Ini adalah kisah nyata Rudini, seorang ayah di Cirebon yang divonis stroke. Tidak ada uang, tidak ada pekerjaan, hanya ada seorang anak balita bernama Balqis yang menangis kelaparan di malam hari.
Di rumah yang sama, tinggal seorang nenek janda yang sudah tua dan tak berdaya. Dengan stok beras nol dan popok anak yang tinggal dua lembar, "Ayah Balqis" mencatat perjuangan seorang pria yang tubuhnya stroke, namun hatinya menolak menyerah demi senyum buah hatinya.
Bukan fiksi. Ini adalah teriakan harapan dari Desa Cilukrak. Sebuah catatan hariantentang lapar, sakit, doa, dan cinta seorang ayah yang tak terbatas.
Kisah ini ditulis sebagai bentuk ikhtiar dan doa agar Balqis bisa makan, Ayah bisa terapi, dan Ibu bisa tenang. Mohon doa dan dukungannya dari para pembaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayah Balqis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5: Obat Habis & Warung Tetangga
Pagi itu, matahari bersinar terik, seolah mengejek kondisi kami. Balqis sudah bangun, tapi wajahnya masih pucat. Demamnya turun naik semalaman. Botol obat sirup yang diberikan Bu Siti kemarin malam sudah kosong, tinggal setetes pun tidak ada.
Aku merogoh saku celana. Hanya ada selembar uang lima belas ribu rupiah yang lusuh. Itu adalah sisa uang untuk makan kami berdua hari ini. Tapi apa daya? Obat lebih penting daripada nasi. Nasi bisa diganti dengan air putih sebentar, tapi demam Balqis tidak bisa menunggu.
“Balqis, Ayah keluar sebentar ya. Beli obat,” ucapku sambil membelai rambutnya yang lepek oleh keringat.
“Ayah jalan hati-hati,” bisiknya lemah sambil menggenggam ujung bajuku.
Hatiku mencelos. Anak sekecil itu sudah mengerti betapa sulitnya ayah mereka berjalan.
Dengan tongkat penyangga di tangan kanan dan kaki kiri yang menyeret, aku melangkah keluar rumah. Setiap langkah adalah perjuangan. Kaki kananku yang kaku seperti balok kayu, hanya bisa diseret maju sedikit demi sedikit. Keringat dingin segera membasahi pelipisku meski baru beberapa meter dari pintu.
Jarak ke warung Bu Minah di ujung gang hanya sekitar 200 meter. Bagi orang sehat, itu cuma dua menit jalan kaki. Bagiku? Itu seperti menempuh perjalanan lintas provinsi.
*Seret… henti… napas… seret… henti… napas…*
Orang-orang yang lewat menatapku. Ada yang kasihan, ada yang sekadar melihat lalu berlalu. Aku mencoba menunduk, malu. Dulu, sebelum stroke, aku adalah manajer pemasaran yang selalu rapi berdasi, berjalan cepat, dan disegani. Kini? Aku hanyalah pria lumpuh yang berjalan miring, mengenakan kaos oblong bekas dan celana pendek yang longgar.
Tiba-tiba, sebuah mobil pick-up berhenti di pinggir jalan, tepat di sampingku. Debu beterbangan. Aku tersentak kaget, hampir kehilangan keseimbangan.
“Pak Rudini? Pak Rudini, benar?”
Suara itu terdengar familiar. Aku mendongak. Dari dalam kabin, seorang pria paruh baya turun. Ia mengenakan kemeja flanel dan topi pet. Wajahnya… astaga. Itu Pak Hendra. Dulu dia staf magang di kantorku. Dulu dia sering saya marahi karena laporan yang telat. Dulu dia takut setengah mati pada saya.
Wajahku panas seketika. Rasa malu itu begitu hebat hingga aku ingin menghilang ditelan bumi. Bagaimana mungkin mantan atasan yang dulu galak, kini terlihat seperti pengemis di matanya?
“P-Pak Hendra…” suaraku tercekat. Aku berusaha berdiri tegak, tapi kakiku gemetar. “Iya… saya Rudini.”
Pak Hendra tidak menjauh. Ia justru mendekat, matanya berkaca-kaca melihat kondisi kakiku yang diseret paksa.
