NovelToon NovelToon
SCALPEL SKINCARE : Resep Cinta Gawat Darurat

SCALPEL SKINCARE : Resep Cinta Gawat Darurat

Status: tamat
Genre:Dokter / Slice of Life / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Cinta Seiring Waktu / Enemy to Lovers / Cintapertama / Tamat
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: tanty rahayu bahari

Dr. Rania "The Butcher" Wijaya adalah ahli bedah umum (General Surgeon) yang brilian tapi berantakan. Hidupnya adalah tentang UGD, darah, kopi instan, dan sandal Crocs karet. Baginya, estetika itu tidak penting, yang penting pasien selamat.
​Dunia Rania jungkir balik ketika manajemen RS merekrut Dr. Adrian "The Prince" Bratadikara, spesialis bedah plastik dan estetika lulusan Korea Selatan, untuk meningkatkan pendapatan RS lewat klinik kecantikan VIP. Adrian adalah kebalikan Rania: obsesif dengan kebersihan, wangi parfum mahal, dan percaya bahwa "jahitan bedah adalah seni, bukan resleting celana."
​Masalah utamanya? Mereka adalah musuh bebuyutan (dan mantan gebetan yang gagal jadian) saat kuliah kedokteran dulu. Kini mereka harus berbagi ruang operasi dan menyelamatkan RS dari kebangkrutan, sambil menahan keinginan untuk saling membunuh—atau mencium—satu sama lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3: Sengketa Ruang Operasi 3

​Papan tulis putih di Nurse Station UGD adalah kitab suci bagi Rania. Di sana tertulis nasibnya hari ini: hidup tenang atau mati berdiri.

​Pagi ini, pukul 06.45, Rania menatap papan itu dengan mata yang berkedut-kedut, seolah mau keluar dari rongganya.

​Di kolom "OK 3" (Ruang Operasi 3), tulisan spidol hitam jelek khas Rania yang berbunyi: 08.00 - Dr. Rania - Herniorrhaphy (Pak Somad) telah dihapus. Digantikan dengan tulisan spidol biru yang rapi, tegak bersambung, dan sangat estetis:

​08.00 - Dr. Adrian - Rhinoplasty (Ny. Viona)

​"Yanti!" teriak Rania. Suaranya menggema di lorong UGD yang masih sepi, membuat seekor kucing liar yang menyelinap masuk langsung kabur terbirit-birit.

​Suster Yanti muncul dari balik tumpukan rekam medis, meringis sambil memegang nampan obat. "Aduh, Dok. Jangan teriak pagi-pagi. Pamali."

​"Siapa yang hapus jadwal gue?" Rania menunjuk papan tulis dengan telunjuk gemetar. "Pak Somad itu Pak RT gue, Yan! Dia udah puasa dari semalam. Dia udah bawa rengginang satu kaleng buat syukuran abis operasi. Terus sekarang gue harus bilang dia batal operasi karena ada yang mau mancungin idung?"

​"Itu... anu, Dok. Dr. Adrian yang minta," Yanti memelankan suaranya, melirik kiri-kanan. "Katanya pasiennya VIP. Istri pejabat daerah. Jadwalnya nggak bisa digeser karena mau flight ke Bali lusa."

​"Gue nggak peduli dia mau flight ke Mars!" Rania menyambar jas putihnya dan melangkah lebar menuju area kamar ganti dokter bedah. "Ini perang."

​Rania mendobrak pintu ruang ganti dokter (sebenarnya pintunya tidak dikunci, tapi didobrak terdengar lebih dramatis).

​Di dalam, Adrian sedang berdiri di depan cermin panjang. Dia belum memakai baju scrubs (baju operasi). Dia masih mengenakan kemeja sutra yang kancing teratasnya dibuka sedikit. Yang membuat Rania ingin muntah pelangi adalah fakta bahwa Adrian sedang menyemprotkan semacam face mist ke wajahnya.

​Cesss. Cesss.

​Adrian menoleh perlahan, tidak kaget sedikit pun dengan pintu yang didobrak. "Selamat pagi, Rania. Ketuk pintu adalah etika dasar yang diajarkan sejak TK. Kamu bolos waktu itu?"

​"Lo curi jadwal OK 3 gue," tembak Rania langsung, mengabaikan ceramah etikanya.

