Laras Kusuma Widjaya adalah definisi gadis sempurna: ningrat, cantik, dan sangat penurut. Hidupnya adalah deretan protokol kaku. Masalahnya hanya satu, Laras tidak tahu cara bilang "tidak"—bahkan saat Bara, cowok paling pembuat masalah di sekolah, mengajaknya melakukan hal paling gila dalam hidupnya.
Semua hal nyeleneh yang dilarang keras oleh keluarganya, justru menjadi pintu keluar bagi jiwa Laras yang selama ini terkekang. Namun, saat perasaan mulai tumbuh melampaui batas kasta, tembok tradisi menuntut ketaatan yang mustahil ia sanggupi. Di antara tuntutan keluarga dan debaran jantung yang tak masuk akal, Laras harus memilih: tetap menjadi putri mahkota yang sempurna, atau membiarkan gelar ningratnya hancur berantakan demi satu-satunya kebebasan yang pernah ia rasa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon penavana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Satu Kaki di Masa Lalu
Pagi buta di kediaman keluarga Laras selalu dimulai dengan ritual yang sama. Suara sapu lidi yang beradu dengan aspal halaman dan aroma kopi pahit kesukaan Bapak menjadi alarm alami.
"Non Laras, air lulurnya sudah siap di kamar mandi," ucap Mbak Ina pelan.
Laras menghela napas. Di atas meja riasnya, sudah tersedia berbagai macam ramuan tradisional—mulai dari parutan kunyit hingga air mawar. Baginya, ini bukan sekadar perawatan kecantikan, melainkan persiapan untuk "dipamerkan" pada acara jamuan teh nanti.
Tok.. tok.. tok..
Ibu mengetuk pintu sebelum masuk kamar Laras. Ia masuk dengan membawa nampan berisi kebaya berwarna krem lembut dengan sulaman emas.
"Segera mandi dan kenakan kebaya ini! Eyang sudah menunggu di ruang tengah untuk sarapan bersama. Hari ini ada tamu istimewa yang akan datang," kata Ibu dengan nada yang tak bisa dibantah.
Laras melirik kebaya krem itu dengan tatapan hambar. Sulaman emasnya berkilau tertimpa cahaya lampu kamar, tampak begitu mewah.
Di bawah bimbingan tangan Mbak Ina, tubuh Laras dibasuh dengan air lulur yang aromanya memenuhi setiap sudut ruangan. Setelah ritual mandi selesai, Laras duduk kaku di depan cermin besar. Mbak Ina dengan sangat telaten mulai mengeringkan rambut dengan hair dryer dan kemudian menyisir rambut Laras.
"Eyang Putri minta rambut Non Laras di-curly saja hari ini. Katanya, supaya terlihat lebih modern tapi tetap anggun," ujar Mbak Ina.
Laras sedikit terkejut. Biasanya, aturan di rumah ini sangat kaku, kebaya berarti sanggul tekuk tanpa celah. Namun, perubahan kecil ini tidak lantas membuatnya merasa lebih bebas. Rambutnya mulai diproses, helai demi helai dililitkan pada besi panas hingga membentuk gelombang-gelombang yang jatuh sempurna di bahunya.
Selesai dengan urusan rambut, Mbak Ina membantu Laras mengenakan kebaya krem tersebut. Kainnya kaku, penuh dengan payet yang berkilauan. Saat kancing-kancing kecil itu dikaitkan satu per satu, Laras merasa ruang geraknya kembali menyempit.
"Sudah, Non. Cantik sekali," puji Mbak Ina tulus.
Laras berdiri, menatap dirinya sendiri di cermin. Rambut gelombangnya memberikan kesan yang berbeda—lebih lembut. Ia melangkah keluar kamar dengan langkah yang diatur.
Di ruang makan,
"Duduk, Nduk," suara Eyang Putri rendah namun berwibawa. Matanya yang tajam meneliti penampilan Laras dari ujung rambut hingga ujung kain jariknya.
"Rambutmu terlihat bagus. Sedikit sentuhan modern tidak akan melunturkan darah ningratmu,"
Laras menarik kursi kayu berat itu perlahan, berusaha agar tidak menimbulkan bunyi gesekan yang bisa memecah keheningan yang kaku.
"Inggih, Eyang," jawab Laras pelan.
Sarapan dimulai dalam keheningan. Hanya terdengar denting sendok perak yang sesekali beradu dengan piring. Bagi keluarga ini, meja makan bukan sekadar tempat mengisi perut, melainkan ruang untuk melatih kedisiplinan dan tata krama.
Usai sarapan, Bapak memberikan kode kepada Laras, dengan gerakan kepala yang halus menuju ruang keluarga. Ruang itu terasa luas dengan furniture jati, beraroma bunga sedap malam yang sengaja ditaruh Ibu di setiap pojok ruangan.
"Sini, Nduk. Duduk dekat Bapak," ujar Bapak lembut, sambil menepuk sofa di sampingnya.
Laras melangkah hati-hati, berusaha menjaga agar kain jariknya tidak menghambat gerakannya. Ia duduk dengan punggung tegak, namun tangannya meremas ujung kebaya kremnya yang kaku.
Bapak memulai pembicaraan tanpa basa-basi. Beliau menatap Laras dengan pandangan yang lebih lunak daripada tatapan Eyang.
