NovelToon NovelToon
Meant To Be

Meant To Be

Status: tamat
Genre:Angst / Beda Usia / Keluarga / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Tamat
Popularitas:6.1k
Nilai: 5
Nama Author: nowitsrain

El Gracia Jovanka memang terkenal gila. Di usianya yang masih terbilang muda, ia sudah melanglang buana di dunia malam. Banyak kelab telah dia datangi, untuk sekadar unjuk gigi—meliukkan badan di dance floor demi mendapat applause dari para pengunjung lain.

Moto hidupnya adalah 'I want it, I get it' yang mana hal tersebut membuatnya kerap kali nekat melakukan banyak hal demi mendapatkan apa yang dia inginkan. Dan sejauh ini, dia belum pernah gagal.

Lalu, apa jadinya jika dia tiba-tiba menginginkan Azerya Karelino Gautama, yang hatinya masih tertinggal di masa lalu untuk menjadi pacarnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nowitsrain, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Setidaknya, Ada Dia di Sini

Mata boba itu sibuk memindai. Ke kanan dan ke kiri, ke atas dan ke bawah. Ia lakukan berulang kali, sampai yang dipindai pun rasanya jengah dan tak kuasa menghela napas panjang.

"Udah selesai belum? Ayah harus pergi nih, keburu kemaleman."

Bukannya menjawab, Eliana malah mengalihkan perhatian pada Jovanka, lalu ada tas jinjing di sebelah kakinya, lalu pada ibunya yang berdiri di belakangnya, lalu kembali pada Jovanka.

"Kamu mau bawa Ayah ke mana?" todongnya. Tangannya masih tak lepas, tertaut antagonis di depan dada. "Lagian kamu kan baru sembuh, ngapain pergi-pergi?"

Jovanka yang merasa seperti sedang diinterogasi untuk sebuah kesalahan yang bahkan belum dilakukan, berdeham canggung. Dia menggaruk leher bagian samping, tatapannya berlarian, selagi otaknya sibuk mencari-cari alasan.

"Ayah mau antar Penyihir pulang," sahut Karel. Sebab Jovanka terlalu lama mencari, sampai wajah Eliana sudah mulai merah padam.

"Pulang ke mana? Rumahnya kan di sebelah?" tanya Eliana galak, telunjuknya mengarah pada pintu unit Jovanka yang tertutup rapat.

"Pulang ke rumah mamanya." Karel melirik Kalea yang sedari tadi hanya diam saja, mengirim sinyal untuk membantunya menenangkan singa kecil mereka. Tapi sia-sia saja, Kalea hanya menggeleng, sebab mereka sama-sama tahu, tidak ada yang bisa membujuk Eliana selain yang bersangkutan. Maka keduanya kompak menatap Jovanka, mendesak gadis itu mencari jalan keluar secepatnya.

Terimpit situasi, Jovanka mendesah pelan. "Aku mau jenguk mamaku," cicitnya, hampir tidak terdengar. "Kamu kan tahu aku habis sakit, jadi nggak bisa bawa mobil sendiri." Dijedanya sejenak, demi melirik Karel sekalian merangkai kata supaya tidak salah bicara. "Boleh ya aku pinjam ayahmu sebentar buat anterin aku. Aku janji bakal balikin lagi," sambungnya. Tatapannya memelas, kedua tangan tertaut di depan wajah, bahkan siap berlutut jika saja Eliana menginginkannya.

Jawaban yang ditunggu semua orang tidak langsung keluar begitu saja. Eliana memicingkan mata, menelisik Jovanka dari atas ke bawah, bawah ke atas, begitu terus sampai terulang enam kali banyaknya. Setelahnya, barulah anak itu mengangguk. "Ya udah boleh, tapi jangan lama-lama."

Jovanka tersenyum lebar, menampakkan deretan giginya yang rapi. Kepalanya mengangguk berulang, tampak senang sekali. "Iya, nggak akan lama kok. Besok udah ada lagi di sini."

"Beneran ya. Janji?" Eliana mengulurkan tangan, mengeluarkan jari kelingking yang kecil mungil sebesar upil.

Tanpa pikir panjang, Jovanka berjongkok, menyambar kelingking kecil itu dan menautkannya dengan kelingkingnya yang lima kali lebih besar.

"Oke," kata Eliana. Ia yang memulai janji, ia jugalah yang mengurainya setelah diresmikan. "Ayo, Mama, kita pulang. Besok kita ke sini lagi," celoteh gadis kecil itu, sekonyong-konyong balik badan, berjalan santai menyusuri lorong apartemen yang sepi di jam-jam kerja.