“Ya Allah, Pak… Ini benar-benar Bapak?” tanyanya tak percaya. “Saya dengar dari teman-teman kantor lama kalau Bapak sakit, tapi saya kira cuma gosip. Ternyata… ternyata begini kondisinya.”
Aku hanya bisa tersenyum pahit, menatap tanah. “Iya, Nak. Stroke tiga tahun lalu. Sekarang jadi begini.”
Pak Hendra tiba-tiba membungkuk, memegang tangan kiriku yang gemetar. “Bapak mau ke mana? Saya antar saja. Jangan jalan kaki begini, Bahaya!”
“Tidak… tidak usah repot-repot,” tolakku halus. “Saya cuma mau ke warung Bu Minah di depan. Beli obat anak.”
“Obat? Balqis sakit?” tanya Pak Hendra cepat.
“Iya. Demam.”
Tanpa banyak bicara, Pak Hendra merangkul pinggangku. “Ayo, Pak. Saya gendong ke warung. Nanti saya belikan sekalian. Anggap saja ini balas jasa Bapak dulu pernah kasih saya kesempatan kerja.”
“Tidak, Nak. Saya punya uang,” protesku sambil menunjukkan uang lima belas ribu di tangan.
Pak Hendra tertawa kecil, tapi matanya sedih. “Uang Bapak simpan saja buat beli susu Balqis. Hari ini, izinkan saya yang traktir.”
Dengan susah payah, ia membantu saya berjalan lebih cepat menuju warung. Orang-orang yang melihat kami berduaan—seorang pria sukses menggendong pria lumpuh—mulai berbisik-bisik. Tapi kali ini, bisikan itu tidak terasa menyakitkan. Malah terasa hangat.
Sesampainya di warung, Pak Hendra tidak hanya membeli paracetamol. Ia membeli madu, vitamin, bahkan sekantong besar beras dan lauk pauk.
“Ini untuk Balqis,” katanya sambil menyerahkan kantong plastik itu padaku saat kami kembali ke depan rumah. “Dan ini…” Ia menyelipkan selembar uang merah seratus ribu rupiah ke saku celanaku. “Jangan ditolak, Pak. Ini rezeki anak saya juga. Doakan saja biar anak saya sehat dan pintar seperti Balqis.”
Air mataku tumpah lagi. Hari ini adalah hari kedua kalinya dalam seminggu aku menangis karena kebaikan orang lain.
“Terima kasih, Nak Hendra… Saya… saya tidak tahu bagaimana membalas ini,” isakku.
Pak Hendra tersenyum lebar, menepuk bahuku. “Bapak sudah membalasnya, Pak. Dengan cerita-cerita Bapak di novel itu. Istri saya baca, kami sekeluarga nangis bacanya. Cerita Bapak bikin kami sadar kalau kami harus lebih bersyukur. Jadi, justru saya yang berterima kasih pada Bapak.”
Mobil pick-up itu perlahan pergi, meninggalkan debu dan kehangatan yang luar biasa di hati saya.
Aku berdiri terpaku di depan pagar, memeluk kantong obat dan beras itu erat-erat. Langit siang itu terasa sangat biru. Angin terasa sangat sejuk.
Tuhan memang Maha Baik.
Di saat aku merasa paling hina karena keterbatasanku, Tuhan mengirimkan seseorang untuk mengangkat harga diriku kembali.
Di saat aku merasa sendiri, Tuhan mengingatkan bahwa ada ribuan tangan yang siap menolong.
Aku masuk ke rumah, langsung menyeduhkan obat untuk Balqis. Anak itu menelan obatnya tanpa mengeluh, lalu tersenyum melihat kantong beras di meja.
“Ayah dapat rezeki ya?” tanyanya polos.
“Iya, Nak. Rezeki dari teman Ayah. Teman baik,” jawabku sambil mengusap kepalanya.
Malam itu, setelah Balqis tidur pulas dengan suhu tubuh yang mulai normal, saya duduk kembali di depan layar HP saya. Jari-jariku menari lagi di atas layar.
Saya harus menulis bab ini.
Saya harus menceritakan tentang Pak Hendra.
Supaya dunia tahu, bahwa di balik setiap orang yang sedang jatuh, selalu ada tangan-tangan tak terlihat yang siap mengangkatnya.
Satu bab lagi selesai.
Lima bab sudah tayang (atau segera tayang).
Target 20 bab semakin dekat.
Saya tidak sendirian.
Kita tidak sendirian.