Hanya tentang seorang perempuan yang menjadi selingkuhan laki-laki yang katanya mencintai nya.. Benarkah ini cinta atau hanya nafsu semata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana kimtae, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tak terduga
Emily mematut dirinya berkali-kali di depan cermin.Bibirnya tak henti menyunggingkan senyuman.Jeon mengatakan akan menjemputnya seusai pulang dari kantor.Gadis itu memakai atasan berwarna pink dipadukan dengan rok pendek berwarna putih.Hels hitam yang dia kenakan begitu pas melekat di kaki jenjangnya.
Dia turun untuk menunggu Jeon yang harusnya akan sampai rumah sepuluh menit lagi.Rumah megah itu hanya ada dirinya sendiri sedangkan maid akan pulang pukul tiga sore karena Emily memang hanya meminta maid yang membersihkan rumah tanpa memasak.Gadis itu selalu memastikan perut Jeon kenyang dengan masakan yang dibuat oleh dirinya sendiri.
Emily kembali melihat arloji ditangannya, berkali-kali dia menelepon Jeon sama sekali tak ada jawaban.Raut wajah yang tadi sumringah berubah menjadi kesal dan kecewa.Hampir dua jam dia menunggu Jeon datang tapi tak juga muncul.Lelah menunggu, dia pun melepaskan kemejanya menyisakan bra berwarna merah yang melekat indah di kedua payudaranya.
"Sialan.."umpatnya.
Pukul Sepuluh malam suara mobil Jeon terdengar di pekarangan rumah mereka.Emily hanya diam tak bergerak.Pria itu masuk sedikit berlari karena dia merasa bersalah karena sudah membuat Emily kecewa.
Jeon masuk kedalam rumah dengan keadaan gelap gulita.Dia mencari saklar lampu sampai kaki terantuk meja.Ketika lampu dinyalakan pertama kali yang dia lihat adalah pemandangan kekasihnya yang diam tak bergeming.Tangannya memegang gelas wine dengan mata yang lurus melihat ke arah televisi yang tidak menyala.
"Sayang..."Jeon mendekati Emily dia bersimpuh dihadapan Emily dengan tangan yang menggenggam erat sebelah tangan Emily yang bebas.
Emily diam tak bergeming,dia sama sekali tidak mengindahkan panggilan Jeon.Dia menulikan pendengarannya dan tak ingin menatap lelaki itu.
"Sayangku...maaf.."
Emily masih menutup mulutnya rapat, matanya pun masih menatap layar televisi yang hitam.Jeon mengusap lembut punggung tangan Emily dan mengambil gelas dari tangannya.
"Jelaskan kamu dari mana"ucap Emily tanpa menatap Jeon.
"Tadi Evan jatuh dirumah dan kakinya terkilir,Namira tidak bisa menenangkan Evan dan akhirnya menelponku untuk datang"
"Oke..."Emily bangun dari sofa hendak meninggalkan Jeon.
"Sayang.."tangan Jeon dengan cepat menarik tangan Emily untuk kembali duduk.
"Sayang.. tolong jangan seperti ini, mengertilah"
"Apa lagi..aku sudah bilang oke.."
"Tapi aku tau kamu masih marah.."
"Aku ga marah Jeon..aku hanya kecewa, ternyata aku belum cukup penting untuk kamu.Didunia ini ada yang namanya ponsel,kamu bisa menghubungi ku.Setidaknya aku tidak menunggu seperti orang bodoh,aku bisa pergi sendiri untuk makan malam"
"Sayang... ponselku mati dan aku juga..."
"Lupa...aku tau kamu lupa, sudahlah..."sebelum Jeon menyelesaikan ucapannya Emily sudah lebih dulu mendahului.
Jeon memeluk erat tubuh Emily, sembari mengecup kepala gadis itu Jeon berkali-kali meminta maaf padanya. Emily tetap diam tak membalas pelukan kekasihnya.
