Guntur, pemuda Sidoarjo dengan rambut gondrong dan jurus silat warisan kakek, harus menerima kenyataan pahit saat cintanya dikandas oleh Amanda. Dengan bekal uang saku hasil menjual mesin pompa air dan sekeranjang perbekalan sederhana, Guntur berangkat ke Jakarta untuk mengubah nasib.
Di hari pertamanya, Guntur hampir ditabrak oleh Vaneshaseorang CEO galak yang ia juluki "Mak Lampir"yang ternyata adalah sepupu mantan kekasihnya! Takdir kemudian membawanya menyelamatkan Bang Soni, bos penguasa dunia malam yang anti-narkoba namun gemar minum keras, dari serangan preman.
Kini, Guntur terjebak di antara tugas menjaga Sekar putri Bang Soni yang tak kalah galak dan intrik keluarga kaya yang dulu meremehkannya. Dengan sifatnya yang sulit ditebak dan jurus silat yang mematikan, Guntur siap menggoncang Jakarta dan membuktikan bahwa jagoan sejati tidak butuh jas mewah untuk berkuasa!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4: Warisan Sang Resi Jalanan
Guntur melangkah gontai keluar dari sebuah warteg di gang sempit daerah Jakarta Pusat, pikirannya masih melayang memikirkan fitnah kejam yang membuatnya terusir dari mansion Bang Soni.
Langkah kakinya terhenti saat ia melihat seorang kakek tua renta dengan pakaian compang-camping sedang dikepung oleh dua pemuda bermotor yang mencoba menarik tas tasbih usang milik sang kakek.
"Woi, copet bau kencur! Kagak malu apa ya lawan kakek-kakek yang jalan aja udah gemeteran begitu?!"
Teriak Guntur sambil meludah ke samping, rasa jengkelnya karena difitnah kemarin malam seolah menemukan pelampiasan yang sangat pas pada dua jambret malang itu.
Tanpa banyak bicara, Guntur melesat maju dan memberikan satu tendangan sapuan yang membuat motor jambret itu tumbang seketika, disusul dengan dua bogem mentah yang membuat mereka lari terbirit-birit meninggalkan hasil jarahannya.
Guntur membantu kakek itu berdiri, namun saat tangannya bersentuhan dengan kulit sang kakek, ia merasakan aliran hawa panas yang sangat kuat mengalir masuk ke dalam urat nadinya.
Kakek tua itu tersenyum misterius, matanya yang semula layu mendadak bersinar sangat terang dan tajam, ia menatap Guntur seolah sedang membaca seluruh sejarah hidup pemuda Sidoarjo itu hanya dalam sekali lirik.
"Anak muda, hatimu penuh luka tapi jiwamu suci. Kamu sudah menyelamatkan tas tasbihku, maka sebagai gantinya, aku akan memberimu bekal agar kamu tidak lagi diinjak-injak oleh orang kota."
Ucap kakek itu dengan suara yang berat namun berwibawa, ia mengajak Guntur masuk ke sebuah rumah tua yang tersembunyi di balik gedung-gedung pencakar langit.
Selama tujuh hari tujuh malam di rumah itu, Guntur digembleng dengan latihan pernapasan tingkat tinggi yang disebut Ilmu Brajamusti Guntur, sebuah teknik bela diri yang membuat serangannya bisa menghancurkan beton sekali pukul.
Tak hanya itu, sang kakek juga mengoleskan sebuah minyak khusus di kening Guntur dan membisikkan mantra Aji Asmara Cipta, ilmu pemikat yang bisa membuat wanita manapun tunduk dan terpikat hanya dengan sekali tatapan mata.
"Guntur Hidayat, mulai hari ini tidak akan ada pria yang berani menantang matamu, dan tidak akan ada wanita yang sanggup menolak pesonamu. Gunakan ilmu ini untuk kebenaran, bukan untuk kesombongan."
Pesan sang kakek sebelum menghilang secara misterius di tengah kabut pagi, meninggalkan Guntur yang kini memiliki aura kepemimpinan yang sangat luar biasa kuat.
Guntur berdiri di depan cermin kos-kosannya yang retak, ia merasa tubuhnya jauh lebih ringan namun bertenaga, dan wajah sengkleknya kini memiliki daya tarik magis yang bahkan bisa membuat pemilik kos yang galak mendadak jadi ramah padanya.
"Sudah saatnya Guntur Hidayat kembali ke permukaan. Amanda, Rian, dan para pengkhianat Naga... bersiaplah, karena badai yang sebenarnya akan segera datang menghantam kalian!"
Gumam Guntur dengan suara rendah yang menggetarkan kaca jendela, ia segera merapikan jaketnya dan melangkah keluar kos dengan kepercayaan diri yang jauh lebih tinggi dari sebelumnya.
Guntur melangkah keluar dari gang sempit dengan langkah yang terasa lebih ringan namun setiap pijakannya seolah menggetarkan aspal jalanan Jakarta yang panas.
