NovelToon NovelToon
Pernikahan Kontrak

Pernikahan Kontrak

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Sang_Imajinasi

Yvone Larasati, seorang desainer interior freelance yang keras kepala dan mandiri, terpaksa menelan harga dirinya dan menandatangani kontrak pernikahan satu tahun dengan Dylan Alexander Hartono, CEO Alexander Group yang dingin dan tak tersentuh. Pernikahan ini adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan ayah Yvone dari jerat penjara akibat jebakan korupsi politik. Di sisi lain, Dylan membutuhkan citra "pria beristri yang sempurna" untuk mengamankan mega-proyek infrastruktur dan pariwisata pemerintah senilai triliunan rupiah.

Berawal dari selembar kertas yang didasari kebencian dan pragmatisme, batasan antara sandiwara dan kenyataan mulai mengabur. Dikelilingi oleh intrik mematikan dari pejabat korup, ancaman masa lalu keluarga, dan empat rival cinta yang mematikan, Dylan dan Yvone menemukan tempat berlindung pada satu sama lain. Di bawah matahari Bali yang hangat, dinding es Dylan runtuh, dan ketakutan Yvone sirna, melahirkan gairah yang tak terbendung dan pengorbanan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 16

Sejak senja penuh pengakuan di tepi pantai itu, poros rotasi di dalam Villa Karang Putih terasa bergeser.

Tidak ada lagi aura permusuhan yang membekukan udara di antara mereka. Sebagai gantinya, ada sebuah keintiman sunyi yang jauh lebih berbahaya bagi kewarasan Yvone. Mereka menghabiskan tiga hari berikutnya layaknya pasangan normal yang sedang berlibur, bersembunyi dari hiruk-pikuk dunia yang tengah mencoba menghancurkan mereka.

Sore itu, langit Uluwatu yang biasanya cerah mendadak berubah warna menjadi abu-abu pekat. Awan hitam berarak cepat dari arah samudra, membawa serta udara yang lembap dan berbau ozon. Peringatan dini dari BMKG tentang badai tropis berskala sedang telah masuk ke ponsel semua orang sejak siang.

Yvone sedang duduk di sofa ruang tengah, ditemani secangkir teh chamomile dan tablet kerjanya. Ia tengah menyelesaikan draf revisi tiga dimensi untuk proyek resor Alexander Group sebuah pekerjaan yang kini ia ambil alih secara tidak resmi atas permintaan Bu Rina.

Di seberangnya, Dylan duduk bersandar santai, membaca sebuah dokumen legal. Pria itu memakai kacamata baca berbingkai tipis yang entah mengapa membuat ketampanannya terlihat sepuluh kali lipat lebih intelektual dan mengintimidasi.

Suara gemuruh guntur terdengar di kejauhan, menggetarkan kaca jendela vila yang tebal.

Yvone tersentak kecil, pensil stylus-nya meleset dari layar.

Mendengar gerakan itu, Dylan mengangkat wajahnya, menatap Yvone di atas bingkai kacamatanya. "Kau takut petir?"

"Tidak secara spesifik," Yvone mengusap lengannya yang meremang. Ia menatap ke luar jendela yang mulai diguyur hujan deras. "Hanya saja... suara gemuruh yang tiba-tiba selalu mengingatkanku pada malam saat kejaksaan datang membawa Ayah. Suara sirine, gedoran pintu, teriakan... badai membuat semuanya terasa kembali nyata."

Ekspresi santai di wajah Dylan menghilang. Pria itu meletakkan dokumennya, melepas kacamatanya, dan memijat pangkal hidungnya sejenak. Tanpa mengatakan apa-apa, ia berdiri dan melangkah mendekati rak kayu di sudut ruangan, menyalakan sistem speaker tersembunyi. Alunan musik jazz klasik yang lembut mengalun, menutupi suara gemuruh badai di luar.

Dylan kemudian berjalan menghampiri Yvone dan duduk di sebelah wanita itu. Jarak mereka hanya terpaut beberapa sentimeter. Hawa panas dari tubuh suaminya langsung mengusir rasa dingin yang menyelimuti Yvone.

"Lebih baik?" tanya Dylan pelan.

Yvone menoleh, menatap pria itu dengan senyum tipis yang tulus. "Ya. Terima kasih."

BLAARRR!

