NovelToon NovelToon
Hello Panda

Hello Panda

Status: sedang berlangsung
Genre:SPYxFAMILY / Anak Genius / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:428
Nilai: 5
Nama Author: Dena Tan

Di mata dunia, mereka hanya keluarga kecil yang bahagia: Chiko si karyawan kantor yang penakut, Mila si ibu rumah tangga yang lembut, dan Lala si kecil berusia empat tahun yang konyol dan menggemaskan.


Namun, di balik pintu rumah mereka, kebenaran tersembunyi dengan rapat:


Chiko Leonhart: CEO miliarder yang sedang menyamar untuk menghancurkan musuh bisnisnya.


Mila Leonhart: Viper, ketua mafia legendaris yang menguasai dunia bawah tanah.


Lala Leonhart: Subjek eksperimen rahasia ber-IQ 210 yang menyembunyikan kejeniusannya di balik kecintaannya pada biskuit panda.


Disatukan oleh ketidaksengajaan dan takdir yang rumit, ketiganya saling menyembunyikan identitas asli demi menjaga misi masing-masing.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dena Tan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Teman Baru dan Pengawal yang Membingungkan

KRAK-KRAK!

Plafon di sudut kelas mendadak retak hebat. Kayu dan gypsum berhamburan jatuh ke lantai, disusul oleh tiga sosok berseragam taktis hitam yang melompat turun dengan senjata laras panjang terkokang. Para murid TK langsung menjerit histeris, meringkuk di bawah meja masing-masing sambil menangis ketakutan.

"Jangan bergerak! Angkat tangan!" bentak pemimpin penyusup itu dengan suara garang, mengarahkan senjatanya ke arah guru dan murid.

Namun, sebelum mereka sempat melangkah lebih jauh, sebuah benda kecil berwarna perak meluncur deras dari lorong ventilasi atas dengan kecepatan kilat.

SRAASH!

Pisau lempar berbilah tipis itu menancap sempurna tepat di gagang senjata sang pemimpin penyusup, melucuti senjatanya seketika dan membuatnya terpental membentur dinding akibat hantaman mekanis yang luar biasa kuat.

"Argh! Siapa itu?!" teriak sang pemimpin kesakitan sambil memegang tangannya yang kebasahan darah dingin.

Dari atas jendela kelas, sesosok bayangan ramping berpakaian kasual melompat masuk dengan anggun. Mila berdiri tegak, matanya memancarkan aura dingin sang Viper dunia bawah tanah. Senyum manis seorang ibu rumah tangga telah sirna sepenuhnya, digantikan oleh tatapan maut yang siap menghabisi siapa saja yang berani mengancam keselamatan putrinya.

Di saat yang sama, pintu depan kelas terbuka dengan bantingan keras.

Chiko berdiri di ambang pintu, napasnya sedikit terengah-engah dengan kacamata tebalnya yang agak miring. Meskipun posturnya tampak seperti pegawai kantor biasa, sorot mata tajam seorang CEO berdarah dingin terpancar jelas. Di tangannya, sebuah alat peretas portabel memancarkan cahaya merah terang yang melumpuhkan seluruh komunikasi radio para penyusup.

"Kalian..." geram salah satu penyusup, mengangkat senjatanya ke arah Chiko dan Mila.

Tetapi sebelum mereka sempat menarik pelatuk, Lala yang duduk manis di barisan depan melirik ke arah kotak pensil panda miliknya. Jemari mungilnya menekan tombol mikro secara diam-diam.

BZZZZT!

Kapsul EMP mini yang tersembunyi di bawah lantai melepaskan gelombang kejut elektromagnetik berfrekuensi rendah.

Seketika itu juga, seluruh senjata otomatis di tangan para penyusup mengalami korsleting total, mengeluarkan percikan api kecil dan mengunci mekanismenya secara permanen.

"Sial! Senjatanya tidak berfungsi!" seru para penyusup panik.

Mila tidak menyia-nyiakan sepersekian detik pun. Dalam gerakan secepat kilat, ia menerjang maju, melayangkan tendangan putar presisi yang langsung merobohkan dua penyusup sekaligus dalam satu hantaman. Chiko di sisi lain bergerak sigap, mencengkeram kerah baju penyusup terakhir dan membantingnya ke lantai hingga pingsan seketika tanpa ampun.

