"Sabar itu ada batasnya, Laras. Dan batasmu adalah kematianmu sendiri," bisik Dimas tepat di telingaku, saat tangannya dengan lembut mengusap kepalaku yang tertutup hijab.
Di depan semua orang, Dimas adalah suami saleh dan pengacara terpandang yang setia menjaga istrinya yang lumpuh. Namun, di balik pintu kamar, ia adalah iblis yang meracuniku setiap hari. Ia menghancurkan tubuhku demi membalas dendam masa lalu dan menguasai harta warisan orang tuaku untuk wanita lain.
Aku terjebak dalam tubuh yang tak bisa bergerak. Namun, di atas kursi roda ini, aku bersujud dalam hati. Aku berhenti meminum racun itu dan mulai berpura-pura lumpuh. Di saat Dimas merasa telah menang, ia tidak tahu bahwa aku mengawasi setiap langkah busuknya.
Aku memang istri yang kau buang, Dimas. Tapi ingatlah, doa orang yang terzalimi tidak akan pernah terhalang oleh langit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Api di Dalam Kegelapan
Jantungku berpacu begitu cepat hingga rasanya mau melompat keluar dari dada. Telapak tanganku basah oleh keringat dingin. Dari balik tirai kamar lantai dua yang sengaja kumatikan lampunya, aku terus mengawasi sosok berpakaian hitam di halaman belakang. Pria itu bergerak sangat senyap, menuangkan cairan dari jerigen yang dibawanya ke sepanjang dinding luar gudang penyimpanan barang-barang antik almarhum Ayah.
Bau menyengat bensin perlahan tercium sampai ke ventilasi kamarku.
Gila! Paman Ardi benar-benar ingin melenyapkan bukti-bukti sejarah yang disimpan Ayah!
Jika gudang itu terbakar, tidak hanya kenangan orang tuaku yang hangus, tapi seluruh isi rumah ini bisa ikut terpanggang. Dan yang lebih mengerikan, mereka mungkin ingin membuat ini terlihat seperti kecelakaan akibat korsleting listrik saat aku sedang "tertidur lelah" karena depresi.
Aku tidak boleh panik. Aku harus bertindak cepat, tapi tanpa suara.
Sambil mendekap buku harian hitam Ayah dan flashdisk yang baru kutemukan ke dalam dadaku, aku merayap turun dari tempat tidur. Aku menyelinap keluar kamar, menuju kamar Bi Ijah yang terletak di dekat area dapur bersih.
"Bi... Bi Ijah," bisikku pelan seraya mengguncang bahunya.
Bi Ijah tersentak, matanya membelalak kaget melihatku berdiri di depan ranjangnya dalam kegelapan. "N-nyonya Laras? Ada apa—"
Aku segera membekap mulut Bi Ijah dengan lembut. "Ssst... jangan bersuara, Bi. Ada orang jahat di halaman belakang. Dia mau membakar gudang. Sekarang, Bi Ijah lewat pintu samping, lari ke pos satpam perumahan. Bawa bantuan ke sini. Tolong, Bi."
Bi Ijah gemetar hebat, namun melihat tatapan mataku yang begitu tajam dan penuh tekad, dia mengangguk pantap. Dengan langkah mengendap-endap, wanita paruh baya itu berhasil menyelinap keluar melalui pintu koridor samping yang tertutup bayangan pohon.
Setelah Bi Ijah pergi, aku kembali ke ruang tengah. Aku tidak bisa hanya diam menunggu satpam datang. Pria di luar sana sudah mulai memantik korek api. Lewat jendela kaca ruang makan, aku bisa melihat percikan api pertama menyambar dinding gudang. Api kecil itu langsung berkobar, merayap cepat melahap kayu-kayu penyangga gudang tua tersebut.
Amarah mengalahkan rasa takutku. Aku meraih tabung pemadam api kecil yang selalu disiagakan Ayah di dekat dapur. Dengan kedua tangan yang masih sedikit lemas, aku menyeret tabung berat itu, membuka pintu belakang dengan sentakan keras, dan berteriak sekuat tenaga.
"Kebakaran! Maling! Kebakaran!"
Sosok hitam itu tersentak kaget. Dia sama sekali tidak menyangka bahwa aku—wanita yang dikiranya sedang lumpuh dan depresi di atas kasur—bisa berdiri di sana sambil menodongkan tabung pemadam api.
Sebelum dia sempat melarikan diri, aku menarik pin pengaman dan menyemprotkan cairan busa putih itu ke arah kobaran api yang mulai membesar, sekaligus mengarahkannya ke wajah pria misterius itu.
"Uhuk! Sialan!" pria itu terbatuk-batuk, matanya perih terkena semprotan busa.
Dia mencoba merangsek maju untuk merebut tabung itu dariku, namun langkah kaki bersahutan dari arah gerbang depan membuatnya mengurungkan niat. Suara peluit satpam dan teriakan warga sekitar mulai terdengar riuh.
"Hei! Berhenti kamu!" teriak Pak RT yang datang bersama tiga satpam perumahan.
Melihat situasinya berbalik, pria berpakaian hitam itu langsung berbalik arah, melompati pagar belakang yang berbatasan dengan kebun kosong, dan menghilang ke dalam kegelapan malam.
"Nyonya Laras! Anda tidak apa-apa?" Pak RT berlari menghampiriku yang terduduk lemas di tanah, kehabisan napas karena memadamkan sisa api.
"Gudangnya... Pak, tolong pastikan apinya benar-benar padam," bisikku dengan sisa tenagaku.
