Kisah Shen Xiao Han dan Colly Shen adalah kelanjutan dari Luka dari Suami, Cinta dari Mafia, yang menyoroti perjalanan orang tua mereka, Holdes Shen dan Janetta Lee.
***
Shen Xiao Han dan Colly Shen, putra-putri Holdes Shen dan Janetta Lee, mewarisi dunia penuh kekuasaan dan bahaya dari orang tua mereka, Holdes dan Janetta.
Shen Xiao Han, alias Little Tiger, menjadi mafia termuda yang memimpin kelompok ayahnya yang sudah pensiun—keberanian dan kekejamannya melebihi siapa pun. Colly Shen, mahasiswi tangguh, terus menghadapi rintangan dengan keteguhan hati yang tak tergoyahkan.
Di dunia di mana kekuasaan, pengkhianatan, dan ancaman mengintai setiap langkah, apakah mereka akan bertahan atau terperangkap oleh bayangan keluarga mereka sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
“Tahan mereka semua!” perintah Xiao Han dengan suara dingin yang menggema di halaman.
Tanpa ragu, para anggota bergerak serempak. Keluarga Long An dan Lucy ditekan ke tanah, tubuh mereka dipaksa menempel pada lantai dingin. Tangisan, teriakan, dan napas tersengal bercampur menjadi satu.
“Shen Xiao Han! Apa yang ingin kau lakukan? Lepaskan mereka!” teriak Jacky Yin dengan mata merah menyala, tubuhnya meronta ingin maju.
“Tuan… tolong lepaskan aku,” Lucy menangis histeris, tubuhnya gemetar hebat.
“Aku hanya menerima bayarannya. Aku tidak berniat jahat!”
“Lucy,” ucap Janetta lembut,
“Kau dibayar untuk menjadi mata-mata.”
Nada suaranya berubah tajam.
“Tapi kau malah berani mencoba menggoda suamiku.”Menurutmu, apakah aku seharusnya melepaskanmu?”
“Ny—nyonya, aku salah,” Lucy terisak.
“Aku terlalu serakah… aku mohon ampun.”
“Serakah,” ulang Janetta pelan, seolah mencicipi kata itu.
“Dan juga terlalu berani. Kau berniat mengantikan posisiku.”
Tatapan Janetta mengeras.
“Mencuri dengar, mengamati, lalu mencoba masuk lebih dalam—itu sudah menjadi kebiasaanmu, bukan?”
Colly yang sedari tadi diam akhirnya bersuara. Ia menatap Lucy dan Chimmy tanpa sedikit pun rasa iba.
“Ma,” tanyanya datar,
“bagi dua wanita yang berani menggoda papa, apa hukumannya?”
Suasana mendadak membeku.
Semua mata tertuju pada Janetta.
Namun sebelum menjawab, Janetta justru menoleh ke Forty yang berdiri tak jauh darinya.
“Forty,” tanyanya tenang,
“menurutmu… ke depannya, apakah Long Yi masih akan bisa pulih sepenuhnya?”
“Dalam kondisi terburuk,” ucap Forty datar,
“rahimnya mengalami trauma berat. Ada kemungkinan perdarahan internal, infeksi akut, dan kerusakan permanen pada organ reproduksi.”
Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan,
“Jika tidak segera ditangani secara medis, dia bisa mengalami syok, sepsis, bahkan kematian. Dan bila dia selamat…”
suara Forty merendah,
“kemungkinan besar dia tidak akan bisa memiliki anak seumur hidupnya.”
Tatapannya beralih pada Janetta.
“Selain itu, kondisi mentalnya akan runtuh. Trauma berat. Dia mungkin akan hidup dengan ketakutan, halusinasi, dan gangguan jiwa jangka panjang.”
Janetta menatap Long Yi yang kini pucat pasi, tubuhnya gemetar lemah. Darah mengalir membasahi lantai marmer, sementara dua anak buah Xiao Han menekannya agar tidak bergerak.
“Janetta Lee, kau gila! Kau akan menerima balasannya!” teriak Jacky Yin, namun suaranya tertahan ketika bahunya ditekan keras oleh anak buah Xiao Han.
“Kakak… aku tidak tahan lagi… aku mau ke rumah sakit…” rintih Long Yi. Kelopak matanya mulai terpejam, napasnya terputus-putus.
Long An berlutut dengan wajah hancur.
“Lepaskan putriku! Biarkan dia dibawa ke rumah sakit. Dia sudah menerima balasan darimu!”
Janetta tersenyum tipis, dingin dan kejam.
“Long An, kau yang mengajarkan putrimu merayu suami orang. Aku hanya memberinya pelajaran.”
Ia melangkah mendekat, menatap Long Yi dari atas.
“Dan sekarang dia sudah rusak. Ke depannya, dia tidak akan pernah bisa hamil. Ingat baik-baik ... menentang keluargaku sama saja mencari kematian.”
Ia mengibaskan tangan.
“Bawa wanita itu ke rumah sakit. Pastikan dia hidup.”