Hanya dalam waktu sepuluh detik, ketiga penyusup kelas kakap itu sudah terkapar tak berdaya di lantai kelas 'Panda Merah'.

Suasana kelas mendadak sunyi senyap. Ibu Guru Rina terduduk lemas di dekat meja, terlalu syok melihat aksi laga kilat yang baru saja terjadi di depan matanya.

Chiko dan Mila langsung berlari menghampiri meja Lala. Raut wajah garang mereka seketika meleleh, berganti menjadi kepanikan orang tua pada umumnya.

"Lala! Kamu tidak apa-apa, Sayang?!" seru Chiko cemas, berlutut dan memeriksa seluruh tubuh putrinya.

"Lala tidak terluka, kan? Ada yang sakit?" imbuh Mila penuh kekhawatiran, memeluk tubuh mungil Lala erat-erat ke dadanya.

Lala mendongak, mengerjap-kerjap dengan mata bulatnya yang polos, lalu tersenyum manis sambil menunjukkan kotak pensil pandanya.

"Lala tidak apa-apa, Papa, Bunda!" jawab Lala ceria. "Tadi paman-paman itu jatuh dari atas plafon, mungkin mereka salah naik bus!"

Chiko dan Mila mengembuskan napas lega yang amat panjang, saling berpandangan dengan rasa syukur yang mendalam. Tanpa mereka sadari, petualangan baru di hari pertama sekolah ini baru saja dimulai, dan rahasia besar keluarga Leonhart masih tetap aman di balik senyuman imut sang putri tercinta.

Beberapa menit setelah ketiga penyusup itu dilumpuhkan dan diseret keluar oleh tim keamanan sekolah yang panik, suasana di kelas 'Panda Merah' mulai berangsur tenang. Pihak sekolah mengumumkan bahwa insiden tadi hanyalah "latihan simulasi keamanan tingkat tinggi" agar anak-anak tidak trauma—sebuah alasan konyol yang tentu saja dipercayai oleh para orang tua kaya, meski Chiko dan Mila tahu betul itu omong kosong.

Chiko dan Mila sempat berdebat kecil di luar kelas, saling menuduh dengan sopan kenapa masing-masing bisa ada di lokasi kejadian begitu cepat.

"Papa tadi mau mengantarkan saputangan Lala yang ketinggalan, eh... kebetulan lewat koridor," Chiko beralasan sambil tersenyum canggung dan membetulkan kacamatanya.

"Bunda juga tadi mau membawakan bekal biskuit tambahan buat Lala, jadi langsung lari begitu dengar ada suara gaduh," sahut Mila tak kalah manis dengan kedipan mata polos.

Di dalam hati, masing-masing membatin kekaguman sekaligus kecurigaan atas ketangkasan pasangan mereka. Namun, demi Lala, mereka sepakat untuk membiarkan Lala melanjutkan hari pertamanya di sekolah.

Setelah Chiko dan Mila akhirnya kembali ke area tunggu luar, jam pelajaran menggambar pun dilanjutkan.

Lala duduk kembali di bangkunya, kembali memegang krayon hitam dengan tenang. Namun, di sebelah mejanya, seorang anak laki-laki sebaya berpakaian sangat rapi dengan tatanan rambut klimis mendadak menggeser kursinya mendekat.

Anak itu bernama Arka, putra dari seorang menteri pertahanan yang menjadi target utama serangan kelompok teroris kemarin.

"Kamu... tidak takut sama paman bertopeng tadi?" tanya Arka dengan suara pelan, matanya menatap Lala dengan binar takjub.

Lala menoleh, mengedipkan matanya bulat-bulat. "Kenapa harus takut? Kan ada Papa dan Bunda Lala! Papa dan Bunda Lala itu pahlawan super!"

Arka menatap kotak pensil panda raksasa milik Lala, lalu melihat bando telinga panda di kepala Lala yang bisa bergerak-gerak.

"Orang tuamu keren sekali. Tadi ibumu terbang seperti ninja, dan ayahmu membanting paman jahat itu seperti di film!" puji Arka polos. "Nama aku Arka. Kamu mau jadi temanku?"

Lala tersenyum manis hingga pipinya yang tembam terangkat. "Mau! Nama aku Lala! Kalau Arka mau jadi teman Lala, Arka harus suka biskuit panda ya!"

