"Orang bilang cinta itu membebaskan. Tapi bagi kami, cinta adalah rantai. Dan aku tidak akan pernah melepaskannya."
Elara Vance telah kehilangan segalanya—keluarga, masa depan, dan harga diri. Dibuang oleh kerabatnya yang kaya raya, dia bertahan hidup di selokan kota, menolak untuk mati dalam diam. Hingga satu malam yang berdarah, takdir menyeretnya kembali ke hadapan Ciarán Vane.
Ciarán bukan pangeran penyelamat. Dia adalah raja bisnis yang dingin, kalkulatif, dan tak punya hati. Dia tidak menawarkan cinta; dia menawarkan kepemilikan. Dia membawa Elara masuk ke dalam sangkar emasnya, memberinya makan, dan membalut lukanya dengan sutra mahal.
Namun, Ciarán melakukan satu kesalahan perhitungan: dia mengira dia memelihara seekor domba yang lemah.
Ini bukan kisah tentang penyembuhan. Ini adalah kisah tentang dua jiwa rusak yang memutuskan bahwa neraka terasa lebih nyaman jika dinikmati berdua.
Mereka busuk. Mereka hancur. Dan mereka sempurna.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leel K, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kopi Tanpa Gula
Rumah yang biasanya sunyi seperti museum itu berubah menjadi pusat komando perang dalam hitungan menit.
Telepon rumah di lorong utama mulai berdering. Kring. Kring.
Baru saja diangkat oleh kepala pelayan, sambungan lain masuk. Ponsel pribadi Ciarán, ponsel Julian, bahkan interkom gerbang depan berbunyi tak henti-hentinya. Wartawan bisnis mulai berkumpul di depan gerbang seperti lalat mencium bau bangkai, sementara investor panik menelepon menuntut penjelasan tentang uang mereka yang menguap.
Julian mengunci diri di ruang kerjanya, tidak mau diganggu. Lucas menghilang, mungkin mabuk di suatu tempat.
Itu artinya, Ciarán sendirian di garis depan.
Aku berdiri di balik pilar besar di foyer, mengamati kekacauan itu dari jarak aman.
Ciarán tidak pergi ke kantor pusat. Mungkin karena dia tahu wartawan sudah mengepung gedung pencakar langit Vane. Dia menjadikan ruang tamu utama sebagai markas daruratnya.
Dia berdiri di tengah ruangan, memegang dua ponsel sekaligus. Jasnya sudah dilempar ke sofa. Kemeja putihnya digulung sampai siku, dasinya longgar.
"Aku tidak peduli apa kata Bloomberg," Ciarán berbicara ke ponsel di telinga kanannya, suaranya tajam dan cepat. "Keluarkan pernyataan pers sekarang. Bilang ini restrukturisasi aset strategis, bukan kerugian. Putar narasi itu. Kalau harga saham turun di bawah 40 dolar, beli kembali semuanya. Pakai dana cadangan."
Dia beralih ke ponsel di telinga kirinya. "Halo, Tuan Tanaka. Ya, saya dengar kekhawatiran Anda. Tidak, proyek di Tokyo aman. Lucas tidak menyentuh proyek itu. Saya yang pegang kendali sekarang. Anda percaya saya, kan?"
Suaranya berubah-ubah dengan mengerikan. Satu detik dia membentak bawahan, detik berikutnya dia berbicara dengan nada rendah yang menenangkan kepada investor Jepang. Dia adalah bunglon yang mematikan.
Para pelayan berlarian di sekitarnya, membawakan dokumen yang baru dicetak dari mesin faks, membawakan air, membawakan tablet. Ciarán memberi perintah hanya dengan jentikan jari atau anggukan kepala.
Dia terlihat seperti mesin. Efisien. Tidak kenal lelah. Tidak punya emosi.
Tapi aku melihat sesuatu yang lain.
Ciarán berhenti bicara sejenak saat sambungan telepon terputus. Dia mengambil gelas kopi yang ada di meja konsol di dekatnya. Itu gelas ketiganya pagi ini.
Saat dia mengangkat gelas itu ke bibirnya, aku melihatnya.
Tangannya gemetar.
Sangat sedikit. Hampir tidak terlihat. Hanya getaran halus pada cairan hitam di dalam gelas, riak-riak kecil yang mengkhianati ketenangannya.
Dia menatap gelas itu sejenak, melihat getaran tangannya sendiri. Rahangnya mengeras. Dia mencengkeram gelas itu lebih erat, memaksa tangannya untuk stabil dengan kekuatan kemauan murni, lalu meminumnya dalam sekali teguk seolah itu adalah obat penahan sakit.
Dia meletakkan gelas kosong itu dengan bunyi tak yang keras di meja.