Sebuah kilat menyambar sangat dekat, disusul oleh suara guntur yang memekakkan telinga. Detik berikutnya, seluruh lampu di dalam vila padam total. Layar tablet Yvone adalah satu-satunya sumber cahaya di ruangan raksasa itu.

Yvone memekik tertahan dan secara refleks memejamkan mata, meringkuk memeluk lututnya.

Di dalam kegelapan itu, sebuah tangan besar dan kokoh langsung meraih bahunya, menarik tubuhnya merapat. Yvone merasakan dirinya bersandar pada dada bidang Dylan.

"Generator cadangan akan menyala dalam sepuluh detik," suara bariton Dylan terdengar tepat di atas kepala Yvone, begitu tenang dan mengendalikan. "Bernapaslah, Yvone. Aku di sini."

Benar saja, beberapa detik kemudian, lampu-lampu ambient berwarna kuning redup di sepanjang koridor dan langit-langit kembali menyala. Namun Yvone tidak segera melepaskan pelukannya. Ia masih menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Dylan, tangannya mencengkeram erat kemeja linen pria itu. Aroma cedarwood dan maskulinitas yang memabukkan memenuhi rongga dadanya, memberikan rasa aman yang tak tergantikan.

Dylan juga tidak melepaskannya. Tangan pria itu mengelus punggung Yvone dengan gerakan lambat dan ritmis.

"Kau gemetar," bisik Dylan.

"Aku benci merasa tidak berdaya," gumam Yvone parau, perlahan mendongak menatap wajah suaminya. "Sebelum semua ini terjadi, aku selalu memegang kendali atas hidupku. Sekarang... setiap suara keras terasa seperti ancaman baru yang akan merenggut keluargaku."

Mata kelam Dylan menatap lurus ke dalam manik mata Yvone yang berkaca-kaca. Di bawah temaram lampu darurat, jarak di antara wajah mereka terasa sangat, sangat tipis.

"Kau tidak berdaya karena kau bertarung sendirian selama ini," ucap Dylan, suaranya merendah, berubah menjadi serak dan mematikan. Ibu jari pria itu terangkat, mengusap rahang Yvone dengan kelembutan yang sangat kontras dengan kepribadian aslinya. "Tapi sekarang kau memilikiku. Aku adalah perisaimu, Yvone. Dan sebuah perisai tidak akan hancur hanya karena suara petir."

Napas Yvone tertahan. Tatapan pria itu tidak lagi sedingin es atau sekeras baja. Tatapan itu adalah sebuah janji absolut.

Perlahan, tatapan Dylan turun dari mata Yvone menuju bibir wanita itu yang sedikit terbuka. Rahang pria itu mengeras, seolah sedang bertarung melawan iblis di dalam kepalanya sendiri.

"Di Jakarta," bisik Dylan, napas hangatnya menerpa wajah Yvone, "aku berjanji tidak akan menyentuhmu. Aku bilang pernikahan ini hanyalah transaksi bisnis."

Jantung Yvone berdegup sangat kencang hingga ia takut tulang rusuknya akan retak. "A-Aku ingat."

"Aku berbohong," pengakuan itu meluncur dari bibir Dylan dengan nada penuh keputusasaan dan hasrat yang tertahan. Tangannya berpindah, menyusup ke tengkuk Yvone, membelai rambut halus di sana dan memberikan sedikit tekanan yang menggetarkan. "Sejak malam pertama kau berdiri di ruang kerjaku, berani membantahku demi ayahmu... aku sudah ingin menghancurkan setiap dinding yang kau bangun."

Mata Yvone terpejam sesaat, tubuhnya merespons setiap sentuhan dan kata-kata pria itu layaknya sumbu yang disulut api. "Dylan..."

"Katakan padaku untuk mundur, Yvone," geram Dylan rendah, hidungnya kini menyentuh hidung Yvone. "Katakan padaku untuk mengingat isi kontrak sialan itu, dan aku akan menjauh darimu sekarang juga. Tapi jika kau tidak mengatakannya..."

Yvone membuka matanya. Ia melihat kerentanan, ketakutan, dan gairah murni di mata sang miliarder. Pria yang tak kenal takut ini... sedang meminta izinnya. Meminta kuncinya.