"Ibu bercerita soal keterlambatanmu kemarin. Kamu sedang banyak urusan di sekolah?"
Laras menarik napas panjang, mencoba mengatur sesak di dadanya.
"Laras sedang menyiapkan event Pentas Seni, Pak. Sebagai sekretaris OSIS, semua data ada di tangan Laras. Laras tidak bisa begitu saja meninggalkan tanggung jawab di saat teman-teman yang lain sedang bekerja keras."
Bapak mengangguk perlahan, jemarinya mengetuk-ngetuk sandaran kursi.
"Tanggung jawab itu bagus, Nduk. Itu sifat yang Bapak turunkan padamu. Tapi di rumah ini, ada 'protokol' yang harus dijaga. Kamu tahu sendiri, Kanjeng Eyang tidak suka menunggu. Baginya, menunggu adalah bentuk ketidakhormatan." ujar Bapak.
"Akhir-akhir ini Laras merasa sangat lelah Pak dengan aturan Eyang Putri." keluh Laras.
Bapak terdiam cukup lama, memandang lukisan leluhur yang tergantung di dinding seberang.
"Hidup di keluarga seperti kita ini memang seperti berjalan di atas tali, Nduk. Satu kaki di masa depan yang kamu impikan, satu kaki lagi di masa lalu yang harus kita jaga. Bapak tidak minta kamu berhenti berorganisasi, tapi Bapak minta kamu pintar-pintar membagi peran."
"Sebenarnya siapa yang akan datang, Pak? Ibu bilang, mereka tamu istimewa" ucap Laras mengalihkan topik pembicaraan.
"Tamu dari Solo, rekan bisnis Eyang Kakungmu dulu" jawab Bapak sambil menyeruput kopi.
"Bukan perjodohan kan?"
Bapak tidak menjawab pertanyaan itu secara langsung. Beliau hanya menghela napas panjang dan menepuk halus pundak Laras.
"Segera rapikan riasanmu. Jangan biarkan matamu terlihat mendung. Tamu kita akan sampai sebentar lagi."
Laras mengangguk, menyadari bahwa obrolan empat mata ini bukanlah sebuah negosiasi, melainkan sebuah instruksi yang dibalut dengan kelembutan.
⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️
Suara deru mesin mobil yang halus memecah kesunyian halaman rumah. Kerikil yang tergilas ban terdengar seperti dentum genderang yang menandakan dimulainya sebuah pertunjukan. Sebuah sedan hitam mewah berhenti tepat di depan teras, memantulkan sinar matahari pagi yang mulai terik.
Laras berdiri di balik pilar ruang tamu, merapikan sedikit gelombang rambutnya yang jatuh di bahu. Telapak tangannya terasa dingin dan lembap. Di ruang tengah, Eyang Putri sudah bangkit dari duduknya dengan anggun, sementara Ibu memberikan isyarat mata agar Laras segera mengambil posisi di samping Bapak.
"Tamu kita sudah sampai. Jaga sikapmu, Nduk," bisik Ibu pelan, sambil memastikan bros di dada Laras tidak miring.
Bapak melangkah ke depan, membuka pintu jati besar itu dengan senyum yang dipasang sempurna. Dari dalam mobil, turunlah seorang pria paruh baya bertubuh tegap dengan batik sutra bermotif parang barong—Raden Mas Hardjono. Tak lama kemudian, dari pintu penumpang lainnya, muncul sosok pemuda seumuran Laras.
Danendra..
Pemuda itu mengenakan kemeja batik berwarna gelap yang pas di tubuhnya. Rambutnya tertata rapi, tipis dan modern, kontras dengan aura tradisional yang membalut kehadirannya. Saat matanya bertumbukan dengan mata Laras, ada kilatan kecerdasan yang tajam di sana, namun juga ada guratan kelelahan yang sama dengan apa yang Laras rasakan.
"Selamat datang, Mas Hardjono," sapa Bapak dengan suara bariton yang hangat, merangkul tamu kehormatannya.
Laras membungkuk santun saat Raden Mas Hardjono melangkah masuk.
"Sugeng rawuh," ucapnya lirih.
Kini giliran Danendra yang berdiri di hadapannya. Ia mengulurkan tangan sejenak, namun kemudian hanya menyatukan kedua telapak tangan di depan dada sebagai bentuk penghormatan yang lebih tradisional.
"Danendra," ucap pemuda itu singkat. Suaranya rendah dan tenang.
"Laras," jawab Laras tersenyum tipis.
Eyang Putri menyambut mereka di ruang tamu, dan suasana segera dipenuhi dengan basa-basi aristokrat yang kental. Laras duduk di sebelah Eyang Putri, tangannya terlipat rapi di atas pangkuan. Ia bisa merasakan tatapan Eyang Putri dan Raden Mas Hardjono yang sesekali menilai interaksi antara dirinya dan Danendra.
Di tengah percakapan tentang kabar keluarga dan bisnis, ponsel di saku jarik instannya bergetar. Laras melirik Danendra, dan ia mendapati pemuda itu diam-diam juga sedang menyentuh saku celananya, seolah sedang menahan keinginan untuk melakukan hal yang sama.
Keheningan yang elegan ini mendadak terasa jauh lebih menyesakkan daripada stagen yang melilit tulang rusuknya.
Ijin mampir🙏