Tiyas adalah seorang istri yang setia dan penuh cinta, namun dunianya hancur seketika saat ia mendapati suaminya, Gio, berselingkuh dengan Mia—yang tak lain adalah saudara sepupunya sendiri. Pengkhianatan berlapis ini meremukkan hatinya, memaksa Tiyas untuk menelan kepahitan dan mengumpulkan serpihan harga dirinya yang tersisa.
Di tengah badai kekecewaan tersebut, takdir mempertemukannya dengan Narendra, yang bernasib serupa sebagai suami Mia yang juga dikhianati. Berawal dari rasa sakit dan luka yang sama, Tiyas dan Narendra perlahan menemukan ruang aman untuk saling menguatkan, menumbuhkan kenyamanan, serta merajut harapan baru di atas reruntuhan masa lalu mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Belum sempat Naren berdiri untuk turun ke bawah, suara langkah kaki di lorong terdengar mendekat.
Tok, tok, tok!
Ibu mengetuk pintu dari luar. "Nduk, apa kamu sudah bangun?"
"Sampun, Bu," sahut Tiyas dari atas tempat tidur, menyandarkan punggungnya pada bantal.
Narendra berdiri dan bergegas membuka pintu kamar.
Di balik pintu, Ibu sudah berdiri anggun membawa nampan kayu yang di atasnya tertata rapi semangkuk bubur terik ayam hangat beraroma rempah gurih, sebotol air hangat, dan secangkir kopi hitam yang uapnya masih membumbung.
"Eh, Ibu," sambut Naren ramah seraya hendak mengambil alih nampan tersebut.
Namun Ibu tersenyum sambil menggelengkan kepala.
"Kamu minum kopi dulu sama Ayah di bawah, Nak. Biar Ibu yang menyuapi putri Ibu ini," tutur Ibu lembut, melirik Tiyas yang tersenyum lega karena mendapat pembelaan dari sang Ibu.
Narendra menganggukkan kepalanya mengiyakan perintah calon mertuanya itu tanpa bantahan.
Ia paham, ada rindu dan rasa cemas seorang ibu yang ingin dituntaskan sendiri pada anak perempuannya.
"Baik kalau begitu, Bu. Naren pamit turun dulu ya, kebetulan bau kopi hitamnya menggoda banget," pamit Naren sopan seraya melirik Tiyas dan mengerjapkan sebelah matanya jahil.
"Ingat ya, Bu, Bu CEO ini dilarang keras pegang laptop atau berkas pekerjaan hari ini."
Ibu terkekeh geli. "Tenang saja, Naren. Ibu yang jaga pintu depannya nanti."
Naren melangkah keluar kamar lalu menutup pintu pelan, meninggalkan Ibu yang dengan penuh kasih sayang mulai mengaduk perlahan bubur terik ayam hangat untuk menyuapi putri kesayangannya.
Ibu mulai menyuapi Tiyas dengan penuh kehati-hatian.
Suapan demi suapan bubur terik ayam hangat diterima Tiyas dengan lahap.
Di tengah keheningan kamar yang tenang, Ibu menatap wajah putrinya dalam-dalam, memastikan tak ada lagi keraguan yang tersisa di sana.
"Kamu sudah yakin sama Narendra, Nduk?" tanya Ibu lembut, memastikan pilihan hati sang anak setelah semua badai yang telah berlalu.
Tiyas menganggukkan kepalanya tanpa ada rasa ragu sedikit pun di matanya.
"Sampun, Bu. Tiyas yakin banget sama Mas Naren."
Ibu tersenyum tipis, mengusap puncak kepala Tiyas dengan lembut seraya memberikan tegukan air hangat.
Dinding kecemasan dalam diri sang Ibu akhirnya runtuh, digantikan oleh kepasrahan dan kebahagiaan melihat senyum tulus yang kembali mekar di wajah anaknya.
Sementara itu di bawah, Ayah sedang menikmati kopinya bersama Narendra di teras belakang yang asri.
Suasana hangat meliputi perbincangan dua pria beda generasi tersebut.
Ayah meletakkan cangkir kopinya kembali ke tatakan, lalu menatap Naren dengan raut wajah serius namun bersahabat.
"Jadi, kapan kalian menikah?" tanya Ayah langsung pada intinya.
Narendra menegakkan posisi duduknya, menatap calon mertuanya dengan penuh rasa hormat dan kesungguhan.
"Rencananya setelah masa idah Tiyas selesai secara hukum dan agama, Pak," jawab Narendra mantap.
"Kami tidak ingin terburu-buru hingga melanggar aturan, tapi kami juga tidak ingin menunda terlalu lama. Begitu masa idah Tiyas genap berakhir, saya akan langsung membawa keluarga besar saya untuk menggelar akad dan syukuran pernikahan kami."
Ayah Tiyas manggut-manggut mendengar jawaban bijak dan tegas dari Naren.
"Bagus kalau begitu, Naren. Bapak menghargai niat baik dan ketaatanmu pada aturan. Yang penting semua dipersiapkan dengan matang, dan kamu bisa terus menjaga Tiyas seperti sekarang."
Setelah menyuapi Tiyas, Ibu turun ke lantai bawah dan ikut duduk bergabung bersama mereka di meja teras.