Beberapa satpam dengan sigap menyiramkan air hingga sisa-sisa api di dinding gudang benar-benar padam. Beruntung, karena aksi cepatku, api belum sempat merembet ke dalam gudang tempat dokumen-dokumen penting Ayah disimpan. Hanya dinding luarnya saja yang menghitam hangus.
Satu jam kemudian, rumahku kembali sunyi, meski ada dua satpam yang kini berjaga di teras depan atas permintaan Pak RT. Aku duduk di sofa ruang tamu dengan segelas teh hangat yang dibuatkan oleh Bi Ijah yang masih syok.
Pak Surya datang tak lama setelah dihubungi oleh satpam. Wajah pengacara senior itu tampak luar biasa tegang.
"Ini sudah keterlaluan, Laras. Ardi sudah bertindak di luar batas kemanusiaan. Ini bukan lagi sekadar sengketa tanah, ini teror," ujar Pak Surya sambil memeriksa dinding luar gudang yang gosong.
"Paman Ardi panik, Pak," ucapku sambil meletakkan cangkir teh. Pandanganku beralih ke buku harian hitam di atas meja. "Dia panik karena rencana Dimas gagal total. Dan dia tahu, di dalam gudang ini atau di dalam rumah ini, ada sesuatu yang bisa menghancurkan reputasinya seumur hidup."
Pak Surya mendekat, menatap buku harian itu dengan kening berkerut. "Apa itu, Laras?"
Aku membuka lembaran buku harian Ayah, tepat pada halaman yang menunjukkan coretan tangan terakhir beliau sebelum mengalami kecelakaan fatal tiga tahun lalu.
"Jika terjadi sesuatu padaku, periksalah file dalam flashdisk perak. Di sana ada rekaman transaksi palsu yang digunakan Ardi untuk menggulingkan perusahaan mitranya, yang menyebabkan ibu Larasati tertekan hingga jatuh sakit dan meninggal dunia. Ardi adalah pembunuh tidak langsung dari istriku."
Napas Pak Surya tertahan. "Ya Allah... jadi almarhumah Ibumu..."
"Ibu meninggal karena depresi berat setelah difitnah oleh perusahaan Paman Ardi, Pak. Ayah menyimpan semua bukti audit forensik digitalnya di dalam flashdisk ini," aku mengangkat benda perak kecil yang berkilau di bawah lampu ruang tamu. "Ini yang dicari Paman Ardi selama tiga tahun ini. Dia mendekatiku, menjadikanku keponakan kesayangannya, bahkan menjodohkanku dengan Dimas, hanya untuk memastikan benda ini tidak pernah ditemukan."
Pak Surya mengepalkan tangannya di atas meja. "Benda ini... jika isinya benar, bisa menyeret Ardi ke dalam penjara atas kasus pencucian uang, korupsi, dan konspirasi tingkat tinggi. Kita harus menyerahkan ini ke Kejaksaan Agung, Laras. Polisi daerah tidak akan cukup kuat menghadapi jaringan Ardi."
Tiba-tiba, ponselku yang tergeletak di samping buku harian bergetar. Sebuah nomor baru memanggil. Aku menekan tombol speaker atas petunjuk Pak Surya.
"Halo, Larasati..." suara berat Paman Ardi terdengar dari balik telepon. Suaranya tidak lagi hangat seperti sore tadi. Suaranya terdengar sangat dingin, penuh dengan ancaman yang menusuk tulang. "Paman dengar rumahmu hampir kebakaran malam ini? Sungguh malang. Untung saja kamu selamat."
Aku mencengkeram ponselku dengan kencang, menahan gemetar di suaraku. "Terima kasih atas perhatiannya, Paman. Tapi sayangnya, tikus yang Paman kirim tidak cukup pintar untuk membakar rumah ini."
Hening sejenak di seberang sana, sebelum terdengar tawa kecil yang sinis.
"Kau rupanya sudah berubah, Laras. Kau bukan lagi gadis kecil yang suka menulis dongeng," ucap Ardi tajam. "Dengar baik-baik, keponakanku yang cantik. Kau mungkin punya flashdisk itu sekarang. Tapi ingat, kau sendirian di rumah besar itu. Simpan benda itu baik-baik, atau bab berikutnya dari hidupmu akan berakhir jauh lebih tragis dari nasib kedua orang tuamu."
Klik. Sambungan diputus sepihak.
Aku menurunkan ponselku dengan perlahan. Wajah Pak Surya mengeras. "Dia terang-terangan mengancammu."
Aku berdiri dari sofa, menatap lurus ke arah foto Ayah dan Ibu di dinding. Rasa takutku sudah habis semalam. Yang tersisa sekarang hanyalah keberanian seorang anak yang ingin menuntut balas atas kematian orang tuanya.
"Dia salah kalau mengira aku sendirian, Pak," ucapku dengan senyuman dingin yang terukir di bibirku. "Aku punya kebenaran. Dan aku punya cara sendiri untuk meruntuhkan kesombongannya."
Aku meraih ponselku kembali dan mengirimkan sebuah pesan singkat ke nomor anonim milik Zaidan.
[Larasati]: "Zai, serigala besar itu baru saja melolong. Dia tahu aku memegang bukti dari Ayah. Mulai besok, kita jalankan naskah yang sesungguhnya. Aku akan memancingnya keluar dari persembunyiannya."
Malam itu, di bawah sisa bau bensin yang menguap, aku tahu bahwa lembaran baru dari Sandiwara Istri yang Terbuang telah resmi ditutup, berganti dengan judul baru di dalam hidupku: Pembalasan Dendam Larasati.