Janetta berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan suara datar,
“Setelah itu, masukkan dia ke rumah sakit jiwa. Dia akan lebih cocok dirawat di sana.”
“Tidak! Aku tidak mau!” Long Yi menangis histeris ketika tubuhnya diangkat paksa dan diseret pergi.
“Lepaskan adikku!” Jacky Yin meronta. “Kalau kalian belum puas, balas saja padaku!”
Janetta menoleh perlahan.
“Tentu.”
Nada suaranya ringan, namun mematikan.
“Pukul bocah ini sampai dia memohon. Berani menyentuh putriku dan mengganggu keluargaku—kau sudah bosan hidup.”
Tanpa ragu, mereka menghantam Jacky. Tubuhnya terjerembap ke tanah, pukulan dan tendangan datang bertubi-tubi hingga darah mengalir dari sudut bibirnya.
“Holdes Shen! Janetta Lee!” Long An berteriak putus asa.
“Putriku sudah hancur! Kenapa kalian masih menyiksa Long Shen?!”
Xiao Han menoleh pada orang tuanya.
“Pa, Ma. Rubah tua ini harus dihukum bagaimana?”
Holdes menyilangkan tangan, suaranya tenang.
“Kau saja yang memutuskan.”
Xiao Han tersenyum tipis, dingin.
“Kalau begitu… lempar mereka ke tambang Afrika. Ayah dan anak bisa tetap bersama. Setidaknya mereka mati atau hidup bersama.”
Colly menyandarkan tubuhnya ke kursi, menatap dingin ke arah Long An.
“Hmm… kehidupan di sana tidak mudah. Kalau tidak mati, mereka akan hidup dalam penderitaan.”
Xiao Han berdiri tegak di tengah halaman, tatapannya tajam menyapu mereka yang berlutut ketakutan.
“Ini adalah hukuman bagi siapa pun yang berani menyerang keluarga Shen,” ucapnya datar, namun setiap katanya terasa seperti palu godam.
Holdes menghela napas pelan, lalu menoleh pada istrinya.
“Istriku, bagaimana dengan wanita ini dan dua pasangan ini?” tanyanya sambil memandang Lucy, orang tua angkatnya, serta orang tua bayaran Chimmy yang sejak tadi gemetar ketakutan.
“Lucy memiliki dua kebiasaan buruk,” ucap Janetta tenang, suaranya datar namun menusuk. “Menggoda… dan menguping. Kalau begitu, bagaimana kalau kita kabulkan saja keinginannya?”
Holdes menoleh ke arah istrinya.
“Keinginannya?” tanyanya singkat.
“Kirim dia ke klub malam,” jawab Janetta tanpa ragu. “Tempat yang penuh pria. Bukankah itu dunia yang paling ia pahami?”
Lucy meronta, air mata membasahi wajahnya.
“Tidak! Aku mohon! Lepaskan aku! Aku tidak mau!” jeritnya putus asa.
“Bukankah kau sudah terbiasa mendekati pria? Di sana sangat cocok untukmu. Aku hanya membantumu menemukan tempat yang tepat.”
Lucy menangis semakin keras saat tubuhnya ditarik menjauh.
“Kirim dia ke klub malam elit,” perintah Janetta dingin. “Serahkan pada mereka."
“Baik, Nyomya,” jawab para anak buah serempak.
“Tidaaak… aku mohon… Nyonya…” suara Lucy memudar seiring tubuhnya diseret pergi meninggalkan halaman mansion.
"Mengenai mereka yang menjadi orang tua Long Yi dan Lucy, biarkan saja mereka pergi. Selagi mereka tidak menyentuh kita...maka aku tidak akan membuat perhitungan," ujar Janetta.
Janetta kembali duduk dengan tenang, seolah tidak terjadi apa-apa.
Holdes lalu menoleh pada putranya.
“Xiao Han.”
“Ya, Pa.”
“Sebarkan kejadian malam ini,” ujar Holdes dengan suara rendah namun tegas. “Semakin banyak dunia bawah tahu, semakin baik. Agar tidak ada lagi yang berani menyentuh keluarga Shen.”
Xiao Han mengangguk.
“Baik. Akan saya pastikan semua orang mengingatnya.”
Di sudut halaman, Jacky terkapar, wajahnya lebam, napasnya tersengal. Ia hanya bisa mengerang pelan, matanya kosong dan penuh keputusasaan.
“Kalian,” ujar Xiao Han sambil menoleh ke arah anak buahnya, “bawa Long An dan putranya.”
Ia berhenti sejenak, menatap mereka dengan dingin.
“Langsung ke tambang Afrika. Hidup atau mati… itu tergantung seberapa kuat mereka bertahan.”
“Baik, Tuan.”
Jeritan dan tangisan kembali terdengar, namun keluarga Shen tetap berdiri tanpa ekspresi.
Janetta menyalakan rokok baru, menghembuskan asap tipis ke udara malam.
“Ini akibatnya,” ucapnya pelan, “bagi siapa pun yang mengira keluarga Shen bisa dipermainkan.”