NovelToon NovelToon
Fated Across Borders: Shared Wounds

Fated Across Borders: Shared Wounds

Status: tamat
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Berbaikan / Tamat
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Zildiano R

Merupakan cerita alternatif dari light novel Fated Across Borders; Menceritakan Amayah yang terjebak dalam trauma masa lalu, ia berubah menjadi gadis keras yang melampiaskan lukanya lewat kekerasan dan penindasan.

Brian melihat sisi rapuh di balik sikapnya dan berusaha membantunya keluar dari kegelapan, namun kehadirannya selalu diabaikan seolah tak pernah ada. Di tengah luka yang terus menghantui Amayah, muncul satu pertanyaan: bisakah Brian benar-benar menolongnya, atau kegelapan itu telah menjadi bagian dari dirinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zildiano R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 24.1

"Begitu ya... terima kasih," ucapnya singkat sebelum berpamitan.

Brian berjalan kembali ke rumahnya dengan langkah gontai. Hujan turun semakin deras, memukul payung yang ia genggam hingga menimbulkan suara berisik.

"Amayah pergi dari rumahnya?" tanya Emilia kaget saat melihat Brian kembali.

"Ya. Katanya dia pergi sejak kemarin malam," jawab Brian dengan nada cemas.

"Ke mana?"

"Itu... aku tidak tahu. Tapi mungkin aku bisa menanyakannya pada ibunya."

Brian segera mengeluarkan ponselnya dan menghubungi ibunya.

"Bu, aku ingin meminta nomor Bu Barbara," ucap Brian.

"Ada apa? Kamu mau mengobrol dengan calon mertuamu?" tanya ibunya iseng.

"Maaf, Bu. Tapi ini masalah serius. Aku harus bicara dengannya," jawab Brian tegas.

"Maaf... ibu akan mengirimkannya," kata ibunya.

Setelah menerima kontak Barbara, ibu Amayah, Brian langsung meneleponnya. Saat itu Barbara tengah makan malam bersama rekan kerjanya, namun tetap menjawab panggilan tersebut.

"Amayah pergi dari rumahnya?" tanya Barbara terkejut, meski suaranya berusaha tetap tenang.

"Ya... saya akan menjelaskan nanti. Tapi sekarang saya ingin menemuinya," ucap Brian memohon.

Dengan nada khawatir, Barbara berkata, "Amayah kemungkinan besar berada di Beaufort, kampung halamannya, hanya itu satu-satunya tempat untuknya menenangkan diri...."

"Begitu ya... bisa kirimkan alamatnya?" balas Brian. Ia sedikit lega mengetahui keberadaan Amayah, meski kecemasannya belum sepenuhnya hilang.

"Baiklah, semoga kamu bisa berbaikan dengannya," ujar Barbara lembut.

"Ya," jawab Brian singkat.

Setelah mengetahui lokasi Amayah, Brian segera bergegas menuju Beaufort. Emilia mengantarnya menggunakan mobil yang sama seperti pagi tadi. Brian sempat berniat menggunakan pesawat agar lebih cepat, namun seluruh penerbangan ditunda akibat cuaca buruk.

"Bagaimana dengan Sophia?" tanya Brian di perjalanan.

"Tante sudah memberi tahu Sophia. Cecilia juga akan menjaganya," jawab Emilia santai sambil mulai mengemudi.

"Begitu ya..." balas Brian pelan.

Di sepanjang perjalanan, hati Brian dipenuhi rasa bersalah, sedih, dan khawatir. Dadanya kembali terasa sesak. Mendengar Amayah sampai pergi dari rumahnya membuatnya takut—takut benar-benar kehilangan sosok itu.

"Mengapa kamu bersikeras ingin menemuinya?" tanya Emilia tiba-tiba.

Brian terdiam sejenak, lalu menjawab jujur, "Aku tidak ingin kehilangannya..."

Emilia tersenyum hangat. "Beristirahatlah. Perjalanan kita masih panjang. Tante akan membangunkanmu jika sudah hampir sampai."

Ia menambahkan, "Oh ya, pakai jaket milikmu yang ada di kursi belakang. Tante tadi lupa memberikannya."

"Ya..." balas Brian lirih. Meski hatinya berat, perhatian kecil itu membuatnya merasa sedikit lebih hangat.