​Adrian menutup botol face mist mahalnya. "Saya tidak mencuri. Saya melakukan realokasi sumber daya untuk prioritas pendapatan rumah sakit. Ny. Viona membayar tunai, paket Platinum. Margin keuntungannya bisa membayar gaji tiga perawat bulan ini. Pak Somad? BPJS kelas 3, kan?"

​"Pak Somad itu kesakitan, Adrian! Hernia-nya udah nonjol segede bola tenis! Kalau kejepit, bisa jadi strangulasi, ususnya mati, jadi gawat darurat!" Rania mendekat, wajahnya memerah menahan marah. "Di RS ini, kita duluin yang sakit, bukan yang tajir!"

​Adrian berbalik sepenuhnya menghadap Rania. Ia melipat tangan di dada. "Secara medis, kondisi Pak Somad stabil. Hernia reponibel. Masih bisa didorong masuk. Bisa ditunda 4 jam. Sementara Ny. Viona, kalau ditunda, dia akan pindah ke RS kompetitor. Kita kehilangan 50 juta dalam sekejap."

​"Uang lagi, uang lagi!"

​"Rania," suara Adrian tegas, memotong teriakan Rania. "Lampu operasi di OK 1 mati total tadi subuh. OK 2 AC-nya bocor, suhunya 28 derajat, tidak steril buat bedah. Cuma OK 3 yang layak pakai hari ini. Kamu mau saya operasi hidung di ruangan panas? Keringat menetes ke luka terbuka? Infeksi? Tuntutan hukum?"

​Rania terdiam. Sial. Dia lupa betapa bobroknya fasilitas RS Citra Harapan.

​"Tapi..." Rania kehabisan argumen logis, jadi dia beralih ke argumen emosional. "Pak Somad udah bawa rengginang."

​Adrian mengangkat alisnya sebelah. "Rengginang?"

​"Iya! Kerupuk beras ketan! Dia bikin sendiri! Itu bentuk informed consent paling tulus yang pernah gue terima!"

​Adrian menghela napas panjang, seolah sedang menghadapi anak kecil yang merengek minta permen. Dia berjalan mendekati lokernya, mengambil baju scrubs warna sage green (tentu saja dia bawa baju sendiri, bukan baju scrubs hijau tua kucel milik RS).

​"Dengar," kata Adrian sambil membuka kancing kemejanya.

​Rania refleks membuang muka. "Eh, jangan striptease di sini!"

​"Saya mau ganti baju, Rania. Kamu yang nyelonong masuk ruang ganti pria," sahut Adrian santai. "Solusinya begini: Saya pakai OK 3 jam 8 sampai jam 10. Operasi saya presisi, tidak akan molor. Setelah itu, ruangan dibersihkan 30 menit. Jam 10.30 kamu bisa masukin Pak Somad. Bilang sama Pak Somad, puasanya tambah dikit. Nanti saya beliin bubur ayam buat buka puasa pasca-operasi."

​Rania masih memunggungi Adrian, menatap tembok yang catnya mengelupas. Dia benci mengakui ini, tapi solusi Adrian masuk akal. Bedah plastik memang harus di ruangan paling steril. Hernia... yah, hernia Pak Somad memang masih bisa ditahan sedikit, asal tidak disuruh angkat beban berat.

​"Jam 10 teng lo harus udah keluar," ancam Rania pada tembok. "Kalau jam 10.01 lo masih di dalem, gue masuk dan jahit hernia Pak Somad di sebelah pasien lo."

​"Setuju," terdengar suara Adrian. "Sekarang, bisa kamu keluar? Atau kamu mau nonton saya ganti celana?"

​Rania langsung melesat keluar pintu secepat kilat, wajahnya panas. Sialan. Kenapa punggungnya harus kelihatan atletis banget sih tadi? Pasti hasil nge-gym mahal.

​Pukul 08.00, Rania tidak pergi ngopi. Dia berdiri di viewing gallery (ruang kaca di lantai atas untuk melihat ke ruang operasi). Dia ingin melihat "Sang Pangeran" bekerja. Dia ingin mencari celah untuk mengejeknya.

​Di bawah sana, di meja operasi, pasien Ny. Viona sudah terbius total.

​Adrian masuk ke ruangan dengan gaya seperti aktor utama film medis. Dia memakai scrub cap bermotif abstrak yang artistik. Dia mengangkat kedua tangannya yang sudah steril. Suster instrumen memakaikan jubah operasi.

