NovelToon NovelToon
SCALPEL SKINCARE : Resep Cinta Gawat Darurat

SCALPEL SKINCARE : Resep Cinta Gawat Darurat

Status: tamat
Genre:Dokter / Slice of Life / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Cinta Seiring Waktu / Enemy to Lovers / Cintapertama / Tamat
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: tanty rahayu bahari

Dr. Rania "The Butcher" Wijaya adalah ahli bedah umum (General Surgeon) yang brilian tapi berantakan. Hidupnya adalah tentang UGD, darah, kopi instan, dan sandal Crocs karet. Baginya, estetika itu tidak penting, yang penting pasien selamat.
​Dunia Rania jungkir balik ketika manajemen RS merekrut Dr. Adrian "The Prince" Bratadikara, spesialis bedah plastik dan estetika lulusan Korea Selatan, untuk meningkatkan pendapatan RS lewat klinik kecantikan VIP. Adrian adalah kebalikan Rania: obsesif dengan kebersihan, wangi parfum mahal, dan percaya bahwa "jahitan bedah adalah seni, bukan resleting celana."
​Masalah utamanya? Mereka adalah musuh bebuyutan (dan mantan gebetan yang gagal jadian) saat kuliah kedokteran dulu. Kini mereka harus berbagi ruang operasi dan menyelamatkan RS dari kebangkrutan, sambil menahan keinginan untuk saling membunuh—atau mencium—satu sama lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 26: Tiket Satu Arah ke Heidelberg

​Tiga hari setelah "Tragedi Kaki Luna", atmosfer di Rumah Sakit Citra Harapan terasa lebih dingin dari kamar mayat.

​Perang Dingin antara Dr. Rania dan Dr. Adrian bukan lagi rahasia. Suster Yanti sampai kehabisan akal untuk mendamaikan mereka. Tidak ada lagi makan siang bareng di gudang logistik. Tidak ada lagi kode-kode mata saat visite.

​Jika berpapasan, Adrian hanya mengangguk sopan—anggukan yang sangat formal, seolah Rania adalah orang asing. Rania membalas dengan senyum tipis yang dipaksakan, lalu buru-buru menyibukkan diri dengan rekam medis.

​Di kosan Pak Mamat, dinding pemisah kamar mereka terasa setebal Tembok Besar Cina. Rania sering mendengar Adrian pulang larut malam, mungkin sengaja menghindarinya.

​Pagi itu, Rania dipanggil ke ruangan Direktur.

​"Duduk, Rania," Dr. Bambang tersenyum lebar, wajahnya berseri-seri. Ini pemandangan langka. Biasanya dia memanggil Rania untuk komplain soal anggaran kasa yang boros.

​"Ada apa, Dok? Saya ada salah prosedur lagi?" tanya Rania waspada.

​Dr. Bambang menggeleng. Dia menyodorkan sebuah amplop cokelat besar berlogo universitas asing.

​"Justru sebaliknya. Kamu ingat proposal beasiswa fellowship yang kamu ajukan dua tahun lalu? Yang lewat jalur kerjasama Kemenkes?"

​Jantung Rania berdesir. Dia ingat. Itu adalah masa-masa dia merasa jenuh menjadi dokter umum dan ingin mendalami Trauma Surgery. Dia iseng mendaftar, tanpa harapan tinggi.

​"Universitas Heidelberg, Jerman," kata Dr. Bambang dengan nada bangga. "Mereka menerima kamu. Program Advanced Trauma Life Support & Critical Care Fellowship. Dua tahun. Full beasiswa."

​Rania membuka amplop itu dengan tangan gemetar. Surat penerimaan itu nyata. Namanya tertulis di sana. Dr. Rania Wijaya.

​"Ini... ini serius, Dok?"

​"Serius. Ini kesempatan emas, Rania. Jerman adalah kiblatnya bedah trauma. Kalau kamu pulang nanti, kamu bukan cuma jadi 'Tukang Jagal' UGD. Kamu bakal jadi Konsultan Bedah Trauma pertama di RS ini. Kita bisa naik kelas jadi RS Trauma Center."

​Dr. Bambang mencondongkan tubuhnya.