Semua orang dewasa yang ditinggalkan hanya bisa menghela napas di saat yang hampir bersamaan. Dan sebelum anak itu menghilang dari pandangan, Kalea segera menyusul.

Kini tersisalah Karel dan Jovanka, mengambil waktu berdiam diri sedikit lebih lama. Sebagian untuk memikirkan kembali keputusan mereka, sebagian lagi untuk mempersiapkan diri mengambil langkah selanjutnya.

Jika boleh jujur, keadaan ini berat bagi Jovanka. Mendengar bahwa ibunya sakit, biar bagaimanapun tetap melukai hatinya sebagai seorang anak. Apalagi, setelah dia pergi dari rumah, tidak sekali pun Jovanka pernah berharap bahwa ibunya akan menjalani kehidupan yang buruk. Meski tahu ia meninggalkan ibunya dengan laki-laki seperti David, setidaknya Jovanka masih terus berdoa agar wanita itu bisa bahagia dan bertahan selama mungkin.

Pikiran Jovanka semrawut sekarang. Ada ketakutan yang terselip di dalam keyakinannya yang belum bulat. Ketakutan bahwa kehadirannya mungkin tidak akan diterima dengan baik. Kekhawatiran bahwa David telah membuat lebih banyak kebohongan, yang memupuk kebencian ibunya lebih besar.

Tapi Jovanka juga tidak mau menyesal. Dia tidak mau absen dari hadapan ibunya, ketika wanita yang telah melahirkannya ke dunia itu sedang tidak dalam keadaan yang baik-baik saja. Jovanka ingin menunjukkan diri. Ingin memperlihatkan pada ibunya, bahwa setidaknya, dia masih peduli.

"Kalau udah siap, kita berangkat sekarang."

Dia menarik napas dalam-dalam, membuangnya dengan kasar. Dipungutnya tas jinjing yang tergeletak di lantai, kemudian dengan yakin mengajak Karel beranjak. Biarlah nanti urusan nanti. Biarlah apa yang terjadi di depan, dia hadapi saat sudah benar-benar ada di depan matanya. Sekarang, yang terpenting baginya adalah datang. Meski menakutkan, setidaknya dia punya seseorang di sisinya sekarang.

                                                                                            ********

Empat jam perjalanan, dan di sinilah Jovanka sekarang, berdiri di depan gedung rumah sakit swasta ternama di Bandung, dengan perasaan yang gamang.

Selagi dalam perjalanan, gugupnya masih bisa dialihkan pada hal lain. Pada pohon-pohon yang ditanam di sepanjang jalan, pada lampu lalu lintas yang terus berganti, pada pengamen yang bernyanyi dengan suara nyaring dan alat musik sekedarnya, juga pada kawanan burung yang terbang tinggi bersama kelompoknya.

Sekarang, ketika ketakutannya telah sampai di depan mata, dan tidak ada hal-hal lain yang bisa dia gunakan sebagai distraksi, Jovanka tidak bisa lagi menyembunyikan kegugupannya. Tubuhnya bergetar, meski orang lain mungkin tidak akan menyadarinya karena getarannya begitu samar. Telapak tangannya dingin, basah oleh keringat yang serasa tidak habis-habis keluar melalui pori-pori.

"Balik ke mobil dulu?"

Dia menoleh, terdiam sebentar sebelum akhirnya menggeleng. "Kita masuk aja," putusnya.

Karel yang jauh-jauh menyetir ke sini sebagai teman, hanya mengangguk. Namun sebelum kaki melangkah, tangannya bergerak lebih cepat. Ia selipkan jemari pada milik Jovanka, merapatkannya seakan ingin memberikan jaminan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Pandangannya lurus ke depan, sehingga luput olehnya ekspresi terkejut di wajah Jovanka.

"Lantai 6, kan?" tanyanya memastikan.

Jovanka mengalihkan pandangan ke depan, mencicit pelan. "Iya." Kemudian langkah mereka terajut berdampingan.

Selama menaiki lift, tak satu pun kata keluar dari bibir mereka. Karel masih menggenggam erat tangannya, meleburkan basah keringat, sampai Jovanka tidak tahu lagi tangan siapa yang lebih basah sekarang. Lalu saat pintu lift berdenting dan terbuka lebar, detak jantung Jovanka meningkat berkali-kali lipat.

