"Sepuluh tahun lalu, ayahku menjualku. Dan malam ini, sang pembeli datang menjemputku."
Alana mengira hidupnya sempurna, sampai ia diseret ke Rusia oleh Alexei Dragunov seorang Tsar mafia yang dingin dan berbahaya. Alana bukan datang sebagai pengantin, melainkan sebagai aset yang telah dibayar lunas oleh Alexei untuk menutupi hutang ayahnya.
Di tengah badai salju Saint Petersburg, Alana terjebak di antara dua pria paling berkuasa, Ayah kandung yang menjadikannya barang dagangan, dan suami mafia yang menjadikannya tawanan obsesi.
Saat rahasia darahnya mulai terungkap, Alana menyadari, Di dunia Alexei, tidak ada jalan keluar. Ia harus memilih, hancur sebagai korban, atau bangkit menjadi Ratu di samping sang iblis.
"Kau adalah milikku, Alana. Hidup atau mati, kau tetap dalam genggamanku."
-Alexei Dragunov-
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EILI sasmaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
4. MALAM PERTAMA DI ISTANA ES
Langkah kaki Alana terasa berat saat ia menaiki tangga melingkar menuju lantai sayap barat mansion. Dua pelayan wanita berpakaian hitam pekat berjalan di depannya tanpa suara, seperti bayangan yang menuntun jiwa menuju penghakiman. Alana masih bisa merasakan tatapan Sofia, neneknya, yang penuh duka di perpustakaan tadi. Penemuan bahwa ia memiliki keluarga yang masih hidup dan kenyataan bahwa mereka dijadikan sandera untuk kepatuhannya adalah rantai yang lebih kuat daripada belenggu besi mana pun.
Kedua pelayan itu berhenti di depan sebuah pintu ganda berwarna mahoni yang dijaga oleh dua pria bersenjata. Pintu terbuka, menyingkap sebuah kamar yang lebih luas daripada apartemen Alana di Jakarta. Kamar itu didominasi warna kelabu dan biru tua, dengan perapian besar yang apinya menari-nari gelisah. Di tengah ruangan, sebuah tempat tidur king-size dengan tiang-tiang kayu ukiran berdiri angkuh.
"Silakan, Gospozha," salah satu pelayan berbisik. "Air mandi sudah siap. Pakaian Anda telah kami siapkan di ruang ganti."
Alana masuk dengan langkah ragu. Ia segera menuju kamar mandi yang luasnya hampir menyamai kamar tidurnya dulu. Di sana, ia melepas gaun pengantinnya yang kini terasa seperti kulit ular yang harus segera ditanggalkan. Sutra yang robek, noda darah kering dari serangan di gereja, dan debu mesiu jatuh ke lantai. Ia berendam di air hangat yang beraroma kayu pinus, mencoba menggosok kulitnya hingga memerah, seolah ingin menghapus jejak tangan Alexei dan ayahnya dari tubuhnya.
Namun, tidak ada sabun yang bisa menghapus kenyataan pahit bahwa ia adalah seorang istri dari pria yang ia benci, di sebuah negara yang ingin membunuhnya.
Setelah selesai, ia mengenakan nightgown sutra hitam panjang yang disediakan. Kainnya lembut, namun terasa seperti kain kafan. Ia keluar ke kamar utama, mendapati ruangan itu kini hanya diterangi oleh cahaya api perapian. Dan di sana, berdiri di dekat jendela sambil memegang gelas kristal berisi cairan amber, adalah Alexei.
Pria itu telah melepas jasnya. Kemeja putihnya dibuka dua kancing teratas, menampakkan otot leher yang tegang. Ia berbalik saat mendengar langkah kaki Alana. Mata birunya yang sedingin es menyapu tubuh Alana, berhenti sejenak di lehernya yang jenjang sebelum kembali menatap matanya.
"Duduklah, Alana," perintah Alexei. Suaranya tidak lagi berteriak seperti di gereja, namun otoritas di dalamnya tetap tidak terbantahkan.
Alana tetap berdiri tegak. "Aku bukan anjing peliharaanmu, Alexei. Aku tidak akan duduk hanya karena kau memerintahkannya."
Alexei meletakkan gelasnya di meja nakas dengan denting pelan yang mematikan. Ia berjalan mendekat. Setiap langkah sepatunya di atas lantai kayu terdengar seperti detak jam menuju ledakan. Ia berhenti tepat di depan Alana, menunduk hingga Alana bisa mencium aroma vodka dan maskulin yang tajam.
"Kau punya keberanian. Itu warisan Volskaya yang murni," Alexei mengulurkan tangan, jemarinya yang kasar membelai helai rambut basah Alana. "Tapi keberanian tanpa kekuatan hanyalah cara cepat menuju kuburan. Kau harus belajar kapan harus menggonggong, dan kapan harus menggigit."
"Kau mengancam nyawa nenekku," desis Alana, matanya berkilat marah. "Pria macam apa yang menggunakan wanita tua yang lumpuh untuk mengontrol istrinya?"