​"Musik," perintah Adrian pelan, tapi suaranya tertangkap interkom.

​Rania mendengus. Pasti dia minta Mozart atau Beethoven.

​Alunan lagu K-Pop yang upbeat memenuhi ruangan.

"Cause I-I-I'm in the stars tonight... So watch me bring the fire and set the night alight..." (BTS - Dynamite).

​Rania hampir tersedak ludahnya sendiri. Serius? BTS?

​Tapi begitu Adrian memegang pisau bedah, tawa Rania berhenti.

​Dari balik kaca, Rania melihat transformasi itu. Adrian yang sombong dan menyebalkan hilang. Digantikan oleh Adrian yang... tenang. Gerakan tangannya sangat efisien. Tidak ada gerakan sia-sia. Sayatan yang dia buat sangat halus, nyaris tidak berdarah. Dia memperlakukan jaringan kulit seolah itu adalah sutra yang rapuh.

​"Suction," perintah Adrian lembut. "Tahan napas sedikit, Suster. Tangan kamu getar."

​Rania, sebagai sesama dokter bedah, tahu mana dokter yang jago dan mana yang cuma gaya. Dan dia harus mengakui—dengan berat hati—bahwa teknik Adrian flawless. Cara dia memisahkan tulang rawan hidung, cara dia membentuk implant, semuanya penuh perhitungan.

​Ini bukan sekadar operasi. Ini seni pahat pada makhluk hidup.

​"Sial," gumam Rania. "Dia jago."

​Pukul 09.45. Lima belas menit lebih cepat dari jadwal.

​"Jahitan subkutikuler selesai," Adrian mengumumkan. "Tutup luka. Pasang splint. Terima kasih semuanya, kerja bagus."

​Adrian mundur dari meja operasi, membiarkan asisten membersihkan area. Dia mendongak ke atas, tepat ke arah kaca viewing gallery tempat Rania berdiri. Meskipun Rania yakin kaca itu gelap dari sisi bawah, Adrian entah bagaimana seolah tahu dia ada di sana.

​Adrian mengangkat dua jarinya membentuk tanda 'V' (Peace), lalu menunjuk jam dinding.

​Tepat waktu.

​Rania mendengus kesal, tapi sudut bibirnya terangkat sedikit.

​Pukul 10.30, giliran Rania masuk. Ruangan sudah steril (meski masih ada sisa wangi lavender samar—apa Adrian menyemprotkan pengharum ruangan?!).

​Pak Somad sudah terbaring, cemas.

​"Dok, jadi dibelek kan? Saya udah laper banget ini," keluh Pak Somad.

​"Jadi, Pak. Tenang aja. Dokter Rania yang tangani. Nanti lukanya saya bikin rapi deh, biar Bapak bisa pamer sama Bu RT," canda Rania sambil memakai sarung tangan.

​Saat operasi berlangsung, Rania bekerja dengan gayanya sendiri: Cepat, taktis, sedikit kasar tapi pasti. Dia tidak butuh musik K-Pop. Dia butuh fokus.

​"Skalpel. Gunting jaringan. Klem."

​Satu jam kemudian, operasi selesai. Hernia tertutup rapat. Rania keluar dari ruang operasi sambil meregangkan lehernya yang kaku.

​Di ruang pemulihan, dia melihat Adrian sedang duduk di samping brankar Ny. Viona yang baru sadar, menjelaskan perawatan pasca-operasi dengan suara lembut yang bisa melelehkan mentega.

​Rania berjalan melewatinya menuju ke arah Pak Somad.

​Saat berpapasan, Adrian berbisik tanpa menoleh, "Teknik ligasi kamu tadi agak kuno, tapi simpulnya kuat. Not bad."

​Langkah Rania terhenti. Dia menoleh. "Lo ngintip operasi gue?"

​Adrian mengangkat bahu, tetap tersenyum pada pasiennya. "Saya cuma memastikan kamu tidak menodai OK 3 saya dengan darah di mana-mana."

​Rania tersenyum miring. Dia merogoh saku jasnya, mengeluarkan sebuah toples plastik kecil.

​"Nih," Rania menaruh toples itu di meja nurse station dekat Adrian berdiri.

​Adrian melirik toples itu dengan jijik. Isinya kerupuk bulat bergelombang yang berminyak. "Apa ini?"

