Andi, seorang akuntan kuper yang hidupnya lurus seperti tabel Excel, panik ketika menerima undangan reuni SMA. Masalahnya: dulu dia selalu jadi bahan ejekan karena jomblo kronis. Tak mau terlihat memprihatinkan di depan teman-teman lamanya, Andi nekat menyewa seorang pacar profesional bernama Nayla—cantik, cerdas, dan terlalu mahal untuk dompetnya.
Namun Nayla punya syarat gila: “Kalau kamu jatuh cinta sama gue, dendanya satu milyar.”
Awalnya Andi yakin aman—dia terlalu canggung untuk jatuh cinta.
Tapi setelah pura-pura pacaran, makan bareng, dan menghadapi masa lalu yang muncul kembali di reuni… Andi mulai menyadari sesuatu: dia sedang terjebak.
Antara cinta pura-pura, kontrak tak wajar, dan perasaan yang benar-benar tumbuh.
Dan setiap degup jantungnya… makin mendekatkannya ke denda satu milyar
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ddie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tak Seindah Di Bayangkan
Mobil Andi meluncur keluar dari area apartemen Pulo Gadung dengan gerakan panik tapi sok tenang. Jam di dashboard menyala terang: 05.32 terlambat setengah jam.
Buat Andi, ini bukan sekadar telat—ini sudah masuk kategori kesalahan hidup permanen.
“Di… kita telat,” suaranya tipis bergetar seperti anak remaja abis disidang lariin anak gadis.
Dio duduk disampingnya menguap lebar, masih setengah sadar. Rambutnya acak-acakan, jaket dipakai terbalik sejak lift.
“Bukan telat,” katanya santai. “Ini namanya… dramatisasi waktu.”
“Gue janjian jam lima. Jam lima, Dio. Sekarang lima lewat tiga puluh dua. Nayla itu bangun jam lima buat olahraga, bukan buat nungguin akuntan gagal!”
Dio melirik jam di HP, lalu menepuk dashboard pelan “Tenang. Jakarta subuh itu fleksibel. Orang-orang di jam segini masih negosiasi sama hidupnya.”
Udara subuh Jakarta dingin—dingin palsu muncul sebentar sebelum matahari menyadari tugasnya membuat gerah orang orang. Jalanan lengang, tapi tidak kosong. Jakarta tidak pernah kosong. Ia hanya mengurangi kepanikan orang orang sibuk gak nentu
Di sisi kiri jalan, warung kopi kaki lima sudah buka. Seorang laki laki tua mengaduk kopi hitam menatap masa depan rasanya berhenti semenjak reformasi. Asap rokok naik pelan, bercampur bau solar dari truk boks malas-malasan mengukur jalan.
Lampu jalan kuning pucat masih menyala, memantul di aspal basah diterpa embun. Andi nyetir sesekali melirik spion, dikejar rasa bersalah.
Motor-motor ojek online mulai bermunculan. Mereka melaju cepat dan senyap, ninja berseragam hijau. Sesekali berhenti mendadak buat ngecek HP—mungkin dapat order, mungkin mantan iseng menggoda pukul setengah enam pagi.
Di perempatan besar, lampu merah menyala terang. Andi berhenti sendirian.
“Kenapa lu berhenti?” Dio protes.
“Lampu merah.”
“Sepi, Ndik.”
“Justru karena sepi gue takut dosa sendirian.”
Dio mendengus. “Akuntan taat aturan itu penyakit.”
Begitu memasuki arah Jatinegara, suasana mulai berubah lebih hidup bangun setengah sadar.
Pedagang sayur mendorong gerobak, bunyinya kriet-kriet melawan aspal. Truk pengangkut ayam lewat, aromanya membuat Andi refleks menahan napas. Jakarta memang berisik, tapi pada jam segini, ia masih sopan dan lugu.
Ia mencengkeram setir “Di… kalau Nayla marah gimana?”
“Lu minta maaf.”
“Kalau dia kecewa?”
“Lu akuntan. Jelasin pakai kronologi.”
“Kalau dia pergi?”
Dio menoleh, senyum miring. “Ya berarti lu gagal sebelum babak pertama. Hemat emosi.”
Jam di dashboard berubah lagi 05.41.
Andi menelan ludah keringat dingin muncul di keningnya padahal AC menyala maksimal.
“Ini jam di mana orang-orang jujur sama hidupnya,” gumamnya pelan “Tukang sapu jujur nyapu. Pedagang jujur jualan. Ojek jujur cari order.”
“Dan kita?” tanya Dio.
“Kita telat janji.”
Dio tertawa kecil. “Nah itu Jakarta banget.”
Mobil melaju lebih cepat. Papan penunjuk arah Jatinegara muncul di depan, tenang seperti hakim memutuskan rujuk pasutri.
Dio menepuk bahunya “Fokus. Lima menit lagi. Ingat—lu cuma ketemu pacar sewaan.”
Ia mengangguk, napasnya berat. “Gue lagi lari dari Mama, Sofiah, dan rendang.”
Dan Jakarta, di subuh yang terlanjur bangun, membiarkan dua laki-laki panik itu melewati—seolah ini cuma satu dari sekian banyak keputusan setengah nekat akan terjadi hari itu.
--
Mobil Andi melambat — papan nama perumahan yang dia bayangkan ada di gerbang megah, satpam tegap, portal besi otomatis tidak pernah muncul.