"Apakah Tiyas mau makan, Bu?" tanya Naren penuh perhatian begitu melihat calon ibu mertuanya mendekat.
Ibu tersenyum lega sambil meletakkan mangkuk kosong di atas meja.
"Alhamdulillah, sudah habis. Bubur terik ayamnya lahap banget ditelan sama Tiyas."
Narendra mengembuskan napas lega mendengar kabar itu.
Namun, raut wajah Ibu perlahan berubah menjadi lebih serius dan penuh rasa haru.
Beliau menatap Naren dengan tatapan teduh seorang ibu yang menggantungkan harapan besar.
"Naren, Ibu sama Bapak titip Tiyas, ya." ujar Ibu lirih, suaranya terdengar sedikit bergetar.
Naren mengangguk mantap. "Pasti, Bu. Naren akan selalu jaga Tiyas."
Ibu menghela napas panjang, mengenang masa-masa sulit yang pernah melanda putrinya dulu.
"Mungkin kamu penasaran kenapa Tiyas bisa mendadak pingsan sampai drop begitu kemarin," buka Ibu perlahan.
"Sebenarnya, Tiyas punya riwayat penyakit yang cukup serius waktu dia masih duduk di bangku SMA. Dulu, tekanan darahnya sering sekali anjlok sampai pada level yang berbahaya karena dia tipe anak yang kalau punya beban pikiran atau stres selalu dipendam sendiri."
Ibu mengusap sudut matanya yang sedikit basah. "Pernah suatu hari pas ujian sekolah, dia terlalu memaksakan diri belajar sampai lupa makan dan kurang tidur. Tiba-tiba dia pingsan di sekolah dan tidak sadarkan diri sampai hampir dua hari di rumah sakit. Dokter bilang, saraf dan pembuluh darahnya sangat sensitif terhadap stres berlebih. Kalau pikiran dan fisiknya terlalu lelah, tubuhnya otomatis 'mematikan diri' atau pingsan sebagai reaksi perlindungan."
Ayah yang duduk di samping Ibu menepuk pelan punggung tangan istrinya, menguatkan.
"Makanya, waktu kemarin dapat kabar Tiyas pingsan lagi di UGD, jantung Ibu rasanya mau copot," lanjut Ibu menatap Naren dalam-dalam.
"Ibu takut riwayat lamanya itu kambuh parah lagi. Tiyas itu anak yang sok kuat, Naren. Dia jarang mau mengeluh. Kalau dia bilang 'nggak apa-apa', itu artinya dia sedang menahan beban yang sangat berat. Jadi Ibu mohon, tolong jangan biarkan dia terlalu lelah atau menghadapi masalah sendirian lagi."
Mendengar cerita tulus dan riwayat medis Tiyas dari sang Ibu, dada Narendra berdesir hebat. Rasa protektif dalam dirinya kian membuncah.
"Terima kasih sudah mau cerita sama Naren, Bu, Pak," balas Naren dengan nada tegas dan penuh rasa tanggung jawab.
"Naren janji, Naren nggak akan biarkan Tiyas menanggung beban sendirian lagi. Naren akan pastikan Tiyas selalu merasa aman dan bahagia di samping Naren."
"Lagi membicarakan aku, ya?" suara lembut Tiyas mendadak terdengar dari arah pintu belakang. Wanita itu berdiri di sana sambil menyandarkan tubuhnya pada kusen pintu, tersenyum jahil melihat ketiga orang terdekatnya sedang berkumpul rapat.
Sontak mereka bertiga menoleh bersamaan saat melihat Tiyas.
"Aduh, bandelnya calon istriku ini!" seru Narendra refleks bangkit dari kursinya. Tanpa membuang waktu, Naren melangkah cepat menghampiri Tiyas.
"Naren, aku cuma mau—"
Belum sempat Tiyas menyelesaikan kalimatnya, Narendra sudah lebih dulu memotong ucapan itu.
Tanpa aba-aba, Narendra langsung membopong tubuh Tiyas ke dalam dekapannya dan membawanya kembali naik ke kamar atas.
Tiyas hanya bisa memekik pelan seraya tertawa dan mengalungkan tangannya rapat-rapat di leher Naren.
Di teras belakang, Ayah menyaksikan tingkah sejoli itu dengan geleng-geleng kepala.
Ayah tertawa kecil, menatap kepergian calon menantunya yang begitu protektif.
"Seperti kita dulu ya, Bu?" goda Ayah seraya melirik sang istri dengan senyum jenaka di bibirnya.
Ibu yang mendengarnya langsung merona, lalu mencubit lengan Ayah gemas.
"Hush! Ayah, ini ada-ada saja, ingat umur!"
Tawa renyah Ayah pun pecah di teras pagi itu, memecah segala kecemasan yang sempat membayang, digantikan oleh kehangatan keluarga yang telah lama tak mereka rasakan.
udh jgain tiyas,posesif bgt smp ga bleh ngpa2in slain istrhat...sm clon mrtua pun ga pelit.....😀😀😀
sokooorrr.....😛😛😛
udh dpt rstu dr shbt n ortumu...mga kali ni klian bhgia,ga ada pngkhianatan lg sprti msa lalu....
aku udh mmpir...slm knal.....
crtanya seru,suka sm tiyas yg tegas dn tngguh....mga bhgia trs sm naren....😘😘😘