"Sambungkan aku dengan pengacara," perintahnya pada asisten yang baru datang. "Kita akan menuntut Valkov sampai dia miskin."
Dia kembali ke mode perangnya.
Tapi aku tidak bisa melupakan getaran tangan itu.
Untuk pertama kalinya, aku menyadari bahwa Ciarán Vane juga manusia. Dia bukan monster baja yang tak terkalahkan. Dia bisa lelah. Dia bisa stres.
Dan anehnya, melihat kelemahannya itu tidak membuatku merasa senang. Itu justru membuatku merasakan dorongan aneh di dadaku. Bukan kasihan. Tapi... pemahaman.
Aku tahu rasanya memikul beban sendirian. Aku tahu rasanya harus menjadi kuat karena tidak ada orang lain yang bisa diandalkan.
Dia butuh kafein lagi. Dan pelayan terlalu takut untuk mendekatinya saat dia sedang marah.
Aku berbalik menuju dapur. Bukan untuk mencuri makanan kali ini. Tapi untuk belajar membuat kopi hanya untuk seorang pria Vane.
***
Dapur Vane Manor jam satu pagi adalah tempat yang sunyi namun sibuk. Bukan sibuk oleh manusia, tapi oleh dengung lemari pendingin dan detak jam dinding digital yang monoton.
Aku berdiri di depan mesin kopi espresso yang rumit, sebuah monster stainless steel seharga mobil kecil yang memiliki lebih banyak tombol daripada kokpit pesawat.
"Nona Elara?" suara ragu terdengar dari belakangku.
Itu Greta. Dia sedang giliran jaga malam, matanya terlihat berat dan lelah.
"Biarkan saya saja yang membuatnya, Nona," tawar Greta, melangkah maju dengan sopan. "Tuan Muda Ciarán sangat... spesifik soal kopinya. Jika salah sedikit saja, dia tidak akan meminumnya."
Aku tidak menoleh. Tanganku sibuk menggiling biji kopi. Biji Arabika single origin yang disimpan dalam toples kedap udara khusus.
"Aku tahu," jawabku tenang. "Gilingan medium-kasar. Suhu air sembilan puluh tiga derajat. Ekstraksi tepat dua puluh lima detik."
Greta terdiam, terkejut.
"Dan tanpa gula," tambahku, memasukkan bubuk kopi ke dalam portafilter. "Sama sekali tanpa gula. Bahkan setitik manis pun akan merusaknya."
Aku meratakan bubuk kopi itu dengan tamper, menekan dengan kekuatan yang pas. Tidak terlalu keras, tidak terlalu lembut. Gerakanku sudah terlatih. Selama seminggu terakhir, aku diam-diam memperhatikan. Aku memperhatikan bagaimana Ciarán meminum kopinya. Aku memperhatikan ampas kopi di tempat sampah ruang kerjanya. Aku bahkan memperhatikan merek biji kopi yang selalu habis lebih dulu di dapur.
Aku bukan barista. Tapi aku adalah pengamat. Dan bertahan hidup di jalanan mengajarkanku satu hal: kenali kebiasaan rajamu jika kau ingin selamat dari eksekusinya.
Aku memasang portafilter ke mesin, lalu menekan tombol.
Mesin mendesis pelan. Cairan hitam pekat mulai menetes ke dalam cangkir porselen putih. Aromanya pahit, earthy, dan tajam. Langsung memenuhi udara.
Greta masih berdiri di sana, mengawasiku dengan campuran rasa kagum dan cemas.
"Anda... sangat perhatian, Nona," gumamnya.
"Bukan perhatian, Greta," koreksiku sambil mematikan mesin tepat di detik ke-dua puluh lima. "Ini strategi."
Aku mengambil cangkir itu. Tidak ada sendok. Tidak ada creamer. Hanya kegelapan cair yang panas.
"Kembalilah tidur," kataku pada Greta. "Biar aku yang mengantar ini ke atas."
"Tapi Tuan Muda sedang dalam suasana hati yang buruk," peringat Greta cemas. "Sejak masalah saham itu, dia... galak. Dia sudah memecat dua asisten hari ini."
"Aku tahu," jawabku, mengangkat nampan perak itu.
Aku tahu dia sedang marah. Aku tahu dia sedang stres. Aku bisa merasakan tegangan listrik statis yang memancar dari ruang kerjanya bahkan dari jarak dua lantai.
Dan justru itulah kenapa aku harus ke sana.
Saat orang lain lari menjauh karena takut terkena ledakan, aku akan berjalan mendekat. Karena di pusat badai, biasanya justru di sanalah tempat yang paling tenang.
"Terima kasih peringatannya, Greta," kataku, lalu berjalan keluar dapur, meninggalkan pelayan itu menatap punggungku dengan tatapan seolah aku sedang berjalan menuju tiang gantungan.