Pout for Me, Little Mouse.
Fraülein Keylana Reinhardt, Putri Raja perbankan Jerman, diatur ke dalam pertunangan dengan Julian Donnersmarck -- Seorang miliarder muda dari Berlin yang arogan, pragmatis dan bergaul dengan bebas.
Setelah bertunangan, mereka tinggal bersama di Berlin, Tidak ada satu hari pun tanpa pertikaian. Julian tidak meninggalkan kebiasaan moral yang buruk sedangkan Keylana tak kalah nakal.
Ini tentang Rasionalitas yang terus dipertanyakan dan satu Perasaan yang dianggap tidak penting.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bubble🫧, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sang Putri Yang Patuh
Dia adalah putri sulung keluarga Reinhardt yang terhormat, darah mereka bersinggungan dengan darah bangsawan kuno. Hidup mereka bukan hanya tentang dirinya tapi juga tentang kehormatan dari nama yang mereka bawa.
Sebagai tuan putri yang patuh, dia telah dibentuk menjadi seorang wanita yang baik. Berbicara saat dibutuhkan, namun diam jika itu diperlukan. Gadis disini di ajari menjadi strategis untuk kebaikan diri mereka sendiri.
Di waktu kecil, Lana terhitung telah tiga kali di culik saat berusia sembilan tahun. Dia seharusnya menjadi gadis yang senang bermain diluar bersama dan punya banyak teman namun kondisi tersebut membuatnya harus diperhatikan secara ketat dan ketat.
Dalam setiap keterbatasan ada jalan, Lana tidak hanya baik-baik saja sebagai anak yang terisolasi tetapi juga tumbuh dengan sangat riang. Ayahnya tidak pernah tidak tertawa satu hari pun karena hal konyol dari putrinya. Sifat manjanya, tingkah laku tak terduga dan gerakan riangnya lambat laun mengakar menjadi sebuah identitas.
Apa yang ada di baliknya?
Di baliknya, ada gadis yang berpikir dengan sangat strategis dan berkepala dingin. Di usia remaja, dia menentukan pilihannya sendiri. Menerima lamaran dari pria yang kurang sesuai dalam sebuah komitmen.
Kedua pencuri plum itu kembali ke asrama mereka, Tepatnya milik Lana.
Malam segera datang setelahnya, tempatnya lebih luas dan nyaman daripada kebanyakan kamar asrama disana. Nuansanya warna putih dan pastel, asrama itu adalah salah satu tempat paling aman dan tenang bagi Lana, Julian sendiri terkadang sangat sulit menjangkaunya di tempat ini tanpa membuat keributan yang merepotkan karena penghuninya dikhususkan untuk wanita.
Lana tertidur karena kelelahan setelah mandi karena lelah sementara Brooklyn bermain game di laptop di meja belajar, dia mengejar skor tertinggi Lana. Wajahnya diterangi cahaya layar.
Jam demi jam berlalu sampai pada pukul 19.12 Brooklyn menerima pesan singkat.
Jennifer; Ke hotel xxx.
Jennifer; Khusus untuk kalian, aku yang traktir.
Brooklyn segera berdiri dan mematikan game itu, membalasnya tanpa bertanya pada Lana. Dia berjalan ke lemari mengambil pakaian acak sambil membangunkannya.
"Bangun, kepala ngantuk. Pesta menunggu kita."
Lana menenggelamkan wajahnya ke dalam selimut, mengerang karena tidak ingin diganggu. Brooklyn berdecak mendengar suara malasnya, dia menyelesaikan berpakaian dengan celana panjang dan sweter lalu beranjak membangunkan Lana kembali sambil menghela nafas kesal.
"Bangun Lana! Jenny dan Elara menunggu kita. Ini masih terlalu sore."
Brooklyn menarik Lana yang terus menempelkan tubuh ke kasur dengan keras kepala.
"Mmm.."
"Bangun atau aku akan meninggalkanmu disini!"
"Setelah menjadi pencuri, akan jadi apa kita."