​"Masalahnya cuma satu. Programnya mulai bulan depan. Kamu harus konfirmasi dalam waktu 3 x 24 jam. Ambil atau lepas."

​Rania terdiam.

Dua tahun lalu, dia akan melompat kegirangan dan langsung packing.

Tapi sekarang? Ada Adrian. Ada pria manja, obsesif kebersihan, namun sangat penyayang yang tinggal di sebelah kamarnya.

​"Saya... saya butuh waktu untuk berpikir, Dok," jawab Rania pelan.

​"Pikirkan baik-baik. Kesempatan ini nggak datang dua kali."

​Rania keluar dari ruangan direktur dengan pikiran berkecamuk.

​Heidelberg. Kota tua yang indah, teknologi medis canggih, gaji euro, dan kesempatan belajar dari profesor dunia. Itu adalah mimpi Rania.

​Tapi di sisi lain, ada Adrian. Pria yang rela makan nasi goreng pinggir jalan demi dirinya. Pria yang menjahit wajah ayahnya dengan tangan gemetar demi dirinya.

​Tapi Adrian sekarang lagi marah sama gue, batin Rania pahit. Dia bilang gue ngebunuh jiwa pasien.

​Rania butuh bicara. Dia butuh Adrian.

​Sore harinya, Rania menunggu Adrian di parkiran mobil (karena Adrian masih sering naik mobil Rania atau ojek online meski mobil sport-nya sudah kembali, katanya lebih merakyat).

​Adrian muncul. Wajahnya lelah. Dia melihat Rania bersandar di mobil Honda Jazz, memegang amplop cokelat.

​"Ad," panggil Rania.

​Adrian berhenti. Dia tidak tersenyum. "Ya, Dokter Rania? Ada konsul darurat?"

​Nada formal itu menusuk hati Rania.

​"Bisa kita ngomong bentar? Bukan soal pasien. Soal kita."

​Adrian tampak ragu, tapi akhirnya mengangguk. "Saya punya waktu 10 menit sebelum jadwal gym." (Alasan. Adrian tidak nge-gym hari ini).

​Mereka duduk di bangku beton taman RS yang agak sepi.

​Rania menyodorkan amplop itu. "Baca ini."

​Adrian membukanya. Dia membaca surat bahasa Inggris itu dengan cepat. Ekspresinya tidak terbaca. Datar. Dingin.

​"Heidelberg," gumam Adrian. "Bagus. Kampus top dunia. Prof. Hans-Jürgen di sana legendaris."

​Dia melipat kembali surat itu dan mengembalikannya ke Rania.

​"Selamat."

​Hanya itu. Selamat.

​Rania menatapnya tak percaya. "Cuma itu reaksi lo? 'Selamat'?"

​"Terus kamu mau saya reaksi apa? Nangis darah? Sujud di kaki kamu minta jangan pergi?" Adrian tertawa sinis.

​"Gue mau lo kasih pendapat lo, Ad! Ini dua tahun! Dua tahun gue bakal ninggalin Indonesia. Ninggalin RS ini. Ninggalin... lo."

​Adrian membuang muka, menatap pohon beringin tua. Rahangnya mengeras.

​Di dalam hati Adrian, ada badai yang mengamuk. Dia takut. Dia takut ditinggalkan—lagi. Sama seperti ibunya meninggalkannya (karena kematian), sama seperti ayahnya yang sempat membuangnya. Dan sekarang Rania, satu-satunya orang yang dia percaya, mau pergi juga.

​Tapi ego dan rasa sakit hati Adrian akibat kasus Luna masih mendominasi. Dia merasa tidak berhak menahan Rania. Dia merasa Rania pantas mendapatkan yang lebih baik daripada dokter bedah plastik yang gagal menyelamatkan kaki penari.

​"Kamu harus ambil," kata Adrian akhirnya. Suaranya dingin, mematikan.

​"Kenapa?" tanya Rania, suaranya bergetar.

​"Karena itu cocok buat kamu," Adrian menoleh, menatap Rania tajam. "Di sana, semuanya soal logika. Soal efisiensi. Soal memotong bagian yang rusak demi menyelamatkan sistem. Persis seperti prinsip kamu waktu motong kaki Luna."

