Kenan tahu diri. Dengan badan yang "lebar" dan jerawat yang lagi subur-suburnya, dia sadar bahwa mencintai Kala—sang primadona sekolah—adalah misi bunuh diri. Namun, lewat petikan gitar dan humor recehnya, Kenan berhasil masuk ke ruang paling nyaman di hidup Kala.
Magang menyatukan mereka, melodi lagu mengikat perasaan mereka. Saat Kenan mulai bertransformasi menjadi idola baru yang dipuja-puja, dia justru menemukan fakta pahit: Kala sedang menjaga hati untuk seorang lelaki manipulatif yang bahkan tak pernah menganggapnya ada.
Bertahun-tahun berlalu, jarak Yogyakarta - Padang menjadi saksi bagaimana rasa yang tak pernah terucap itu perlahan mendingin. Sebuah lagu lama yang tiba-tiba viral menjadi jembatan rindu yang terlambat. Saat Kenan akhirnya menemukan "kembaran" Kala pada wanita lain, dan Kala dipaksa menyerah pada perjodohan, apakah melodi mereka masih punya tempat untuk didengarkan?
"Kita dulu sedekat nadi, sebelum akhirnya kau memilih menjadi asing yang paling aku kenali."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asry Ulfa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kelas Tiga
Hari pertama masuk kelas tiga dimulai dengan bau cat gedung baru dan wajah-wajah lesu para siswa yang belum move on dari liburan. Kenan berdiri di depan papan pengumuman pembagian kelas dengan jantung berdebar. Meskipun beda jurusan, biasanya kelas Akuntansi dan TKJ diletakkan di gedung yang berseberangan agar mudah dipantau.
"Nan! Gawat Nan! Kita nggak searah lagi!" seru Jovan sambil berlari kencang, napasnya sudah kayak orang habis lomba lari karung.
Kenan melotot. "Maksud kau? Aku dipindahkan ke sekolah luar biasa?"
"Bukan! Gedung TKJ tahun ini dipindah ke sayap barat, dekat lab mesin. Jauh betul dari gedung Akuntansi kita! Kau kalau mau jumpa Kala harus melewati tiga koridor dan satu lapangan basket yang penuh budak otomotif main basket," lapor Jovan dengan nada dramatis.
Kenan menghela napas panjang. "Cobaan apalagi ini, Tuhan. Baru saja mau menikmati kelas tiga dengan tenang."
*******
Saat jam istirahat pertama, Kenan buru-buru menuju kantin, berharap bisa ketemu Kala. Tapi, pemandangan di meja pojok kantin bikin langkah Kenan terhenti. Kala sedang duduk bersama Elin dan Maura, tapi di depan mereka ada seorang cowok tinggi, berkacamata, dan terlihat sangat pintar. Namanya Faris, ketua OSIS baru yang juga anak kelas tiga jurusan Teknik Gambar Bangunan.
"Aduh, Nan. Itu siapa lagi? Saingan baru?" bisik Jovan yang tiba-tiba sudah ada di samping Kenan.
"Jangan asal tuduh kau, Van. Mungkin dia cuma mau nanya soal jaringan wifi," jawab Kenan, meski hatinya mulai terasa "panas-dingin".
Mereka mendekat ke meja itu.
"Eh, Kenan! Sini duduk," ajak Elin sambil melambaikan tangan.
Kenan duduk di sebelah Kala. "Pagi, Kal. Sibuk ya?"
"Pagi, Nan. Nggak kok, ini Faris lagi nanya-nanya soal rencana event sekolah bulan depan. Dia pengen ada kolaborasi antara anak musik sama anak TKJ buat bagian lighting dan broadcasting," jelas Kala polos.
Faris membetulkan letak kacamata dan tersenyum tipis ke arah Kenan. "Oh, ini Kenan ya? Vokalis yang kemarin viral pas perpisahan kelas dua itu? Suara kamu bagus, tapi kalau buat event besar nanti, kita butuh aransemen yang lebih... mature sikit. Kamu bisa baca partitur?"