​"Rengginang," kata Rania bangga. "Pak Somad maksa gue kasih ini ke dokter ganteng yang tadi ngasih dia bubur ayam. Ternyata lo beneran beliin dia bubur."

​Wajah Adrian sedikit memerah, tapi dia cepat-cepat menutupinya dengan batuk kecil. "Itu... itu bagian dari customer service. Biar dia tidak menuntut RS karena jadwalnya mundur."

​"Terserah lo deh," Rania tertawa kecil, lalu berjalan pergi sambil melambaikan tangan tanpa menoleh. "Jangan lupa dimakan. Awas kalau dibuang, kualat lo sama Pak RT!"

​Adrian menatap toples rengginang itu. Berminyak. Tidak higienis. Penuh kolesterol.

​Dia melihat sekeliling. Tidak ada orang yang memperhatikan.

​Dengan gerakan cepat, Adrian membuka toples, mengambil satu rengginang, dan menggigitnya.

Kriuk.

​Gurih.

​"Hm," gumam Adrian. Dia mengambil satu lagi, lalu buru-buru menyembunyikan toples itu ke dalam tas kulit mahalnya sebelum Suster Yanti melihat.

​Skor hari ini: Seri.

...****************...

BERSAMBUNG.....

Terima kasih telah membaca💞

Jangan lupa bantu like komen dan share❣️

1
Wien Ibunya Fathur
aku sampai maraton bacanya...
ceritanya bagus banget
tanty rahayu: makasih banyak kaka udah betah bacanya😍
total 1 replies
ms. S
ga terasa udah tamat aja.. sng bgt novel kayak gini... good job
tanty rahayu: mamasih kak sudah baca sampai tamat 😍
total 1 replies
Wien Ibunya Fathur
ceritanya seru
tanty rahayu: makasih banyak kaka udah mau baca novel ku 😍
total 1 replies
Frida Fairull Azmii
keren..bahasa nya sih berat istilah" orang pinter tp asik d buat jdi komedi romantis🥰
tanty rahayu: makasih kaka 😍
total 1 replies
Frida Fairull Azmii
masih sepi nih tp ini novel seru banget sumpah,kalian wajib baca😍
ms. S: bnr, novel ini layak dapat view yg banyak bgt dan authornya harusnya masuk platinum karena beberapa karya yg udah aku baca, ceritanya out of the box semuanya. Dan risetnya cerita bagus
total 2 replies
ms. S
ya ampun ngakak bgt cemburu nya 😄
ms. S
gombalan paling unik, aneh tapi bikin melting dan senyum2 sndiri😍
tanty rahayu: ikut gemess ya
total 1 replies
ms. S
sumpah.. sumpah aku kyk baca Drakor dokter itu lho.. good job
tanty rahayu: hehehe kebetulan aku emang suka nonton drakor juga ka jd terinspirasi deh
total 1 replies
ms. S
mereka yg ciuman aku yg senyum2 sendiri... 😍😍😍
tanty rahayu: gpp senyum asal jangan bayangin 🤣🤣🤣
total 1 replies
ms. S
mmg cinta bisa DTG kpn aja bahkan DTG saat operasi DTG 😍🤭
ms. S
co cuit😍😍😍
ms. S
diem2 cinta tapi benci uluh..uluh🤭😍😍😍
Murni Asih
gombalan paling manis , laen dr yg laen....
tanty rahayu: makasih banyak kaka sudah mau mampir dan baca karya ku
total 1 replies
ms. S
cerita yg cukup menarik biasanya kita disuguhkan dgn ceo, mafia dan anak SMA jrg ada yg BNR mengulik dokter sungguhan. semoga ke blkg juga jauh lbh menarik
ms. S: tapi mmg novelnya menarik bgt buat dibaca syg klo novel sebagus ini krg view-nya.. karena biasanya novel dokter itu ga da BHS dokternya jadi ga meresap smpe ke hati ini bnr2 dokter bgt novelnya merasa kita lihat Drakor: good doctor. bintang lima 🌟🌟🌟🌟🌟
total 2 replies
Frida Fairull Azmii
🤣🤣gila dokter ciuman jg pake diskusi segala bilang aja silaturahmi bibir..wkwk
tanty rahayu: wkwkwkkw 😍😍😍
total 1 replies
Frida Fairull Azmii
novel nya bagus,lanjut...lanjut..
tanty rahayu: makasih kaka sudah baca novelku jangan lupa baca novel ku yang lain ya ka 😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!