NovelToon NovelToon
Suami Karismatik Milik CEO Cantik

Suami Karismatik Milik CEO Cantik

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Dijodohkan Orang Tua / Peran wanita dan peran pria sama-sama hebat
Popularitas:8k
Nilai: 5
Nama Author: Lonafx

Tamara Hadinata adalah perempuan tegas yang terbiasa memegang kendali. Memiliki gaya hidup yang dipenuhi ambisi dan emosi, membuatnya tak pernah serius memikirkan pernikahan.

Ia sibuk bekerja, sesekali terlibat hubungan sementara tanpa komitmen nyata. Sampai keputusan papanya, mengubah segalanya.

Khawatir dengan gaya hidup dan masa depan Tamara, sang Papa menjodohkannya dengan Arvin Wicaksono—Pria karismatik, intelektual, dan dianggap mampu menjadi penyeimbang hidup putrinya.

Namun bagi Tamara, pertemuan mereka adalah benturan dua dunia dan karakter yang tak seharusnya saling bersinggungan.

____
Bagaimana pernikahan mereka bisa terjadi?
Lalu, apa jadinya jika dua orang yang nyaris bertolak belakang, disatukan dalam ikatan pernikahan?
Di tengah kesibukan dan perbedaan, bisakah keduanya hidup berdampingan meski memulai hubungan tanpa cinta?

kuyyy ikuti kisahnya ya~

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lonafx, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26 Godaan Mantan

Malam itu langit kota membentang kelabu, dihiasi kelap-kelip lampu gedung yang memantul samar.

Tamara duduk di sofa rooftop bar sebuah gedung. Gaun hitam membalut tubuhnya dengan anggun, elegan, seperti topeng profesional yang selalu ia pakai bahkan saat di luar kantor.

Angin malam menyapu pelan wajahnya, membawa aroma minuman manis dan parfum dari sekelompok tamu, yang sedang bercengkrama di tengah lounge.

Dari ketinggian itu, wajah kota di bawah sana tampak berkilau, seperti potongan kehidupan yang tak pernah benar-benar berhenti.

"Liat deh, CEO galak kita..." suara Meliza menyambar dari arah belakang.

Tamara menoleh.

Meliza yang muncul dengan gaun merahnya, duduk mendekat di sampingnya.

"Jujur ya, Ta. Kamu cantik banget malam ini. Tapi serius, aura kamu udah kayak orang ditinggal nikah, tau nggak. Bukan ditinggal dinas." Meliza menyeletuk ringan.

Tyas yang tadi duduk di seberang Tamara, ikut terkekeh pelan, sambil memegang gelas mocktail miliknya.

Kemudian ikut menimpali, "Nasib nikah sama aset kampus, Ta. Kamu harus sering 'berbagi' suami kamu dengan banyak orang."

Tamara mendengus.

"Nggak sopan!" sungutnya, sok galak. Namun, sedetik kemudian tawa kecilnya muncul juga.

Tawa riang ketiganya, membaur di antara riuh suara tamu lain dan musik yang mengalun cukup keras.

Tamara memeluk singkat si empunya acara itu. "Selamat ulang tahun, Memel," ucapnya, dengan suara manja yang dibuat-buat.

Ia menyapu sekilas ke beberapa sudut sekitar mereka, yang berada di area eksklusif.

"Birthday party kamu, tempatnya terlalu wow," komentarnya.

Meliza tergelak. "Well... Aku emang sengaja ngadain private party di tempat ini, karena aku tahu..."

Ia berbisik, "Kamu perlu distraksi mewah."

Meliza lalu merangkul akrab pundak Tamara.

"So, malam ini lupain sejenak, soal suami kamu yang lagi beda benua dan zona waktu itu, oke?"

"Mana bisa?" Tyas menyahut, seolah mewakili isi hati Tamara.

"Udah ada tanda-tandanya tuh, kena virus bucin akut. Hati bakal gelisah kalau jauh dari Pak Suami," kelakarnya.

Tawa kecil dua sahabatnya itu memenuhi udara di sekitar mereka.

Hingga Meliza menghentikan tawanya. "Tapi serius deh, Ta. Kamu itu beruntung dapat suami yang sabar banget kayak Arvin."

Ia berhenti sejenak. Sudut bibirnya terangkat nakal, seperti siap melemparkan umpan.

"Kalau sampai kamu masih nyia-nyiain dia juga... mungkin aku sendiri yang akan turun tangan langsung buat godain Arvin, biar sekalian lepas dari kamu."

