Rania adalah seorang janda muda dengan satu anak. Meski hidupnya tidak mudah, kecantikannya yang mempesona dan sifatnya yang lembut membuat banyak pria terpikat padanya.
Di tengah usahanya membesarkan anaknya sendirian, dua pria muda tiba-tiba masuk ke dalam hidupnya. Arga, pria brondong yang ceria dan berani, selalu terang-terangan menggoda dan mendekati Rania. Sementara itu ada Damar, pria muda yang dingin, tampan, dan diam-diam selalu memperhatikan Rania dari jauh.
Dua pria.
Satu wanita.
Siapa yang akhirnya akan memenangkan hati janda cantik itu?
Di antara masa lalu yang belum sepenuhnya hilang, tanggung jawab sebagai seorang ibu, dan godaan cinta dari dua pria yang lebih muda…
Akankah Rania membuka kembali pintu hatinya?
Atau justru cinta baru itu akan mengubah hidupnya selamanya? ❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana Bear, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cemburu yang Tidak Disembunyikan
Pagi itu Gang Mawar terlihat lebih ramai dari biasanya.
Beberapa ibu-ibu sedang menyapu halaman sambil mengobrol, sementara anak-anak kecil berlari bermain di sepanjang gang.
Di dalam rumahnya, Rania sedang menyiapkan sarapan untuk Rafa.
Namun pikirannya masih penuh dengan kejadian kemarin.
Arga.
Damar.
Dua pengakuan yang sama-sama serius.
Ia bahkan belum sempat benar-benar memikirkan jawabannya.
“Bunda!”
Rafa berlari ke dapur dengan wajah ceria.
“Iya, Nak?”
“Aku mimpi kita ke pasar malam lagi.”
Rania tersenyum kecil.
“Setiap hari juga kamu mau ke sana.”
Rafa tertawa kecil.
Namun saat itu juga terdengar suara motor berhenti di depan rumah.
Rania langsung menoleh.
Rasanya ia sudah hafal suara itu.
“Pagi, Mbak Rania!”
Arga muncul di depan pagar dengan senyum lebar seperti biasanya.
Rania menghela napas kecil.
“Kamu lagi.”
Arga pura-pura berpikir.
“Kenapa ya aku sering sekali datang ke sini?”
Rania melipat tangan.
“Karena kamu tidak punya pekerjaan lain.”
Arga tertawa keras.
“Aduh, kejam sekali.”
Rafa langsung berlari keluar.
“Arga!”
Arga mengangkat Rafa dengan mudah.
“Jagoan kecil sudah sarapan?”
Rafa mengangguk.
Namun saat mereka sedang tertawa bersama, sebuah mobil berhenti lagi di depan rumah.
Arga langsung menoleh.
“Oh… dia lagi.”
Mobil hitam Damar berhenti dengan tenang.
Beberapa ibu-ibu di gang langsung berbisik.
“Lihat itu…”
“Rania lagi-lagi didatangi dua pria…”
Rania pura-pura tidak mendengar.
Namun wajahnya sedikit memerah.
Damar keluar dari mobil dan berjalan mendekat.
Seperti biasa, sikapnya tenang dan rapi.
“Selamat pagi.”
Rania mengangguk kecil.
“Pagi.”
Arga masih menggendong Rafa.
Ia menatap Damar dengan senyum santai.
“Kita memang punya jadwal yang sama ya.”
Damar menjawab datar.
“Sepertinya begitu.”
Setelah Rafa berangkat sekolah, suasana di halaman rumah menjadi lebih sepi.
Rania duduk di teras dengan dua pria itu.
Arga bersandar santai di kursinya.
Damar duduk tegak seperti biasa.
Suasana sedikit canggung.
Akhirnya Arga berkata lebih dulu.
“Mbak Rania, hari ini kamu ada rencana?”
Rania menggeleng.
“Tidak ada.”
Arga langsung tersenyum.
“Kalau begitu ikut aku ke kota.”
Rania langsung menatapnya.
“Ke kota?”
Arga mengangguk.
“Aku mau membeli beberapa barang. Sekalian jalan-jalan.”
Rania hampir menjawab… namun Damar tiba-tiba berkata.