"Kita makan malam...aku akan memasak makanan kesukaan mu..oke"
"Aku sudah tidak lapar,aku mengantuk.."Emily melepaskan pelukan Jeon dari tubuhnya dan segera menaiki tangga untuk masuk kedalam kamar tidur mereka.
Jeon menatap nanar punggung Emily yang sudah menghilang dari pandangan matanya.Pria itu menghembuskan nafas merasa sesak didalam dadanya.Sungguh dia begitu panik saat Namira mengabarkan bahwa Evan terjatuh dan kakinya terkilir.
Sakit hatinya melihat Emily begitu kecewa padanya.Harusnya gadis itu mengamuk dan memukuli saja dirinya daripada mendiamkannya seperti ini.
Pria itu ikut masuk ke kamar setelah menenangkan dirinya terlebih dahulu dibawah.Saat masuk ke kamar dia melihat Emily tertidur dengan posisi menyamping ke arah jendela sambil memeluk bantal guling.
Jeon memasuki kamar mandi untuk menyegarkan tubuhnya,dia tak bisa terus memaksa Emily untuk memaafkannya.Sungguh dia merasa sangat berdosa karena telah lupa dengan janjinya sendiri.Benar kata Emily harusnya dia menghubungi walaupun ponselnya mati ada banyak cara untuk mengabarkan dirinya sedang berada dimana.
Gemericik air terdengar di kamar mandi, Emily membuka matanya karena sebenarnya sedari tadi dirinya hanya memejamkan mata tanpa berniat untuk tidur.Dia sangat kesal dengan Jeon yang melupakan dirinya hanya karena panggilan dari mantan istrinya.
Emily yakin perempuan itu menggunakan anak mereka untuk mendapatkan simpati dari Jeon.
"Sialan perempuan itu"desisnya.
Jeon keluar dari kamar mandi dan melihat Emily sedang melamun.Pria itu langsung menghampiri tanpa berniat untuk memakai baju terlebih dahulu.
"Sayang.."Jeon mengusap rambut Emily yang tergerai indah di atas bantal.Lelaki itu mencium lembut pipi milik Emily.
"Sayang...pukul saja aku,atau lakukan apapun asal kamu tidak mendiamkan aku seperti ini"
"Pakailah baju Jeon, nanti kamu sakit"
"Tatap aku dulu,sini tatap aku"ucap Jeon menangkup wajah Emily.
"Sayang...jangan mendiamkan dan mengacuhkan aku seperti ini"
Emily menatap wajah kekasihnya,dia berpikir untuk tidak akan bertengkar dengan Jeon.Gadis itu yakin jika mereka bertengkar wanita ular itu akan senang dan berharap kehancuran hubungan Emily dan kekasihnya.
"Pakailah baju,aku tidak marah"
Jeon tersenyum dan mengecup kening Emily,dia amat sangat tau kalau Emily adalah gadis yang baik.Dia sangat berbeda dari siapapun,gadis ini tak mengedepankan emosi.Mungkin tadi dia sangat kecewa karena sudah menunggu dirinya terlalu lama.
"Tunggu sebentar "
Jeon segera mengambil baju dan memakainya dengan cepat.Pria itu mengambil sesuatu dari tas kerjanya dan kembali menghampiri Emily yanh masih diam di tempat tidur.
"Tadinya aku mau memberikan ini saat kita makan malam romantis.Tapi karena ada insiden,tak apa aku memberikan nya di atas tempat tidur saja"
Jeon membuka kotak berwarna putih yang didalamnya terdapat satu cincin berwarna silver berbatu hitam besar. Emily melihat cincin itu dan air matanya langsung menetes.Jeon mengambil tangan kiri milik Emily dan menyematkan cincin cantik itu dijari manisnya.
"Sayang ayo menikah.."
Emily menganggukan kepalanya cepat.Dia sungguh sangat bahagia dengan kejutan dari Jeon.Tak apa wanita ular itu sudah membuat Jeon tertahan beberapa jam dirumahnya.Tapi di hati Jeon tetap dia yang jadi pemenangnya.