Yang ada hanyalah gang sempit: lebarnya pas muat satu mobil kecil dan satu rasa bersalah membengkak di dada. Di kiri-kanan, rumah-rumah berdempetan seperti siput lagi tidur bergelimpangan , kabel listrik menggantung rendah semrawut akar pohon stres yang lupa dicabut.
Andi menginjak rem perlahan, suaranya lirih: "Di… ini… bukan perumahan."
Dio mencondong badan ke depan, matanya menyapu gang itu ekspresi datar, " ini yang bener perumahan batin kota Jakarta bertahan hidup."
Sepeda motor tiba tiba lewat nyelonong dari arah berlawanan, nyaris menyenggol kaca spion. Andi refleks menarik setir, jantungnya loncat satu lantai.
"Ini alamat Nayla?" dia mengecek HP lagi, jarinya masih gemetar
"Iya," jawab Dio santai, "tertulis: Masuk gang samping warung nasi uduk Bu Tini."
Dan benar saja — di mulut gang, spanduk lusuh bertuliskan:NASI UDUK BU TINI — BUKA SUBUH SAMPE LEMES
Aromanya menggoda: wangi santan yang hangat dan bawang goreng renyah, seperti pelukan ibu kos tahu mahasiswa telat bayar tapi masih memberi nasi tambahan.
Andi mematikan mesin. "Gue kira dia tinggal di rumah… yang ada tamannya."
Dio mengangkat bahu. "Ndik… ini Jakarta. Taman itu bonus. Hidup itu cicilan."
Mereka turun dari mobil. Suasana gang subuh masih setengah tidur, Ibu-ibu menyapu halaman kecil memakai daster buluk, kucing oren tidur di atas motor, tidak peduli dunia mau kiamat dan jemuran kain menggantung rendah, bergoyang diterpa angin subuh sepoi-sepoi
Andi melangkah pelan, menyesuaikan langkahnya dengan gang sempit dari ekspektasinya. "Nayla… anak kos?" tanyanya, seperti takut jawabannya benar.
Dio membaca ulang pesan di HP: "Yup. Kos Putri Melati, pintu hijau, dekat pohon mangga."
Di pojok gang, ada pohon mangga kurus — daunnya jarang, tapi berdiri teguh, simbol perantau tetap bertahan hidup meskipun kota Jakarta enggan bersahabat.
Dada Andi berdegup kencang terasa aneh: bukan kecewa, tapi kaget. "Dia bangun jam lima, olahraga, nungguin gue di gerbang gang sempit begini…" ujarnya pelan.
Dio mengangguk dalam, " Kita gak ngerti Ndik, lu bisa membayangkan profesi cewek sewaan, apakah mereka terjebak ekonomi atau memang mencari kesenangan."
Andi terdiam menatapnya lekat, " Dan gue harus membayar denda 600 ribu karena telat."
Dari kejauhan, terdengar langkah kaki: pelan, teratur, tidak terburu-buru, seorang gadis muncul dari balik gang: hoodie abu-abu, celana training hitam, rambut diikat asal dengan karet gelang.
Wajahnya bersih — bukan segar seperti foto Instagram tapi orang yang terbiasa bangun subuh, mandi air dingin, dan menghadapi Jakarta tanpa pamrih.
Dia berhenti, menatap kedua pria itu silih berganti, senyum kecil muncul di wajahnya — lembut, tapi tegas. Matanya berpindah dari Andi… ke Dio… lalu balik lagi ke Andi.
Ragu.
“Kak… Andi?” tanyanya pelan, nada sopan tapi jelas bingung.
Kedua nya tergagap saling menyikut,
Dio refleks mengangkat tangan murid teladan menjawab pertanyaan, “Bukan gue.”
Andi tersedak napas. “Iya—eh—gue—maksudnya bukan gue."
Gadis itu memiringkan kepala menimbang wajah mereka berdua. “Oh… maaf, lalu yang mana namanya Andi ? Soalnya fotonya cuma satu, dan…“…kalian sama-sama kelihatan kurang tidur.”
Andi terdiam secara tidak sadar berbisik pelan, " romannya cantik, hidungnya mancung, bibirnya tipis tapi kenapa dia mau menjadi cewek sewaan ? "
Dio terkekeh menjawab menunjuk Andi “Yang kurang tidur parah itu dia. Saya cuma korban .”
Dia mengernyit, “Oke, kalau kalian gak mau mengaku, perjanjian otomatis batal, dan gue akan melapor ke kantor pihak yang melanggar akan di beri denda."
Andi tergagap pucat, membayang kan denda, terlambat sedikit aja 600 ribu ini pa lagi membatalkan boking bisa bisa tabungan nya terkuras habis. " Eh...maaf gue Andi" ucapnya bergetar
" Berarti ini Kak Andi ya?”
Ia mengangguk lega. “Iya. Maaf telat.”
“Gak apa-apa,” jawabnya ringan. " Gue udah siap dari tadi."
Andi tercekat ingin menjelaskan segalanya: tentang alarm mati, Dio yang membuat bingung, hidup berantakan seperti laporan pajak salah isi. Tapi yang keluar cuma kalimat bodoh, " Gue udah mandi."
Dio cekikik menutup mulutnya sementara
gadis itu hanya tersenyum, mengangguk paham — seolah tahu semua alasannya, " Iya gue ngerti. Jakarta selalu bikin semuanya terlambat."
Andi menyadari satu hal tidak pernah masuk rencananya gadis ini bukan sekadar pacar sewaan. Dia pejuang hidup Jakarta — sama seperti dirinya.