Dengan tangan gemetar, Yvone mengangkat sebelah tangannya, menelusuri rahang tegas Dylan, lalu membelai pipi pria itu yang sedikit kasar oleh rambut halus yang belum dicukur.

"Aku tidak ingin kau mundur," bisik Yvone, suaranya nyaris tak terdengar karena tertelan suara badai di luar, namun cukup untuk menghentikan dunia Dylan.

Seolah tali kendali yang menahan kewarasan Dylan selama berminggu-minggu baru saja putus, pria itu tidak menunggu sedetik pun lagi.

Dylan menundukkan wajahnya dan menyatukan bibir mereka.

Ciuman itu tidak lembut atau ragu-ragu. Ciuman itu meledak dengan intensitas yang menghancurkan, sebuah luapan dari semua kecemburuan, ketakutan, dan rasa posesif yang selama ini ia tekan dalam-dalam. Bibir Dylan melumat bibir Yvone dengan kehausan yang absolut, menuntut, dan mendominasi.

Yvone terkesiap di sela-sela ciuman itu, namun ia tidak menghindar. Kedua lengannya secara insting melingkar di leher Dylan, membalas ciuman pria itu dengan keputusasaan yang sama. Ia membiarkan pria es itu meleburkan dirinya.

Tangan besar Dylan merengkuh pinggang Yvone, mengangkat tubuh wanita itu dengan mudah dan menempatkannya di atas pangkuannya. Posisi mereka kini sangat intim. Yvone duduk menyamping di atas paha suaminya, dadanya menempel pada dada bidang Dylan yang bergemuruh.

Dylan memperdalam ciumannya. Lidahnya menyapu bibir bawah Yvone, meminta akses yang langsung diberikan tanpa perlawanan. Saat lidah mereka bertemu, Yvone mengerang pelan, tubuhnya meleleh di pelukan pria itu layaknya lilin yang terbakar. Segala batasan yang memisahkan status, kontrak, dan latar belakang mereka lenyap tak bersisa.

Hujan badai terus menghantam kaca jendela dengan brutal, namun di atas sofa itu, badai yang jauh lebih panas sedang berkecamuk.

Tangan Dylan bergerak liar namun memuja, menelusuri punggung Yvone, memberikan sensasi terbakar di setiap jengkal kulit yang disentuhnya dari balik kain pakaian. Pria itu mencium Yvone seakan wanita itu adalah oksigen yang ia butuhkan setelah tenggelam selama lima belas tahun.

Setelah beberapa menit yang terasa seperti keabadian yang memabukkan, Dylan melepaskan tautan bibir mereka karena sama-sama membutuhkan udara.

Yvone menyandarkan dahinya di dahi Dylan, napasnya terengah-engah, matanya masih terpejam menikmati sensasi denyar yang luar biasa. Wajahnya merona merah padam, dan bibirnya sedikit bengkak.

Dylan menatap mahakarya di pelukannya dengan napas memburu. Ia mencium sudut bibir Yvone dengan lembut sebuah kecupan ringan yang dipenuhi puja-puji.

"Mulai malam ini," bisik Dylan dengan suara serak, ibu jarinya mengusap bibir bawah Yvone yang basah, "kontrak itu tidak lagi berlaku di antara kita, Yvone. Kau bukan sekadar aset. Kau adalah milikku. Istriku yang sesungguhnya."

Yvone membuka matanya, menatap pria yang kini telah sepenuhnya meruntuhkan dinding esnya. Ia menyadari satu hal yang mengerikan sekaligus indah: ia telah jatuh cinta pada pria yang awalnya ia kira sebagai iblis.

"Lalu... apa yang terjadi jika satu tahun kontrak itu berakhir?" tanya Yvone bergetar, rasa tidak amannya masih tersisa sedikit.

Dylan tersenyum, sebuah senyum predator yang tampan dan mematikan. Ia merapatkan pelukannya, seolah takut Yvone akan menghilang tertiup angin badai.

"Maka aku akan merobek kalender itu, dan mengurungmu bersamaku selamanya."

1
Titien Prawiro
Bacanya deg2gan terus.
k
bagus sekali
k
lia kasihan
p
memang bagus😍
p
👍👍👍👍
1
lanjut
1
absen
Sang_Imajinasi
Jangan Lupa beri vote dan dukungan 🙏
Xiao Bar
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!