Aura di sekitar Guntur berubah drastis, hingga beberapa wanita yang kebetulan lewat di trotoar tanpa sadar berhenti melangkah dan menoleh ke arahnya dengan pandangan terpesona.
"Waduh, ini minyak dari kakek tadi beneran ampuh ya? Kok Mbak-mbak itu lihat saya kayak lihat bakso gratis di tanggal tua," gumam Guntur sambil nyengir tipis yang membuat karismanya semakin terpancar kuat.
Tiba-tiba, di depan sebuah bank swasta, Guntur melihat kerumunan orang yang sedang ketakutan karena ada empat orang perampok bersenjata api yang baru saja keluar membawa tas berisi uang tunai.
Salah satu perampok yang paling besar melihat Guntur menghalangi jalan mereka dan langsung menodongkan pistol tepat ke arah dahi pemuda Sidoarjo itu dengan wajah beringas.
"Minggir kamu, Gembel! Mau jadi pahlawan kesiangan ya?! Cepat berlutut atau aku bolongi kepalamu sekarang juga!" teriak perampok itu dengan suara yang menggelegar penuh ancaman.
Guntur justru tetap tenang, ia menatap mata perampok itu dengan tajam menggunakan Ilmu Brajamusti yang baru dipelajarinya, membuat si perampok mendadak gemetaran tanpa sebab yang jelas.
Hanya dalam satu gerakan secepat kilat, Guntur menghantamkan telapak tangannya ke laras pistol tersebut hingga senjata besi itu bengkok seperti kerupuk yang dicelup air.
"Maaf Bang, pistolnya lagi sakit ya kok lemes begitu? Mending Abang istirahat saja di kantor polisi daripada bikin polusi di jalanan begini," ucap Guntur santai sebelum melayangkan satu pukulan ke ulu hati lawan.
Tiga perampok lainnya mencoba menyerbu secara bersamaan, namun Guntur bergerak lincah dan memberikan tendangan berputar yang menciptakan tekanan angin sangat kuat hingga mereka terpental menabrak mobil patroli yang baru datang.
Polisi dan warga yang ada di sana terpana melihat seorang pemuda berambut gondrong dengan pakaian sederhana bisa melumpuhkan empat perampok bersenjata hanya dalam hitungan detik.
Seorang karyawati bank yang cantik jelita menghampiri Guntur dengan wajah yang memerah merona, ia merasa jantungnya berdebar kencang saat menatap mata Guntur yang memiliki Aji Asmara Cipta.
"Terima kasih banyak, Mas... Mas siapa ya namanya? Mas hebat sekali, kalau Mas tidak keberatan, bolehkah saya meminta nomor telepon Mas untuk ucapan terima kasih lebih lanjut?"
Tanya gadis itu dengan suara yang sangat lembut dan pandangan mata yang tidak bisa lepas dari sosok Guntur yang penuh pesona.
Guntur hanya tersenyum simpul, ia memberikan tatapan pemikat yang membuat gadis itu hampir saja pingsan karena baper tingkat dewa.
"Panggil saja Guntur, Mbak. Nomor telepon mah gampang, tapi sekarang saya harus pergi dulu karena ada 'sampah' di mansion Naga yang harus segera saya bersihkan."
Guntur melangkah pergi meninggalkan kerumunan yang masih berdecak kagum, ia merogoh saku jaketnya dan merasakan kunci naga pemberian Bang Soni yang seolah mulai berdenyut tanda waktu pembalasan sudah dekat
"Ingat Guntur, ilmu ini adalah titipan. Jangan sampai kekuatan ini membuatmu sombong dan lupa daratan," ucap sang Resi dengan nada yang sangat dalam.
"Jika kamu tidak sedang bertarung, atau saat kamu ingin menyembunyikan jati dirimu di depan orang banyak, maka kuncilah dengan membaca Bismillahirrahmanirrahim sebanyak tiga kali. Itu akan menjaga hatimu tetap rendah hati."
Guntur mengangguk patuh, ia merapalkan kalimat lengkap itu di dalam batinnya, dan seketika hawa panas yang tadinya bergejolak di telapak tangannya meredam, berganti dengan ketenangan yang luar biasa.
"Namun, jika kamu sudah terdesak oleh musuh yang kejam, saat kamu butuh kekuatan fisik yang tak terkalahkan dan ingin membuat lawan kicep seketika, maka aktifkanlah dengan membaca Ya Qowiyyu Ya Matiin."
"Kalimat itu akan memanggil kekuatan yang maha kokoh ke dalam urat nadimu. Musuh yang melihatmu akan gemetar ketakutan, dan seranganmu akan seberat gunung. Gunakan hanya untuk jalan kebenaran!"
Tubuh sang Resi kemudian memudar ditelan kabut pagi, meninggalkan Guntur yang kini sudah paham betul bagaimana cara mengendalikan "senjata" di dalam tubuhnya sendiri.
Guntur menarik napas panjang, ia memantapkan langkahnya keluar dari gang sempit itu. Dengan modal uang 15 juta dan ilmu Ya Qowiyyu Ya Matiin, Guntur Hidayat siap meratakan siapa saja pengkhianat di Jakarta!