Seorang wanita bernama Nirmala harus kembali ke desa terpencil tempat kakeknya tinggal setelah menerima surat misterius. Di desa itu, ada mitos tentang "Wewe Putih", sosok yang konon mencuri anak-anak, namun hanya anak yang "dilupakan" oleh keluarganya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kegelapan malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26
Malam di pinggiran Yogyakarta itu mendadak kehilangan detak alaminya. Suara jangkrik yang biasanya bersahutan di pematang sawah seketika bungkam, seolah-olah alam sedang menahan napas menghadapi sesuatu yang asing. Angin yang berembus masuk melalui celah ventilasi rumah kayu itu tidak lagi membawa wangi melati, melainkan aroma tanah yang lembap, busuk, dan apak, seperti bau peti mati yang baru saja digali paksa dari perut bumi.
Arka berdiri mematung di ambang pintu jati yang terbuka sedikit. Matanya yang kini bersifat aneh menatap tajam ke arah gerbang kayu di depan rumah. Di sana, di bawah keremangan lampu jalan yang berkedip-kedip pasrah, berdiri seorang pria paruh baya dengan pakaian lusuh yang basah kuyup oleh rintik hujan.
Namun, Arka tahu pria itu bukan lagi penguasa atas raga sendiri.
"Arka, jangan melangkah keluar." bisik Nirmala yang muncul di belakangnya. Suaranya bergetar, namun bukan karena takut, melainkan karena rasa sesak yang tiba-tiba menghantam dadanya.
Nirmala memejamkan mata sesaat. Lewat kepekaan batinnya, ia merasakan gelombang kebencian yang sangat murni memancar dari bungkusan yang didekap oleh pria itu. Itu adalah jenis emosi yang pekat, hitam, dan tajam, seperti duri yang siap mengoyak siapa pun yang menyentuhnya.
Pria itu bergerak kaku, seperti boneka kayu yang digerakkan oleh benang gaib. Dengan gerakan yang lambat dan mekanis, ia meletakkan sebuah bungkusan kain kafan kecil yang masih berlumuran tanah merah tepat di atas keset depan pintu. Begitu bungkusan itu menyentuh lantai, sebuah desisan halus terdengar, diikuti oleh asap tipis berwarna kelabu yang berbau amis.
Pria itu kemudian berbalik dan berjalan pergi tanpa sepatah kata pun. Langkahnya terseret-seret, menghilang ke dalam kegelapan malam yang pekat.
"Dia di bawah pengaruh sirep tingkat tinggi Nir." gumam Arka, matanya tak lepas dari bungkusan itu. "Dan bungkusan itu... aku melihatnya. Ada ribuan ulat energi hitam yang keluar dari sela-sela kainnya. Mereka mencoba mencari celah untuk masuk ke dalam rumah ini."
Aki segera mengambil tindakan. Beliau mengambil segenggam garam krosok yang sudah didoakan dan menaburkannya di sekeliling bungkusan itu sebelum Arka membawanya masuk menggunakan sebilah kayu jati. Mereka meletakkan bungkusan kafan itu di atas meja ruang tamu yang sudah dialasi kain putih.
Ibu Lastri berdiri di sudut ruangan, wajahnya pucat pasi. Tangannya gemetar saat memegang tasbih kayu cendana. Sebagai seorang ibu yang telah melewati berbagai teror, beliau tahu bahwa kiriman ini memiliki aura yang jauh lebih jahat daripada hantu hutan mana pun.
"Ini bukan sekadar santet untuk membuat sakit Nak." ujar Aki dengan nada suara yang berat. "Ini Santet Tanah Pusara. Mereka mengambil tanah dari tujuh makam orang yang mati tidak wajar, lalu diikat dengan rambut korban yang diinginkan. Lihat itu..."
Aki menunjuk pada simpul kain kafan tersebut. Di sana, terselip beberapa helai rambut panjang yang kusam.
Nirmala mendekat, hatinya mencelos. Ia memberanikan diri untuk mengulurkan tangannya di atas bungkusan itu tanpa menyentuhnya. Seketika, di dalam penglihatan batinnya, muncul sebuah bayangan yang sangat jelas, Seorang dukun tua di sebuah gubuk reyot sedang merapal mantra di depan cermin retak. Di samping cermin itu, terdapat foto Ibu Lastri yang sudah dicoret-coret dengan darah ayam cemani.
"Targetnya bukan aku atau Arka Aki." bisik Nirmala, suaranya tercekat. "Targetnya adalah Ibu. Mereka ingin menghancurkan kita lewat orang yang paling kita cintai."
Ibu Lastri jatuh terduduk di kursi kayu, air mata ketakutan mulai mengalir. Rupanya, kemenangan di Jakarta tidak membuat musuh mereka jera. Sisa-sisa pengikut Sandiwayang yang masih bersembunyi di tanah Jawa kini menggunakan cara-cara kuno yang licik untuk membalas dendam.
"Arka, duduklah di belakangku" perintah Nirmala. Wajah polonya kini berganti dengan ketegasan seorang penyembuh yang terpojok. "Aku tidak bisa melihat simpul energinya secara visual. Aku butuh matamu."
Arka segera mengambil posisi di belakang Nirmala, meletakkan telapak tangannya di bahu gadis itu. Ia menyalurkan ketenangan batinnya, bertindak sebagai jangkar agar jiwa Nirmala tidak terseret ke dalam pusaran energi negatif yang sedang mereka hadapi.
"Mulai Nir. Aku akan memandumu" ucap Arka mantap.
