NovelToon NovelToon
Hantu Tampan Yang Tinggal Disebuah Patung

Hantu Tampan Yang Tinggal Disebuah Patung

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mata Batin / Hantu
Popularitas:726
Nilai: 5
Nama Author: Widianti dia

Leonel adalah seorang hantu yang bersemayam di dalam patung.
Keberadaannya sudah bertahun-tahun lamanya dan tidak pernah keluar menampakkan wujudnya pada siapa pun.
Sampai suatu hari ada seorang wanita yang mengusik keberadaannya, sehingga dia terpaksa keluar dan menampakkan wujud aslinya, seorang hantu tapi tampan meskipun dengan wajah pucat, dia memang tidak bisa dilihat oleh mata awam kecuali orang itu sama energinya dengan hantu Leo, pasti manusia itu akan melihatnya seperti wanita yang mengusiknya hari itu ternyata sama energinya dengan hantu leo.
jadi siapakah yang bisa melihat leonel.

kalau mau tau ikutin kisahnya ya teman-teman ☺️🙏

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Widianti dia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32.

Dia kembali mendorong kursi roda itu dengan santai namun cepat, berusaha terlihat biasa saja seolah tidak membawa barang curian yang sangat berharga dan berbahaya di dalamnya.

Langit di luar semakin gelap. Matahari benar-benar sudah tenggelam, digantikan oleh kegelapan malam yang pekat. Suasana rumah sakit yang biasanya ramai, kini perlahan berubah menjadi sunyi dan mencekam.

Mereka bertiga meninggalkan area gudang dan kamar mayat itu, berjalan menyusuri lorong-lorong panjang yang kini terasa jauh lebih dingin dan sepi dari biasanya.

Namun, sesuatu yang aneh mulai terjadi.

Di sudut-sudut koridor, di balik pintu-pintu yang terbuka sedikit, dan bahkan berjalan beriringan di samping mereka... mulai terlihat bayang-bayang samar. Bentuknya seperti manusia, tapi ada yang transparan, ada yang tampak nyata namun berjalan tanpa suara.

Arwah-arwah itu mulai berkeliaran bebas di lorong itu.

Jantung Dimas dan Putra seketika berdegup kencang. Mereka ingin berteriak atau bertanya, tapi Arun lebih dulu memberi kode dengan wajah panik.

"Pak Dimas... Putra..." bisik Arun sangat pelan, hampir tak terdengar, matanya menatap lurus ke depan tanpa berani menoleh. "Ingat pesan Leo... siapapun yang ada di depan atau di samping kita nanti, jangan sampai ditegur, jangan dilihat lama-lama, dan diam saja!"

"Mereka... mereka bukan manusia," lanjut Arun gemetar. "Itu para penghuni yang mulai keluar saat malam tiba. Kalau kita respon atau takut, mereka bisa sadar kalau kita bisa melihat mereka. Bahaya!"

Dimas dan Putra menelan ludah kasar. Mereka saling pegang tangan erat-erat di belakang. Wajah mereka pucat pasi melihat kenyataan bahwa sekarang mereka sedang berjalan di tengah-tengah kerumunan makhluk halus yang sedang lalu lalang.

"Jalan terus... pura-pura gak lihat apa-apa..." perintah Arun lagi dengan napas tertahan.

Mereka pun terus berjalan, berusaha tetap tenang meski bulu kuduk mereka berdiri seluruhnya. Di sebelah kiri mereka lewat sesosok wanita berbaju putih tapi kepalanya terbalik, di depan ada sosok pria tinggi besar yang melayang sedikit di atas lantai.

Sungguh ujian saraf yang luar biasa. Mereka harus berpura-pura buta dan tuli di tengah-tengah dunia lain yang terbuka di hadapan mereka.

Dimas yang berjalan mendorong kursi roda Arun, jantungnya berdegup kencang bak genderang perang. Selama ini dia adalah tipe orang yang sangat logis, tidak percaya hal-hal gaib, dan selalu berpikir dengan akal sehat.

Namun hari ini... realitas yang dia lihat menghancurkan semua prinsipnya.

"Astaga... ini beneran nyata..." batin Dimas gemetar, matanya terpaku tajam ke depan, berusaha tidak menoleh sedikit pun ke samping. "Gak nyangka... gak nyangka sama sekali selama ini aku jalan di tempat yang sama sama mereka, tapi gak pernah lihat."

Dia benar-benar syok. Di sebelah kanannya, jelas terlihat sosok pria berbaju pasien rumah sakit yang berjalan sambil memegang kepalanya sendiri. Di depannya, ada sesosok suster yang melayang beberapa sentimeter dari lantai, wajahnya pucat dan kosong.

Mereka semua... arwah-arwah penasaran yang selama ini hanya ada di cerita dongeng, kini berjalan beriringan persis di samping mereka.

"Jangan dilihat Pak... jangan dilihat..." bisik Putra dengan suara parau di sampingnya, tangannya mencengkeram lengan Dimas kuat-kuat. "Pura-pura biasa aja, jangan tunjukkan kalau kita takut."

Dimas mengangguk pelan, keringat dingin membasahi seluruh punggungnya meski udara AC terasa dingin. Dia baru menyadari betapa sempitnya dunia ini, betapa dekatnya dimensi lain dengan kehidupan mereka sehari-hari.

Dan yang paling membuatnya merinding... beberapa dari arwah itu terlihat menoleh, seolah mencium keberadaan mereka yang masih hidup. Tatapan mata kosong itu membuat bulu kuduk Dimas berdiri seluruhnya.

Untunglah Arun sudah memberi peringatan. Mereka bertiga berjalan bagaikan patung, diam seribu bahasa, menundukkan pandangan, dan terus bergerak maju seolah tidak ada apa-apa di sekitar mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!