NovelToon NovelToon
The CEO'S Speed Limit

The CEO'S Speed Limit

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / CEO
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: seasoulune

Raelyn Elamora, mahasiswi cerdas yang keras kepala dan doyan balapan liar, mendadak lemas saat sang papa menjodohkannya demi melunasi utang. Calon suaminya adalah Alvarez Arran Danadiaksa CEO muda super dingin dan cekatan yang menguasai bisnis sekota. Raelyn bersumpah tidak akan tunduk pada si "balok es," sementara Alvarez punya seribu cara pintar untuk menjinakkan istri liarnya. Apakah si kepala batu bisa meluluhkan hati si raja es?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon seasoulune, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 22

Jarum jam menunjukkan pukul tujuh malam ketika hawa canggung di dalam kamar utama masih belum sepenuhnya mencair. Namun, perut tidak bisa diajak berkompromi. Suara ketukan pintu dari ART yang memberitahukan bahwa makan malam sudah siap memaksa Raelyn dan Alvarez untuk keluar dari zona nyaman mereka.

Raelyn melangkah keluar kamar dengan sangat pelan. Selain karena kakinya yang masih sedikit perih, rasa malunya akibat insiden kecupan siang tadi membuat langkahnya terasa berat.

Di sampingnya, Alvarez berjalan dengan santai, namun tangan kirinya tetap siaga menggandeng jemari Raelyn, memastikan istrinya tidak salah pijak.

Begitu mereka sampai di ruang makan, suasana hangat langsung menyambut. Papa dan Mama Alvarez sudah duduk di kursi masing-masing. Di atas meja, tersaji fuyunghai, ayam kuluyuk, dan sup jagung kepiting yang mengepulkan asap tipis.

"Nah, ini dia pasangan muda kita. Sini duduk, sayang," panggil mama Alvarez dengan senyum yang terlalu lebar jenis senyuman yang membuat Raelyn langsung tahu bahwa gosip siang tadi masih segar di ingatan sang mertua.

Raelyn duduk di kursi bar dengan gerakan canggung. Alvarez mengambil tempat di sebelahnya, langsung menyendokkan nasi dan lauk ke piring Raelyn tanpa diminta.

Suasana awalnya berjalan normal sampai mereka mulai menyantap makanan. Papa Alvarez yang sejak tadi fokus pada ayam bakarnya tiba-tiba meletakkan sendok dan garpunya. Dia menatap anak laki-lakinya dengan ekspresi wajah yang mendadak sangat serius.

"Al, Papa cuma mau ingatkan satu hal," ucap sang papa dengan nada baritonnya yang tegas.

Alvarez mendongak tenang. "Apa, Pah?"

"Kamu jangan kasar-kasar, Al, kalau lagi main. Ingat, Raelyn itu kakinya masih sakit, tangannya juga belum sembuh total," ucap sang papa tiba-tiba dengan wajah polos tanpa dosa, merujuk pada adegan ciuman panas di atas kasur yang diceritakan istrinya siang tadi.

Uhuk! Uhuk! Uhuk!

Detik itu juga, Raelyn yang baru saja menelan sepotong ayam langsung tersedak hebat. Wajahnya dalam sekejap berubah menjadi merah keunguan karena batuk-batuk yang tidak bisa ditahan. Matanya melotot sempurna menatap sang papa mertua.

Kalimat frontal dan ambigu yang keluar dari mulut pria paruh baya itu benar-benar menghantam telak sistem pernapasannya.

"Pelan-pelan, sayang," ucap Alvarez dengan nada suara yang teramat lembut dan tenang.

Dengan sigap, Alvarez langsung menyodorkan segelas air putih hangat ke bibir Raelyn. Sementara tangan kirinya memegang gelas, telapak tangan kanannya bergerak refleks mengusap-usap punggung Raelyn dengan gerakan memutar yang sangat telaten demi meredakan rasa tersedaknya.

Raelyn buru-buru meminum air itu hingga habis setengah gelas. Namun, begitu batuknya mereda, fokus Raelyn justru terdistraksi total oleh satu kata yang baru saja keluar dari mulut suaminya.

Sayang? Maksud lo apa panggil gue sayang di depan orang tua lo?! jerit Raelyn dalam hati.

Raelyn langsung menoleh patah-patah ke arah Alvarez. Dia melirik tajam sembari memicingkan kedua matanya, memberikan tatapan mengintimidasi yang seakan-akan bertanya, 'Apa-apaan maksud lo panggil gue begitu?!'

Alvarez yang ditatap seperti itu sama sekali tidak bergeming. Pria itu justru membalas tatapan mata Raelyn dengan seulas senyuman tipis yang sangat menyebalkan di sudut bibirnya, lalu kembali mengusap rambut cepol Raelyn dengan santai seolah tindakan itu adalah hal paling alami yang biasa mereka lakukan setiap hari.

Gak anak, gak bapak, ternyata sama aja! Hobinya bikin orang jantungan terus kalau ngomong! umpat Raelyn dalam hati, meratapi nasib jantungnya yang malam ini benar-benar dipaksa bekerja rodi karena salah tingkah tingkat tinggi.