Suaranya mengantuk, Brooklyn melemparkan lengan Lana yang tidak mau bergerak lalu bertolak pinggang.
"Kita akan menjadi gadis keren di bar."
"Kakiku rasanya mau patah, apa yang keren?"
Lana perlahan duduk, rambutnya berantakan dan kusut karena tidur, selimut menggenang di pinggangnya. Matanya menunjukkan kemalasan nyata untuk ide itu.
"Segera bersiap atau aku meninggalkanmu."
Dua gadis yang bersemangat itu pergi ke salah satu hotel bintang lima tercantik bagi gadis-gadis. Brooklyn mengenakan pakaian acak milik Lana sedangkan gadis yang tadinya mengantuk itu kini berambut rapi, lembut dan wangi. Panjang menjuntai hampir ke pinggul, Brooklyn menyebutnya seperti hantu pasar malam.
Pakaian Lana tentunya mudah, Hoodie crop dengan kupluk agar hangat walau rok mini itu menghianati konsep hangat.
Brooklyn turun di depan pintu hotel sementara Lana pergi untuk menyerahkan mobil ke petugas valet. Brooklyn berdiri di dekat sebuah tanaman sejenak untuk menjawab pesan di ponselnya lalu melangkah masuk untuk menuju resepsionis.
Dia baru saja mengangkat satu kakinya untuk menaiki tangga utama hotel. Tiba-tiba dari kejauhan, arah tempat parkir mobil terdengar suara gonggongan anjing yang sangat keras dan bising.
GUK! GUK! GUK!
Brooklyn membeku. Suara derap langkah kaki berlari kencang mendekat dengan sangat heboh. Lana berteriak histeris dari kejauhan.
"BROOKLYNNNN! BUKA PINTUNYA... BUKAAA!"
Dia berlari terbirit-birit dari kegelapan tempat parkir. Bahkan petugas valet sampai mengejarnya karena khawatir. Di belakangnya, seekor anjing penjaga berukuran sedang menggonggong galak membuntutinya.
Beberapa tamu hotel bergaun malam dan berjas rapi yang sedang berdiri di dekat pintu masuk langsung menoleh kaget. Petugas hotel terperangah.
Wajah Brooklyn mendadak merah padam karena malu, berbisik histeris.
"Lana?! Kenapa kau berlari seperti itu?! Jangan kesini! Aku tidak mengenalmu!"
Anjingnya diamankan dan dibantu oleh penjaga. Brooklyn sudah masuk ke dalam karena malu dengan tingkah Lana.
Mereka sampai ke dalam bar dimana para teman sudah menunggu, Jennifer, Elara dan sebagian besar teman-teman dari fakultas hukum dan bisnis.
"Virgin Mojito!"
Lana mengumumkan dengan riang pada pelayan seolah tidak dikejar anjing baru-baru ini. Teman-temannya segera bersorak mengejek pilihannya yang tidak memabukkan dengan baik hati.
Pertemuan antar teman berlangsung menyenangkan, Keylana tidak dilahirkan untuk menjadi periang diantara orang-orang yang kurang penting untuk keperluan bisnisnya ini. Tapi inilah yang dinamakan menikmati udara di tengah keterbatasannya, untuk bergaul tanpa resiko penculikan atau pergaulan bebas.
Lana menerima Mojito itu setelah pelayan meletakkannya, Jam tangan mahalnya yang seharga sebuah rumah mewah di pusat Berlin memantulkan cahaya. Benda yang bisa menyangkal klaimnya sebagai mahasiswa biasa.
Beberapa jam berlalu ketika mereka larut dalam obrolan, Lana menghabiskan beberapa gelas soda sehingga kandung kemihnya penuh.
Dia berjalan keluar untuk mencari toilet, dan setelah urusannya di toilet selesai, secara samar ia mendengar suara, ia mendekati sumber suara itu.
Rupanya bukan suara biasa, Seseorang sedang bertengkar di manapun itu.
Dentuman sepatu Lana bergema pelan di sepanjang lorong, suara meninggikan semakin jelas di setiap langkahnya.