Brian menatap keluar jendela mobil. Jalanan basah oleh hujan, memantulkan cahaya lampu—mirip dengan hatinya yang seolah ikut menangis. Ia hanya berharap satu hal: bisa menemui Amayah dan berbaikan dengannya.

 

Berjam-jam perjalanan dari New York menuju Beaufort akhirnya terlewati dari malam, hingga sore lagi. Perjalanan sempat terhenti karena jalanan yang macet akibat kepadatan lalu lintas maupun beberapa gangguan di jalan akibat buruknya cuaca.

Begitu Emilia membangunkan Brian, ia langsung terjaga dan kembali fokus. Dia segera mengarahkan aplikasi peta menuju rumah nenek Amayah.

Beberapa menit kemudian, mereka tiba di sebuah kawasan perumahan.

"Seharusnya dekat dari sini, tapi sepertinya kita harus masuk lewat jalan kecil itu," ujar Brian sambil menunjuk ke sebuah jalan sempit di sisi perumahan.

Setelah memarkirkan mobil di tepi jalan, Brian melangkah cepat menyusuri jalan kecil tersebut. Hujan sudah reda, sehingga ia bisa berjalan tanpa payung. Ia meninggalkan Emilia yang masih melangkah santai di belakangnya. Emilia hanya bisa menggelengkan kepala melihat sikap Brian.

"Brian benar-benar berubah," batin Emilia.

Tak butuh waktu lama, hanya beberapa menit berjalan kaki, mereka akhirnya tiba di sebuah rumah semi-modern. Bangunannya cukup besar, namun tetap tampak sederhana dan hangat. Brian langsung mengetuk pintu.

Sesaat ia terdiam. Perasaan murung menyelinap di benaknya. Bagaimana jika Amayah sebenarnya tidak ada di sini? Pikiran itu membuat dadanya terasa buntu.

Namun kekhawatiran itu terhenti ketika pintu terbuka. Seorang wanita tua berdiri di hadapan mereka.

"Ya, ada apa?" tanya wanita tua itu.

"Apakah benar ini rumah Betty Lorraine?" tanya Brian dengan wajah serius.

Nenek itu menunjukkan ekspresi kebingungan lalu mengangguk pelan. "Ya, benar, itu saya," jawabnya santai.

“Kamu pasti Brian ya?” tanya wanita itu lembut.

“Iya.” Suara Brian terdengar lebih cepat dari biasanya. “Maaf… tapi apakah ada Amayah di sini?”

Betty tidak langsung menjawab. Ia memandangnya beberapa detik, lalu mengangguk pelan. “Dia ada.”

Brian menghela napas panjang, seolah beban besar di dadanya sedikit terangkat. “Boleh aku menemuinya sekarang?”

“Brian,” suara Emilia terdengar dari sampingnya. Ia berdiri dengan tenang, tangannya menyentuh lengan keponakannya. “Tenangkan dirimu dulu.”

“Aku sudah tenang, Tante,” jawab Brian cepat.

“Kamu tidak terlihat seperti itu,” balas Emilia lembut.

Betty tersenyum tipis. “Masuklah dulu. Anak yang datang sejauh ini pantas duduk sebelum bertanya lebih jauh.”

Mereka masuk ke ruang tamu yang hangat dengan aroma teh chamomile. Brian duduk, tapi tubuhnya tetap tegang, seolah siap berdiri kapan saja.

“Aku datang dari New York,” katanya langsung. “Setelah dia pergi, aku tidak bisa menghubunginya. Dia memblokirku.”

“Dia mungkin butuh waktu,” jawab Betty tenang sambil menuangkan teh.

“Aku tidak bermaksud menyakitinya,” kata Brian cepat. “Aku hanya… tidak pandai menunjukkan apa yang kupikirkan.”

Betty menyerahkan cangkir padanya. “Itu sering terjadi pada orang yang terlalu terbiasa menyimpan perasaan.”

Emilia duduk di sebelah Brian. “Dia menyesal,” katanya pelan mewakili keponakannya.

Brian menatap cangkirnya. Uap tipis naik perlahan. “Kami bertengkar. Sepertinya ia merasa aku tidak pernah menghargai usahanya. Bahwa aku selalu dingin.”

“Dan kamu membantahnya?” tanya Betty.