Kenan terdiam sebentar. Mature? Partitur? Budak ini bicara bahasa apa? batinnya.
"Aku belajarnya otodidak, Ris. Yang penting nadanya sampai ke hati, partitur belakangan," jawab Kenan dengan gaya santai tapi tetap berwibawa.
"Hahhaha, unik ya. Tapi ya sudahlah, nanti kita bicarakan lagi. Duluan ya, Kal. Jangan lupa kirim proposal jaringannya lewat email," pamit Faris sambil memberikan senyum yang—menurut Kenan—terlalu manis buat sesama cowok.
Begitu Faris pergi, Kenan langsung menoleh ke Kala. "Kal, dia itu ketua OSIS atau mandor bangunan? Kok bicaranya kayak lagi mau bangun jembatan?"
Maura langsung tertawa ngakak. "Ciee... ada yang cemburu nih! Faris itu emang gitu, Nan. Dia pinter banget, pialanya sudah satu lemari di ruang kepala sekolah."
"Piala itu cuma benda mati, Ra. Suara aku ini benda hidup yang bisa bikin orang baper," balas Kenan tak mau kalah.
Kala menyentuh lengan Kenan pelan. "Ih, kamu kenapa sih? Dia cuma rekan kerja buat organisasi sekolah. Lagian dia itu kaku banget orangnya, nggak lucu kayak kamu."
"Betul ya? Dia nggak lucu?" tanya Kenan memastikan.
"Nggak! Dia kalau ngelawak malah bikin suasana kayak kuburan," timpal Elin sambil nyengir.
Kenan langsung merasa menang sepuluh-nol.
"Nah, itu! Kunci utama menaklukkan hati itu adalah humor. Kalau ganteng tapi kaku macam manekin toko baju, buat apa?"
*******
Sore harinya, saat Kenan mengantar Kala pulang, suasana terasa lebih serius. Kelas tiga artinya mereka harus mulai fokus ujian nasional dan ujian kompetensi keahlian.
"Nan, Faris tadi nawarin aku buat ikut bimbel intensif bareng anak-anak OSIS. Katanya biar gampang masuk universitas di Padang nanti," ujar Kala pelan saat mereka berhenti di lampu merah.
Kenan terdiam sejenak. "Terus, kamu mau?"
"Aku belum jawab. Aku pengennya belajar bareng kamu saja di rumah, kayak biasa. Tapi Papa sepertinya lebih setuju kalau aku ikut bimbel resmi yang ada gurunya."
Kenan menarik napas panjang. "Kal, kalau itu buat kebaikan kamu, ikut saja. Tapi janji ya, setiap Sabtu sore, 'bimbel' musik sama aku tetap jalan.
Nanti kalau kamu terlalu banyak belajar rumus, otak kamu bisa kering. Butuh disiram suara aku."
Kala tertawa di belakang punggung Kenan. "Iya, bawel! Lagian aku juga lebih suka dengerin kamu main gitar daripada dengerin Faris bahas desain jembatan."
"Mantap! Itu baru manajer band aku!"
Namun, saat Kenan sampai di rumahnya, dia melihat sebuah motor RX-King terparkir di depan warung depan gangnya. Pengendaranya memakai helm tertutup, tapi jaket jeans-nya sangat Kenan kenali.
Orang itu tidak melakukan apa-apa, hanya melihat Kenan dari kejauhan lalu memacu motornya pergi.
Revan sepertinya mulai merasa terancam dengan kehadiran "orang-orang baru" di sekolah Kenan, dan dia tidak akan membiarkan posisinya sebagai "pengganggu nomor satu" direbut oleh siapapun, termasuk Faris.
"Satu jam perjalanan dia ke sini... cuma buat liatin aku?" gumam Kenan. "Budak itu betul-betul butuh hobi baru."