum. Lega.
“Pak Han,” panggilnya tiba-tiba.
“Ya, Bu?” jawab pria itu.
“Kenapa tak ikut duduk dan makan juga.”
Han langsung kaget. “Eh, tidak usah, Bu. Saya sudah—”
“Duduk saja, Pak,” potong Hana.
Han terlihat ragu. Ia melirik Arsaka, meminta persetujuan tanpa berani bicara. Pria itu menatap sebentar, lalu mengangguk tipis. Barulah Han duduk.
Hana segera menambahkan piring untuknya. “Ini cobalah, Pak.”
Han mencicipi. Dan reaksinya jauh lebih jujur.
“Wah … enak banget, Bu,” ucap Han tanpa ditahan-tahan.
Ia makan dengan lahap. Hana tersenyum kecil melihatnya.
Namun, suara Arsaka membuat Han menjadi terkejut. “Jangan jadi kebiasaan.”
Suara Arsaka membuat Han langsung berhenti sejenak mengunyah. “Maaf, Pak,” ucapnya cepat.
“Hanya boleh sesekali,” lanjut Arsaka datar. “Masakan Hana hanya untukku.”
Han langsung mengangguk lemah. “Baik, Pak .…”
Hana sedikit terdiam, tidak tahu harus bereaksi bagaimana. Ada sesuatu di kalimat itu yang membuat dadanya terasa aneh. Tapi ia memilih diam. Sarapan selesai dalam suasana yang lebih ringan dari biasanya.
Setelah itu, Han berdiri. “Bu Hana, silakan bersiap-siap.”
Hana mengernyit. “Ke mana?”
“Kita ke dokter kandungan,” jawab Han.
Hana langsung terdiam. Tangannya refleks menyentuh perutnya. “Iya …,” gumamnya pelan.
Sekitar satu jam kemudian, mereka sudah siap. Hana mengenakan pakaian yang lebih rapi. Han sudah menunggu di mobil.
Perjalanan menuju rumah sakit berlangsung cukup tenang. Kali ini, Hana duduk di kursi belakang sendiri. Arsaka tidak ikut karena ada rapat yang tak bisa ditinggalkan. Entah kenapa, itu membuatnya sedikit lega.
Sampai di rumah sakit, semuanya sudah diatur. Dokter kandungan yang dipilih adalah wanita, sesuai permintaan Arsaka. Hana duduk di ruang pemeriksaan, sedikit tegang.
Dokter itu tersenyum ramah. “Santai saja ya, Bu.”
Pemeriksaan dimulai. Hana menahan napas saat alat itu mulai bekerja. Ini hal yang sudah ia nantikan sejak lama. Dulu bermimpi itu dilakukan bersama suaminya Farhan.
Beberapa detik terasa sangat lama. Lalu dokter berkata, “Semua baik-baik saja, Bu.”
Hana langsung menoleh cepat. “Benar, Dok?”
Dokter mengangguk. “Iya. Kondisinya sehat.”
Hana menghela napas panjang. Matanya sedikit berkaca-kaca.
“Usia kehamilan Ibu sekarang sudah masuk minggu ke-12,” lanjut dokter.
Hana terdiam. Minggu ke-12. Ia menatap layar, meski tidak sepenuhnya mengerti. Tapi satu hal yang ia tahu, ada kehidupan di sana. Dan itu nyata, bukan hanya impiannya saja.
Dokter kemudian memberikan beberapa penjelasan, termasuk resep vitamin yang harus dikonsumsi. Hana mendengarkan dengan serius. Setelah semuanya selesai, ia turun dari ranjang pemeriksaan.
“Terima kasih, Dok,” ucapnya tulus.
“Sama-sama. Jaga kondisi ya, Bu.”
Hana mengangguk. Di luar, Han sudah menunggu.
“Bagaimana, Bu?” tanyanya.
Hana tersenyum kecil. “Baik semuanya, Pak.”
Han terlihat lega. Mereka pun kembali ke mobil. Dalam perjalanan pulang, Hana lebih banyak diam. Tapi kali ini, bukan karena canggung.
Melainkan karena pikirannya penuh..Tentang keputusan yang ia ambil. Tentang pria dingin bernama Arsaka. Dan tentang kehidupan kecil yang kini bergantung padanya.
"Semoga semua berjalan baik hingga anak ini lahir dan tak ada niat jelek dari Pak Arsaka untuk bayiku," gumam Hana dalam hatinya.
dan dia yg bkln meratukan kan membhgiakan kmu Hana....