Pancingan, sukses. Tamara menoleh cepat.

"Berani?" tantangnya dengan suara pelan, tapi matanya tajam.

Meliza dan Tyas langsung tertawa lagi.

"Tuh kan! Muka kamu udah kayak mau langsung nyakar aku sampai ke tulang," seru Meliza, di sela tawanya.

Tamara hanya mendengus sebal dengan kejailan sahabatnya itu.

Hingga Meliza berkata lagi. "Ampun, Ta... Kamu nyeremin tau nggak, kalau lagi serius."

Sorot matanya langsung berkilat jenaka.

"Iya deh, yang udah jadian setelah menikah. Sekarang udah nggak anti nikah lagi, kan?" godanya, menaik-naikan alis sambil menyenggol ringan bahu Tamara.

Sorot mata Tamara langsung melembut, hingga senyum kecil terbit di wajahnya.

"Ya... gitu deh," ujarnya singkat.

"Tapi kita beneran ikut happy buat kamu, Ta," ucap Tyas, tulus.

Tamara menatap kedua sahabatnya bergantian, sambil terharu.

"Nah!" Meliza menjentikkan jari. "Makanya, minggir dulu dari pojokan galau ini ya."

Wajahnya antusias, lalu bersorak, "Now... It's time to party!"

Musik terdengar berdentum lebih keras, setelah Meliza memberi kode dengan menaikkan jari ke udara.

Mereka lalu bergabung dengan lingkaran teman-teman lain, yang berasal dari berbagai latar belakang.

Kebanyakan sirkel pertemanan mereka, memang tak jauh-jauh dari dunia orang-orang yang sudah akrab dengan sorotan.

Dari aktris terkenal seperti Meliza, influencer, model, hingga kalangan pebisnis seperti Tamara dan Tyas.

Ada tawa riang, ada cerita-cerita konyol potongan pertemuan mereka sebelum-sebelumnya, sampai gosip ringan yang biasanya membuat Tamara ikut nyerocos.

Kali ini, ia tetap ikut bicara seperlunya, tertawa dan mengangguk di momen itu.

Sesekali, pikirannya masih melayang, memikirkan Arvin yang sedang sibuk dengan dunia yang jauh dari kebisingan.

Meliza dan Tyas mengajaknya ke tengah-tengah lounge, kilatan kamera menangkap senyumnya dengan sempurna.

Ia ikut bersulang, ikut bertepuk tangan, menyanyikan lagu ulang tahun, dan larut dalam merayakan kebahagiaan untuk sahabatnya.

Untuk beberapa saat, ia hampir berhasil lupa.

Hampir.

Hingga mendekati penghujung acara, Tamara berpisah dengan teman-temannya untuk meninggalkan tempat itu lebih dulu.

Suara musik dan riuh rendah dari sisa obrolan, terdengar sayup ketika ia berjalan pelan keluar area rooftop.

Tangannya kembali memeriksa ponsel, entah sudah ke berapa kalinya. Tetap senyap tanpa ada satu balasan pesan dari Arvin.

Tamara menghela napas panjang, mencoba memahami keadaan.

Wajahnya tertunduk, dengan bahu sedikit turun.

Aku yang memintanya tetap fokus di sana, batinnya.

Ia kembali melanjutkan langkah, menyusuri lorong menuju lift, yang entah kenapa terasa terlalu sunyi malam itu.

"Tamara... " Seseorang memanggilnya dari arah belakang.

Tamara menahan langkah, suara itu terlalu familiar untuk diabaikan.

Ia menoleh perlahan, dan sorot matanya melebar melihat wajah yang sudah terlalu akrab.

Andra.

Mantan yang seharusnya, sudah benar-benar selesai jadi masa lalu.

Pemuda itu berdiri beberapa meter dari Tamara.

Jaket kulit tipis membalut tubuh atletisnya, rambutnya sedikit berantakan dengan gaya seleb—sialnya, masih memesona seperti dosa lama.

"Ngapain kamu disini?" tanya Tamara cepat.

Andra tersenyum kecil. "Habis nongkrong sama temen-temen."

"Oh," kata Tamara singkat.

Pernah cukup lama pacaran sama Andra, ia sedikit banyak tahu tentang kebiasaan laki-laki itu dan lingkungan tongkrongannya.

Ia tidak curiga. Tapi malam ini, pertemuan mereka bukanlah kebetulan.

Setelah dapat informasi jika Meliza mengadakan private party di gedung ini, Andra memang sengaja datang.