“Aku mengatakan dia berlebihan.” Suara Brian menurun. “Aku bilang aku tidak pernah memintanya melakukan apa pun.”

Betty mengangguk pelan. "Amayah cerita padaku soal kamu dan dirinya. Tapi kata-kata yang benar belum tentu tidak menyakitkan.”

Brian terdiam.

“Amayah memang keras kepala,” lanjut Betty. “Tapi dia anak yang jika peduli, ia akan memberi sepenuh hati. Ia memasak, menunggu, memastikan kamu baik-baik saja. Itu caranya menunjukkan perhatian.”

“Aku tahu,” gumam Brian.

“Apakah kamu pernah mengatakannya padanya?”

Brian mengangkat wajahnya perlahan. “Mengatakan apa?”

“Bahwa kamu menghargainya.”

"Pernah tapi... mungkin belum cukup."

Hening.

Emilia tersenyum kecil, tapi matanya penuh arti. “Kadang, yang orang butuhkan bukan logika. Hanya pengakuan.”

“Aku tidak bermaksud meremehkan,” kata Brian pelan. “Aku hanya berpikir… jika aku tidak meminta, maka dia tidak perlu melakukannya.”

Betty tertawa kecil, lembut. “Anak muda. Perasaan tidak bekerja seperti transaksi.”

“Amayah merasa tidak dihargai bukan karena kamu menolak bantuannya,” lanjut Betty. “Tapi karena kamu tidak pernah menunjukkan bahwa kehadirannya berarti.”

“Aku tidak pernah mengatakan dia tidak berarti,” balas Brian cepat.

“Tapi apakah kamu pernah mengatakan bahwa dia berarti? Atau melakukan sesuatu yang membuatnya merasa seperti itu?"

Pertanyaan itu menggantung lama.

Brian teringat malam-malam ketika Amayah datang membawa makanan. Ketika ia berdiri di teras dengan wajah galak tapi mata cemas. Ketika ia marah karena khawatir. Brian selalu merepotkannya tapi Amayah selalu hadir di sisinya. Semua itu terasa jelas sekarang.

“Aku tidak tahu bagaimana cara mengatakannya,” akunya akhirnya.

“Itu bukan soal tahu atau tidak,” kata Betty lembut. “Itu soal mau atau tidak.”

Emilia menepuk bahu Brian pelan. “Kamu sudah datang sejauh ini. Itu artinya kamu mau.”

Brian menunduk. “Saat dia pergi… rumah terasa kosong.”

“Karena kamu terbiasa,” ujar Betty.

“Bukan hanya itu.” Brian menggeleng pelan. “Aku… merasa ada yang hilang.”

Betty memperhatikannya lama. “Dan itu baru kamu sadari setelah dia benar-benar pergi.”

Brian tidak menyangkal.

“Nak,” suara Betty menjadi lebih dalam namun tetap hangat, “Gadis itu tidak pergi karena benci. Ia pergi karena lelah. Lelah merasa berdiri sendiri di tempat yang seharusnya berdua.”

Brian mengepalkan tangannya pelan. “Aku membuatnya merasa sendirian.”

“Ya,” jawab Betty jujur, tapi tanpa menyudutkan. “Tapi kamu juga datang untuk mencarinya. Itu bukan tindakan seseorang yang tidak peduli.”

Hening kembali menyelimuti ruangan.

“Apa dia… marah sekali?” tanya Brian pelan.

“Dia terluka,” jawab Betty. “Itu berbeda.”

Brian menatap lantai. “Apa dia mau menemuiku?”

Betty tersenyum samar. “Itu tergantung pada apa yang akan kamu lakukan ketika bertemu.”

Emilia berdiri perlahan. “Brian, tidak ada gunanya terburu-buru jika hatimu masih penuh penyesalan tapi kosong kata-kata.”

Brian mengangguk kecil. Untuk pertama kalinya sejak tiba, napasnya mulai teratur.

Betty menyesap tehnya, lalu memandangnya dengan tatapan yang bijak dan tenang. “Jika kamu ingin memperbaiki sesuatu yang retak, jangan datang dengan pembelaan. Datanglah dengan pengakuan.”

Brian mengangkat wajahnya.