Butuh usaha lebih besar baginya untuk sekadar mengatur napas. Perlu keyakinan lebih banyak agar kakinya tetap bisa melangkah, terlebih saat matanya menemukan eksistensi David di depan kamar rawat yang disebutkan lelaki itu sebelumnya.

Jovanka meremas tangan Karel di genggamannya, seakan meminta perlindungan. Dan Karel membalasnya dengan menyapukan ibu jarinya di sana, menggantikan kalimat; semua akan baik-baik saja yang tak sempat disampaikan oleh mulutnya.

Setibanya di depan kamar rawat, Jovanka tidak bisa menghindari tatapan David yang memindai sekujur tubuhnya. Ingin, tapi tidak mampu. Apa yang lelaki itu lakukan seperti telah menyihir Jovanka, menjadikannya anak manis baik hati yang penurut.

"Mama baru habis minum obat," kata David. Suaranya tenang, terdengar manis dan penuh sayang, layaknya seorang ayah kepada putrinya. "Masuk dan ajak Mama bicara, ya. Mama pasti rindu kamu."

Ketika tangannya David terangkat untuk menyentuh puncak kepalanya, Jovanka refleks menghindar. Genggamannya dengan Karel pun ia lepaskan dalam sekali sentakan. Terburu-buru, ia pamit kepada Karel untuk masuk. Meminta lelaki itu menunggu sebentar. Bahwa ia tidak akan lama di dalam.

Karel hanya mengangguk. Dibiarkannya Jovanka masuk seorang diri. Karena saat David hendak menyusul, ia mencekal lengan lelaki itu.

"Kalau nggak keberatan, tolong temani saya ngobrol di sini."

Karel tidak bodoh. Dia tahu David kesal setengah mati atas tindakannya barusan. Tapi dia berusaha tutup mata, mencoba waras kala menghadapi manusia gila semacam David ini. Toh kesabarannya berujung baik. David tidak punya pilihan selain mengiyakan permintaannya. Lelaki itu tersenyum penuh paksa, menggiringnya duduk di kursi besi yang berderet di depan kamar rawat.

Di sana, selama beberapa waktu ke depan, Karel akan menghabiskan waktunya bersama David, sambil harap-harap cemas menunggu Jovanka kembali.

Bersambung....

1
Zenun
Ayah abis olahraga
nowitsrain: Iya, iya olahraga 🤫
total 1 replies
Zenun
bae bae kasurnya rubuh😁
nowitsrain: Ya kaliii 🤣
total 1 replies
Zenun
Coba hancurkan David, Rel😁
nowitsrain: Aww takut
total 1 replies
Zenun
Jangan mau kalah sama David kalau kaya gitu. Berarti jangan jauh-jauh dari mamake
nowitsrain: Tapi kan rinduu
total 1 replies
Zenun
menjenguk mamake di rumah sakit ditemani Karel
nowitsrain: Oraitt
total 1 replies
Zenun
mungkin misinya belum selesai😁
nowitsrain: Misi apa tuhh
total 1 replies
Zenun
Emak ama baba nya mah nyantuy🤭
nowitsrain: Emak ama baba otw bikin adik baru
total 1 replies
Zenun
Udah mulai buka apartemen, nanti buka hati😁
nowitsrain: Ihiwwwww
total 1 replies
Zenun
Kamu banyak takutnya Karel, mungkin Jovanka mah udah berserah diri😁
nowitsrain: Lebih ke ngeyel sih kalau Jovanka mah
total 1 replies
Zenun
asam lambungnya kumat
nowitsrain: Wkwkwk
total 1 replies
Zenun
Mingkin Jovanka pingsan di dalam
Zenun
Ayah harus minta maaf sama penyihir🤭
Zenun
Ntar kalo Elliana gede, kamu nikahin lagi
nowitsrain: Takut bgtttt
total 3 replies
Zenun
laaa.. kan ada babe Gavin😁
nowitsrain: Ya gapapa
total 1 replies
Zenun
iya betul Rel, harusnya dia anu ya
Zenun
dirimu minta maaf, malah tambah ngambek😁
Zenun
kayanya lebih ke arah ini😁
nowitsrain: Ssssttt tidak boleh suudzon
total 1 replies
Zenun
Coba jangan dipadamin, biar nanti berkobar api asmara
nowitsrain: Gosong, gosong deh tuh semua
total 1 replies
Zenun
Kan ada kamu, Karel🤭
nowitsrain: Harusnya ditinggal aja ya tuh si nakal
total 1 replies
Zenun
iya tu, tanggung jawab laaa
nowitsrain: Karel be like: coy, ini namanya pura-pura coy
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!