Bukan menghadiri pesta, tapi untuk menunggu bertemu Tamara.

Ia mengenal Tamara terlalu baik untuk tidak tahu pola itu: Tamara bersahabat dengan Meliza, dan pasti akan datang ke acara itu.

Tamara lantas kembali meneruskan langkah dengan cuek, tapi langkah Andra ikut menyeimbangi.

"Buru-buru banget," suara Andra terdengar lembut. "Aku cuma pengen ngobrol biasa, kok."

"Go away, Ndra!" ujar Tamara, tetap acuh tak acuh.

Andra meraih tangannya, cukup membuat Tamara menghentikan langkah.

Tamara menepis tangan Andra, membuat laki-laki itu buru-buru minta maaf, seolah menjaga sikap.

Andra tidak lagi bersikap impulsif mengejarnya seperti kemarin-kemarin, justru hal itu yang membuat Tamara heran.

Senyum Andra bahkan terlihat tenang, bahkan ketika mencoba menghalangi jalannya.

"Kamu kok sendirian? Suami kamu mana?" tanya Andra.

Tamara membuang muka. "Bukan urusan kamu!" ketusnya.

"Tamara, aku disini bukan buat ganggu kamu, aku hanya bertanya sebagai orang yang paling peduli sama kamu."

Tamara memutar bola mata. "Bullshit..."

Andra menyeringai singkat. Sepertinya, perubahan strateginya kali ini cukup berhasil.

Setidaknya, mampu menahan perempuan itu lebih lama di dekatnya.

"Aku benar-benar minta maaf ya sama kamu," ucap Andra. Kalimat itu jatuh terlalu lembut.

Tamara menyilangkan tangan. "Untuk telah membodohiku, atau untuk mengganggu waktuku sekarang?"

"Untuk semuanya," jawab Andra, suaranya terdengar terlalu tenang untuk ukuran manusia sepertinya.

"Aku sadar. Aku memang brengsek. Aku sangat bodoh, telah menyia-nyiakan kepercayaan dari perempuan berharga kayak kamu."

Senyumnya muncul sekilas lagi. Kali ini karena berhasil membuat Tamara mendengarkannya.

Andra memang cukup tahu kelemahan perempuan dominan seperti Tamara:

Seseorang harus merasa rendah di hadapannya, rajin memujinya, dan yang terpenting, Tamara senang diperhatikan dan dianggap berharga.

"Tamara... Aku sekarang mencoba buat relain kamu. Tapi, aku emang nggak bisa berhenti, buat peduli sama kamu."

Ia mendekat, membuat membuat parfum maskulinnya yang familiar, menyerbu indera Tamara seperti kenangan yang sangat tidak sopan.

Tamara langsung mundur, hingga ia baru sadar punggungnya terasa dingin setelah menyentuh dinding.

Andra tersenyum, memang terlihat manis dan menyatu dengan wajah tampannya.

Sialnya, dalam situasi seperti ini, untuk beberapa detik yang memalukan, Tamara mengakui pesona pemuda itu yang dulu selalu membuatnya luluh.

"Andra, jangan ganggu aku. Aku udah menikah," suara Tamara melemah, lebih terdengar seperti sebuah permintaan.

"Aku tahu... Tapi kamu kenapa sih? Hm? Aku perhatikan, nggak biasanya kayak gini," kata Andra dengan nada penuh perhatian.

Ia tersenyum penuh maksud. "Biasanya kamu selalu enerjik, tangguh, selalu jadi pusat perhatian... "

Andra sedikit menunduk, menatapnya lembut. "Tapi sekarang, kamu keliatan capek, dan kayak... kesepian."

Tamara menoleh. Tidak ada penyangkalan.

Andra melihat celah itu, Tamara selalu rentan saat sedang rapuh.

Tangan Andra terangkat, menyentuh kedua bahunya dengan lembut, sekaligus menutup jalan keluar.

Tamara menelan ludah.

Sentuhan itu hangat, sama seperti dulu, yang selalu mampu membuatnya langsung jatuh ke dalam pelukan Andra.

Jari-jari Andra terangkat, sedikit memainkan helaian rambut Tamara yang menjuntai di bahu.

Satu tangannya turun ke pinggang Tamara, seraya berbisik, "Kalau kamu capek, perlu sandaran... datang ke aku. Kayak dulu."

Tamara tercekat untuk sesaat.

Andra menyatukan kening mereka. "Jujur... aku masih sayang banget sama kamu," ucapnya, lebih serius.

Tamara memejamkan mata untuk sejenak.