Mama Alvarez yang melihat interaksi "manis" di depan matanya langsung menopang dagu dengan kedua tangan, matanya berbinar-binar penuh kesenangan.

"Oh ya, Al, Raelyn... Mama baru ingat sesuatu. Kalian kan sejak nikah tiga bulan lalu belum pernah pergi liburan berdua sama sekali? Gimana kalau kalian pergi liburan bulan madu (honeymoon) kemana gitu? Biar suasananya lebih mendukung," usul sang mama tiba-tiba, melemparkan bom waktu baru di tengah meja makan.

Mendengar kata 'honeymoon', Raelyn hampir saja tersedak air putih yang baru dia minum. Dia buru-buru meletakkan gelasnya dan menggelengkan kepala cepat.

"Gak bisa, Mah. Skripsi aku belum selesai," tolak Raelyn, menggunakan tameng tugas akhir kuliahnya sebagai alasan penyelamat darurat.

"Kapan selesainya, sayang? Masa semenjak nikah kalian belum ada waktu berdua buat liburan sama sekali? Kerjaaaan terus yang dipikirin," keluh sang mama sambil merengut manis, menatap anak dan menantunya bergantian.

"Tiga bulan lagi, Mah. Baru bisa sidang dan kelulusan," jawab Raelyn, memberikan estimasi waktu yang paling aman menurut perhitungannya.

"Lama banget..." sahut sang mama, mendesah kecewa.

Namun, dalam hitungan detik, ekspresi wajah wanita paruh baya itu kembali berubah menjadi sangat bersemangat.

"Yaudah, pokoknya setelah skripsi kamu selesai dan kamu lulus kuliah, kalian harus langsung pergi liburan honeymoon ya! Mama yang bakal atur semua akomodasi dan tiketnya, kalian tinggal terima beres!"

Raelyn tidak bisa membantah lagi. Menghadapi sifat mama mertuanya yang sangat dominan, dia hanya bisa mengulas senyum palsu yang kaku, melirik ke arah Alvarez dengan pandangan meminta pertolongan. Namun, suaminya itu justru mengangguk setuju.

"Iya, Mah. Nanti setelah Raelyn lulus, aku yang akan luangkan waktu."

Wah, bener-bener cari mati nih cowok! batin Raelyn gemas.

...----------------...

Setelah makan malam yang penuh dengan ketegangan itu selesai, mereka berempat memutuskan untuk bersantai sejenak di ruang tengah. Papa dan Mama Alvarez sedang asyik menonton acara televisi, sementara Raelyn dan Alvarez duduk berdampingan di sofa panjang yang sama.

Karena jarak mereka yang cukup dekat, kaki kanan Alvarez yang panjang tanpa sengaja bersentuhan dengan kaki kiri Raelyn yang dibalut perban.

Merasakan sentuhan itu, Raelyn refleks menggeser kakinya menjauh. Namun, Alvarez justru dengan sengaja menggeser kembali kakinya, menempelkan betisnya yang kokoh ke betis Raelyn di bawah meja sofa.

Raelyn menoleh cepat, menatap Alvarez dengan pandangan penuh ancaman. Dia menggunakan tangan kirinya yang bebas untuk mencubit paha Alvarez dengan keras di balik kain celananya.

"Lepasin gak! Sakit tahu!" bisik Raelyn dengan suara yang sangat pelan agar tidak terdengar oleh mertuanya.

Alvarez tidak menunjukkan ekspresi kesakitan sama sekali di wajahnya, padahal cubitan Raelyn cukup kencang. Pria itu justru mengulurkan tangan kanannya ke bawah, menangkap pergelangan tangan Raelyn yang sedang mencubitnya, lalu membawa tangan kecil istrinya itu ke atas pahanya dan menggenggamnya dengan sangat erat.

Jari-jari panjang Alvarez menyusup di antara sela-sela jari Raelyn, mengunci genggaman mereka dengan begitu pas.

"Diamlah. Kalau kamu terus bergerak, Mama akan curiga dan mengira kita sedang bertengkar," bisik Alvarez pelan, suaranya yang bariton terdengar sangat dekat di samping telinga Raelyn, menyebarkan sensasi menggelitik yang aneh di tengkuk gadis itu.

Raelyn mencoba menarik tangannya, namun kekuatan genggaman Alvarez terlalu kuat untuk dia lawan. Alhasil, sepanjang malam itu, di bawah pengawasan kedua mertuanya yang asyik menonton TV, Raelyn terpaksa harus duduk diam dengan tangan yang digenggam erat oleh Alvarez di atas paha pria itu.

Sentuhan tangan hangat suaminya yang sesekali ibu jarinya mengusap punggung tangan Raelyn dengan lembut benar-benar sukses membuat fokus Raelyn hancur lebur.

Setiap kali mata mereka tidak sengaja bertemu, Alvarez selalu menatapnya dengan binar jenaka yang seolah berkata, 'Kamu tidak bisa kabur lagi, Raelyn.'

Dan untuk kesekian kalinya hari ini, gadis tegas yang biasanya tidak pernah mau kalah itu hanya bisa pasrah, membiarkan debaran bising di dadanya kembali bergemuruh gila di tengah keheningan malam tawang.

1
Muchammad Shobris
bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!