​Deg.

​"Ad, jangan bawa-bawa Luna lagi..."

​"Kenapa? Itu fakta, kan?" potong Adrian. "Kamu dokter yang hebat, Rania. Kamu rasional. Kamu nggak pake perasaan. Jerman tempat yang tepat buat orang se-dingin kamu."

​Air mata Rania menetes. Dia tidak menyangka Adrian akan sejahat ini.

​"Lo pikir gue nggak pake perasaan?" Rania berdiri, emosinya meledak. "Lo pikir gue seneng motong kaki Luna? Gue nangis tiap malem mikirin dia! Tapi gue harus lakuin itu biar dia idup!"

​"Dan sekarang kamu harus pergi ke Jerman biar karir kamu idup," balas Adrian, ikut berdiri. "Pergilah. Jangan biarkan 'Pangeran Manja' ini nahan kamu. Lagipula, kita beda visi. Mungkin emang dari awal kita nggak cocok."

​Hening.

Kalimat terakhir itu menggantung di udara seperti vonis mati.

​Kita nggak cocok.

​Rania meremas amplop di tangannya sampai kusut. Hatinya hancur berkeping-keping. Dia datang ke sini berharap Adrian menahannya. Berharap Adrian bilang, "Jangan pergi, kita cari solusi bareng."

​Tapi Adrian justru mendorongnya pergi.

​"Oke," kata Rania. Dia menghapus air matanya kasar. "Kalau itu mau lo. Gue bakal pergi. Gue bakal ambil beasiswa ini."

​"Bagus," kata Adrian singkat.

​"Dan lo bener," tambah Rania, menatap Adrian dengan tatapan terluka yang dalam. "Lo emang Pangeran Manja yang egois. Lo lebih mentingin harga diri lo daripada perasaan kita."

​Rania berbalik dan berlari menuju lobi RS, meninggalkan mobilnya, meninggalkan Adrian.

​Adrian berdiri mematung di taman itu. Dia melihat punggung Rania menjauh.

​Tangannya terulur sedikit, ingin meraih, ingin berteriak "Jangan pergi! Saya butuh kamu!"

​Tapi suaranya tertahan di tenggorokan. Trauma masa lalunya membisikkan racun: Semua orang yang kamu sayang pasti pergi. Lebih baik kamu lepasin mereka duluan sebelum mereka ninggalin kamu.

​Adrian meninju pohon beringin di sampingnya keras-keras. Kulit tangannya lecet, tapi rasa sakit di dadanya jauh lebih parah.

​Dua Hari Kemudian.

​Rania sudah menyerahkan surat konfirmasi ke Dr. Bambang. Dia akan berangkat dua minggu lagi untuk persiapan bahasa dan administrasi.

​Berita kepergian Rania menyebar cepat. Suster Yanti menangis sesenggukan di ruang jaga. Kevin bengong seharian sampai salah pasang infus.

​"Dok, beneran mau ke Jerman? Terus Dokter Adrian gimana?" tanya Yanti sambil membuang ingus.

​"Nggak gimana-gimana. Kita udah putus," jawab Rania datar sambil membereskan lokernya.

​"PUTUS?!" Yanti menjerit. "Nggak mungkin! Kalian itu Couple of The Year! Masa putus gara-gara LDR?!"

​"Bukan gara-gara LDR, Yan. Gara-gara beda visi. Udah lah, jangan dibahas."

​Rania menutup lokernya dengan bantingan keras.

​Di kamar sebelah kosan Pak Mamat, Adrian juga sedang berkemas. Tapi bukan untuk ke Jerman.

​Dia memutuskan untuk pindah kembali ke apartemennya. Dia tidak sanggup tinggal di sebelah kamar Rania, mendengar suara Rania packing, mengetahui bahwa wanita itu akan pergi jauh karena dorongannya sendiri.

​Sore itu, sebuah truk pindahan mengangkut barang-barang Adrian.

​Rania melihat dari jendela kamarnya di lantai 2. Dia melihat Adrian memasukkan koper terakhir ke bagasi Porsche-nya.

