Seorang mahasiswi magang asal Indonesia bernama Kirana, yang tinggal di Taipei, tanpa sengaja menemukan sebuah amplop merah berisi uang di taman sepi saat Bulan Hantu. Ia mengambilnya karena mengira rezeki biasa. Namun, amplop itu ternyata adalah mahar dari seorang pengantin arwah laki-laki dari zaman Dinasti Ming yang telah meninggal sebelum sempat menikah. Dengan mengambil amplop tersebut, Kirana secara tidak sadar telah menerima lamaran gaib. Ia kini terikat benang merah takdir dengan arwah pengantin tersebut, yang datang menagih janji di bulan ketika pintu alam roh terbuka lebar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lilack Sunrise, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
lanjutan
Lorong rumah sakit terasa terlalu terang.
Terlalu dingin.
Dan terlalu sepi untuk keadaan seperti ini.
Wei berdiri kaku di depan pintu ruang perawatan intensif. Tangannya gemetar, ponselnya hampir jatuh dari genggaman.
Risa berjalan mondar-mandir, napasnya tidak teratur.
“Ini nggak masuk akal…” suara Risa pecah, setengah berbisik setengah panik, “tadi dia masih… masih bisa ngomong…”
Wei tidak langsung menjawab.
Matanya terpaku ke jendela kecil di pintu.
Melihat bayangan dokter yang masih bergerak di dalam.
“Kenapa bisa tiba-tiba drop gitu…?” lanjut Risa, lebih cepat, lebih kacau, “ini rumah sakit loh, harusnya aman kan?!”
Wei akhirnya bicara, suaranya rendah tapi tegang.
“Dokternya bilang… kondisi dia tiba-tiba turun drastis.”
“AKU TAU ITU!” Risa hampir membentak, lalu langsung menutup mulutnya sendiri, “maksudku… kenapa? Penyebabnya apa?”
Hening.
Wei menelan ludah.
“…mereka juga nggak tau.”
Risa berhenti berjalan.
Perlahan menoleh ke Wei.
“Apa maksudnya ‘nggak tau’…?”
Wei menggeleng pelan.
“Semua normal sebelumnya. Nggak ada tanda-tanda… tapi tiba-tiba suhu tubuhnya turun, detak jantungnya nggak stabil…”
Suaranya mulai goyah.
“…kayak bukan… sakit biasa.”
Kalimat itu menggantung.
Dan justru di situlah ketakutan mulai terasa nyata.
Risa memegang rambutnya, frustasi.
“Kita harus hubungi orang tuanya!!!!!!".
Wei langsung menggeleng.
“Jangan dulu.”
Risa menatapnya tajam.
“JANGAN DULU? Wei, ini bukan waktu buat nunggu! Kalau kenapa-napa gimana?!”
Wei menegang.
“Aku tau!” suaranya ikut naik, tapi langsung ditahan, “aku juga takut, Risa!” tangis Wei pecah.
Hening .
Lebih berat dari sebelumnya.
Wei menunduk, tangannya mengepal.
“…tapi mereka jauh. Dan kalau kita kasih kabar sekarang tanpa penjelasan jelas… itu cuma bikin mereka panik di tempat yang mereka nggak bisa apa-apa.”
Risa menggigit bibirnya.
Air matanya mulai jatuh.
“Terus kita bisa apa…?”
Kalimat itu keluar pelan.
Lebih lemah.
Lebih jujur.
Wei tidak langsung menjawab.
Dia menatap pintu itu lagi.
Lebih lama.
Seolah berharap bisa melihat sesuatu… atau seseorang.
“…kita tunggu,” katanya akhirnya, tapi suaranya tidak sepenuhnya yakin, “kita pastikan dia stabil dulu.”
Risa tertawa kecil.
Tapi pahit.
“Stabil? Dia lagi di dalam sana, Wei…”
Suaranya retak dan menekan
“…dan kita cuma bisa berdiri di sini.”
Tiba-tiba
Lampu di lorong berkedip sekali.
Singkat.
Hampir tidak terasa.
Risa langsung diam.
Wei juga.
Keduanya saling pandang.
“Ada yang aneh nggak sih dari tadi…?” bisik Risa pelan.
Wei tidak langsung menjawab.
Tapi kali ini…
dia tidak menyangkal.
“…iya.”
Sunyi turun lagi.
Lebih dingin dari sebelumnya.
Risa mendekat sedikit ke Wei.
Lebih dekat dari biasanya.
Bukan karena nyaman.
Tapi karena takut.
“Lo ngerasa juga kan…?” suaranya makin pelan, “kayak… bukan cuma sakit biasa…”
Wei menelan ludah.
Matanya masih ke arah pintu.
“…aku nggak tau harus percaya apa lagi.”
Dari dalam ruangan,
suara alat medis terdengar samar.
Bip… bip…
Lemah.
Tidak stabil.
Risa memejamkan mata sebentar.
Lalu berbisik:
“…dia tadi sempat bilang sesuatu ke aku.”
Wei langsung menoleh.
“Apa?”
Risa ragu.
“…dia nyebut nama seseorang.”
Jeda.
Wei mengerutkan kening.
“Siapa?”
Risa menatapnya.
Dan untuk pertama kalinya sejak tadi
ada ketakutan yang berbeda di matanya.
Bukan panik.
Bukan bingung.
Tapi sesuatu yang tidak bisa dijelaskan.
“…Li Wei atau Wei ",namamu ??
Hening.
Wei membeku.
“…itu siapa?”
Tidak ada yang menjawab.
Karena bahkan Risa sendiri
tidak yakin dia ingin tahu jawabannya.