"Aku suka! Papa aku sering belikan biskuit panda satu lemari!" balas Arka bersemangat.

‘Wah, teman baru Lala ternyata kaya raya dan punya stok biskuit panda satu lemari!’ batin Lala gembira luar biasa. ‘Arka resmi jadi sahabat terbaik Lala nomor satu di sekolah!’

Namun, kegembiraan itu tidak berlangsung lama. Dari luar jendela kelas, tiga orang pria berjas hitam dengan kacamata hitam dan kabel spiral di telinga berdiri kaku menatap ke dalam kelas. Mereka adalah tim pengawal pribadi tingkat tinggi yang disewa khusus oleh keluarga Arka.

Lencana panda di dada Lala mendadak bergetar pelan. Bzz-bzz.

Melalui pindaian lensa pintar mikro di matanya, Lala menganalisis tiga pengawal itu.

‘Pemandangan dari jendela terhalang... frekuensi radio mereka terhubung ke jaringan militer... tapi arah berdiri mereka kaku sekali,’ analisis Lala di dalam hati. ‘Kalau paman-paman berjas itu berdiri di sana terus, mereka menghalangi angin segar masuk ke kelas!’

Lala memutuskan untuk menyelesaikan masalah kecil ini dengan caranya yang menggemaskan.

Lala mengambil sepotong biskuit panda dari kotaknya, melangkah kecil menghampiri jendela, lalu mengetuk kaca pelan. Tok-tok-tok.

Salah satu pengawal bertubuh kekar menunduk, membuka sedikit kacamatanya dan menatap Lala dengan wajah dingin tanpa ekspresi.

"Paman berjas hitam!" panggil Lala manis melalui celah jendela yang terbuka sedikit. "Paman lapar tidak? Lala punya biskuit panda rasa cokelat! Tapi Paman jangan berdiri di situ ya, anginnya tidak bisa masuk ke dalam kelas, kasihan Arka kedinginan!"

Pengawal kekar yang biasa menghadapi pembunuh berdarah dingin itu mendadak tertegun. Matanya berkedip bingung menatap uluran tangan mungil Lala yang menyodorkan sepotong biskuit berbentuk panda.

"A-anak kecil... kami sedang menjalankan tugas pengawalan rahasia—"

"Makan saja, Paman! Biskuit ini ada kekuatan magisnya, bisa bikin paman tersenyum!" potong Lala polos tanpa dosa.

Pengawal itu menghela napas, akhirnya menerima biskuit kecil itu dengan dua jari besarnya yang kaku, lalu menggeser posisinya beberapa langkah ke samping agar tidak menghalangi jendela.

"Terima kasih, Paman! Jangan lupa tersenyum ya!" seru Lala riang sebelum kembali berlari ke bangkunya. Puk-puk-puk!

Arka menatap Lala dengan mata berbinar-binar. "Wah, Lala hebat banget! Paman-paman galak itu biasanya tidak pernah mau geser kalau disuruh Papaku!"

"Kan Lala kasih biskuit panda ajaib!" sahut Lala bangga sambil menepuk dadanya.

Dari kejauhan, melalui teropong jarak jauh di balik pohon taman sekolah, Chiko dan Mila—yang ternyata belum benar-benar pulang dan sama-sama mengintai dari posisi berbeda—tertegun melihat keajaiban putri mereka.

Chiko menurunkan teropongnya sambil tersenyum terharu. ‘Lala benar-benar punya karisma luar biasa. Bahkan pengawal elit militer pun bisa diluluhkan hanya dengan sepotong biskuit.’

Di dahan pohon lain, Mila menyembunyikan pisau lemparnya kembali ke balik jaketnya sambil terkekeh pelan. ‘Anak Bunda memang yang terbaik. Tidak perlu kekerasan kalau bisa diselesaikan dengan keimutan.’

Hari pertama sekolah yang penuh kekacauan itu akhirnya ditutup dengan gelak tawa, teman baru, dan potongan gambar panda berwarna hitam-putih milik Lala yang diberi nilai bintang lima oleh Ibu Guru Rina. Petualangan keluarga Leonhart di dunia persekolahan baru saja membuka lembaran pertamanya!

Bersambung..

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!