Di antara pikirannya yang nyaris tak bisa berpaling dari pesona Andra, wajah Arvin muncul.

Caranya menatap dengan sopan, suara yang menenangkan, dan perlakuannya yang selalu membuat nyaman.

Tamara membuka mata.

"Cukup Andra!" Tamara mendorong tubuh laki-laki itu agar menjauh darinya.

Nada suaranya berubah. Dingin, tegas, dan lebih dewasa.

"Kita udah selesai!" tegasnya.

"Oke... " kata Andra, langsung patuh.

Ia menjauh satu langkah.

"...tapi kalau kamu nggak bahagia, kamu tahu kan? Aku tetap akan jadi orang yang selalu ada dan bisa kamu andalkan. Kayak dulu."

Tamara buru-buru meninggalkannya dengan langkah tergesa, lalu bergegas masuk ke dalam lift.

Tamara menarik napas panjang, berusaha menenangkan dadanya yang terasa sesak.

Tubuhnya bersandar pada dinding lift, tangannya naik menutup wajah.

"Ya Tuhan... Aku hampir aja hancur," lirihnya, penuh penyesalan.

Di kepalanya tiba-tiba muncul lagi wajah suaminya.

"Maafin aku, Vin... Aku nyaris salah langkah, tapi aku masih tetap milik kamu."

Tamara mengusap rambutnya kasar, menangisi kebodohannya sendiri.

Sementara itu, Andra masih berdiri memandang pintu lift yang sudah tertutup.

Senyum miringnya muncul.

BERSAMBUNG...

Duh Tata.. gimana sih, nyaris aja... minta dijedotin lagi nih kepalanya 😄

1
☕︎⃝❥Ƴ𝐀Ў𝔞 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ℘ℯ𝓃𝓪 🩷
Tapi bisnis bukan lomba lari jarak pendek. Ini maraton. Ukur keberhasilanmu, hasil progresmu sendiri, jangan membandingkan 🗿
༺⬙⃟⛅Jemima__🦋⃞⃟𝓬🧸
duh yang adem ajaa, kasian kenal dket aja belom mereka /Facepalm/
Lonafx: amaann pokoknya/Proud/
total 1 replies
༺⬙⃟⛅Jemima__🦋⃞⃟𝓬🧸
dari sarapan smpe makan siang berceloteh itu? /Facepalm/
Nadinta
wkwkwkkw agak ngeselin tapi gapapa
Nadinta
ini sih gilsss bgt taaa
Cahaya Tulip
bener itu secara langsung ketemu keluarga Arvin tadi seperti ujian psikologis, dan ternyata dulu awal nikah merasakannya juga, di serbu bnyak pertanyaan dari keluarga suami.. 😂 relate ya ternyata
Cahaya Tulip
Badai mendadak jadi angin sepoi2.. 😂
Xlyzy
iya lah sekamar aja ga apa apa kok😁
Xlyzy
ayo tam kasih faham siapa diri mu sebenarnya
Xlyzy
hahaha beberapa orang emang energinya kayak ga bisa habis
🦋⃞⃟𝓬🧸 MULIANA ѕ⍣⃝✰
bener nih. bukan lagi wajar, tapi wajib /Chuckle//Chuckle/
🦋⃞⃟𝓬🧸 MULIANA ѕ⍣⃝✰
bahkan arvin setuju 🤭
🦋⃞⃟𝓬🧸 MULIANA ѕ⍣⃝✰
tak apa. itu jauh lebih baik, dari pada terus berpura-pura 🤭
Nuri_cha
wkwkwkw, beda banget obrolannya. kalau di keluarga besarku, obral terberatnya warung seblak mana yang rasanya paling enak 😅
Nuri_cha
beda Vin, gak bisa disamain Apple to apple gitu
Nuri_cha
aku ngebayangin kek masuk ke ruangan guru besar ya Ta🤭
🥀⃟ ⃟ThallaAyleena⃟ ⃟🥀
persoalan serius kayaknya nihh...
🥀⃟ ⃟ThallaAyleena⃟ ⃟🥀
yg lain kagak sepopuler kamu mungkin Vin😂
🥀⃟ ⃟ThallaAyleena⃟ ⃟🥀
hmm pasti karena pernikahan mereka viral nih.. bisa aja si bapak nyari peluang🙄
Lonafx: nyari suara wak/Facepalm/
total 1 replies
Afriyeni
ayo Tamara, perlihatkan pada Arvin siapa dirimu yg sesungguhnya /Determined/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!