Nirmala memejamkan mata. Ia memusatkan seluruh niat baiknya, memanggil cahaya hangat yang kini menjadi bagian dari jiwanya. Dari telapak tangan Nirmala, mulai terpancar pendaran putih lembut yang jernih.
"Di sana, Nir! Di bagian simpul tengah!" seru Arka lewat bisikan. "Ada energi berbentuk duri yang terus berputar. Itu adalah 'pengunci' kutukannya. Kau harus menghancurkannya dulu sebelum bisa membuka kainnya."
Nirmala memfokuskan pikirannya pada titik yang disebutkan Arka. Ia merasakan perlawanan yang dahsyat. Udara di ruang tamu mendadak menjadi sangat dingin hingga napas mereka mengeluarkan uap. Suara geraman gaib mulai terdengar dari dalam bungkusan, membuat gelas-gelas di atas meja bergetar hebat.
"Abaikan suaranya, Nir! Fokus pada cahaya di tanganmu!" Arka mempererat genggamannya. Lewat mata istimewanya, ia melihat energi hitam dari bungkusan itu mencoba merambat naik ke tangan Nirmala, namun setiap kali menyentuh cahaya putih Nirmala, energi itu terbakar dan lenyap.
Nirmala merasa seperti sedang mencoba mencabut akar yang tertanam sangat dalam di tanah yang keras. Ia mengalirkan lebih banyak rasa kasih dan pengampunan ke dalam energinya, sebuah antitesis dari kebencian yang menjadi bahan bakar santet tersebut.
KRAK!
Tiba-tiba, terdengar suara patahan dari dalam bungkusan, seperti tulang yang remuk. Duri energi yang dilihat Arka seketika hancur berkeping-keping.
"Sekarang, Nir! Sapu bersih sisa-sisa kabut hitamnya!"
Nirmala menghentakkan energinya dalam satu gelombang lembut. Cahaya putih meledak kecil di atas meja, menyelimuti seluruh bungkusan kafan tersebut. Seketika, bau busuk berganti menjadi harum bunga kenanga yang segar. Asap kelabu yang tadi keluar dari kain kafan itu kini berubah menjadi uap putih yang transparan sebelum akhirnya menghilang sepenuhnya.
Bungkusan kafan itu kini tergeletak diam, tak lagi bergetar. Aki dengan hati-hati membukanya menggunakan sepasang sumpit bambu. Di dalamnya hanya terdapat tanah kering dan beberapa potongan kuku, semuanya kini sudah tidak lagi memiliki daya magis.
Di kejauhan, dari arah selatan desa, terdengar suara ledakan kecil yang disusul oleh suara pohon tumbang yang keras. Aki mengangguk pelan, wajahnya tampak lega.
"Energi negatifnya kembali kepada pengirimnya karena pintunya sudah dikunci oleh Nirmala. Siapa pun yang mengirim ini, dia sedang merasakan perihnya racunnya sendiri sekarang." ujar Aki.
Nirmala ambruk ke pelukan Arka, napasnya terengah-engah seolah baru saja berlari maraton. Peluh membasahi keningnya, namun sorot matanya menunjukkan kepuasan. Ia telah berhasil melindungi ibunya.
"Terima kasih Arka. Tanpa petunjukmu, aku tidak akan tahu di mana letak pusat kekuatannya." bisik Nirmala.
Arka mengusap rambut Nirmala dengan sayang. "Dan tanpa sentuhanmu, aku hanya akan bisa menonton ibuku menderita. Kita adalah satu tim sekarang Nir."
Ibu Lastri mendekat, memeluk mereka berdua dengan erat. Ketegangan yang mencekam itu perlahan luruh, berganti dengan kehangatan keluarga yang kembali utuh. Namun, saat suasana mulai tenang, Nirmala tiba-tiba memegang kepalanya yang berdenyut kencang.
Di dalam keheningan batinnya, Nirmala mendengar sebuah suara yang sangat halus, tajam, dan penuh dengan nada mengejek. Suara itu bukan berasal dari dukun yang baru saja ia kalahkan, melainkan suara yang sangat familiar dari puncak Menara Kencana.
"Satu poin untukmu, Nirmala... tapi jangan berpikir ini sudah berakhir. Jakarta hanyalah kebun kecil, dan kau baru saja masuk ke dalam hutan yang sesungguhnya."
Nirmala tersentak, wajahnya kembali pucat. "Saraswati..." gumamnya lirih.
Arka segera menegang. "Saraswati? Dia masih hidup?"
"Suaranya... aku mendengarnya lewat sisa energi tadi." jawab Nirmala dengan tatapan kosong. "Dia yang menggerakkan dukun-dukun ini. Dia sedang membangun sesuatu yang lebih besar dari Sandiwayang milik Hendrawan."
Arka menatap ke luar jendela. Fajar mulai menyingsing di cakrawala Yogyakarta, namun ia tahu bahwa kedamaian mereka hanyalah jeda singkat. Musuh mereka kini bukan lagi raksasa yang sombong, melainkan bayangan yang licik dan bersembunyi di balik kegelapan tradisi.
"Biarkan dia datang" ucap Arka dengan suara yang berat dan penuh tekad. "Dulu kita adalah mangsa. Sekarang, kita adalah penyembuh yang akan mencabut setiap akar busuk yang dia tanam."
Nirmala dan Arka yang berdiri berdampingan di teras rumah, menatap matahari terbit. Mereka menyadari bahwa masa transisi mereka telah usai, dan petualangan sesungguhnya sebagai duo Indigo-Healer baru saja dimulai dengan musuh lama yang membawa dendam baru.