"Pria yang ingin menang," jawab Alexei tanpa penyesalan. "Di dunia ini, Alana, moralitas adalah kemewahan yang tidak bisa kita beli. Ayahmu tahu itu. Itu sebabnya dia menukar dirimu dengan jalur distribusi senjata yang akan membuatnya menjadi orang terkaya di Asia. Dia memberikan apa yang paling berharga baginya untuk mendapatkan apa yang paling ia inginkan. Aku hanya melakukan hal yang sama."
Alexei meraih tangan Alana, jarinya mengusap cincin serigala yang melingkar di jari manis gadis itu. "Pernikahan ini adalah kontrak. Aku memberikan perlindungan pada nenekmu dan legitimasi pada darahmu. Sebagai imbalannya, kau memberikan aku Rusia Barat... dan seorang ahli waris."
Alana menarik tangannya dengan kasar. "Jangan harap aku akan memberikan apa pun padamu. Kau mungkin memiliki tubuhku karena kontrak bodoh itu, tapi kau tidak akan pernah memiliki apa pun yang ada di dalamnya."
Alexei menyeringai tipis, sebuah ekspresi predator yang baru saja menemukan mangsa yang menarik. Ia melangkah lebih dekat, mengurung Alana di antara tubuhnya dan tiang tempat tidur. Alana bisa merasakan panas yang memancar dari tubuh pria itu, sebuah kontras yang membingungkan dengan kepribadiannya yang dingin.
"Benarkah?" bisik Alexei. Tangannya bergerak ke tengkuk Alana, ibu jarinya menekan lembut di bawah rahangnya, memaksa Alana untuk terus menatapnya. "Kau bilang kau membenciku. Tapi jantungmu berpacu liar saat aku menyentuhmu. Apakah itu ketakutan, Alana? Ataukah itu sesuatu yang lain yang tidak berani kau akui?"
"Itu kejijikan," balas Alana, meski ia membenci kenyataan bahwa napasnya mulai tidak beraturan.
Alexei tertawa rendah, suara yang bergetar di dada Alana. "Kita lihat saja berapa lama kau bisa mempertahankan dinding itu. Rusia adalah tempat yang sangat dingin, Moya printsessa. Cepat atau lambat, kau akan mencari kehangatan. Dan hanya aku yang bisa memberikannya padamu."
Alexei melepaskan cengkeramannya dan mundur satu langkah. Ia mengambil kembali gelasnya dan meminum isinya hingga habis.
"Tidurlah," ucapnya sambil berjalan menuju pintu keluar kamar.
Alana tertegun. "Kau... kau tidak akan tinggal di sini?"
Alexei berhenti di ambang pintu, menoleh dengan tatapan yang sulit dibaca. "Aku punya urusan yang harus diselesaikan. Sergei Volsky baru saja mencoba membunuh istriku di depan gereja. Dia harus belajar bahwa setiap peluru yang meleset akan dibayar dengan nyawa sepuluh orang anak buahnya."
Alexei mematikan lampu utama, menyisakan ruangan dalam keremangan api perapian.
"Dan satu hal lagi, Alana," tambahnya sebelum menutup pintu. "Kamar ini adalah satu-satunya tempat di mana kau aman. Jangan pernah mencoba keluar tanpa pengawal, atau kau akan menyadari bahwa musuh-musuhku jauh lebih tidak sabar daripada aku dalam hal menyentuhmu."
KLIK.
Pintu terkunci dari luar. Alana berdiri terpaku dalam kegelapan yang sunyi. Ia merasa lega karena Alexei tidak menyentuhnya malam ini, namun rasa takut yang baru muncul di benaknya. Alexei tidak hanya menguasai hidupnya melalui kontrak dan ancaman, tapi pria itu mulai memahami kelemahannya.
Alana berjalan menuju jendela besar yang menghadap ke arah hutan salju. Di kejauhan, ia melihat deretan mobil hitam bergerak keluar dari gerbang mansion dengan kecepatan tinggi. Alexei sedang pergi untuk menumpahkan darah.
Ia meraba liontin ibunya yang kini menggantung di lehernya. Di balik cermin yang dingin, Alana berbisik pada bayangannya sendiri, "Aku tidak akan menjadi ratumu, Alexei. Aku akan menjadi kehancuranmu."
Namun, di tengah sumpahnya, sebuah pemikiran mengerikan terlintas: Jika ia menghancurkan Alexei, siapa yang akan melindunginya dan neneknya dari kegelapan yang lebih besar di luar sana?
Alana merangkak ke tempat tidur yang terlalu besar untuknya, menyadari bahwa di rumah ini, bahkan dalam tidurnya, ia tidak akan pernah benar-benar sendirian. Ada sepasang mata biru yang selalu mengawasinya, dan ada rahasia tentang ibunya yang masih terkunci rapat di balik bibir Alexei.