Sejak usia lima tahun, Raya Amelia hidup dalam neraka buatan ayahnya, Davin, yang menyalahkannya atas kematian sang ibu. Penderitaan Raya kian sempurna saat ibu dan kakak tiri masuk ke kehidupannya, membawa siksaan fisik dan mental yang bertubi-tubi. Namun, kehancuran sesungguhnya baru saja dimulai, di tengah rasa sakit itu, Raya kini mengandung benih dari Leo, kakak tirinya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Qwan in, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26
Raya melangkah mendekat dengan langkah tegas. Tatapannya tajam, lurus mengarah ke Leo tanpa sedikit pun kehangatan.
"Kenapa kamu masih di sini?" tanya Raya datar, nyaris tanpa emosi, seolah kehadiran pria itu hanyalah debu yang mengganggu matanya.
Bibir Leo bergerak, mencoba mencari kata-kata yang tidak akan memicu ledakan, namun suara kecil Lili lebih dulu membelah kecanggungan.
"Om Leo sekarang tinggal di rumah sebelah, Ibu!" seru Lili riang sambil menunjuk ke sebuah rumah kayu sederhana yang sudah lama tak berpenghuni. Rumah itu terletak persis di samping gubuk mereka, hanya dibatasi oleh pagar bambu yang sudah miring.
Raya tersentak. Pandangannya beralih ke rumah itu, lalu kembali ke Leo dengan sorot mata yang menuntut penjelasan. "Apa maksudnya ini?"
Leo berdehem, mencoba mengatur napasnya yang mendadak terasa sesak. "Aku merasa... udara di sini sangat sejuk. Jadi aku memutuskan untuk tinggal di sini sebentar. Aku harap kamu nggak keberatan."
"Aku keberatan," sahut Raya cepat, tanpa jeda sedikit pun.
Mendengar nada ketus ibunya, bibir Lili langsung melengkung ke bawah. "Ibu kenapa sih? Jahat banget sama Om Leo. Padahal kan Om Leo baik. Lili senang Om Leo tinggal di sini, jadi Lili bisa sering main sama Om!"
Mendapat pembelaan dari benteng mungilnya, Leo tak bisa menahan senyum. Hatinya yang tadi terasa perih mendadak sedikit menghangat. Dengan gerakan refleks yang penuh kasih, ia mengangkat tangan dan mengelus lembut pucuk kepala Lili.
Pemandangan itu seperti duri yang menusuk mata Raya. Ada kehangatan alami di sana, sebuah ikatan darah yang tak bisa ia sangkal meski ia sangat ingin melakukannya. Merasa kalah telak oleh kepolosan anaknya sendiri, Raya hanya bisa mendengus kasar. Tanpa berkata-kata lagi, ia memutar tubuh dan melangkah masuk ke dalam rumah.
* * *
Malam di lereng bukit itu tak lagi sesunyi biasanya. Dari balik tirai jendela yang kusam, Raya berdiri mematung. Matanya mengintip lewat celah sempit, tertuju pada rumah kayu di sebelahnya. Suara tawa riang Lili pecah, terbang menembus dinding papan dan hinggap di telinga Raya, membawa rasa hangat sekaligus getir yang bercampur aduk.
Sejak Leo menempati rumah kosong itu, Lili seolah menemukan dunia baru. Bocah itu seperti bayangan bagi Leo, ke mana pun pria itu melangkah, kaki kecil Lili pasti mengekor di belakangnya.
Sementara itu, di dalam rumah sebelah, suasananya jauh dari kata mewah. Lantai kayu yang dingin hanya beralaskan tikar pandan seadanya. Karena belum ada aliran listrik, Leo hanya mengandalkan sebuah senter kecil sebagai penerangan.
Namun, di mata Lili, ruangan remang itu adalah panggung keajaiban. Mereka berbaring berdampingan, mengarahkan tangan ke depan cahaya senter.
"Lihat, Om! Itu kelinci!" seru Lili girang saat bayangan tangan Leo membentuk telinga panjang di dinding.
Leo tertawa kecil, jari-jarinya bergerak lincah mengubah bayangan itu menjadi kepakan sayap burung. Bagi Leo, ini adalah kemewahan yang sesungguhnya. Jauh lebih berharga daripada rumah megah berpendingin ruangan, dan barang-barang mewah yang pernah ia miliki. Namun, mendengarkan tawa Lili yang memenuhi ruangan sempit itu memberikan ketenangan yang tak pernah bisa dibeli dengan uang.
Lama-kelamaan, suara riuh itu mereda. Tawa Lili berganti menjadi gumaman kecil, lalu perlahan senyap. Bocah itu terlelap karena kelelahan, dengan jemari kecil yang masih menggenggam ujung kaus Leo.
Leo memiringkan tubuhnya, menatap wajah polos putrinya dalam remang cahaya senter. Ia membelai lembut pipi kemerahan Lili, lalu mendaratkan kecupan lama di keningnya. Ada sesak yang menghujam dadanya.
"Andai dulu aku tidak sebodoh itu, andai aku tidak melakukan kesalahan... mungkin saat ini kita bukan sekadar tetangga," batinnya perih.
Bayangan hidup bahagia bertiga dengan Raya dan Lili sempat melintas di kepalanya, namun segera ia tepis sebelum air matanya jatuh.
Dengan gerakan sangat hati-hati, Leo menggendong tubuh mungil itu. Ia melangkah keluar, menembus udara malam yang dingin menuju rumah Raya.
Tok... tok... tok...
Hanya butuh beberapa detik sampai pintu kayu itu terbuka, menampilkan sosok Raya dengan wajah datar yang seolah membeku.
"Lili tertidur setelah lelah bermain," ucap Leo nyaris berbisik.
Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, Raya mengulurkan tangannya. Ia mengambil alih tubuh Lili ke dalam gendongannya. Keheningan sempat menggantung di antara mereka, hanya suara jangkrik yang sahut-menyahut di kejauhan.
"Terima kasih karena sudah mengantarkan Lili pulang," ucap Raya singkat.
Baru saja Leo hendak membuka mulut, pintu di hadapannya sudah tertutup rapat. Bunyi kayu yang beradu terdengar tajam di tengah sunyinya malam, menyisakan Leo yang mematung sendirian di bawah temaram cahaya lampu teras. Ia menghela napas panjang, menatap pintu itu sesaat sebelum berbalik menuju rumahnya yang dingin.
Sesampainya di dalam, Leo tidak langsung merebahkan diri. Ia duduk bersandar pada dinding kayu yang kasar, menyalakan kembali senternya, dan menatap lekat gambar yang tadi diberikan Lili. Tangannya yang gemetar mengusap garis-garis krayon berwarna-warni itu, sosok pria yang berdiri di samping wanita dan seorang anak kecil.
"Apa masih ada kesempatan kedua bagiku?"