“Aku juga ada urusan di kota.”
Arga meliriknya.
“Wah kebetulan sekali.”
Damar melanjutkan dengan tenang.
“Mbak Rania bisa ikut denganku.”
Arga tertawa kecil.
“Kenapa harus denganmu?”
Damar menatapnya tanpa ekspresi.
“Mobilku lebih nyaman.”
Arga langsung berdiri.
“Motor juga nyaman.”
Rania menatap mereka berdua dengan bingung.
“Kalian ini…”
Namun Arga tiba-tiba berkata dengan nada sedikit serius.
“Aku yang mengajak duluan.”
Damar menjawab tenang.
“Itu tidak berarti dia harus ikut denganmu.”
Arga menyeringai.
“Sepertinya kamu tidak suka kalah.”
Damar menatapnya lurus.
“Aku tidak sedang bermain.”
Suasana langsung menjadi sedikit tegang.
Rania langsung berdiri.
“Sudah cukup.”
Kedua pria itu menoleh padanya.
Rania menghela napas panjang.
“Aku tidak akan pergi dengan siapa pun.”
Arga menggaruk kepalanya.
“Ah… maaf.”
Damar juga berkata pelan.
“Maaf.”
Namun setelah beberapa detik, Arga berkata lagi.
“Tapi aku tetap ingin mengajakmu makan siang.”
Damar langsung menambahkan.
“Aku juga.”
Rania hampir tertawa melihat mereka.
“Kalian benar-benar seperti anak kecil.”
Arga tersenyum santai.
“Tidak. Kami hanya serius.”
Sore hari, Rafa sudah pulang sekolah.
Anak kecil itu bermain di halaman bersama Arga.
Mereka sedang membuat “pertarungan robot”.
“Robot Arga menyerang!”
Rafa tertawa keras.
“Robot Rafa menang!”
Tidak jauh dari mereka, Damar berdiri bersandar di pagar sambil memperhatikan.
Rania keluar membawa minuman.
Ia memberikan satu pada Damar.
“Terima kasih sudah menjaga Rafa.”
Damar menggeleng pelan.
“Aku tidak melakukan apa-apa.”
Namun Arga langsung berkata dari halaman.
“Eh! Aku yang bermain dengannya!”
Rafa tertawa lagi.
Melihat mereka, Rania tidak bisa menahan senyumnya.
Suasana rumahnya terasa jauh lebih hidup sekarang.
Namun tiba-tiba seorang tetangga lewat sambil berkata cukup keras.
“Rania benar-benar beruntung ya.”
“Didatangi dua pria tampan setiap hari.”
Beberapa orang tertawa kecil.
Wajah Rania langsung memerah.
Ia menunduk sedikit.
Arga terlihat kesal.
“Orang-orang itu terlalu banyak bicara.”
Namun Damar berkata pelan.
“Biarkan saja.”
Rania menatap mereka.
“Aku tidak ingin kalian berdua bermasalah karena aku.”
Arga langsung menjawab.
“Tidak ada masalah.”
Damar juga mengangguk.
“Kami tahu apa yang kami lakukan.”
Namun Arga tiba-tiba berkata sambil menyeringai.
“Walaupun sebenarnya kita memang sedang bersaing.”
Damar menatapnya.
“Benar.”
Rania langsung membeku.
“Kalian… serius?”
Arga menatapnya dengan senyum nakal.
“Tentu saja.”
Damar berkata dengan suara tenang.
“Kami berdua menyukaimu.”
Kalimat itu kembali membuat jantung Rania berdetak cepat.
Arga melanjutkan.
“Jadi wajar kalau aku tidak mau kalah.”
Damar menambahkan pelan.
“Aku juga.”
Rania menutup wajahnya dengan tangan.
“Kalian ini benar-benar…”
Namun jauh di dalam hatinya…
Perasaan hangat mulai tumbuh perlahan.
Sudah lama sekali tidak ada orang yang memperjuangkan dirinya seperti ini.
Namun di saat yang sama, ia juga tahu satu hal.
Cepat atau lambat…
Ia harus memilih.
Karena dua pria ini jelas tidak akan mundur begitu saja.
Dan pertarungan cinta di antara mereka… baru saja mulai memanas.