Tatapan Betty tajam namun penuh kasih. “Dan ingatlah, bahwa cucuku… orang yang paling sering memarahimu, belum tentu ingin menjauh. Kadang ia hanya ingin diyakinkan bahwa ia tidak berjuang sendirian.”

Ruangan kembali hening, tapi kali ini bukan karena ketegangan—melainkan karena kata-kata itu meresap perlahan ke dalam hati Brian.

Di luar, angin sore berembus pelan. Dan untuk pertama kalinya sejak ia terbang dari New York, Brian tidak lagi terlihat panik—hanya seorang pemuda yang akhirnya mulai memahami kesalahannya, dan bersiap memperbaikinya.

"Kalau begitu bagaimana cara agar membuatnya ingin memaafkanku...?"

"Cobalah..."

Lalu Betty memberikan beberapa saran untuk Brian lakukan sehingga Amayah dapat memaafkannya.

"Lalu dia ada dimana?" tanya Brian penasaran.

"Tepi pantai di utara," jawab Betty santai.

Brian berdiri dengan penuh tekad. "Kalau begitu, saya pergi dulu."

"Ya... semoga berhasil," ucap Betty lembut.

"Hati-hati di jalan, jangan buru-buru!" seru Emilia.

Brian segera bergegas mencari Amayah setelah mengetahui keberadaannya. Sementara itu, Emilia dan Betty tetap duduk santai, menatap kepergiannya.

“Dia seperti Ryan…” ujar Betty lembut.

“Ryan?” tanya Emilia bingung.

“Putraku, sekaligus ayah Amayah,” jawab Betty santai sambil berdiri dan berjalan mendekati sebuah bingkai foto.

Ia meraihnya, mengangkatnya perlahan, lalu tersenyum saat menatapnya. “Sayang sekali dia tidak menyaksikan putrinya tumbuh dewasa bukan hanya membentuk karakter, tapi menemukan sosok yang akan mendampinginya."

 

Di sisi lain kota, di pesisir pantai Beaufort, ombak bergulung pelan menyentuh bibir pantai. Angin laut berhembus lembut, sementara matahari perlahan mulai tenggelam di ufuk barat.

Seorang wanita berdiri di sana. Amayah menatap langit senja yang berwarna keemasan, menikmati ketenangan yang lama tak ia rasakan. Hatinya terasa ringan, tanpa kegelisahan.

Namun ketenangan itu memudar ketika sebuah suara memanggil dari belakangnya.

"Amayah."

Ia menoleh perlahan.

Brian berdiri tak jauh darinya, melangkah mendekat.

"Brian…?" Amayah bertanya dengan nada bingung.

Tanpa memberi waktu lebih lama, Brian langsung memeluk Amayah dengan erat. Wajahnya serius, begitu pula hatinya. Pelukan itu kuat, seolah tak ingin melepaskannya lagi.

Amayah terkejut. Napasnya sempat terasa sesak oleh pelukan Brian, namun di saat yang sama, kehangatan perlahan mengisi dadanya.

Di antara pantai dan lautan, perasaan mereka berdua naik turun layaknya ombak yang tak pernah diam.

Pertanyaannya, mampukah mereka menyelesaikan masalah yang masih membentang di antara mereka?

Bersambung.

1
Rama Iskandar
end ny gk nikah?
Zildiano R: Ini baru tamat part 1, part 2 nya menyusul, join saluran WhatsApp agar mendapatkan informasi terbaru terkait update light novel ini 🙏
total 1 replies
Rama Iskandar
p
Rama Iskandar
sepi amat
Rama Iskandar
p
SaeKanai
Saya puas dengan endingnya🤣🤣
semangat terus bang!!!
Zildiano R: thank you👍
total 1 replies
sakura
...
gralsyah
diam-diam menghanyutkan tuh si amayah ya 😭 gk ketebak wkwk
Zildiano R: wkkwk🤣
total 1 replies
gralsyah
mampir kak author. ihh seruuuu. ceritanya
Zildiano R: terima kasih~
total 1 replies
Marley Howard
keren cuy
Zildiano R: makasih🙏
total 1 replies
Arisell
semangat oi
Zildiano R: makasih, siap🙏
total 1 replies
Khai Dok
udah chat ke editor ya... covernya?
Zildiano R: sudah👍
total 1 replies
Khai Dok
bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!