​Adrian sempat mendongak, melihat ke arah jendela kamar Rania.

​Mata mereka bertemu untuk sekian detik.

​Ada sejuta kata yang tidak terucap.

Maaf.

Jangan pergi.

Aku sayang kamu.

​Tapi tidak ada yang bicara. Adrian masuk ke mobilnya, menyalakan mesin, dan melaju pergi meninggalkan Gang Kelinci. Meninggalkan kehidupan sederhananya yang sempat bahagia.

​Rania menutup gorden, lalu merosot duduk di lantai. Dia memeluk lututnya dan menangis tersedu-sedu di kamar yang kini terasa sangat sepi.

​Tiket ke Heidelberg sudah di tangan. Tapi rasanya bukan seperti tiket menuju mimpi. Rasanya seperti tiket pelarian dari hati yang patah.

...****************...

Bersambung....

Terima kasih telah membaca💞

Jangan lupa bantu like komen dan share❣️

1
Wien Ibunya Fathur
aku sampai maraton bacanya...
ceritanya bagus banget
tanty rahayu: makasih banyak kaka udah betah bacanya😍
total 1 replies
ms. S
ga terasa udah tamat aja.. sng bgt novel kayak gini... good job
tanty rahayu: mamasih kak sudah baca sampai tamat 😍
total 1 replies
Wien Ibunya Fathur
ceritanya seru
tanty rahayu: makasih banyak kaka udah mau baca novel ku 😍
total 1 replies
Frida Fairull Azmii
keren..bahasa nya sih berat istilah" orang pinter tp asik d buat jdi komedi romantis🥰
tanty rahayu: makasih kaka 😍
total 1 replies
Frida Fairull Azmii
masih sepi nih tp ini novel seru banget sumpah,kalian wajib baca😍
ms. S: bnr, novel ini layak dapat view yg banyak bgt dan authornya harusnya masuk platinum karena beberapa karya yg udah aku baca, ceritanya out of the box semuanya. Dan risetnya cerita bagus
total 2 replies
ms. S
ya ampun ngakak bgt cemburu nya 😄
ms. S
gombalan paling unik, aneh tapi bikin melting dan senyum2 sndiri😍
tanty rahayu: ikut gemess ya
total 1 replies
ms. S
sumpah.. sumpah aku kyk baca Drakor dokter itu lho.. good job
tanty rahayu: hehehe kebetulan aku emang suka nonton drakor juga ka jd terinspirasi deh
total 1 replies
ms. S
mereka yg ciuman aku yg senyum2 sendiri... 😍😍😍
tanty rahayu: gpp senyum asal jangan bayangin 🤣🤣🤣
total 1 replies
ms. S
mmg cinta bisa DTG kpn aja bahkan DTG saat operasi DTG 😍🤭
ms. S
co cuit😍😍😍
ms. S
diem2 cinta tapi benci uluh..uluh🤭😍😍😍
Murni Asih
gombalan paling manis , laen dr yg laen....
tanty rahayu: makasih banyak kaka sudah mau mampir dan baca karya ku
total 1 replies
ms. S
cerita yg cukup menarik biasanya kita disuguhkan dgn ceo, mafia dan anak SMA jrg ada yg BNR mengulik dokter sungguhan. semoga ke blkg juga jauh lbh menarik
ms. S: tapi mmg novelnya menarik bgt buat dibaca syg klo novel sebagus ini krg view-nya.. karena biasanya novel dokter itu ga da BHS dokternya jadi ga meresap smpe ke hati ini bnr2 dokter bgt novelnya merasa kita lihat Drakor: good doctor. bintang lima 🌟🌟🌟🌟🌟
total 2 replies
Frida Fairull Azmii
🤣🤣gila dokter ciuman jg pake diskusi segala bilang aja silaturahmi bibir..wkwk
tanty rahayu: wkwkwkkw 😍😍😍
total 1 replies
Frida Fairull Azmii
novel nya bagus,lanjut...lanjut..
tanty rahayu: makasih kaka sudah baca novelku jangan lupa baca novel ku yang lain ya ka 😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!